Kabupaten Manokwari | Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (Unair) melakukan pemeriksaan terhadap sekitar 1.000 sapi di Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui posyandu ternak keliling, sehingga layanan kesehatan dapat menjangkau sapi dan peternak di kawasan yang menjadi sasaran. Pemeriksaan ini menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi ternak sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah. Layanan telah berlangsung di kawasan SP3 dan SP4, dengan sasaran lebih dari 50 peternak.
Melalui pendekatan keliling, tim mendatangi lingkungan tempat peternak memelihara sapi, alih-alih mengandalkan layanan yang hanya tersedia di satu lokasi. Jangkauan tersebut memungkinkan pemeriksaan dilakukan langsung pada ternak milik warga di dua kawasan itu. Sekitar 1.000 sapi menjadi cakupan layanan, sementara lebih dari 50 peternak terlibat sebagai penerima manfaat. Posyandu ternak memberi ruang bagi peternak untuk memperoleh perhatian terhadap kesehatan sapi secara lebih dekat dan terarah.
Kesehatan ternak berkaitan dengan keberlanjutan usaha peternakan dan ketersediaan pangan. Karena itu, pemeriksaan sapi di Prafi tidak hanya berfokus pada hewan, tetapi juga mendukung upaya menjaga sektor peternakan setempat. Layanan yang menjangkau SP3 dan SP4 menunjukkan pentingnya mendekatkan dukungan kepada peternak di wilayah sasaran. Dengan cakupan pemeriksaan yang luas, TEP Unair berupaya membantu menjaga kesehatan ternak sebagai salah satu unsur penting dalam ketahanan pangan daerah. Kehadiran posyandu ternak keliling juga menjadi bentuk pelayanan yang menyesuaikan jangkauan dengan kebutuhan masyarakat peternak. Upaya ini menempatkan pemeriksaan kesehatan sebagai dukungan langsung bagi pemeliharaan sapi, sekaligus memperkuat perhatian terhadap peternakan di Distrik Prafi.
Hasil pemeriksaan dalam layanan keliling TEP Unair menunjukkan bahwa sebagian besar sapi yang diperiksa mengalami cacingan atau gangguan kesehatan yang berkaitan dengan parasit. Temuan ini menjadi perhatian karena kondisi tersebut perlu dikenali dan ditangani berdasarkan pemeriksaan, bukan hanya perkiraan. Pemeriksaan langsung memberi petugas kesempatan untuk menilai keadaan ternak dan menyampaikan tindak lanjut yang sesuai kepada pemiliknya. Dalam kegiatan di Prafi, layanan tidak berhenti pada kunjungan dan pemeriksaan awal. Petugas juga memberikan pengobatan, termasuk obat cacing dan vitamin, sesuai kebutuhan yang ditemukan saat pemeriksaan. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya layanan kesehatan ternak, sementara pemantauan berikutnya tetap diperlukan untuk mengetahui perkembangan kondisi setiap sapi.
Kementerian Transmigrasi mencatat sekitar 150 hingga 250 sapi memerlukan pemeriksaan lanjutan setelah menerima layanan. Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian ternak perlu mendapat perhatian lebih lanjut, tetapi tidak dengan sendirinya memastikan bagaimana kondisi kesehatannya akan berkembang. Pemeriksaan lanjutan membantu petugas dan pendamping memperoleh informasi tambahan tentang keadaan ternak. Bagi peternak, arahan yang diberikan dapat menjadi pegangan untuk mengenali hal-hal yang perlu diperhatikan dan menyampaikan perubahan kondisi kepada petugas. Dengan demikian, kebutuhan tindak lanjut dapat dibahas berdasarkan temuan dan catatan pemeriksaan, bukan semata-mata asumsi mengenai hasil pengobatan. Informasi itu juga dapat membantu menentukan langkah pengelolaan yang relevan bagi ternak di tingkat peternakan.
Petugas mencatat rekam medis ternak sebagai bagian dari proses pemeriksaan dan pelayanan. Catatan tersebut memuat informasi yang dapat digunakan untuk memantau kondisi sapi dari waktu ke waktu serta menjadi rujukan saat pemeriksaan berikutnya diperlukan. Rekam medis juga membantu peternak dan pendamping memahami riwayat layanan yang telah diberikan, termasuk pemeriksaan dan pengobatan seperti obat cacing maupun vitamin. Dengan informasi yang tersusun, pembahasan mengenai pemeliharaan dapat disesuaikan dengan kondisi yang tercatat pada masing-masing ternak. Pendamping dapat menggunakan catatan itu untuk membantu peternak mempertimbangkan pengelolaan yang lebih tepat, sedangkan petugas memiliki dasar untuk menilai kebutuhan pemeriksaan lanjutan. Pencatatan ini mendukung pemantauan, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan berkala atau memastikan hasil kesehatan tertentu. Tindak lanjut tetap ditentukan dengan memperhatikan keadaan ternak dan hasil pemeriksaan selanjutnya.
