Jayapura | Jauh sebelum dikenal sebagai tokoh nasional, Bahlil Lahadalia telah menjalani kehidupan yang penuh perjuangan. Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, ia membantu keluarganya memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan menjajakan kue cucur. Kue tradisional tersebut dibuat oleh ibunya setiap pagi, selepas salat subuh. Setelah persiapan selesai, Bahlil membawa kue-kue itu ke sekolah untuk ditawarkan kepada teman-temannya. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari rutinitasnya sebagai pelajar sekaligus cara sederhana untuk membantu perekonomian keluarga.
Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, penghasilan dari penjualan kue cucur memiliki arti penting bagi Bahlil dan orang tuanya. Uang yang diperoleh bukan sekadar tambahan, melainkan turut membantu mempertahankan keberlangsungan hidup keluarga. Karena itu, pengalaman menjual kue tersebut menempati tempat khusus dalam ingatannya. Bahlil pernah menyampaikan bahwa kue cucur tidak akan pernah dilupakannya karena makanan itu pernah berperan dalam mempertahankan hidup dirinya dan kedua orang tuanya. Kenangan tersebut menggambarkan beratnya keadaan yang harus dihadapi keluarganya pada masa itu.
Bahlil juga tidak menutupi kisah masa lalunya. Ia menceritakan pengalaman berjualan sejak sekolah dasar secara terbuka, tanpa merasa malu ataupun berusaha menghapus bagian tersebut dari perjalanan hidupnya. Baginya, pekerjaan itu merupakan bentuk tanggung jawab seorang anak terhadap keluarga, bukan sesuatu yang merendahkan. Pengalaman menjajakan kue cucur memperlihatkan bahwa keterbatasan ekonomi tidak menghentikannya untuk terus bersekolah dan berusaha. Dari rutinitas sederhana setiap pagi itu, terbentuk sikap kerja keras, ketekunan, serta penghargaan terhadap perjuangan orang tua yang kemudian menjadi bagian penting dalam kisah hidupnya.
Ketika beranjak dewasa, Bahlil Lahadalia memutuskan meninggalkan Fakfak untuk melanjutkan pendidikan di Jayapura, Papua. Keputusan tersebut menjadi salah satu tahap penting dalam perjalanan hidupnya karena pendidikan di kota itu menuntut keberanian, kemandirian, dan kesiapan menghadapi berbagai keterbatasan. Perjalanan menuju Jayapura tidak ditempuh dengan mudah. Bahlil harus menggunakan kapal perintis, sarana transportasi yang pada masa itu menjadi penghubung penting antardaerah di Papua.
Berdasarkan penuturan Bahlil, perjalanan dari Fakfak menuju Jayapura berlangsung sekitar dua minggu. Waktu tempuh yang panjang membuat perjalanan tersebut jauh dari kesan nyaman. Kapal yang ditumpanginya tidak hanya membawa penumpang, tetapi juga berbagai macam muatan. Di dalamnya, kambing, ayam, dan singkong berada bersama para penumpang. Gambaran itu menunjukkan kondisi pelayaran yang sederhana dan penuh keterbatasan, sekaligus memperlihatkan tantangan geografis yang harus dihadapi masyarakat Papua ketika bepergian dari satu wilayah ke wilayah lain.
Setibanya di Jayapura, Bahlil tidak memiliki keluarga yang dapat dijadikan tempat bergantung. Ia harus mengatur kehidupannya sendiri sejak awal, termasuk memikirkan kebutuhan sehari-hari selama menempuh pendidikan. Alih-alih meminta kiriman dari orang tua, Bahlil memilih berusaha memenuhi keperluannya secara mandiri. Sikap tersebut mencerminkan keteguhan dan rasa tanggung jawab yang telah terbentuk sejak masa mudanya. Jayapura kemudian menjadi ruang bagi Bahlil untuk belajar, beradaptasi, serta membangun pengalaman hidup di luar kampung halaman. Perjalanan panjang dari Fakfak tidak sekadar menjadi perpindahan tempat, melainkan juga tahap pembentukan karakter yang kelak mendukung perjuangannya dalam menghadapi berbagai tantangan.
