Jakarta | Bertambahnya kapasitas pusat data di Indonesia merupakan perkembangan penting, tetapi tidak otomatis menjamin kedaulatan AI. Pusat data menyediakan tempat untuk menyimpan dan memproses informasi; kemandirian teknologi menuntut kemampuan lebih luas, mulai dari penguasaan komponen dan perangkat lunak hingga pengembangan model, pengelolaan data, serta perlindungan sistem. Tanpa fondasi tersebut, fasilitas yang berdiri di dalam negeri masih dapat bergantung pada teknologi, layanan, dan rantai pasok yang dikendalikan pihak lain.
Pemerintah memandang penguasaan fondasi teknologi sebagai prasyarat agar Indonesia dapat membangun industri kecerdasan artifisial yang mandiri sekaligus mampu bersaing. Hal itu berarti negara perlu memperkuat kapasitas domestik dan mengamankan titik-titik strategis dalam rantai pasok global, termasuk akses terhadap komputasi, cip, perangkat keras, perangkat lunak, dan keahlian. Ketergantungan yang terlalu besar pada pemasok luar dapat menimbulkan risiko terhadap kesinambungan layanan, biaya, keamanan, dan ruang kebijakan nasional.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria pada Jumat (23/10/2026) menekankan pentingnya mengamankan sejumlah titik strategis tersebut. Pernyataan ini menempatkan kedaulatan AI dalam konteks yang lebih luas daripada pembangunan fasilitas fisik semata. Indonesia perlu memahami bagian mana dari rantai nilai yang paling menentukan, lalu membangun kemampuan untuk mengakses, mengembangkan, atau menyediakan bagian-bagian itu secara andal. Upaya tersebut juga memerlukan kerja sama pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan mitra internasional.
Dengan demikian, kedaulatan digital lebih tepat dipahami sebagai ekosistem yang saling terhubung. Infrastruktur fisik, termasuk pusat data dan jaringan, harus ditopang tata kelola data yang jelas serta keamanan siber yang tangguh. Di saat bersamaan, aturan yang dapat dipercaya perlu berjalan bersama investasi jangka panjang pada riset, talenta, dan inovasi. Kemampuan lokal untuk merancang, menguji, dan mengembangkan teknologi menentukan apakah Indonesia hanya menjadi pengguna atau turut menciptakan nilai.
Ukuran kemajuan, karena itu, bukan semata jumlah pusat data atau besarnya kapasitas komputasi. Yang lebih penting ialah apakah infrastruktur tersebut mendukung penguasaan teknologi, perlindungan kepentingan publik, dan tumbuhnya industri dalam negeri. Pendekatan menyeluruh dapat membuat investasi pusat data menjadi bagian dari strategi kedaulatan, bukan tujuan akhir yang berdiri sendiri.
Kemampuan komputasi atau computing power kini menjadi salah satu fondasi utama dalam persaingan teknologi global. Perkembangan kecerdasan buatan, riset ilmiah, layanan digital, dan industri modern bergantung pada kemampuan memproses data dalam skala besar secara cepat dan efisien. Negara yang memiliki kapasitas komputasi memadai dapat mengembangkan teknologi, menjalankan model AI, serta mengolah data untuk mendukung keputusan dan inovasi. Sebaliknya, keterbatasan kapasitas dapat membuat pelaku nasional bergantung pada infrastruktur dan layanan dari luar negeri. Karena itu, daya komputasi tidak semata-mata merupakan urusan teknis perusahaan teknologi, melainkan bagian penting dari daya saing dan kemandirian ekonomi.
Menurut Nezar, pemenuhan kebutuhan tersebut memerlukan ekosistem yang saling terhubung. Pasokan energi yang andal diperlukan agar infrastruktur dapat beroperasi terus-menerus, sementara konektivitas yang tangguh memungkinkan data dan layanan menjangkau pengguna serta berbagai wilayah. Pusat data menyediakan tempat untuk menyimpan dan mengolah informasi, sedangkan komputasi awan memberi akses fleksibel terhadap sumber daya komputasi. Di sisi hulu, industri semikonduktor berperan menyediakan komponen penting, termasuk prosesor yang menjalankan beban kerja AI. Seluruh unsur itu harus berkembang bersama. Pusat data, misalnya, tidak akan optimal tanpa listrik dan jaringan yang memadai, sementara layanan awan tetap bergantung pada perangkat keras dan rantai pasok yang kuat.
