Kabupaten Ciamis | Ayat, pria berusia 60 tahun dari Dusun Pagadungan, Desa Cigayam, Kecamatan Banjaranyar, Kabupaten Ciamis, meninggal dunia setelah mengamuk dan menyerang polisi serta warga. Peristiwa itu berlangsung pada Selasa sore, 20 Oktober 2026. Informasi yang tersedia menyebut rangkaian kejadian tersebut secara umum, tanpa merinci waktu lebih tepat maupun lokasi spesifik selain wilayah Banjaranyar yang disebutkan.
Menurut keterangan polisi, Ayat memiliki riwayat gangguan jiwa. Informasi mengenai kondisi tersebut, sebagaimana disampaikan kepolisian, merujuk pada keterangan dari Puskesmas setempat. Riwayat itu menjadi bagian dari penjelasan yang disampaikan setelah insiden, tetapi tidak dengan sendirinya menerangkan seluruh latar belakang tindakan Ayat ataupun penyebab pasti kematiannya.
Inti kejadian yang diketahui adalah adanya situasi ketika Ayat mengamuk, lalu menyerang aparat kepolisian dan warga. Peristiwa tersebut berakhir dengan kematiannya. Namun, keterangan yang tersedia dalam uraian ini tidak menjelaskan secara terperinci bagaimana serangan berlangsung, siapa saja yang menjadi korban atau sasaran, maupun tindakan yang dilakukan oleh pihak-pihak di lokasi. Karena itu, urutan kejadian lebih jauh tidak dapat dipastikan hanya dari informasi tersebut.
Pembedaan fakta yang disebutkan dan hal yang belum dijelaskan penting dalam memahami kasus ini. Identitas dan asal Ayat, waktu kejadian pada Selasa sore, serta keterangan polisi mengenai riwayat gangguan jiwa berdasarkan informasi Puskesmas merupakan unsur yang tercantum. Sementara itu, rincian tentang pemicu insiden, proses penanganan, dan keadaan yang menyebabkan kematian belum dipaparkan dalam keterangan ringkas tersebut. Dengan demikian, kronologi yang dapat disampaikan secara terbatas berawal dari Ayat mengamuk dan menyerang polisi serta warga, kemudian berakhir dengan Ayat meninggal dunia. Tidak tepat untuk menambahkan dugaan mengenai penyebab atau tahapan lain yang belum dikonfirmasi. Penjelasan resmi lebih lengkap diperlukan agar publik dapat memahami peristiwa secara utuh, termasuk tindakan yang dilakukan selama situasi berlangsung serta hasil pemeriksaan terkait kematian Ayat. Hingga rincian semacam itu tersedia, informasi mengenai insiden sebaiknya tetap merujuk pada keterangan yang telah disampaikan dan tidak mencampurkan fakta dengan spekulasi.
Rangkaian kejadian di Banjaranyar bermula ketika Ayat ditegur oleh warga. Setelah teguran tersebut, Ayat disebut mengamuk. Keterangan awal yang tersedia menghubungkan perubahan situasi itu dengan peristiwa penyerangan berikutnya, tetapi belum menjelaskan secara rinci apa yang disampaikan warga, alasan teguran, ataupun bagaimana percakapan berlangsung. Karena itu, kronologi awal dapat dipaparkan sebatas urutan yang telah disebutkan tanpa menambahkan dugaan mengenai pemicu atau maksud tindakan siapa pun.
Sesudah mengamuk, Ayat kemudian membacok seorang warga. Peristiwa itu menjadi kejadian yang dilaporkan kepada Polsek Banjarsari. Informasi tersebut menempatkan penyerangan sebagai bagian penting dari awal penanganan perkara: warga menjadi korban, sementara laporan kepada kepolisian membawa kejadian itu ke proses penanganan aparat. Keterangan yang diberikan tidak memuat rincian lebih jauh mengenai identitas korban, waktu tepat penyerangan, kondisi korban, ataupun langkah yang dilakukan warga sebelum laporan disampaikan. Dengan demikian, rincian-rincian tersebut tidak dapat dipastikan berdasarkan informasi awal ini.
