Mas Asmaoen, Dokter Indonesia Pertama yang Menghadapi Diskriminasi Kolonial

Mas Asmaoen, Dokter Indonesia Pertama yang Menghadapi Diskriminasi Kolonial

Jakarta | Setiap 24 Oktober, Indonesia memperingati Hari Dokter Nasional sebagai kesempatan untuk mengenang peran para dokter dalam menjaga kesehatan masyarakat. Peringatan ini juga mengajak publik melihat perjalanan panjang profesi kedokteran di Tanah Air, dari masa kolonial hingga layanan kesehatan modern. Menurut data Kementerian Kesehatan, Indonesia memiliki 217.198 dokter. Angka tersebut menggambarkan besarnya tenaga medis yang menopang pelayanan kesehatan, tetapi sejarah profesi ini dibangun melalui perjuangan orang-orang yang membuka jalan ketika kesempatan pendidikan masih sangat terbatas.

Di balik peringatan tersebut, muncul pertanyaan penting: siapa orang Indonesia pertama yang berhasil menjadi dokter? Salah satu nama yang kerap disebut dalam catatan sejarah adalah Mas Asmaoen, pria kelahiran Surakarta pada 1880. Kisahnya memberi gambaran tentang perubahan sosial pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ketika pendidikan kedokteran masih berada dalam sistem kolonial yang membatasi akses penduduk pribumi. Menelusuri jejaknya berarti memahami bukan hanya pencapaian pribadi, melainkan juga hambatan yang membentuk pengalaman generasi awal dokter Indonesia.

Mas Asmaoen menempuh pendidikan kedokteran di Belanda, sebuah pencapaian yang menuntut ketekunan dan keberanian untuk memasuki lingkungan akademik yang tidak dirancang setara bagi semua orang. Pendidikan itu membuka jalan baginya untuk memperoleh keahlian profesional yang pada masa tersebut lebih banyak tersedia bagi orang Eropa. Keberhasilannya menunjukkan bahwa orang Indonesia mampu memenuhi tuntutan pendidikan kedokteran, meskipun peluang untuk belajar dan berkembang dibatasi oleh struktur kolonial.

Namun, gelar dan kemampuan yang diperolehnya tidak serta-merta menghapus ketimpangan. Setelah kembali ke Hindia Belanda, Mas Asmaoen tetap menghadapi diskriminasi yang berkaitan dengan asal-usulnya sebagai pribumi. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan akademik saja tidak cukup untuk mengatasi aturan dan sikap kolonial yang membedakan orang berdasarkan ras. Kisahnya menjadi konteks penting dalam memperingati Hari Dokter Nasional: kemajuan profesi kedokteran Indonesia bukan semata hasil pendidikan, tetapi juga perjalanan menghadapi pembatasan, memperjuangkan pengakuan, dan membuka peluang bagi generasi berikutnya.

Pendidikan Mas Asmaoen bermula di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), lembaga pendidikan kedokteran bagi kaum bumiputra di Hindia Belanda. Pada masa itu, kesempatan untuk menempuh pendidikan medis tingkat lanjut masih dibatasi oleh aturan kolonial dan perbedaan status penduduk pribumi dengan orang Eropa. Lulusan STOVIA memperoleh sebutan dokter Jawa, sebuah gelar yang mencerminkan kedudukan mereka dalam sistem kesehatan kolonial, bukan kesetaraan penuh dengan dokter Eropa. Meski demikian, STOVIA menyediakan bekal ilmu dan pengalaman klinis yang menjadi landasan penting bagi para lulusannya untuk mengembangkan karier kedokteran.

Perubahan kesempatan terjadi pada 1904, ketika Dirk Fock, Menteri Urusan Daerah Jajahan, membuka jalan bagi lulusan STOVIA untuk melanjutkan pendidikan kedokteran di Belanda. Melalui kebijakan tersebut, mereka dapat mengikuti studi lanjutan dan memperoleh gelar yang dipandang setara dengan gelar dokter orang Eropa. Kesempatan itu memiliki arti besar karena pendidikan di Belanda dapat memperluas pengetahuan medis sekaligus mengubah pengakuan profesional yang sebelumnya melekat pada lulusan bumiputra. Mas Asmaoen termasuk di tiga orang yang memanfaatkan peluang tersebut. Bersama Abdul Rivai dan Mas Boenjamin, ia berangkat ke Amsterdam untuk menempuh pendidikan di universitas setempat.

