JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Jakarta World Cinema (JWC) 2026 resmi mengumumkan programnya dalam konferensi pers yang berlangsung di CGV fX Sudirman, Jakarta, pada 1 Oktober 2026. Festival tahun ini menghadirkan 207 film dari 69 negara, memperlihatkan cakupan program yang semakin luas sekaligus menegaskan komitmen JWC terhadap keberagaman sinema global. Melalui pilihan film dari berbagai kawasan dan latar budaya, penyelenggara ingin memperkuat posisi festival sebagai salah satu destinasi utama sinema dunia di Asia Tenggara.
Dari keseluruhan program, sebanyak 120 film merupakan peraih penghargaan dari berbagai festival bergengsi di dunia. Sebanyak 96 film berasal dari Asia, sehingga penonton berkesempatan menyaksikan karya-karya yang merepresentasikan perkembangan sinema regional dalam beragam pendekatan artistik dan tema. Program ini juga mencakup 41 film yang disutradarai perempuan, menunjukkan perhatian JWC terhadap perluasan representasi serta kontribusi sineas perempuan dalam industri film internasional.
Selain itu, 20 film yang diputar merupakan perwakilan resmi negara masing-masing untuk kategori Best International Feature Film pada Academy Awards ke-99. Kehadiran film-film tersebut memberikan nilai penting bagi program JWC 2026 karena mempertemukan karya yang telah mendapat pengakuan nasional dengan penonton Indonesia. Frederica, selaku Executive Director JWC, menyampaikan bahwa festival ini dibangun untuk menjembatani sinema kelas dunia dengan penonton Indonesia. Menurutnya, JWC juga memiliki visi menempatkan Jakarta sebagai salah satu pusat budaya sinema penting di kawasan Asia Tenggara. Dengan perpaduan film pemenang penghargaan, karya Asia, film garapan perempuan, serta representasi resmi negara peserta Academy Awards, edisi 2026 menawarkan gambaran luas mengenai dinamika sinema kontemporer sekaligus memperkuat peran Jakarta dalam ekosistem perfilman internasional.
Jakarta World Cinema 2026 akan dibuka dengan pemutaran Fjord, karya sutradara Rumania Cristian Mungiu. Film ini menjadi salah satu daya tarik utama dalam rangkaian festival karena baru meraih penghargaan Palme d'Or di Festival Film Cannes 2026. Penghargaan tersebut merupakan capaian tertinggi dalam salah satu festival film paling bergengsi di dunia, sehingga kehadiran Fjord memberikan perhatian khusus bagi penyelenggaraan JWC 2026.
Pemilihan Fjord sebagai film pembuka juga menempatkan Jakarta World Cinema sebagai ruang pertemuan bagi karya-karya sinema internasional yang memperoleh pengakuan penting. Penayangannya membawa salah satu film pemenang penghargaan tertinggi Cannes ke layar Indonesia. Bagi penonton, momen ini menjadi kesempatan untuk menyaksikan karya terbaru Mungiu yang sebelumnya telah menjadi sorotan dalam perhelatan perfilman global.
Di sisi lain, rangkaian festival akan ditutup dengan pemutaran Inherit, film horor terbaru garapan sutradara Thailand Banjong Pisanthanakun. Film tersebut akan diputar perdana di Indonesia, menjadikannya salah satu penayangan yang dinantikan dalam program JWC 2026. Kehadiran film ini memperluas ragam pilihan genre yang ditawarkan festival, sekaligus mempertemukan penonton Indonesia dengan karya terbaru dari sineas yang dikenal melalui pendekatan horornya.
Melalui Inherit, Pisanthanakun kembali menampilkan pendekatan horor yang menjadi ciri khasnya. Film penutup ini melengkapi pembukaan festival yang berangkat dari capaian sinema auteur Eropa dengan karya horor Asia kontemporer. Penempatan Fjord dan Inherit pada dua ujung rangkaian menunjukkan upaya Jakarta World Cinema 2026 menghadirkan program yang beragam, dengan film-film yang memiliki daya tarik artistik serta perhatian internasional.
