KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Seniman Arya Sudrajat menggelar pameran tunggal bertajuk “Jelekongism” di ART1: New Museum, Jakarta, pada Sabtu. Pameran ini menjadi ruang untuk memperkenalkan kisah Jelekong melalui sudut pandang seorang seniman yang memiliki hubungan personal dan historis dengan wilayah tersebut. Karya-karya yang ditampilkan tidak hanya merekam aktivitas berkesenian, tetapi juga menghadirkan gambaran mengenai kehidupan masyarakat yang tumbuh bersama tradisi melukis.
Jelekong, yang berada di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, selama ini dikenal luas sebagai kampung pelukis. Bagi Arya, sebutan tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kekayaan kawasan tempat ia lahir dan tumbuh. Melalui “Jelekongism”, ia berupaya mengabadikan Jelekong sebagai ruang budaya yang hidup, dengan dinamika sosial, pengetahuan, serta pengalaman sehari-hari yang terus berkembang. Pameran ini sekaligus menjadi bentuk refleksi atas lingkungan yang membentuk perjalanan artistiknya sejak masa kanak-kanak.
Dalam karya-karyanya, Arya ingin menampilkan berbagai unsur yang menyusun ekosistem seni Jelekong. Unsur tersebut mencakup masyarakat, lanskap, sejarah, cara warga bertahan hidup, hingga pengetahuan melukis yang diwariskan antargenerasi. Tradisi itu tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan kehidupan ekonomi, hubungan antarwarga, serta kemampuan komunitas dalam mempertahankan identitasnya di tengah perubahan zaman. Karena itu, Jelekong tidak semata-mata dapat dipahami sebagai tempat produksi lukisan, tetapi juga sebagai ruang belajar dan pewarisan budaya.
Lebih jauh, pameran ini diarahkan untuk mengangkat peran Desa Wisata Jelekong dalam menjaga kelestarian budaya seni di Indonesia. Dengan menghadirkan pengalaman dan cerita dari dalam komunitas, Arya berharap publik dapat melihat potensi Jelekong secara lebih utuh, termasuk kontribusinya terhadap keberlanjutan seni rupa dan pariwisata berbasis budaya. “Jelekongism” pun menjadi ajakan untuk mengenali kampung tersebut sebagai ekosistem seni yang hidup, bukan sekadar label geografis.
Dalam pameran ini, Arya menampilkan Jelekong bukan hanya sebagai tempat produksi lukisan, melainkan sebagai ruang yang dibentuk oleh berbagai aktivitas, hubungan, dan pengalaman warganya. Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan kurator pameran, Vincent Rumahloine, mengenai istilah “Jelekongism”. Menurutnya, Jelekongism tidak semata-mata membicarakan lukisan. Istilah itu juga mencakup perilaku, ruang, material, hubungan sosial, pengalaman, serta ingatan yang membentuk kehidupan seni di Jelekong.
Pendekatan artistik Arya hadir melalui perhatian terhadap dinamika sosial yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Karya-karyanya merekam cara masyarakat berinteraksi, bekerja, dan membangun keberlangsungan hidup di tengah kondisi lingkungan yang mereka hadapi. Cara masyarakat bertahan hidup menjadi salah satu tema yang tampak dalam penggambaran aktivitas, ruang kerja, serta penggunaan berbagai material yang dekat dengan keseharian. Dengan demikian, seni dipandang sebagai bagian dari praktik hidup, bukan sebagai kegiatan yang terpisah dari masyarakat.
Selain itu, Arya menghadirkan pengetahuan lokal sebagai unsur penting dalam membaca Jelekong. Pengetahuan tersebut berkaitan dengan pengalaman yang diwariskan, cara memahami lingkungan, dan kebiasaan yang membentuk kehidupan bersama. Lanskap agraris juga menjadi bagian dari tema karya, terutama melalui keterkaitannya dengan ruang tempat masyarakat bekerja dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Lingkungan tidak hanya tampil sebagai latar, tetapi hadir bersama hubungan sosial dan pengalaman yang berlangsung di dalamnya.
Ingatan kolektif turut menjadi perhatian dalam karya-karya Arya. Ingatan tersebut berkaitan dengan sejarah Jelekong, pengalaman masyarakat, serta berbagai jejak kehidupan yang membentuk identitas wilayah itu. Melalui pendekatan ini, karya Arya memperlihatkan hubungan seni, keseharian, lingkungan, dan sejarah. Jelekong dibaca sebagai ruang sosial dan budaya yang terbentuk dari perilaku, material, pengetahuan, relasi, pengalaman, serta ingatan masyarakatnya.