Pada era AI, Nezar menggambarkan daya komputasi sebagai sesuatu yang menempati posisi seperti listrik bagi ekonomi digital. Listrik memungkinkan berbagai kegiatan ekonomi berlangsung; komputasi menyediakan tenaga pemrosesan bagi layanan dan inovasi berbasis data. Namun, membangun fasilitas saja belum cukup untuk membuktikan penguasaan teknologi nasional. Ukurannya juga mencakup kemampuan mengembangkan, mengoperasikan, dan menguasai teknologi strategis yang menopang ekosistem AI, mulai dari perangkat keras hingga perangkat lunak dan sistem komputasi. Penguatan kapasitas lokal, keahlian, riset, serta industri terkait menentukan sejauh mana Indonesia dapat menciptakan nilai dari infrastrukturnya sendiri. Dengan demikian, kedaulatan teknologi perlu dinilai dari kemampuan mengendalikan dan mengembangkan fondasi tersebut, bukan hanya dari jumlah fasilitas yang tersedia.
Kapasitas pusat data Indonesia diperkirakan berada di kisaran 580 megawatt, sementara target yang disampaikan adalah meningkatkannya menjadi sekitar 1,3 gigawatt pada 2027–2028. Angka tersebut menunjukkan rencana ekspansi yang besar dalam waktu relatif singkat, seiring meningkatnya kebutuhan komputasi untuk layanan digital, kecerdasan buatan, dan aktivitas ekonomi berbasis data. Namun, penambahan kapasitas fisik saja belum cukup untuk memastikan fasilitas baru dapat mendukung kepentingan nasional secara efektif dan berkelanjutan.
Perbandingan dengan Malaysia memperlihatkan skala tantangan yang dihadapi Indonesia. Kapasitas pusat data Malaysia disebut sekitar 3 gigawatt, jauh lebih besar daripada perkiraan kapasitas Indonesia saat ini maupun targetnya dalam beberapa tahun mendatang. Perbandingan ini memberi gambaran tentang dinamika pembangunan pusat data di kawasan, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan kualitas, pemanfaatan, ataupun dampak setiap fasilitas. Karena itu, pertumbuhan kapasitas perlu dibaca bersama dengan kesiapan infrastruktur pendukung dan arah pengelolaannya.
Nezar menilai Indonesia perlu memperbaiki perencanaan serta tata kelola pembangunan pusat data. Menurut penilaian tersebut, ekspansi fasilitas perlu ditata agar pertumbuhan kapasitas dapat memenuhi kebutuhan ekonomi digital nasional secara berkelanjutan. Perencanaan yang lebih baik dapat membantu memastikan pembangunan berlangsung terarah dan selaras dengan kebutuhan, sementara tata kelola memberi kerangka bagi pelaksanaan dan pengawasan. Nezar juga menyerukan penataan pembangunan serta pemberian safeguard. Seruan ini menekankan pentingnya pengamanan dalam proses ekspansi, tanpa menjadikan jumlah megawatt sebagai satu-satunya ukuran kemajuan. Dengan demikian, target kapasitas perlu ditempatkan dalam pembahasan yang lebih luas tentang bagaimana fasilitas dibangun dan dikelola. Tantangannya bukan sekadar mempercepat proyek atau mengejar angka negara lain, melainkan memastikan pertumbuhan infrastruktur pusat data memiliki perencanaan dan tata kelola yang memadai. Langkah tersebut penting agar peningkatan kapasitas berkontribusi pada kebutuhan ekonomi digital Indonesia secara berkelanjutan.Penguasaan kecerdasan buatan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan pusat data dan daya komputasi. Fondasi perangkat kerasnya, termasuk semikonduktor, juga menentukan kemampuan sebuah negara mengembangkan dan mengoperasikan teknologi secara mandiri. Karena itu, penguatan industri semikonduktor perlu menjadi bagian dari strategi penguasaan teknologi dari hulu, bukan sekadar agenda pengadaan perangkat. Keterlibatan dalam proses produksi dapat membuka ruang bagi Indonesia untuk membangun keahlian, kapasitas rekayasa, dan nilai ekonomi di dalam negeri.
Nezar menyebut Indonesia memiliki beragam sumber daya yang relevan, seperti nikel, bauksit, timah, emas, serta sejumlah logam tanah jarang yang semakin diburu secara global untuk mendukung industri semikonduktor. Namun, kekayaan mineral saja tidak otomatis menghasilkan kemampuan teknologi. Tantangannya adalah mengolah bahan tersebut menjadi material dan komponen bernilai tambah melalui pemrosesan, manufaktur, serta pengembangan standar dan keahlian yang dibutuhkan. Dengan demikian, Indonesia tidak berhenti sebagai pemasok bahan mentah, tetapi ikut berperan dalam tahapan produksi teknologi yang lebih kompleks.
Upaya tersebut harus terhubung dengan pengembangan daya komputasi nasional, riset, dan inovasi. Industri semikonduktor memerlukan investasi jangka panjang, sumber daya manusia terampil, fasilitas pengujian, serta hubungan erat kebutuhan industri dan penelitian. Kapasitas lokal yang tumbuh dapat mendukung tersedianya perangkat komputasi, memperluas eksperimen di bidang AI, dan mengurangi ketergantungan pada pasokan luar.