Selama menjalani pendidikan di Jayapura, Bahlil Lahadalia dan teman-temannya menghadapi kesulitan untuk memperoleh makanan di asrama. Keterbatasan tersebut membuat kebutuhan makan sehari-hari tidak selalu dapat dipenuhi dengan mudah. Dalam keadaan seperti itu, mereka harus memanfaatkan makanan yang tersedia di sekitar tempat tinggal, termasuk buah-buahan yang dapat ditemukan tanpa perlu membelinya.
Salah satu makanan yang kerap dikonsumsi Bahlil adalah mangga muda yang jatuh di sekitar asrama. Buah tersebut menjadi sarapan sebelum ia berangkat kuliah. Kebiasaan itu dilakukan ketika persediaan makanan tidak tersedia atau sulit diperoleh. Mangga muda yang ditemukan di sekitar tempat tinggal kemudian dimakan sebagai bekal tenaga untuk menjalani kegiatan pendidikan pada hari tersebut.
Kesulitan itu tidak berhenti pada pagi hari. Setelah pulang dari kuliah, rasa lapar kembali dirasakan sehingga Bahlil mencari buah-buahan yang masih tersedia di sekitar tempat tinggalnya. Apa pun yang dapat ditemukan di lingkungan sekitar menjadi pilihan untuk mengatasi kebutuhan makan. Keadaan ini menggambarkan perjuangannya memenuhi kebutuhan dasar selama menempuh pendidikan di Jayapura. Bersama teman-temannya di asrama, ia menjalani masa tersebut dengan makanan seadanya, termasuk mangga muda yang jatuh dan buah-buahan lain yang tersedia di sekitar tempat tinggal.
Selain menghadapi kesulitan ekonomi, Bahlil Lahadalia juga pernah mengalami gangguan kesehatan akibat kekurangan makanan. Dalam kesaksiannya, ia menceritakan bahwa perutnya sempat membesar dan terasa kembung. Pada awalnya, kondisi tersebut tidak langsung dipahami sebagai akibat dari kurangnya asupan gizi. Bahlil justru mengira dirinya terserang malaria, mengingat penyakit itu cukup dikenal di lingkungan tempat tinggalnya.
Sebelum memperoleh pemeriksaan medis, Bahlil sempat diberi ramuan tradisional berupa daun sambiloto. Ramuan tersebut digunakan sebagai upaya awal untuk meredakan keluhan yang dirasakannya. Namun, setelah mengonsumsinya, kondisi Bahlil tidak menunjukkan perbaikan. Perutnya tetap membesar, tubuhnya melemah, dan keadaan fisiknya semakin mengkhawatirkan. Situasi itu menunjukkan bahwa gangguan yang dialaminya tidak dapat ditangani hanya dengan pengobatan sederhana.
Bahlil juga mengungkapkan bahwa seorang temannya meninggal dunia dalam keadaan serupa. Kabar tersebut menggambarkan betapa seriusnya dampak kekurangan makanan terhadap kesehatan masyarakat yang hidup dalam keterbatasan. Pada saat itu, Bahlil masih beruntung karena segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Keputusan tersebut menjadi langkah penting, sebab pemeriksaan dokter kemudian memberikan penjelasan yang berbeda dari dugaan awalnya.
Setelah menjalani pemeriksaan, keluhan berupa perut kembung dan pembesaran perut itu diketahui berkaitan dengan busung lapar. Kondisi tersebut merupakan akibat kekurangan gizi yang berlangsung cukup berat dan dapat membahayakan keselamatan penderitanya. Bagi Bahlil, pengalaman itu bukan sekadar cerita tentang sakit, melainkan salah satu episode paling berat dalam perjuangan hidupnya. Kesaksiannya memperlihatkan bahwa perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik pernah diwarnai ancaman kelaparan, kehilangan orang terdekat, dan perjuangan untuk memperoleh perawatan yang memadai.

