Pesawat Asian One Keluar Landasan di Sugapa, Seluruh Penumpang dan Awak Selamat

Pesawat Asian One Keluar Landasan di Sugapa, Seluruh Penumpang dan Awak Selamat

Kabupaten Intan Jaya | Pesawat Cessna 208B milik PT Asian One Air mengalami insiden keluar jalur setelah mendarat di Bandara Bilorai, Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, pada Sabtu pagi, 24 Oktober 2026. Pesawat tersebut sedang melayani penerbangan perintis dengan rute Timika–Sugapa. Peristiwa berlangsung ketika pesawat tiba di bandara tujuan, setelah menjalani perjalanan dari Timika.

Informasi awal menyebutkan bahwa pendaratan di runway 09 semula berjalan normal. Namun, sesaat setelah roda pesawat menyentuh permukaan landasan, pesawat melebar ke sisi kiri. Pesawat kemudian keluar dari jalur landasan dan berhenti di area rerumputan di sekitar bandara. Rangkaian kejadian itu terjadi setelah pesawat mendarat, bukan ketika masih berada dalam penerbangan.

Seluruh penumpang dan awak pesawat dilaporkan selamat. Tidak ada laporan dalam informasi yang tersedia mengenai korban jiwa akibat insiden tersebut. Pesawat yang berhenti di area rumput itu menjadi bagian dari penanganan dan pemeriksaan setelah kejadian, sementara layanan keselamatan bagi orang-orang di dalam pesawat menjadi perhatian utama.

Hingga informasi ini disusun, penyebab pesawat melebar ke kiri dan keluar dari landasan belum dipastikan. Penyelidikan masih berlangsung, sehingga belum ada dasar untuk menyimpulkan faktor yang memicu kejadian. Keterangan mengenai pendaratan awal yang normal, arah pesawat setelah roda menyentuh runway, serta lokasi berhentinya merupakan uraian kejadian yang tersedia, bukan penetapan penyebab.

Insiden di Bandara Bilorai tersebut melibatkan pesawat yang melayani rute perintis menuju Sugapa. Rincian lanjutan mengenai hasil pemeriksaan pesawat maupun perkembangan penyelidikan dapat disampaikan setelah proses penanganan memberikan informasi resmi. Sampai ada keterangan tambahan, penting untuk membedakan fakta bahwa pesawat keluar jalur dan seluruh orang di dalamnya selamat dari dugaan mengenai penyebabnya. Dengan demikian, kronologi yang dapat dipastikan terbatas pada pendaratan, pergeseran ke kiri, pesawat keluar dari jalur, lalu berhenti di area rerumputan.

Kementerian Perhubungan menyampaikan bahwa seluruh orang yang berada di dalam pesawat Asian One yang keluar landasan di Sugapa selamat. Tidak ada penumpang maupun awak yang dilaporkan mengalami cedera. Jumlah orang di dalam pesawat tercatat sebanyak 10 orang, terdiri atas delapan penumpang dan dua awak. Keterangan tersebut menjadi informasi utama mengenai kondisi orang-orang yang berada dalam pesawat setelah insiden terjadi. Dengan demikian, laporan yang disampaikan Kemenhub menyebutkan keselamatan seluruh penumpang dan awak, tanpa adanya korban cedera. Rincian jumlah tersebut mencakup semua orang yang berada di dalam pesawat, yakni kelompok penumpang serta awak yang bertugas. Kemenhub tidak melaporkan adanya perbedaan kondisi di mereka; seluruhnya dinyatakan selamat dan tidak mengalami cedera.

Selain kondisi orang-orang di dalam pesawat, Kemenhub juga menyebut adanya kerusakan pada bagian roda utama. Informasi tersebut merupakan bagian dari laporan awal mengenai dampak insiden terhadap pesawat. Kerusakan yang disebutkan secara spesifik berada pada roda utama, sementara keterangan yang tersedia tidak merinci bagian lain yang terdampak. Karena itu, penjelasan mengenai kondisi pesawat perlu merujuk pada informasi yang telah disampaikan, tanpa menambahkan dugaan tentang tingkat kerusakan atau penyebab keluarnya pesawat dari landasan. Laporan mengenai roda utama melengkapi keterangan bahwa seluruh penumpang dan awak selamat. Kedua hal tersebut menjadi informasi yang disampaikan Kementerian Perhubungan terkait insiden di Sugapa: jumlah orang di dalam pesawat, kondisi mereka, serta kerusakan yang dilaporkan pada salah satu bagian pesawat.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, menyampaikan bahwa keselamatan penumpang dan awak menjadi prioritas. Ia juga menerangkan bahwa penanganan awal dilakukan sesuai prosedur. Pernyataan tersebut menjelaskan fokus tindakan setelah insiden, yakni memastikan aspek keselamatan dan menjalankan langkah penanganan awal berdasarkan prosedur yang berlaku. Keterangan ini tidak menguraikan tindakan teknis secara terperinci, sehingga informasi yang dapat dipastikan tetap terbatas pada prioritas keselamatan dan pelaksanaan penanganan awal sesuai prosedur. Berdasarkan laporan Kemenhub, kesepuluh orang di dalam pesawat—delapan penumpang dan dua awak—selamat tanpa cedera, sedangkan kerusakan dilaporkan pada bagian roda utama. Informasi ini merangkum kondisi orang-orang di pesawat dan kerusakan yang disebutkan, tanpa menambahkan keterangan yang belum disampaikan oleh pihak berwenang.

