Dua Pengunjung Diduga Tertimbun Longsor di Glamping Pelaga, Tim SAR Dikerahkan

Dua Pengunjung Diduga Tertimbun Longsor di Glamping Pelaga, Tim SAR Dikerahkan

Denpasar | Basarnas Bali mengerahkan sembilan personel dari Pos Jimbaran untuk mencari dan mengevakuasi dua pengunjung yang diduga tertimbun longsor di Eco Park Pelaga Glamping Retreat, Desa Pelaga, Kabupaten Badung. Informasi mengenai peristiwa tersebut disampaikan Kepala Kantor Basarnas Bali, I Nyoman Sidakarya. Laporan resmi diterima pada pukul 06.10 WITA, setelah itu tim disiapkan untuk bergerak menuju lokasi dan melakukan penanganan sesuai kondisi di lapangan.

Perjalanan dari Pos Jimbaran menuju kawasan Badung utara diperkirakan memerlukan waktu sekitar dua jam. Estimasi tersebut menjadi bagian dari pertimbangan dalam pengerahan personel, mengingat tim harus mencapai area glamping di Desa Pelaga sebelum dapat memulai pencarian dan upaya evakuasi. Basarnas mengirimkan sembilan personel dalam respons awal terhadap laporan tersebut. Informasi yang disampaikan menyebutkan bahwa dua pengunjung diduga tertimbun, sehingga mereka menjadi sasaran pencarian tim SAR.

Setibanya di lokasi, personel diharapkan dapat memastikan situasi dan menilai langkah yang diperlukan untuk mencari korban serta membantu proses evakuasi. Namun, keterangan awal yang tersedia belum menyatakan secara pasti kondisi kedua pengunjung maupun hasil pencarian. Karena itu, status mereka tetap disebut diduga tertimbun longsor, bukan dinyatakan telah ditemukan atau dipastikan menjadi korban. Pengerahan tim merupakan langkah untuk menindaklanjuti laporan dan memberikan respons di lokasi kejadian.

Basarnas Bali melalui Pos Jimbaran menjadi unsur yang dikerahkan dalam operasi awal tersebut. Informasi mengenai waktu penerimaan laporan dan perkiraan perjalanan disampaikan oleh Sidakarya sebagai sumber keterangan resmi. Dengan jarak tempuh yang diperkirakan sekitar dua jam, perkembangan di lapangan bergantung pada kedatangan personel serta kondisi yang mereka temui di kawasan Pelaga. Fokus operasi adalah mencari dua pengunjung yang dilaporkan diduga tertimbun dan melakukan evakuasi apabila diperlukan. Hingga keterangan awal itu disampaikan, belum ada rincian tambahan mengenai penyebab longsor, identitas pengunjung, ataupun hasil akhir penanganan. Informasi lanjutan diperlukan untuk memastikan perkembangan operasi SAR di Eco Park Pelaga Glamping Retreat.

Pemilik glamping di Desa Pelaga, Kadek Suardika, menjelaskan bahwa tebing di sekitar area penginapan tiba-tiba longsor. Material tanah dari tebing tersebut kemudian meluncur dan menimbun satu unit glamping yang saat itu sedang ditempati dua orang pengunjung. Peristiwa ini membuat keberadaan kedua pengunjung menjadi perhatian utama, sementara tim SAR dikerahkan untuk melakukan penanganan dan pencarian di lokasi.

Menurut keterangan Suardika, longsoran berasal dari tebing yang berada dekat dengan kawasan penginapan. Material yang runtuh menutup unit tersebut, sehingga para pengunjung di dalamnya diduga ikut tertimbun. Informasi mengenai kondisi dan posisi mereka masih perlu dipastikan melalui proses pencarian. Karena itu, keterangan awal tentang dua orang yang berada di unit terdampak tidak dengan sendirinya menjelaskan keadaan mereka setelah longsor terjadi.

Suardika mengaitkan kejadian itu dengan hujan lebat yang mengguyur Desa Pelaga dan daerah sekitarnya sejak Minggu malam, 1 November. Curah hujan yang tinggi berlangsung di tengah cuaca ekstrem, sehingga kondisi tebing dan tanah di area tersebut berisiko mengalami pergerakan. Hujan lebat disebut sebagai pemicu longsor, tetapi rincian teknis mengenai kestabilan tebing maupun faktor lain belum dapat dipastikan dari keterangan yang tersedia.

Longsor di sekitar penginapan tersebut menunjukkan dampak cuaca ekstrem terhadap kawasan yang berada dekat lereng. Ketika hujan deras berlangsung, tanah dapat menjadi jenuh air dan lebih rentan bergerak, terutama di wilayah dengan kemiringan atau tebing. Namun, penjelasan umum itu tidak menggantikan pemeriksaan langsung terhadap lokasi kejadian. Kondisi khusus di area glamping tetap perlu dinilai oleh petugas terkait.

