Budaya  

Dari Rutinitas Melaut ke Arena Lomba: Cerita Nelayan Obi di Festival Harmoni 2026

Dari Rutinitas Melaut ke Arena Lomba: Cerita Nelayan Obi di Festival Harmoni 2026

Jakarta | Obi Fishing Tournament menjadi salah satu kegiatan dalam Festival Harmoni Obi 2026 yang berlangsung pada 24–25 Oktober di Desa Kawasi, Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Turnamen ini mempertemukan warga yang sehari-hari akrab dengan laut dalam sebuah kompetisi yang menjadi bagian dari perayaan bersama. Kehadiran kegiatan tersebut memberi ruang bagi masyarakat pesisir untuk berpartisipasi sekaligus menunjukkan keterampilan yang telah terbentuk melalui rutinitas melaut.

Antusiasme terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai lebih dari 270 orang. Angka ini lebih dari dua kali jumlah peserta pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, yang tercatat sebanyak 135 orang. Peningkatan tersebut menunjukkan besarnya minat masyarakat terhadap turnamen, sekaligus memperluas keterlibatan warga dalam rangkaian Festival Harmoni Obi. Pendaftaran yang melampaui jumlah tahun lalu juga menandai perkembangan kegiatan ini sebagai agenda yang dinantikan oleh komunitas setempat.

Mayoritas peserta merupakan nelayan dari Desa Kawasi, Desa Soligi, serta desa-desa lain di sekitar area operasional. Bagi banyak peserta, memancing bukan kegiatan yang sepenuhnya terpisah dari kehidupan sehari-hari. Pengalaman membaca kondisi laut dan menentukan cara menangkap ikan menjadi bagian dari pekerjaan mereka. Dalam suasana turnamen, pengetahuan dan kebiasaan tersebut hadir di arena lomba, dengan peserta mengikuti aturan serta mekanisme penilaian yang ditetapkan panitia.

Penilaian dilakukan oleh panitia bersama Asosiasi Pemancing Republik Indonesia. Dasar penilaiannya mencakup jenis ikan dan bobot hasil tangkapan. Dengan kriteria tersebut, hasil lomba tidak hanya ditentukan oleh jumlah ikan, tetapi juga memperhatikan karakter tangkapan yang diperoleh peserta. Penilaian bersama ini menyediakan acuan bagi penyelenggaraan kompetisi dan membantu memastikan hasil tangkapan dinilai menggunakan dasar yang telah ditentukan.

Jumlah pendaftar dan dominasi peserta dari desa-desa sekitar memperlihatkan kuatnya hubungan turnamen dengan kehidupan masyarakat Obi. Kegiatan ini menghadirkan pengalaman melaut dalam format kompetisi, sekaligus menjadi kesempatan bagi nelayan dan warga untuk berkumpul dalam festival. Di tengah agenda Festival Harmoni Obi 2026, turnamen tersebut menempatkan keterampilan lokal sebagai bagian penting dari perayaan di Kawasi.

Setiap kali hendak melaut, Harmin memulai hari dengan memeriksa perlengkapan yang akan dibawanya. Nelayan berusia 37 tahun dari Desa Soligi, Kecamatan Obi Selatan, ini memastikan nilong atau senar pancing—yang oleh masyarakat Maluku disebut tasi—masih kuat dan tidak mudah putus. Ia juga mengecek mata pancing, lalu menyiapkan umpan, biasanya spons atau potongan ikan. Persiapan sederhana tersebut penting sebelum berhadapan dengan keadaan laut dan berharap memperoleh tangkapan.

Kebiasaan itu telah menjadi bagian dari hidup Harmin selama lebih dari dua puluh tahun. Ia mulai melaut setelah lulus sekolah dasar, ketika kegiatan mencari ikan perlahan menjadi rutinitas yang dijalaninya hampir setiap hari. Pengalaman panjang membuatnya terbiasa mengurus sendiri perlengkapan, dari memeriksa senar sampai memastikan mata pancing siap digunakan. Rutinitas tersebut bukan sekadar pekerjaan, melainkan keterampilan yang terus dipelihara dari waktu ke waktu.

Harmin mengenal cara menyiapkan alat dan mencari ikan dari orang-orang di sekitarnya. Orang tua serta tetangga menjadi sumber pengetahuan pertamanya. Di Soligi, keterampilan melaut tidak hanya dipelajari melalui pengalaman pribadi, tetapi juga tumbuh lewat kebiasaan warga berbagi pengetahuan. Pengalaman tentang perlengkapan, umpan, dan kebiasaan di laut diteruskan antargenerasi maupun di sesama nelayan. Bagi Harmin, belajar dari lingkungan itu membantu membentuk pemahaman yang kemudian ia gunakan dalam keseharian.

