Bekasi | Pengguna KRL lintas Kampung Bandan–Cikarang mengeluhkan kepadatan penumpang, terutama pada sejumlah perjalanan yang menggunakan rangkaian stamformasi delapan kereta atau SF 8. Keluhan tersebut menjadi perhatian karena layanan di lintas ini digunakan masyarakat untuk berbagai keperluan, termasuk perjalanan rutin pada hari kerja. Situasi yang disorot paling terasa saat jam sibuk, baik pada pagi maupun sore hari, ketika banyak penumpang melakukan perjalanan dalam waktu berdekatan.
Para pengguna yang akrab disebut anak kereta atau anker menyampaikan keluhan mereka melalui media sosial, termasuk Threads. Salah satu perhatian yang muncul adalah kondisi berdesakan saat perjalanan pulang kerja. Unggahan di media sosial menjadi ruang bagi penumpang untuk menyuarakan pengalaman dan menyoroti kepadatan pada layanan yang mereka gunakan. Pembahasan mengenai rangkaian delapan kereta pun mengemuka bersama keluhan tentang padatnya perjalanan di lintas Kampung Bandan–Cikarang pada waktu-waktu tersebut.
Keluhan itu menggambarkan persoalan yang dirasakan sebagian pengguna ketika bepergian pada jam sibuk, khususnya saat kapasitas rangkaian yang tersedia dinilai tidak memberi keleluasaan bagi penumpang. Namun, informasi yang disampaikan dalam keluhan tersebut berfokus pada kepadatan dan penggunaan SF 8 pada sejumlah perjalanan. Tidak ada rincian tambahan mengenai perjalanan tertentu maupun kesaksian spesifik yang dapat disimpulkan dari unggahan yang disebutkan. Karena itu, pokok perhatian para anker adalah kondisi berdesakan yang mereka sampaikan, terutama ketika pulang kerja. Suara pengguna di media sosial tersebut menjadi latar bagi respons KCI terhadap keluhan kepadatan KRL lintas Cikarang. Isu ini menempatkan kenyamanan perjalanan pada jam sibuk sebagai hal yang diperhatikan penumpang, tanpa mengubah inti keluhan yang mereka sampaikan mengenai padatnya rangkaian delapan kereta.
Melalui akun Threads resmi @commuterline, KAI Commuter Indonesia (KCI) menanggapi keluhan pengguna mengenai kepadatan KRL lintas Cikarang pada jam sibuk. Dalam tanggapannya, KCI menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan penumpang. Perusahaan juga menjelaskan bahwa pengaturan jumlah sarana pada lintas Bekasi/Cikarang dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan dan kesiapan kereta. Dengan demikian, layanan di lintas tersebut dapat dijalankan menggunakan rangkaian dengan formasi SF 8, SF 10, ataupun SF 12.
Istilah SF merujuk pada jumlah rangkaian kereta dalam satu perjalanan. Perbedaan formasi tersebut menunjukkan bahwa panjang rangkaian yang beroperasi tidak selalu sama pada setiap perjalanan. KCI menyatakan optimalisasi sarana dilakukan sesuai kondisi yang tersedia dan kesiapan kereta, sehingga jumlah rangkaian yang dapat dikerahkan mengikuti keadaan operasional. Penjelasan ini disampaikan sebagai tanggapan atas perhatian pengguna terhadap tingkat kepadatan, terutama ketika banyak penumpang melakukan perjalanan pada waktu yang berdekatan.
KCI juga memberikan konteks mengenai kondisi jalur yang digunakan layanan KRL lintas Bekasi/Cikarang. Pada lintas tersebut, perjalanan KRL berbagi jalur dan waktu perjalanan dengan kereta api jarak jauh. Kondisi ini berbeda dengan lintas Bogor–Jakarta Kota maupun Tanah Abang–Rangkasbitung, yang jarak antar-KRL-nya dapat lebih rapat. Karena itu, jarak perjalanan satu KRL dan KRL berikutnya di lintas Bekasi/Cikarang tidak sepadat pada kedua lintas tersebut.
Keterangan KCI menghubungkan pengaturan formasi kereta dengan ketersediaan sarana sekaligus menjelaskan karakteristik lintas yang dilalui. Informasi tersebut membantu memberi gambaran mengenai layanan yang diterapkan, tanpa mengesampingkan keluhan penumpang atas kepadatan saat jam sibuk. Permohonan maaf yang disampaikan perusahaan menjadi respons atas ketidaknyamanan, sedangkan penjelasan tentang susunan SF dan penggunaan jalur bersama menerangkan kondisi operasional yang disebutkan KCI. Penumpang pun dapat memahami bahwa layanan di lintas ini berjalan dengan variasi formasi dan jarak antarperjalanan yang tidak sama dengan beberapa lintas KRL lainnya.