Penanganan selanjutnya berfokus pada upaya tim SAR untuk menjangkau unit yang tertimbun dan memperoleh kepastian mengenai kedua pengunjung. Informasi dari pemilik menjadi keterangan awal tentang kejadian dan pemicu yang diduga, sedangkan perkembangan pencarian diperlukan untuk memastikan situasi sebenarnya. Hingga ada hasil pemeriksaan petugas, kronologi yang dapat disampaikan terbatas pada runtuhnya tebing, tertimbunnya satu unit yang dihuni dua pengunjung, serta hujan lebat sejak Minggu malam, 1 November.

Dalam pendataan sementara terkait dugaan longsor di area glamping Pelaga, Basarnas baru mengidentifikasi satu orang yang diduga berada di lokasi kejadian. Orang tersebut bernama Bangkit Mubarok, berusia 30 tahun, dan tercatat sebagai warga negara Indonesia. Informasi ini menjadi data awal yang disampaikan tim di tengah upaya penanganan dan pencarian di lokasi.

Sementara itu, identitas pengunjung lain yang diduga ikut tertimbun belum diketahui. Hingga pendataan tersebut disampaikan, belum ada keterangan mengenai nama maupun status kewarganegaraan orang kedua tersebut. Dengan demikian, informasi tentang jumlah orang yang diduga terdampak masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk pencocokan dengan keterangan yang tersedia di lapangan.

Basarnas menyampaikan identifikasi Bangkit sebagai hasil pendataan sementara. Keterangan tersebut tidak berarti bahwa tim telah menemukan kedua orang yang diduga tertimbun, ataupun memastikan kondisi mereka. Identifikasi seseorang dalam daftar pendataan harus dibedakan dari hasil pencarian fisik di lokasi, sehingga perkembangan mengenai keberadaan setiap orang tetap menunggu informasi resmi berikutnya.

Belum diketahui pula apakah data mengenai pengunjung kedua dapat segera dipastikan melalui catatan pengelola, keterangan keluarga, atau informasi dari pihak lain. Sampai ada konfirmasi, nama dan kewarganegaraannya tidak dapat disebutkan. Penyampaian batas informasi ini penting agar laporan mengenai dugaan korban tidak melampaui fakta yang telah dikonfirmasi oleh petugas.

Perkembangan berikutnya masih bergantung pada proses pendataan dan pencarian yang dilakukan tim terkait. Masyarakat maupun pihak yang memiliki informasi mengenai pengunjung di kawasan tersebut dapat menunggu pembaruan dari sumber resmi, serta menghindari menyebarkan identitas yang belum terverifikasi. Untuk sementara, hanya satu nama yang telah diidentifikasi oleh Basarnas, sedangkan pengunjung lain masih tercatat sebagai orang yang diduga tertimbun dan belum diketahui identitasnya. Status pendataan ini dapat berubah setelah petugas memperoleh keterangan tambahan dan melakukan verifikasi. Karena itu, penyebutan Bangkit Mubarok merujuk pada hasil identifikasi awal, bukan pengumuman bahwa seluruh korban telah ditemukan. Belum ada informasi dalam pendataan ini yang memastikan hasil akhir pencarian atau kondisi orang-orang yang diduga terdampak.Sebelum tim Basarnas tiba di lokasi longsor di kawasan glamping Pelaga, pengelola bersama BPBD Kabupaten Badung, Camat Petang, dan Polsek Petang telah lebih dahulu melakukan pencarian awal. Upaya tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi di sekitar titik longsor serta mencari dua pengunjung yang diduga tertimbun. Namun, proses pencarian tidak dapat dilanjutkan tanpa mempertimbangkan risiko bagi petugas dan pihak lain yang berada di lokasi.

Hujan masih turun deras ketika pencarian awal berlangsung. Selain mengurangi jarak pandang dan menyulitkan pergerakan, kondisi tersebut membuat kawasan terdampak berpotensi semakin berbahaya. Akses jalan menuju titik longsor juga dilaporkan sangat curam, sehingga tim perlu berhati-hati saat mendekati area pencarian. Atas pertimbangan itu, kegiatan dihentikan sementara sambil menunggu kondisi memungkinkan untuk dilanjutkan dengan dukungan dan kesiapan yang lebih memadai.

Kondisi cuaca tersebut sejalan dengan peringatan dini yang sebelumnya dikeluarkan BMKG Wilayah III Denpasar. BMKG mengingatkan adanya potensi hujan lebat disertai angin kencang di kawasan tengah Bali, termasuk Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Peringatan itu menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan waktu dan cara pencarian, terutama di wilayah dengan medan curam dan rawan longsor. Perubahan cuaca dapat memengaruhi keamanan akses maupun kondisi tanah di sekitar lokasi.

Setelah pencarian awal terkendala pengelola glamping meminta bantuan Basarnas untuk melakukan pencarian.

Baca juga: TNI Fair 2026, Stand Pusterad Dipadati Ribuan Pengunjung Hadirkan Edukasi dan Beragam Inovasi