Bisnis  

Estetika Medis di Indonesia Bergeser ke Perawatan Preventif dan Wellness

Estetika Medis di Indonesia Bergeser ke Perawatan Preventif dan Wellness

Jakarta | Industri kecantikan dan estetika di Indonesia berkembang pesat, seiring perubahan cara masyarakat memandang perawatan diri. David Leonard, Head of Doctor Youthology Aesthetic Clinic, menilai layanan estetika kini tidak lagi terbatas pada kelompok tertentu atau dipilih hanya untuk kebutuhan khusus. Semakin banyak orang menjadikannya bagian dari upaya menjaga penampilan dan merawat diri secara berkelanjutan.

Menurut David, perkembangan ini turut dipengaruhi tren dari luar negeri, terutama Korea Selatan dan China. Arus informasi, budaya populer, serta ragam pendekatan perawatan yang dikenal masyarakat ikut membentuk ekspektasi terhadap layanan kecantikan. Paparan tersebut membuat pasien lebih akrab dengan pilihan perawatan dan semakin terbuka untuk mencari informasi maupun berkonsultasi dengan klinik. Pengaruh tren global juga mendorong industri untuk terus menyesuaikan layanan dengan kebutuhan pasien yang beragam.

Perubahan terlihat pula pada frekuensi dan alasan pasien datang. Jika sebelumnya perawatan mungkin dilakukan sesekali, kini sebagian pasien memandangnya sebagai kebutuhan yang dapat menjadi bagian dari rutinitas. Pergeseran ini bukan berarti setiap orang harus menjalani prosedur tertentu, melainkan menunjukkan bahwa perhatian terhadap perawatan diri makin diterima dalam kehidupan sehari-hari. Konsultasi dan pemilihan tindakan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan, serta pertimbangan profesional.

Kelompok pasien yang tertarik juga semakin beragam. Gen Z dan perempuan berusia lebih muda mulai mengenal perawatan estetika, sementara kaum pria pun kian menunjukkan minat. Perluasan ini mencerminkan perubahan batas sosial mengenai siapa yang boleh atau perlu merawat penampilan. Bagi sebagian orang, tujuannya adalah menjaga kondisi kulit; bagi yang lain, perawatan dapat berkaitan dengan rasa percaya diri atau kebutuhan personal. Karena itu, pendekatan klinik perlu memperhatikan usia, kondisi, dan tujuan masing-masing pasien, bukan semata mengikuti tren.

David menyampaikan pandangan tersebut dalam acara Road to Awards 2026 “Best Beauty and Clinic” pada Rabu, 28 Oktober 2026. Perkembangan yang ia gambarkan menunjukkan bahwa estetika di Indonesia bergerak menuju praktik yang lebih umum dan terintegrasi dengan perhatian terhadap wellness. Di tengah pertumbuhan itu, informasi yang jelas dan keputusan yang bertanggung jawab tetap penting agar pasien memahami pilihan perawatan serta dapat menentukan langkah yang sesuai bagi dirinya.

Dalam beberapa tahun terakhir, arah layanan estetika medis di Indonesia mulai berkembang. Jika sebelumnya banyak pasien datang dengan tujuan memperbaiki bagian tertentu yang dianggap kurang sesuai, kini pembicaraan semakin luas: bagaimana menjaga kondisi kulit, mendukung kesehatan jangka panjang, dan memperoleh hasil yang selaras dengan kebutuhan tubuh. Pergeseran ini mencerminkan meningkatnya perhatian terhadap preventive medicine dan wellness, bukan sekadar perubahan tren kecantikan. Pasien semakin ingin memahami pilihan perawatan, manfaatnya, serta cara merawat hasil dalam jangka panjang. Konsultasi pun dapat mencakup kebiasaan sehari-hari dan kondisi kulit, selain bentuk atau tampilan yang ingin dicapai.

Keinginan untuk memiliki wajah berbentuk v-shape, hidung yang lebih mancung, atau dagu dengan proporsi yang lebih baik tetap menjadi bagian dari permintaan pasien. Namun, kebutuhan di balik permintaan tersebut kini cenderung lebih kompleks. Seseorang mungkin ingin memperbaiki proporsi wajah sekaligus menjaga kualitas kulit, mengurangi tanda penuaan sejak dini, atau memilih prosedur dengan masa pemulihan yang tidak mengganggu aktivitas. Menurut David, perhatian pasien juga semakin tertuju pada kesehatan kulit jangka panjang dan pemulihan yang lebih minimal. Karena itu, keputusan perawatan idealnya mempertimbangkan kondisi dan tujuan masing-masing individu, bukan hanya meniru hasil yang populer.