Selain deretan film yang menjadi pusat perhatian, Jakarta World Cinema (JWC) 2026 menghadirkan sejumlah karya unggulan dari pembuat film ternama dunia. Salah satunya adalah Minotaur karya Andrey Zvyagintsev, yang meraih Grand Prix Cannes 2026. Film ini memperkuat posisi JWC sebagai ruang pertemuan bagi karya dengan pencapaian artistik dan pengakuan internasional. Pilihan lain yang tidak kalah menarik ialah All of a Sudden garapan Ryūsuke Hamaguchi. Penampilan pemeran utamanya dalam film tersebut mengantarkan sang aktris meraih penghargaan Best Actress Cannes 2026. Program ini juga mencantumkan The Debut, film terbaru Jesse Eisenberg yang memperluas ragam perspektif dalam seleksi tahun ini.
Festival Director JWC, Shandy Gasella, menekankan bahwa kekuatan festival tidak hanya ditentukan oleh jumlah film, tetapi juga oleh ketelitian kurasi. Penekanan tersebut terlihat melalui kehadiran Woman Unknown karya May el-Toukhy, pemenang Golden Lion Venice 2026, serta Yellow Letters karya Ilker Çatak, peraih Golden Bear Berlinale 2026. Kedua judul itu melengkapi Fjord sebagai representasi film penerima penghargaan tertinggi dari tiga festival film besar Eropa dalam satu edisi JWC.
Ketiganya membentuk rangkaian istimewa: Fjord mewakili Palme d'Or Cannes, Woman Unknown membawa prestise Golden Lion Venesia, sedangkan Yellow Letters merepresentasikan Golden Bear Berlin. Pertemuan tersebut memperlihatkan cakupan kurasi JWC 2026 yang melampaui keragaman geografis, sekaligus menempatkan mutu sinematik sebagai pertimbangan utama. Shandy menyatakan bahwa menghadirkan 120 film peraih penghargaan saja sudah menjadi pencapaian besar. Namun, mempertemukan pemenang Golden Bear, Palme d'Or, dan Golden Lion sekaligus merupakan pencapaian yang sangat berarti bagi festival. Pernyataan itu menegaskan ambisi JWC untuk menyajikan pengalaman menonton yang relevan, berkelas, dan beragam kepada penonton Indonesia.
Kehadiran Tudor Vladimir Panduru menjadi salah satu agenda yang dinantikan dalam Jakarta World Cinema 2026. Sinematografer asal Rumania tersebut dikenal melalui pendekatan visual yang kuat dan cermat, termasuk karyanya pada film Fjord. Dalam rangkaian festival, Panduru dijadwalkan menghadirkan masterclass eksklusif yang membahas proses kreatif, pengembangan bahasa visual, serta cara membangun hubungan sinematografi dan narasi film.
Masterclass ini ditujukan bagi sineas, pelaku industri, mahasiswa perfilman, serta pecinta film Indonesia yang ingin memahami lebih jauh kerja seorang sinematografer dalam produksi film kontemporer. Peserta berkesempatan menyimak pengalaman Panduru dalam menerjemahkan gagasan sutradara ke dalam gambar, menentukan atmosfer, memanfaatkan cahaya, dan mengambil keputusan visual selama proses produksi. Kehadiran pembicara internasional tersebut juga diharapkan membuka ruang dialog mengenai tantangan serta kemungkinan baru dalam praktik sinematografi.
Bagi penonton yang tidak dapat datang langsung ke Jakarta, JWC menyiapkan program pemutaran daring melalui KlikFilm. Akses tersebut tersedia mulai 31 Oktober hingga 21 November 2026, sehingga penikmat film di berbagai daerah tetap dapat mengikuti pilihan karya yang dihadirkan festival. Program daring ini melengkapi pemutaran luring dan memperluas jangkauan JWC kepada penonton yang memiliki keterbatasan jarak maupun waktu.
Shandy menyatakan bahwa JWC menjadi kesempatan langka bagi penikmat film di Indonesia untuk merasakan langsung perkembangan utama sinema dunia kontemporer. Informasi mengenai tiket, jadwal lengkap festival, serta agenda masterclass Tudor Vladimir Panduru akan diumumkan dalam beberapa pekan berikutnya melalui situs web dan media sosial resmi JWC. Penonton disarankan memantau kanal tersebut secara berkala agar tidak melewatkan pembaruan pendaftaran, jadwal kegiatan, maupun informasi akses pemutaran daring.





