Jakarta | Hong Kong menempati posisi teratas dalam daftar wilayah dengan harga bensin paling mahal di dunia berdasarkan pemeringkatan Global Petrol Prices per 5 Oktober 2026. Data tersebut menempatkan Hong Kong sebagai pemimpin daftar, dengan harga bahan bakar minyak yang jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah lain yang tercantum. Pemeringkatan ini memberikan gambaran mengenai perbedaan biaya bensin di berbagai negara dan wilayah pada tanggal pengamatan yang sama.
Daftar Global Petrol Prices disusun dari harga tertinggi hingga terendah dan mencakup 10 negara atau wilayah. Harga paling tinggi yang tercantum untuk Hong Kong mencapai US$4,412 per liter. Jika dikonversikan menggunakan kurs Rp17.891 per US$, nilai tersebut setara dengan sekitar Rp78.937 per liter. Angka ini menjadikan Hong Kong sebagai wilayah dengan harga bensin tertinggi dalam daftar tersebut, sekaligus menjadi perhatian di tengah perbedaan kebijakan energi, struktur pajak, biaya impor, dan kondisi pasar pada setiap wilayah.
Meski demikian, Global Petrol Prices tidak menjelaskan secara spesifik jenis bensin yang digunakan sebagai pembanding dalam pemeringkatan itu. Belum diketahui apakah harga yang dicantumkan merujuk pada bensin beroktan 92, RON 95, atau jenis bahan bakar lainnya. Keterangan tersebut penting karena harga dapat berbeda berdasarkan angka oktan, formulasi produk, serta standar yang berlaku di masing-masing pasar. Oleh karena itu, angka US$4,412 per liter atau sekitar Rp78.937 per liter perlu dipahami sebagai nilai yang tercantum dalam basis data lembaga tersebut, bukan sebagai perbandingan langsung untuk satu jenis bensin yang seragam di seluruh negara dan wilayah.
Daftar harga bensin termahal dunia per 5 Oktober 2026 menempatkan Hong Kong sebagai nama yang berada di urutan teratas. Posisi tersebut menjadi pembuka rangkaian sepuluh negara dan wilayah dengan harga bensin paling tinggi dalam sumber yang digunakan. Namun, angka harga untuk Hong Kong tidak dicantumkan secara terpisah dalam bahan yang tersedia. Karena itu, penyajian berikut mempertahankan informasi sebagaimana tercantum, tanpa menambahkan angka, negara, atau wilayah yang tidak disebutkan secara jelas.
Setelah Hong Kong, tercantum harga US$3,226 per liter, yang setara dengan sekitar Rp57.718 per liter. Berikutnya adalah US$3,118 atau sekitar Rp55.785 per liter, kemudian US$2,860 atau sekitar Rp51.169 per liter. Urutan selanjutnya mencatat US$2,775 atau sekitar Rp49.649 per liter, disusul US$2,637 atau sekitar Rp47.180 per liter. Daftar tersebut kemudian berlanjut dengan harga US$2,621 atau sekitar Rp45.893 per liter.
Empat nilai terakhir dalam rangkaian ini adalah US$2,559 atau sekitar Rp45.784 per liter, US$2,549 atau sekitar Rp45.608 per liter, serta US$2,488 atau sekitar Rp44.514 per liter. Seluruh angka tersebut disusun berdasarkan urutan yang diberikan sumber, bukan berdasarkan pengelompokan tambahan atau perkiraan identitas negara dan wilayahnya. Dengan demikian, pembaca dapat melihat rentang harga yang tercantum secara langsung, mulai dari nilai setelah posisi Hong Kong hingga angka paling rendah dalam sembilan nilai lanjutan tersebut.
Seluruh konversi dari dolar Amerika Serikat ke rupiah dalam daftar menggunakan kurs Rp17.891 per US$. Perbedaan kecil hasil perkalian kurs dan angka rupiah yang ditampilkan dapat berkaitan dengan pembulatan. Kurs yang sama diterapkan pada seluruh nilai dolar agar perbandingan tetap konsisten. Penyebutan harga dalam dua mata uang juga membantu pembaca memahami besaran biaya bensin berdasarkan standar internasional sekaligus memperkirakan nilainya dalam rupiah.