Direktur Utama KAI Commuter, Purnomo Sidi, menjelaskan bahwa pada hari kerja perusahaan mengoperasikan 89 rangkaian untuk melayani 1.065 perjalanan Commuter Line Jabodetabek di seluruh lintas. Jumlah tersebut mencakup perjalanan pada berbagai koridor, termasuk lintas Cikarang yang mengalami kepadatan pada jam sibuk. Pengaturan layanan perlu mempertimbangkan kebutuhan perjalanan harian sekaligus ketersediaan sarana yang dapat dijalankan. Dengan armada yang beroperasi tersebut, KAI Commuter mengatur peredaran rangkaian agar layanan dapat berlangsung sesuai kebutuhan operasional di masing-masing lintas.
Komposisi rangkaian yang digunakan saat ini terdiri atas 22 trainset dengan formasi delapan kereta atau SF 8, 34 trainset SF 10, serta 33 trainset SF 12. Perbedaan formasi ini menunjukkan bahwa jumlah kereta dalam satu rangkaian dapat bervariasi. Seluruhnya tetap menjadi bagian dari armada yang dikerahkan untuk mendukung perjalanan Commuter Line. Jumlah rangkaian dan formasi yang tersedia menjadi salah satu pertimbangan dalam menyusun pola operasi, termasuk ketika kebutuhan pengguna pada waktu dan lintas tertentu berubah. Karena itu, pengelolaan armada tidak hanya berkaitan dengan banyaknya kereta, tetapi juga dengan penempatannya dalam jadwal perjalanan.
KAI Commuter menyatakan pola peredaran sarana disusun secara adaptif dan terus dioptimalkan seiring pertumbuhan jumlah pengguna. Penyesuaian dilakukan dengan memperhatikan kondisi operasional serta kebutuhan layanan di berbagai koridor, sehingga rangkaian dapat dialokasikan sesuai perencanaan perjalanan. Salah satu tujuan pengaturan tersebut adalah menjaga headway, yaitu jarak waktu antarkereta, pada lintas operasional. Headway yang terjaga membantu mengatur kelancaran arus perjalanan, meskipun tingkat kepadatan pengguna dapat berbeda menurut waktu dan lokasi. Dengan memantau kebutuhan layanan dan mengoptimalkan penggunaan sarana, perusahaan berupaya menyeimbangkan kapasitas armada dengan jumlah perjalanan yang harus dilayani. Upaya ini menjadi bagian dari pengelolaan operasional harian, termasuk dalam merespons dinamika perjalanan pada jam sibuk di lintas Cikarang dan koridor Jabodetabek lainnya.
Data jumlah pengguna Commuter Line menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kereta komuter. Purnomo Sidi menyampaikan bahwa selama Januari hingga Oktober 2026, total pengguna tercatat mencapai 303.792.024 orang. Angka tersebut meningkat 5,7 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, ketika jumlah pengguna tercatat sebanyak 287,29 juta orang. Perbandingan ini mencakup pengguna seluruh lintas yang disebutkan dalam data, bukan hanya perjalanan di lintas Cikarang. Rincian tersebut memberikan konteks mengenai perkembangan jumlah penumpang selama sepuluh bulan pertama tahun 2026, sekaligus menunjukkan bahwa kenaikan terjadi pada keseluruhan layanan yang dicatat.
Menurut Purnomo Sidi, setiap lintas mencatat jumlah dan tingkat pertumbuhan pengguna yang berbeda. Lintas Bogor melayani 133,78 juta pengguna, dengan kenaikan 4,8 persen. Pada lintas Cikarang, jumlah pengguna mencapai 74,88 juta orang, atau meningkat 6,1 persen. Sementara itu, lintas Rangkasbitung mencatat 68,09 juta pengguna dan pertumbuhan sebesar 6,7 persen. Lintas Tangerang mencatat 24 juta pengguna, dengan kenaikan 7,1 persen. Seluruh angka tersebut merujuk pada periode Januari sampai Oktober 2026. Rincian per lintas ini memperlihatkan sebaran jumlah pengguna sekaligus persentase kenaikan yang tercatat pada masing-masing layanan, berdasarkan keterangan Purnomo.
Untuk Oktober 2026 secara khusus, jumlah pengguna Commuter Line mencapai 32.312.018 orang. Purnomo Sidi menyebut jumlah tersebut meningkat 1,68 persen dibandingkan Oktober 2025, yang mencatat 31.776.933 pengguna. Data bulanan itu melengkapi catatan kumulatif Januari–Oktober dan memberikan perbandingan langsung bulan yang sama pada dua tahun berurutan. Dengan demikian, angka untuk Oktober disajikan terpisah dari total pengguna selama sepuluh bulan dan dari rincian masing-masing lintas. Angka-angka tersebut merupakan data yang disampaikan Purnomo Sidi mengenai jumlah serta pertumbuhan pengguna, termasuk pada lintas Cikarang, selama periode yang disebutkan.
Baca juga: Abdul Mu’ti Tanggapi Wacana Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas Mulai 2027
6 kunjungan