Dalam sambutan pembukaan pameran, Grace Fadli Zon menempatkan Jelekong bukan sekadar sebagai kampung yang menghasilkan lukisan, melainkan sebagai ekosistem budaya yang hidup. Menurutnya, karya-karya yang hadir dari kawasan ini tidak dapat dipisahkan dari ruang sosial tempat para seniman bekerja, berinteraksi, belajar, dan mewariskan pengetahuan. Jelekong memperlihatkan bahwa seni lukis tumbuh bersama kehidupan sehari-hari, bukan berdiri sebagai praktik yang terpisah dari masyarakat.
Penilaian tersebut sekaligus memperluas cara pandang terhadap seni. Dukungan terhadap Jelekong, bagi Grace, tidak hanya berarti merawat hasil lukisan, tetapi juga memperkuat praktik ekosistem seni secara lebih luas. Di dalamnya terdapat seniman, keluarga, ruang produksi, penonton, pengelola pameran, serta berbagai relasi yang memungkinkan karya terus diciptakan dan diapresiasi. Seluruh unsur itu membentuk jaringan budaya yang membuat seni memiliki daya hidup dan kesinambungan.
Grace menyebut sawah, sungai, dan keluarga sebagai bagian penting dari kehidupan yang menghidupi kreativitas di Jelekong. Lanskap alam menyediakan pengalaman visual sekaligus menjadi sumber ingatan bersama, sedangkan keluarga berperan dalam menjaga keberlanjutan tradisi dan mendukung proses berkarya. Bahkan keterbatasan tidak dipandang sebagai hambatan semata. Kondisi yang serba terbatas justru dapat diolah menjadi gagasan, teknik, dan bentuk ekspresi yang khas.
Salah satu contoh yang disampaikan Grace ialah penggunaan karung tepung sebagai kanvas pada era 1970-an. Pemanfaatan bahan sederhana tersebut menunjukkan kemampuan seniman Jelekong mengubah keterbatasan menjadi kreativitas. Lebih dari sekadar pilihan material, karung tepung mencerminkan jati diri bangsa yang mampu menciptakan nilai dari apa yang tersedia di sekitarnya. Dari benda sehari-hari, lahir karya yang merekam kecakapan, daya tahan, dan imajinasi masyarakat.
Grace berharap pameran ini mengingatkan publik bahwa seni tidak lahir di ruang kosong. Seni berakar pada kehidupan kolektif, tanah yang ditempati, serta ingatan yang diwariskan antargenerasi. Dengan demikian, Jelekong tampil sebagai ruang budaya yang terus tumbuh, tempat pengalaman masyarakat diterjemahkan menjadi karya sekaligus menjadi pengetahuan bersama.
Perkembangan Arya dan seni Jelekong tidak berlangsung sendirian. Sejumlah tokoh, lembaga, serta mitra kebudayaan turut memberikan dukungan agar karya dan gagasan dari kampung pelukis tersebut memperoleh ruang yang lebih luas. Salah satu dukungan penting datang dari maestro seni lukis Sunaryo, yang telah mengenal Arya sejak ia mengikuti program residensi Transit di Selasar Sunaryo Art Space pada 2017.
Menurut Sunaryo, Arya memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Potensi itu tidak hanya terlihat dari kemampuan teknisnya dalam mengolah medium dan menyusun gagasan visual, tetapi juga dari keberaniannya membaca kembali lingkungan sosial tempat ia tumbuh. Bagi Sunaryo, perjalanan Arya dapat membuka jalan bagi pelukis-pelukis lain dari Jelekong untuk tampil dan mengambil bagian dalam perkembangan seni rupa Indonesia.
Sunaryo juga mendorong warga pelukis di Jelekong untuk mengisi ruang seni rupa Indonesia dengan pengalaman, sudut pandang, dan praktik yang lahir dari kehidupan kampung. Dorongan tersebut menempatkan Jelekong bukan sekadar sebagai sentra produksi lukisan, melainkan sebagai ekosistem seni yang memiliki sejarah, pengetahuan, serta kemungkinan pengembangan yang berkelanjutan.
Pandangan serupa disampaikan Susrinah Sanyoto Sastrowardoyo, Ketua Dewan Pengawas Yayasan Bubuara Jelekong Indonesia sekaligus mitra pendukung pameran. Ia menjelaskan bahwa upaya menyediakan ruang bagi perkembangan seni lukis Jelekong perlu dilakukan secara konsisten. Ruang tersebut penting untuk membantu para pelukis memperkenalkan karya, memperluas jejaring, dan menyampaikan praktik serta ekosistem seni Jelekong kepada masyarakat yang lebih luas.
Dukungan berbagai pihak pada akhirnya mempertemukan karya personal Arya dengan cerita kolektif mengenai kampungnya. Pameran ini berlangsung hingga Minggu, 18 Oktober, dengan menampilkan 30 karya yang mencakup lukisan dan seni instalasi. Kehadirannya menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana pengalaman lokal dapat berkembang menjadi wacana seni yang relevan dalam lingkup lebih luas.