Perjalanan studi di negeri penjajah menuntut ketekunan, sementara para mahasiswa juga harus menghadapi berbagai urusan pribadi dan tanggung jawab masing-masing. Menurut keterangan Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda, 1600–1950 (2008), Mas Asmaoen menyelesaikan pendidikan kedokterannya pada 1908. Ia lulus lebih dahulu daripada Abdul Rivai dan Mas Boenjamin, yang menuntaskan studi mereka belakangan karena kesibukan masing-masing. Dengan kelulusan itu, Mas Asmaoen tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang menjadi dokter. Pencapaian tersebut menandai lebih dari keberhasilan individual: ia menunjukkan bahwa lulusan sekolah kedokteran bumiputra mampu memperoleh pendidikan tinggi di Eropa dan gelar profesional yang sebelumnya erat dikaitkan dengan orang Eropa. Riwayat pendidikannya menjadi bagian penting dari sejarah awal dokter Indonesia, sekaligus latar bagi pengalaman diskriminasi kolonial yang dihadapinya kemudian.Setelah meraih gelar dokter, Mas Asmaoen melanjutkan perjalanan profesionalnya ke Eropa. Ia bekerja selama beberapa bulan di Institute of Naval and Tropical Medicine di Hamburg, Jerman. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk berkarya dalam lingkungan medis internasional sekaligus memperluas pengetahuan di bidang kedokteran tropis. Seusai masa kerja itu, ia kembali memasuki struktur pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Keahlian dan pendidikannya membawanya pada pengangkatan sebagai perwira kesehatan Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL), atau tentara kerajaan Hindia Belanda.

Pengangkatan itu merupakan pencapaian penting: Mas Asmaoen menjadi orang Indonesia pertama yang menduduki posisi perwira kesehatan di KNIL. Jabatan tersebut menandai keberhasilan seorang dokter pribumi memasuki lembaga militer yang selama itu dikuasai oleh orang Eropa. Namun, status resmi dan kompetensi profesional tidak serta-merta mengubah cara ia diperlakukan oleh para koleganya. Menurut sejarawan Harry A. Poeze, perwira-perwira Belanda menolak menganggap Asmaoen sebagai rekan yang setara. Dengan demikian, kesempatan yang tampak terbuka melalui pengangkatannya tetap dibatasi oleh sikap diskriminatif di lingkungan kerja.

Penolakan itu berdampak langsung pada kelanjutan kariernya. Meskipun telah memenuhi kualifikasi dan mengemban jabatan penting, Asmaoen tidak memperoleh penerimaan yang sepadan dari kalangan perwira Belanda. Kariernya di KNIL pun kandas, bukan karena kurangnya pendidikan atau kemampuan medis, melainkan karena batas sosial yang ditegakkan oleh sistem kolonial. Pada masa itu, masyarakat Hindia Belanda dipilah menurut asal-usul dan warna kulit; orang Eropa ditempatkan di lapisan yang lebih tinggi, sementara penduduk pribumi menghadapi hambatan untuk diakui setara. Pengalaman Asmaoen memperlihatkan bahwa keberhasilan pendidikan dapat membuka pintu menuju jabatan, tetapi tidak otomatis menghapus hierarki rasial yang mengatur hubungan dan kesempatan. Kisahnya menunjukkan jarak pengakuan formal atas kecakapan seorang dokter Indonesia dan kesetaraan nyata dalam institusi kolonial.

Setelah kariernya di Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) terhambat, Mas Asmaoen dipindahkan ke Irian. Perpindahan tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidup yang memperlihatkan terbatasnya ruang bagi seorang dokter Indonesia dalam lingkungan kolonial. Uraian tentang masa ini tidak hanya mencatat perubahan tempat tugas, tetapi juga menggambarkan keadaan yang kemudian membawanya menjauh dari Hindia Belanda. Di Irian, ia jatuh sakit. Kondisi kesehatannya membuatnya kembali ke Belanda, tempat ia kemudian menetap.

Kepindahan ke Belanda menandai perubahan besar dalam kehidupan Mas Asmaoen. Ia telah lama tinggal di Eropa, sehingga hubungan sosial dan pengalaman sehari-harinya terbentuk dalam lingkungan yang berbeda dari tanah jajahan. Namun, kembalinya ke Hindia Belanda setelah masa panjang di Eropa tidak serta-merta membuatnya merasa mudah menyesuaikan diri. Poeze mencatat bahwa ia mengalami kesulitan dalam menghadapi keadaan sosial ketika kembali. Pengalaman tinggal di Eropa rupanya mengubah cara ia memandang hubungan antarmanusia dan mempertegas perbedaan kehidupan di Belanda dengan tatanan kolonial.

Menurut uraian sumber, di Belanda orang Indonesia dapat didekati dan diperlakukan sebagai pribadi. Dalam lingkungan itu, interaksi tidak selalu ditentukan oleh kedudukan rasial yang sama kuatnya seperti di tanah jajahan. Sebaliknya, di Hindia Belanda, hubungan sosial banyak ditentukan oleh warna kulit. Perbedaan tersebut membantu menjelaskan mengapa kepulangan Mas Asmaoen terasa sulit: ia kembali ke masyarakat dengan batas-batas kolonial yang telah lama membentuk perlakuan dan kesempatan.

Baca juga: Kodim 1714/Puncak Jaya Gelar Doa Bersama dan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Jembatan di Kampung Kulonggame