Layanan keliling dibentuk untuk menjawab keterbatasan pemeriksaan rutin bagi sapi di Prafi. Jarak antarlokasi peternakan dan terbatasnya akses terhadap pendampingan kesehatan dapat membuat gangguan pada ternak tidak segera diketahui. Padahal, penyakit yang terlambat terdeteksi berisiko berkembang dan mengganggu kondisi maupun produktivitas sapi. Melalui layanan ini, petugas mendatangi peternak secara langsung, sehingga pemeriksaan tidak hanya bergantung pada inisiatif pemilik untuk membawa ternak ke tempat layanan. Kehadiran petugas di lapangan juga memungkinkan kondisi kandang dan kebiasaan pemeliharaan diamati sebagai bagian dari pendampingan.
Pendampingan mencakup pemeriksaan kesehatan, pemahaman mengenai reproduksi, serta cara memberikan pakan yang sesuai. Peternak dapat berkonsultasi tentang kondisi sapi dan memperoleh arahan praktis untuk perawatan sehari-hari. Siswanto, peternak di kawasan SP3, mengatakan layanan tersebut membantu dirinya memeriksakan sapi. Ia juga menyebut petugas memberikan obat cacing secara gratis, sehingga pemeriksaan dan penanganan dasar dapat dilakukan tanpa biaya. Dukungan seperti ini penting bagi peternak yang memiliki keterbatasan untuk mengakses layanan secara mandiri. Dengan kunjungan langsung, peternak berkesempatan menyampaikan persoalan yang mereka hadapi sekaligus menerima informasi yang relevan dengan keadaan ternaknya.
Selain pendampingan kesehatan, program turut mendorong pengembangan pakan alternatif dengan memanfaatkan pelepah sawit. Pengolahan bahan yang tersedia di sekitar peternakan dapat membantu memperluas pilihan pakan, terutama ketika peternak perlu mencari sumber pakan yang mudah dijangkau. Peternak juga mendapat pelatihan agar memahami pemanfaatan bahan tersebut secara lebih tepat. Keberlanjutan layanan diperkuat dengan melatih kader ternak lokal. Kader diharapkan dapat meneruskan pengetahuan dan memberikan pendampingan dasar kepada warga setelah program berakhir. Dengan demikian, manfaat kunjungan petugas tidak berhenti pada pemeriksaan saat itu saja, tetapi menjadi bekal bagi peternak dan masyarakat setempat untuk menjaga kesehatan, reproduksi, serta pemenuhan pakan sapi secara berkelanjutan.
Program layanan keliling TEP Universitas Airlangga (Unair) di Manokwari berlangsung dalam konteks pentingnya sektor peternakan bagi Papua Barat. Berdasarkan data sementara Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2025 Kabupaten Manokwari memiliki 12.513 ekor sapi potong. Jumlah itu merupakan bagian terbesar dari total populasi sapi potong di Papua Barat, yang tercatat sebanyak 18.865 ekor. Angka tersebut menunjukkan posisi Manokwari dalam peta peternakan sapi provinsi, sekaligus memberi latar bagi upaya pendampingan yang menyasar peternak setempat.
Pada pertengahan September 2026, Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara meninjau hasil pendampingan TEP Unair di Manokwari. Dalam kegiatan tersebut, pemanfaatan pelepah sawit sebagai pakan turut diperlihatkan sebagai salah satu praktik yang dikenalkan kepada peternak. Peninjauan ini menempatkan layanan keliling dan pendampingan teknis sebagai bagian dari perhatian terhadap pengembangan peternakan di kawasan transmigrasi. Namun, data populasi sapi dan kunjungan tersebut perlu dibedakan dari ukuran hasil program: informasi yang tersedia tidak menyebutkan perubahan jumlah ternak atau dampak ekonomi yang dapat dikaitkan secara langsung dengan pendampingan.
Arah program itu sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto pada 16 Desember 2025 mengenai percepatan pembangunan Papua serta penguatan swasembada pangan hingga tingkat kabupaten. Dalam kerangka tersebut, pengembangan kapasitas peternak dan pemanfaatan sumber daya setempat menjadi bagian dari agenda yang relevan, tanpa mengesampingkan kebutuhan akan dukungan dan pengukuran hasil yang berkelanjutan. Pendekatan di tingkat kabupaten juga menegaskan bahwa agenda pangan perlu diterjemahkan sesuai potensi dan kondisi wilayah.
Sebelumnya, pada 31 Juli 2026, Iftitah mendorong peserta Ekspedisi Patriot agar bekerja maksimal dan menghasilkan manfaat bagi masyarakat di kawasan transmigrasi. Pesan itu memberi konteks bagi kerja lapangan, termasuk pendampingan peternakan di Manokwari.