Perbedaan harga bensin antarnegara umumnya berkaitan dengan tingkat pendapatan, kebijakan pemerintah, serta posisi suatu negara dalam pasar minyak. Negara berpendapatan tinggi cenderung mencatat harga bensin yang lebih mahal bagi konsumen. Dalam kelompok ini, harga di tingkat pompa dapat mencerminkan kebijakan fiskal dan struktur biaya yang berlaku di masing-masing negara. Karena itu, perbandingan harga bensin tidak hanya menunjukkan perubahan harga minyak di pasar internasional, tetapi juga memperlihatkan bagaimana setiap pemerintah mengatur produk energi tersebut.
Pajak menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi harga akhir bensin. Pemerintah dapat mengenakan pajak bahan bakar atau pungutan lain yang kemudian ditambahkan ke harga yang dibayar konsumen. Besarnya beban tersebut berbeda-beda antarnegara, sehingga harga bensin dapat tetap tinggi meskipun harga minyak mentah berada pada tingkat yang sama. Selain pajak, subsidi juga berperan dalam membentuk harga di tingkat konsumen. Negara yang memberikan subsidi lebih besar dapat menekan harga bensin, sedangkan negara dengan dukungan yang lebih terbatas dapat meneruskan porsi biaya yang lebih besar kepada masyarakat.
Pola lain yang disebutkan adalah harga yang relatif lebih rendah di banyak negara berkembang yang memproduksi dan mengekspor minyak. Ketersediaan sumber daya minyak serta kebijakan domestik di negara-negara tersebut dapat berjalan bersamaan dengan harga bensin yang lebih terjangkau. Namun, Amerika Serikat menjadi pengecualian di negara-negara maju karena harga bensinnya relatif murah. Dengan demikian, tingkat pendapatan tinggi tidak selalu berujung pada harga bensin tertinggi. Perbedaan harga tetap dipengaruhi oleh perpaduan pajak, subsidi, kebijakan energi, dan karakteristik produksi minyak di setiap negara.
Kenaikan harga bensin global pada awal Oktober berlangsung di tengah gejolak baru pasar minyak mentah. Dalam perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026, harga Brent melonjak 4 persen menjadi US$104,28 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 3,6 persen menjadi US$91,49 per barel. Pergerakan tersebut dipicu meningkatnya risiko gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah dan Amerika Serikat.
Di Selat Hormuz, sembilan kapal tanker dilaporkan diserang dalam sepekan terakhir, baik di dalam maupun di sekitar jalur pelayaran strategis tersebut. Arus minyak yang melintasi selat kini berada sekitar 30 persen di bawah tingkat normal sebelum perang Iran, atau sekitar 9,5 juta barel per hari. Jika memperhitungkan minyak mentah Timur Tengah yang dialihkan melalui jaringan pipa, total alirannya mencapai 16,4 juta barel per hari. Situasi ini memperbesar kekhawatiran terhadap ketersediaan energi serta biaya pengangkutan dan asuransi kapal.
Tekanan pasokan juga muncul dari Teluk Meksiko. Sejumlah perusahaan minyak menghentikan sekitar 500.000 barel produksi per hari, setara dengan 25 persen produksi lepas pantai Amerika Serikat, karena pergerakan Badai Isaias mengarah ke Alabama, Mississippi, dan panhandle Florida. Ancaman cuaca tersebut berpotensi mengganggu kegiatan pengeboran, pemuatan, dan distribusi minyak.
Perkembangan keamanan lain turut memperburuk sentimen pasar. Militan Houthi yang didukung Iran dilaporkan menembakkan rudal ke bandara di Riyadh dan Abha. Serangan itu disebut menewaskan tiga orang dan melukai 36 lainnya. Namun, harga minyak sempat turun dari level tertinggi setelah Donald Trump menyatakan tidak akan ada serangan terhadap Iran sebelum pemilihan umum sela November. Pasar tetap mencermati laporan bahwa kemungkinan serangan kembali dalam beberapa pekan sedang dipertimbangkan, sehingga risiko volatilitas harga dan gangguan pasokan global masih tinggi.