Berdasarkan informasi sementara, pesawat Asian One Air yang mengalami insiden di Sugapa berangkat dari Timika pada pukul 07.40 WIT. Pesawat kemudian mendarat di Sugapa pada pukul 08.38 WIT. Rentang waktu tersebut menjadi bagian dari data awal yang dihimpun untuk menyusun kronologi perjalanan. Informasi mengenai waktu keberangkatan dan pendaratan disampaikan sebagai keterangan sementara, sementara proses pengumpulan data terkait kejadian masih berlangsung. Seluruh penumpang dan awak dilaporkan selamat.

Dalam penanganan kejadian, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara melalui Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara berkoordinasi dengan Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah X Merauke. Koordinasi dilakukan untuk mendukung penanganan insiden serta memberikan pendampingan di lokasi. Langkah tersebut mencakup komunikasi antarpihak terkait dan pengumpulan keterangan yang diperlukan, agar kondisi di lapangan dapat dipahami serta informasi mengenai kejadian dapat dihimpun secara terarah.

Direktorat terkait juga menjalin komunikasi dengan manajemen PT Asian One Air untuk memperoleh data teknis pesawat. Data tersebut diperlukan sebagai salah satu bahan dalam menelaah kondisi pesawat dan rangkaian penerbangan. Pada saat yang sama, informasi dari berbagai pihak terus dikumpulkan guna membantu mengetahui penyebab insiden. Penyebab kejadian belum dapat dipastikan hanya berdasarkan keterangan awal mengenai waktu penerbangan. Karena itu, penelaahan perlu mempertimbangkan data teknis, kronologi, dan informasi lapangan yang tersedia. Pembaruan mengenai hasil penanganan dapat disampaikan setelah informasi yang relevan terkumpul dan proses pemeriksaan memberikan dasar yang memadai. Hingga tahap tersebut, keterangan mengenai keberangkatan dari Timika, pendaratan di Sugapa, koordinasi penanganan, dan upaya memperoleh data teknis merupakan informasi sementara yang menjadi bagian dari tindak lanjut otoritas penerbangan bersama operator. Pendampingan di lokasi dan pengumpulan informasi diharapkan mendukung proses penanganan secara menyeluruh, dengan tetap mengutamakan keselamatan seluruh pihak yang terlibat serta ketepatan informasi publik.Berdasarkan koordinasi pengelola Bandara Bilorai dan AirNav Indonesia, sejumlah penerbangan yang dijadwalkan menuju Sugapa dialihkan kembali ke Timika atau menjalani prosedur return to base. Keputusan operasional tersebut diambil dengan mengutamakan keselamatan penerbangan, sembari penanganan atas pesawat Asian One yang keluar landasan di Sugapa berlangsung. Pengalihan ini berlaku bagi penerbangan yang terdampak sesuai koordinasi pihak-pihak terkait, dan tidak dengan sendirinya menjelaskan kondisi penerbangan lain yang tidak disebutkan dalam informasi yang tersedia.

Pengelola bandara dan AirNav Indonesia berkoordinasi dalam menindaklanjuti kondisi di lapangan serta pengaturan lalu lintas udara menuju Sugapa. Dalam situasi operasional seperti ini, rencana penerbangan dapat disesuaikan berdasarkan pertimbangan keselamatan dan informasi yang diterima oleh pihak terkait. Karena itu, penumpang dan pihak yang menunggu kedatangan penerbangan diharapkan merujuk pada pemberitahuan resmi dari maskapai atau otoritas bandara untuk memperoleh informasi mengenai jadwal dan perkembangan terbaru. Rincian mengenai penerbangan yang dialihkan maupun penyesuaian berikutnya akan mengikuti hasil koordinasi operasional.

Hingga informasi yang tersedia disampaikan, penyebab pesawat keluar landasan masih ditelusuri. Belum ada keterangan terverifikasi yang dapat digunakan untuk memastikan faktor penyebab kejadian tersebut. Oleh sebab itu, informasi mengenai penyebab maupun dampak lain di luar hal yang telah dinyatakan tidak dapat disimpulkan pada tahap ini. Penanganan dan pemeriksaan di lapangan menjadi bagian dari proses pengumpulan data yang diperlukan sebelum keterangan lebih lanjut disampaikan kepada publik.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara terus.

Baca juga: Kemenhub Sediakan 309 Rute Pesawat Perintis di 3T, Anggarannya Segini