Kapolres Ciamis Ajun Komisaris Besar Polisi Eko Iskandar menyampaikan bahwa Ayat memiliki riwayat gangguan jiwa. Menurut keterangan Kapolres, informasi itu dikuatkan oleh keterangan dari Puskesmas. Ia juga disebut pernah melakukan penyerangan serupa sebelumnya. Keterangan mengenai riwayat tersebut merupakan informasi yang disampaikan oleh Kapolres dengan merujuk pada Puskesmas; hal itu tidak menjadi dasar untuk menarik kesimpulan lain mengenai kondisi Ayat atau penyebab tindakannya dalam kejadian ini. Pada tahap awal kronologi, fakta yang dapat disampaikan terbatas pada teguran warga, Ayat yang disebut mengamuk, pembacokan terhadap seorang warga, dan laporan ke Polsek Banjarsari, disertai keterangan Kapolres mengenai riwayat yang disebutkan. Penyusunan urutan secara hati-hati diperlukan agar peristiwa yang dilaporkan tetap terpisah dari informasi latar belakang, serta tidak menyajikan dugaan sebagai fakta yang telah dipastikan.Personel kepolisian datang ke lokasi dengan tujuan mengamankan Ayat. Ketika petugas tiba, Ayat berada di atap rumah warga dan tidak bersedia turun. Keberadaannya di atas atap membuat upaya pengamanan pada saat itu belum dapat dilanjutkan sebagaimana diharapkan. Situasi tersebut berlangsung hingga malam, sementara Ayat tetap berada di tempat dan belum memenuhi permintaan untuk turun. Dengan demikian, bagian awal peristiwa ini ditandai oleh keberadaan Ayat di atap serta usaha petugas untuk membujuknya agar kembali ke bawah.
Petugas kemudian berupaya membujuk Ayat secara langsung. Karena ia tetap tidak turun, polisi meminta bantuan petugas pemadam kebakaran. Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya agar Ayat meninggalkan atap, setelah sebelumnya ia bertahan di sana selama berjam-jam. Rangkaian ini menunjukkan bahwa sebelum situasi berubah, ada jeda kedatangan polisi dan saat Ayat akhirnya berada di bawah. Informasi yang tersedia tidak merinci percakapan selama pembujukan maupun langkah lain yang dilakukan petugas, sehingga uraian kronologi pada tahap ini terbatas pada upaya membujuk dan permintaan bantuan tersebut.
Perubahan terjadi setelah petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air ke arah Ayat. Sesudah itu, ia turun dari atap rumah warga. Turunnya Ayat menandai perubahan posisi yang penting dalam urutan kejadian: dari berada di tempat tinggi dan belum bersedia turun, menjadi berada di bawah. Bagian ini menjadi penghubung menuju tahap berikutnya dalam kronologi, ketika situasi tidak lagi sama dengan saat Ayat masih berada di atap. Namun, keterangan mengenai peristiwa setelah ia turun perlu dipisahkan dari uraian upaya pembujukan ini. Yang dapat dipastikan pada tahap tersebut adalah bahwa polisi telah berusaha membujuknya, meminta bantuan petugas pemadam kebakaran, dan Ayat turun setelah disemprot air oleh petugas damkar. Urutan itu menjelaskan bagaimana kebuntuan di atap berakhir, tanpa menguraikan tindakan lanjutan atau menambahkan detail yang tidak disebutkan dalam keterangan peristiwa.
Setelah turun, Ayat disebut menyerang kerumunan warga menggunakan parang. Aksi tersebut terjadi ketika sejumlah orang berada di sekitar lokasi, termasuk anggota Polri yang sedang menjalankan tugas untuk mengamankan keadaan. Seorang anggota terkena sabetan saat berusaha menjaga keamanan. Anggota lain yang berupaya menolong rekannya juga menjadi korban serangan. Warga yang berada di sekitar tempat kejadian turut menjadi sasaran, sehingga situasi di lokasi berubah tegang dan menimbulkan kepanikan.
Seluruh korban kemudian dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Kapolres menyampaikan bahwa kondisi para korban stabil. Meski demikian, seorang anggota Polri harus menjalani operasi pada bagian tangannya akibat luka yang dialami. Penanganan di rumah sakit dilakukan setelah para korban dievakuasi dari lokasi, sementara aparat berupaya mengendalikan keadaan dan memastikan korban memperoleh perawatan yang diperlukan. Keterangan mengenai kondisi korban tersebut disampaikan setelah insiden berlangsung.
Dalam situasi yang disebut sulit dikendalikan, warga merasa ketakutan karena serangan terjadi di tengah kerumunan dan menyasar orang-orang di sekitar tempat kejadian. Masyarakat kemudian berupaya melumpuhkan Ayat untuk menghentikan serangan dan mencegah lebih banyak orang terluka. Setelah berhasil dilumpuhkan, Ayat dibawa ke rumah sakit. Namun, nyawanya tidak tertolong. Peristiwa tersebut berakhir dengan sejumlah korban luka dan kematian Ayat, setelah rangkaian kejadian yang membuat warga dan petugas di lokasi menghadapi keadaan darurat.
Setelah insiden itu, jajaran kepolisian diterjunkan untuk menjaga keamanan di lokasi. Kehadiran petugas juga ditujukan untuk mengantisipasi perkembangan situasi dan memastikan kondisi tetap terkendali. Pengamanan dilakukan seiring upaya menangani dampak kejadian serta memberi ruang bagi proses penanganan lebih lanjut.