Hasil melaut terutama dibawa pulang untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga. Ikan baru dijual apabila tangkapan berlebih, sehingga kegiatan tersebut dekat dengan kebutuhan rumah tangga sekaligus dapat memberi tambahan penghasilan. Menurut Harmin, perairan Soligi masih menghasilkan beragam ikan, di antaranya bobara, tongkol, dan kerapu. Ia juga pernah memperoleh ikan dengan bobot lebih dari sepuluh kilogram. Pengalaman itu menunjukkan bahwa hasil tangkapan dapat berbeda-beda, sementara persiapan dan ketekunan tetap menjadi bagian penting dari pekerjaan nelayan. Di balik rutinitas memeriksa tasi dan menyiapkan umpan, terdapat hubungan erat kehidupan keluarga, pengetahuan yang dibagikan warga, dan laut yang menjadi sumber penghidupan masyarakat Soligi.

Bagi Harmin, turnamen memancing dalam Festival Harmoni 2026 menjadi pengalaman yang berbeda dari kesehariannya sebagai nelayan di Pulau Obi. Ia mengaku baru kali ini mengikuti lomba mancing. Selama ini, kegiatan memancing dan melaut dijalani sebagai bagian dari rutinitas untuk mencari hasil tangkapan, bukan sebagai kompetisi dengan peserta lain dan aturan khusus. Perbedaan suasana tersebut membuat keikutsertaannya terasa sebagai pengalaman baru.

Harmin memandang lomba ini bukan semata-mata kesempatan memperoleh ikan. Kompetisi memberinya pengalaman, melatih mental, dan membuka ruang untuk mengukur kemampuan memancingnya. Ia juga merasakan kebersamaan dengan peserta lain, yang menjalani tantangan serupa di kawasan perairan yang telah ditentukan. Bagi nelayan yang terbiasa bekerja di laut, suasana lomba menghadirkan cara berbeda untuk mengasah keterampilan sekaligus berinteraksi dengan sesama pemancing.

Ragam hasil tangkapan yang disebutkan dalam kegiatan ini mencakup kakap merah, kerapu, tuna, serta bobara atau giant trevally. Jenis-jenis tersebut merupakan ikan yang dikenal di perairan setempat dan dapat menjadi bagian dari hasil laut yang bernilai bagi masyarakat. Namun, penyelenggaraan lomba juga memperhatikan batas dan ketentuan agar kegiatan memancing tidak mengabaikan kelestarian ekosistem laut.

Area memancing dibatasi di perairan depan kawasan. Sasaran tangkapan adalah ikan yang lazim dikonsumsi atau diperdagangkan, sementara ikan yang dilindungi tidak boleh ditangkap. Ketentuan ini memberi batas yang jelas bagi peserta tentang lokasi dan jenis ikan yang dapat menjadi sasaran. Dengan demikian, kompetisi tetap dapat berlangsung tanpa mendorong penangkapan satwa yang perlu dijaga keberadaannya.

Sekretaris Desa Kawasi, Frans Datang, menekankan pentingnya menjaga kelestarian laut. Menurut pesan yang disampaikannya, potensi laut Pulau Obi perlu dirawat agar manfaatnya dapat terus dirasakan masyarakat. Prinsip tersebut menjadi pengingat bahwa pengalaman berkompetisi dan hasil tangkapan perlu berjalan seiring dengan tanggung jawab terhadap lingkungan. Laut bukan hanya tempat mencari nafkah atau arena perlombaan, melainkan sumber daya bersama yang menopang kehidupan warga. Menjaganya berarti ikut mempertahankan manfaatnya bagi masyarakat saat ini dan generasi berikutnya.

Bagi Harmin, Festival Harmoni 2026 bukan sekadar ajang menguji keterampilan melaut dan memancing. Pertemuan dengan nelayan dari desa lain menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut. Di tengah kegiatan festival, ia berkesempatan berkenalan dan berbincang dengan sesama nelayan, termasuk warga Kawasi dan Soligi. Kesempatan seperti ini terasa berarti karena rutinitas melaut biasanya membuat setiap orang lebih banyak beraktivitas di wilayahnya sendiri. Melalui percakapan dan kebersamaan, hubungan antarnelayan dapat semakin erat, sekaligus membuka ruang untuk saling mengenal kehidupan dan pengalaman masing-masing. Bagi Harmin, suasana akrab itu menjadi kenangan yang melengkapi semangat kompetisi.

Perayaan di Pulau Obi juga berlangsung jauh melampaui lomba. Lebih dari seribu warga dan karyawan Harita Nickel hadir meramaikan festival, menyaksikan pertunjukan dua kelompok tari lokal serta paduan suara anak-anak. Ragam penampilan tersebut memberi ruang bagi masyarakat untuk menunjukkan ekspresi seni dan budaya setempat kepada para pengunjung. Suasana semakin semarak dengan bazar kuliner dan jajanan khas Obi serta Maluku Utara. Sepuluh UKM lokal berpartisipasi, menghadirkan produk dan cita rasa daerah yang dapat dinikmati pengunjung. Kehadiran pelaku usaha ini turut memperlihatkan bahwa festival menjadi kesempatan untuk mengenalkan karya lokal, bukan hanya panggung hiburan.

Baca juga: Panglima TNI Tinjau Festival Band Piala Panglima TNI Tahun 2026 | Nada Kreativitas Generasi Muda Menggema di Festival Band HUT ke-81 TNI | Panglima TNI Resmi Tutup Lomba Tembak Piala Panglima TNI 2026