Pendekatan preventif dapat berarti mengenali perubahan kulit lebih awal, merawatnya secara konsisten, dan mendiskusikan langkah yang sesuai dengan tenaga medis. Fokus pada wellness juga mendorong pertimbangan yang lebih menyeluruh, termasuk keamanan, kenyamanan, serta keseimbangan hasil yang diharapkan dan risiko prosedur. Perawatan yang tepat tidak selalu harus berupa tindakan besar; pilihan dapat beragam sesuai evaluasi profesional dan kondisi pasien. Meski perhatian terhadap pencegahan dan pemeliharaan meningkat, tindakan korektif tidak serta-merta menghilang. Prosedur untuk mengubah atau memperbaiki fitur tertentu tetap memiliki tempat bagi pasien yang membutuhkannya. Yang berubah adalah cakupan percakapan: selain membahas koreksi penampilan, pasien dan klinisi semakin mempertimbangkan hasil yang berkelanjutan, kesehatan kulit, serta pemulihan. Dengan demikian, estetika medis bergerak menuju layanan yang lebih personal, preventif, dan berorientasi pada wellness, tanpa meniadakan tujuan korektif.

Perhatian terhadap estetika medis di Indonesia kini turut mengarah pada perawatan preventif dan wellness. Dalam pembahasan mengenai pergeseran ini, tindakan preventive medicine disebut lebih banyak diminati dibandingkan tindakan lain. Perubahan minat tersebut menggambarkan perhatian yang semakin besar terhadap perawatan yang direncanakan, bukan semata-mata tindakan yang menjadi pilihan setelah seseorang memiliki kebutuhan tertentu. Tren ini juga terlihat dari jenis treatment yang sedang dibicarakan dan dipilih oleh konsumen.

David mencontohkan collagen stimulator dan salmon DNA sebagai perawatan yang saat ini populer. Kedua nama tersebut menjadi bagian dari percakapan seputar pilihan estetika medis, seiring meningkatnya minat pada pendekatan preventif. Contoh yang disampaikan David menunjukkan bahwa perhatian konsumen tidak hanya tertuju pada satu jenis treatment. Namun, pembahasan ini berfokus pada tren dan pilihan yang sedang diminati, tanpa menguraikan detail medis atau manfaat khusus dari masing-masing perawatan.

Selain tren treatment, upaya menghadirkan hasil yang lebih tahan lama juga menjadi perhatian. David menjelaskan bahwa terdapat usaha untuk menghadirkan treatment dengan hasil yang lebih tahan lama. Pernyataan ini menempatkan durasi hasil sebagai salah satu aspek yang diperhatikan dalam pengembangan pilihan perawatan. Fokus tersebut sejalan dengan pembicaraan yang lebih luas mengenai bagaimana layanan estetika medis merespons perubahan kebutuhan dan minat konsumen, tanpa mengesampingkan konteks bahwa preferensi setiap orang dapat berbeda.

Dengan demikian, pergeseran menuju preventive medicine tidak hanya tercermin dari meningkatnya minat terhadap tindakan preventif, tetapi juga dari pilihan treatment yang menjadi populer serta perhatian terhadap hasil jangka panjang. Collagen stimulator dan salmon DNA merupakan contoh yang disebut David dalam menggambarkan tren saat ini. Sementara itu, upaya menghadirkan hasil yang lebih tahan lama menunjukkan arah perhatian penyedia layanan. Perkembangan ini menjadi bagian dari perubahan estetika medis di Indonesia menuju pendekatan yang semakin berkaitan dengan perawatan preventif dan wellness.

Menurut David, keberlanjutan klinik kecantikan dan estetika tidak cukup ditopang oleh popularitas layanan atau tingginya minat pasien pada suatu tren. Klinik perlu membangun standar yang konsisten dalam tiga aspek utama: sumber daya manusia, produk dan treatment, serta kenyamanan pasien. Ketiganya saling berkaitan dan menjadi dasar untuk menjaga kepercayaan sekaligus mutu pelayanan dalam jangka panjang.

Standar pertama adalah kualitas sumber daya manusia, terutama dokter yang menangani pasien. Dokter perlu bekerja secara profesional, memahami kebutuhan dan kondisi pasien, serta memberikan penjelasan yang sesuai sebelum tindakan dilakukan. Kompetensi juga harus terus diperbarui melalui pembelajaran berkelanjutan. Ilmu kedokteran, teknik perawatan, dan pemahaman terhadap risiko dapat berkembang, sehingga dokter perlu mengikuti perkembangan pengetahuan agar keputusan klinis tetap relevan dan bertanggung jawab. Bagi David, sikap profesional tidak hanya terlihat dari keterampilan, tetapi juga dari cara dokter menilai kebutuhan pasien secara objektif.

Standar kedua menyangkut produk dan treatment yang digunakan. Klinik perlu memastikan bahwa produk yang diberikan atau dipakai dalam prosedur aman bagi pasien, dengan mutu dan penggunaannya yang dapat dipertanggungjawabkan.