Jakarta | Evaluasi terhadap dua tahun pemerintahan menunjukkan bahwa Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memperoleh nilai kinerja di bawah lima. Temuan tersebut menjadi salah satu pokok perhatian dalam riset dan survei yang dilakukan oleh Center of Economic and Law Studies (CELIOS) bersama KabinetBayangan. Penilaian ini disusun untuk melihat pelaksanaan peran serta kinerja pemerintahan selama dua tahun berjalan, termasuk posisi wakil presiden di dalamnya.
Angka di bawah lima tersebut merujuk pada hasil penilaian yang diberikan terhadap Gibran dalam kapasitasnya sebagai wakil presiden. Dengan demikian, evaluasi ini tidak menilai Gibran dalam jabatan atau peran lain, melainkan secara khusus membahas kinerjanya sebagai bagian dari pemerintahan pada periode tersebut. Hasil riset dan survei CELIOS bersama KabinetBayangan menjadi dasar penyampaian temuan mengenai capaian kinerja itu.
Penilaian tersebut menempatkan kinerja wakil presiden sebagai bagian dari evaluasi yang dilakukan terhadap pemerintahan setelah menjalani masa dua tahun. Riset dan survei yang diselenggarakan kedua lembaga itu memberikan gambaran mengenai bagaimana kinerja Gibran dipersepsikan dalam pelaksanaan tugasnya sebagai wakil presiden. Nilai yang berada di bawah lima menjadi angka utama yang disampaikan dalam evaluasi tersebut.
Dalam pemberitaan mengenai hasil evaluasi ini, fokusnya adalah nilai kinerja Gibran dan sumber data yang mendasarinya. CELIOS dan KabinetBayangan menjadi pihak yang melakukan riset serta survei tersebut, sedangkan objek penilaiannya adalah kinerja Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka selama dua tahun pemerintahan. Karena itu, informasi yang disampaikan berkaitan langsung dengan hasil penilaian atas kapasitasnya sebagai wakil presiden, tanpa memperluas pembahasan pada penilaian atau kesimpulan lain di luar temuan riset dan survei.
Survei evaluasi dua tahun pemerintahan menghimpun pandangan dari dua kelompok responden, yaitu kelompok ahli dan masyarakat umum. Pemisahan responden ini memungkinkan hasil penilaian disajikan berdasarkan latar kelompok yang memberikan jawaban. Dengan demikian, angka yang diperoleh tidak digabungkan menjadi satu nilai tunggal, melainkan ditampilkan secara terpisah untuk memperlihatkan pandangan masing-masing kelompok terhadap kinerja pemerintahan.
Kelompok ahli memberikan skor rata-rata 2,2 dari skala 10. Nilai tersebut menjadi hasil penilaian kelompok yang terdiri atas responden dengan kategori ahli sebagaimana ditetapkan dalam metode survei. Skor 2,2 menunjukkan tingkat penilaian yang tercatat dari kelompok tersebut dalam pengukuran kinerja pemerintahan selama periode dua tahun. Angka ini disampaikan sebagai hasil survei dan tidak disertai penjelasan tambahan mengenai pertimbangan setiap responden.
Sementara itu, masyarakat umum memberikan nilai rata-rata 4,9 dari 10. Hasil ini merupakan penilaian yang dihimpun dari kelompok responden masyarakat umum melalui metode pengumpulan pandangan yang sama dalam survei. Dibandingkan dengan skor kelompok ahli, nilai masyarakat umum berada pada tingkat yang lebih tinggi, dengan selisih 2,7 poin.
Perbedaan tersebut memperlihatkan adanya jarak penilaian kedua kelompok responden. Kelompok ahli menempatkan kinerja pemerintahan pada skor 2,2, sedangkan masyarakat umum memberikan skor 4,9. Kedua angka itu perlu dibaca sebagai hasil penilaian dari kelompok yang berbeda, bukan sebagai pengukuran yang sepenuhnya identik. Data survei hanya menunjukkan perbedaan nilai yang diberikan oleh masing-masing kelompok. Informasi yang tersedia tidak menjelaskan penyebab munculnya perbedaan tersebut, sehingga faktor di balik variasi penilaian tidak dapat ditentukan berdasarkan hasil ini saja. Penyajian terpisah membantu menjaga kejelasan pandangan ahli dan persepsi masyarakat umum dalam evaluasi kinerja pemerintahan.
