Dari Rumah Sementara ke Kemandirian: Perjalanan Seftiani Menata Hidup lewat Usaha Bakso

Dari Rumah Sementara ke Kemandirian: Perjalanan Seftiani Menata Hidup lewat Usaha Bakso

Batam | Seftiani, perempuan berusia 23 tahun asal Pulau Buluh, Batam, sedang menata babak baru dalam kehidupan keluarganya. Bersama suami dan anak pertamanya, ia kini tinggal di kawasan Rempang Eco City sebagai salah satu penerima manfaat program transmigrasi lokal (translok) yang digagas Kementerian Transmigrasi. Hunian baru tersebut menjadi tempat bagi Seftiani untuk membangun kehidupan yang lebih tertata setelah sebelumnya menjalani hari-hari di rumah sementara.

Sudah satu tahun Seftiani menetap di kawasan tersebut. Selama masa itu, ia berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan baru sekaligus memenuhi kebutuhan keluarganya. Kehidupan di hunian baru memberinya ruang untuk merencanakan masa depan dengan lebih tenang, terutama ketika ia kini sedang mengandung anak kedua. Kehadiran anggota keluarga baru menjadi dorongan tambahan bagi Seftiani dan suaminya untuk memperkuat kemandirian mereka.

Perubahan tempat tinggal ini juga dirasakan oleh keluarga besarnya. Ibu Seftiani memperoleh unit rumah di lokasi yang sama, sehingga hubungan keduanya tetap terjaga meskipun mereka telah memasuki tahap kehidupan baru. Kedekatan tersebut menjadi sumber dukungan bagi Seftiani dalam menjalani peran sebagai ibu, istri, sekaligus calon ibu bagi anak keduanya.

Bagi Seftiani, perpindahan dari rumah sementara menuju hunian di Rempang Eco City bukan sekadar perubahan alamat. Langkah itu menandai upaya membangun masa depan keluarga secara bertahap. Dengan rumah yang lebih permanen dan lingkungan yang mulai dikenalnya, ia mulai memikirkan cara meningkatkan penghasilan dan mengembangkan usaha bakso. Usaha tersebut diharapkan dapat menjadi pijakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mendukung pendidikan anak, serta memperkuat kemandirian keluarga di tempat tinggal barunya.

Usaha berjualan bakso menjadi salah satu cara Seftiani memenuhi kebutuhan harian keluarganya. Dengan menawarkan bakso seharga Rp15.000 per porsi, ia menjalankan kegiatan ekonomi yang dapat dilakukan secara mandiri untuk membantu mencukupi keperluan rumah tangga. Bagi Seftiani, berjualan bukan sekadar aktivitas untuk memperoleh penghasilan, melainkan juga langkah penting dalam menata kehidupan dan membangun kemandirian ekonomi.

Seftiani menyampaikan hal tersebut ketika ditemui di sela-sela berjualan pada Festival Transmigrasi 2026 di Batam, Sabtu (10/10). Di tengah kegiatan festival, ia tetap menjalankan usaha baksonya sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Pernyataannya menggambarkan bahwa usaha sederhana yang dikelola secara berkelanjutan dapat menjadi tumpuan bagi keluarga untuk menjalani kehidupan dengan lebih mandiri.

Usaha bakso tersebut dapat berjalan melalui pendampingan serta pembinaan berkala dari Kementerian Transmigrasi. Pendampingan itu menjadi bagian penting dalam membantu Seftiani menjalankan kegiatan usahanya, sekaligus memberikan dukungan agar ia mampu mengelola sumber penghasilan secara lebih terarah. Pembinaan yang dilakukan secara berkala menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi tidak hanya dibangun melalui kemauan untuk bekerja, tetapi juga melalui dukungan dan penguatan kapasitas yang berkelanjutan.

Bagi Seftiani, berjualan bakso menjadi sarana untuk mengupayakan pemenuhan kebutuhan keluarga dengan kemampuan sendiri. Keberadaan usaha tersebut memperlihatkan bagaimana kegiatan ekonomi di tingkat keluarga dapat berperan dalam proses menata kehidupan. Melalui usaha bakso dan dukungan pendampingan, Seftiani berusaha mempertahankan penghasilan harian sekaligus melangkah menuju kemandirian ekonomi secara bertahap.

Program translok dirancang untuk membantu masyarakat berpindah dari kondisi hunian sementara menuju kehidupan yang lebih aman, tertata, dan mandiri. Program ini menjadi salah satu program unggulan Kementerian Transmigrasi karena tidak hanya berorientasi pada penyediaan tempat tinggal, tetapi juga berupaya mengentaskan kemiskinan serta menangani konflik sosial-ekonomi. Pendekatan yang digunakan menempatkan masyarakat lokal sebagai penerima manfaat sekaligus pelaku utama dalam proses pemberdayaan. Dengan dukungan hunian, kebutuhan pangan, dan penguatan ekonomi, peserta diharapkan mampu membangun sumber penghasilan yang berkelanjutan.