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, memaparkan hasil riset evaluasi kinerja pemerintahan secara daring pada Minggu, 11 Oktober 2026. Dalam pemaparan tersebut, ia menyampaikan penilaian terhadap kinerja Gibran yang berada di bawah angka lima. Keterangan itu menjadi dasar bagi penyampaian gambaran umum mengenai hasil evaluasi setelah dua tahun pemerintahan.
Bhima menjelaskan bahwa skor Gibran yang dihimpun dari kelompok ahli menunjukkan nilai kurang dari lima. Penilaian serupa juga terlihat dari masyarakat umum, yang memberikan skor di bawah lima. Dengan demikian, kedua kelompok penilai sama-sama menempatkan kinerja Gibran pada tingkat yang belum mencapai kategori tinggi dalam evaluasi tersebut. Pernyataan ini menegaskan bahwa hasil riset tidak hanya mencerminkan pandangan kalangan pengamat, tetapi juga menangkap penilaian publik.
Penyampaian Bhima menjadi rujukan utama untuk membaca angka evaluasi yang muncul dalam riset CELIOS. Ia menekankan hasil penilaian sebagaimana tercermin dalam skor masing-masing kelompok, tanpa mengubah makna bahwa nilainya masih berada di bawah lima. Angka tersebut menggambarkan adanya catatan terhadap kinerja Gibran selama masa pemerintahan yang dievaluasi, sekaligus menunjukkan bahwa tingkat kepuasan atau apresiasi yang tercermin dalam penilaian belum berada pada tingkat maksimal.
Dalam konteks evaluasi dua tahun pemerintahan, keterangan tersebut memberikan penekanan pada posisi skor, bukan sekadar pada penyebutan hasil survei. Baik kelompok ahli maupun masyarakat umum memberikan penilaian yang belum menembus angka lima. Karena itu, pemaparan Bhima menjadi landasan bagi pemberitaan mengenai nilai kinerja Gibran dan membantu menempatkan hasil riset dalam pembahasan publik secara lebih terukur. Rincian lain yang tidak disampaikan dalam pemaparan tersebut tidak menjadi bagian dari keterangan ini.
Selain menilai kinerja Gibran, riset yang sama juga memuat evaluasi terhadap Presiden Prabowo setelah dua tahun pemerintahan. Penilaian tersebut diberikan oleh kelompok ahli yang menjadi bagian dari riset, sehingga hasilnya mencerminkan pandangan kelompok responden sesuai metode yang digunakan dalam penelitian tersebut.
Berdasarkan hasil riset, kelompok ahli memberikan skor 2,8 dari 10 kepada Prabowo untuk kinerja selama dua tahun pemerintahan. Angka ini menjadi informasi tambahan dalam pemberitaan mengenai evaluasi pemerintahan pada periode yang sama. Penyebutan skor tersebut penting untuk memberikan konteks yang lebih lengkap mengenai cakupan riset, yang tidak hanya menilai figur wakil presiden, tetapi juga mencakup penilaian terhadap presiden.
Data mengenai penilaian Prabowo ditempatkan sebagai bagian dari temuan penelitian, tanpa menambahkan tafsir di luar keterangan yang tersedia. Skor 2,8 dari 10 merupakan hasil penilaian kelompok ahli sebagaimana tercantum dalam riset, sedangkan makna yang lebih luas dari angka tersebut tetap perlu dipahami dengan memperhatikan metodologi, komposisi responden, serta indikator yang digunakan oleh peneliti. Dengan demikian, informasi ini melengkapi paparan mengenai evaluasi dua tahun pemerintahan berdasarkan sumber riset yang sama.
Baca juga: Transformasi Berbuah Manis, BRI Catat Kinerja Solid di Triwulan II | Kinerja Korwil BGN Tuban Disorot Usai 18 Kepala SPPG Dijatuhi Sanksi | Menembus Batas Alam Ugimba: Koops TNI Habema Hadirkan Kembali Negara di Bawah Kaki Gunung Cartenz Setelah 15 Tahun Terisolasi