Dalam program tersebut, setiap penerima manfaat memperoleh rumah tipe 45 dengan status hak milik. Hunian ini memiliki luas bangunan 45 meter persegi, terdiri atas dua kamar tidur, serta dilengkapi pekarangan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan produktif. Ruang luar tersebut dapat mendukung usaha rumahan, termasuk pengolahan dan penjualan makanan, pemeliharaan tanaman, atau aktivitas lain sesuai keterampilan keluarga. Kepemilikan rumah memberikan kepastian tempat tinggal sekaligus menjadi aset penting yang dapat menopang kemandirian sosial dan ekonomi penerima manfaat dalam jangka panjang.

Dukungan tidak berhenti pada penyediaan rumah. Penerima manfaat juga memperoleh bantuan sembako setiap bulan sebagai bagian dari upaya meningkatkan catu pangan keluarga selama proses penyesuaian berlangsung. Selain itu, pengiriman furnitur rumah dilakukan secara berkala agar hunian dapat digunakan secara layak dan nyaman. Fasilitas tersebut membantu mengurangi beban pengeluaran awal, sehingga keluarga memiliki kesempatan lebih besar untuk mengalokasikan sumber daya bagi kebutuhan pendidikan, kesehatan, maupun pengembangan usaha.

Sebelum menempati hunian tetap di Rempang Eco City, peserta menjalani masa transisi selama satu tahun di rumah sementara yang berada di kawasan Kota Batam. Periode ini menjadi tahap persiapan untuk menata kembali kehidupan, memahami lingkungan baru, dan membangun kemampuan ekonomi secara bertahap. Selama masa transisi, setiap kepala keluarga menerima uang jaminan sebesar Rp1,2 juta per bulan. Bantuan tersebut ditujukan untuk menjaga kestabilan ekonomi hingga keluarga mampu memenuhi kebutuhan secara mandiri, sekaligus memberi waktu untuk menyesuaikan diri dengan peluang usaha dan kehidupan di tempat tinggal baru.

Keikutsertaan dalam program translok tidak berlangsung secara otomatis. Warga yang berminat dapat mendaftarkan diri secara mandiri sesuai mekanisme yang ditetapkan. Selain itu, calon peserta juga dapat memperoleh rekomendasi dari pengurus RT atau RW setempat. Jalur tersebut memungkinkan proses pendataan menjangkau keluarga yang membutuhkan, termasuk mereka yang belum mengetahui seluruh informasi mengenai program. Dalam praktiknya, sebagian peserta juga dipilih melalui RT atau mengikuti proses pembinaan dan seleksi yang dilakukan secara bertahap.

Setelah terdata, calon peserta harus mengikuti serangkaian tes kelayakan. Tahap ini diperlukan untuk memastikan bantuan diberikan kepada keluarga yang memenuhi persyaratan dan benar-benar membutuhkan dukungan. Penilaian dapat mencakup kondisi tempat tinggal, keadaan ekonomi, jumlah anggota keluarga, serta kesiapan mengikuti ketentuan program. Dengan mekanisme tersebut, penyaluran bantuan diharapkan berlangsung lebih tepat sasaran, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Seftiani menyampaikan bahwa warga yang berminat memiliki kesempatan untuk mendaftar. Namun, ia juga menjelaskan bahwa tidak semua peserta masuk melalui pendaftaran pribadi karena sebagian diusulkan oleh RT atau mengikuti pembinaan dan seleksi terlebih dahulu. Keterangan itu menunjukkan bahwa program translok memiliki mekanisme yang terbuka, tetapi tetap disertai penyaringan agar penerima sesuai dengan tujuan program.

Bagi keluarga Seftiani, kesempatan tersebut memiliki arti yang lebih luas daripada perpindahan ke tempat tinggal baru. Dukungan pemerintah tidak hanya berupa hunian, tetapi juga pembinaan usaha dan jaminan kebutuhan dasar selama proses penataan kehidupan berlangsung. Fasilitas serta pendampingan itu menjadi pijakan bagi Seftiani untuk membangun kemandirian keluarga melalui usaha bakso di Rempang Eco City. Dari rumah sementara menuju kehidupan yang lebih tertata, program tersebut membuka ruang bagi keluarganya untuk mengembangkan penghasilan, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan menyiapkan masa depan dengan usaha yang dijalankan secara mandiri.