Jakarta | Maudy Koesnaedi akan menghadapi tantangan baru di panggung teater dengan memerankan Sayap Hitam dalam lakon Njonja Ati Soetji. Pertunjukan ini dijadwalkan berlangsung pada 30–31 Oktober 2026 di Ciputra Artpreneur, Jakarta. Kehadiran Maudy dalam produksi tersebut menarik perhatian karena tokoh yang dipercayakan kepadanya berbeda dari karakter yang selama ini lebih dikenal publik. Ia tidak tampil sebagai sosok utama yang lembut dan mudah bersimpati, melainkan mengambil peran yang menuntut sisi gelap serta pendekatan akting yang lebih tajam.
Dalam cerita, Sayap Hitam digambarkan sebagai antagonis sekaligus mucikari, atau perantara dalam perdagangan pekerja seks komersial. Karakter ini berada di lingkungan yang keras dan memiliki kepentingan tersendiri, sehingga kehadirannya dapat memunculkan ketegangan dalam alur. Memerankan tokoh dengan latar dan tindakan seperti itu menuntut Maudy untuk membangun karakter secara cermat, mulai dari sikap, pilihan kata, hingga cara berinteraksi dengan tokoh lain. Peran tersebut juga memberi ruang baginya untuk mengeksplorasi dinamika manusia yang lebih kompleks, tanpa menyamakan karakter yang dimainkan dengan pandangan pribadi sang pemeran.
Sayap Hitam menjadi peran antagonis pertama Maudy sepanjang kariernya. Sebelumnya, ia lebih sering memainkan tokoh protagonis dengan pembawaan lembut, sehingga perubahan arah ini menjadi pengalaman artistik yang penting. Perbedaan tersebut bukan sekadar pergantian watak, tetapi juga kesempatan untuk menunjukkan jangkauan kemampuan aktingnya di hadapan penonton teater. Maudy perlu melepaskan pola karakter yang sudah akrab baginya dan menemukan cara baru untuk menghadirkan sosok yang berlawanan. Tantangan itu dapat membuat proses pendalaman peran semakin menarik, sekaligus memperlihatkan sisi lain dari seorang aktris yang telah lama dikenal melalui karakter-karakter yang hangat. Melalui pementasan ini, penonton dapat menyaksikan bagaimana ia mengolah tokoh Sayap Hitam secara meyakinkan, dengan tetap berpijak pada kebutuhan cerita dan konteks panggung.
Bagi Maudy Koesnaedi, menerima peran antagonis dalam pertunjukan teater ini menjadi pengalaman baru sekaligus kesempatan untuk menguji kemampuan aktingnya di panggung. Ia tidak hanya memasuki wilayah karakter yang berbeda dari peran-peran yang pernah dibawakannya, tetapi juga perlu menemukan cara yang tepat untuk menghadirkan sosok tersebut secara meyakinkan. Perubahan itu membuat prosesnya terasa menantang, karena ia harus memahami karakter dari sudut pandang yang tidak biasa baginya.
Karakter Sayap Hitam menjadi tantangan tersendiri bagi Maudy. Membawakan tokoh antagonis menuntutnya menggali sisi karakter yang berlawanan dengan pengalaman akting sebelumnya, lalu menyampaikannya melalui ekspresi, sikap, dan interaksi di atas panggung. Tantangannya bukan sekadar membuat tokoh tampak jahat, melainkan mencari alasan dan lapisan yang membentuk perilakunya. Dengan begitu, karakter dapat hadir sebagai sosok yang utuh, bukan hanya sebagai penghalang bagi tokoh lain. Proses tersebut juga memberinya ruang untuk mengeksplorasi pilihan akting serta mengembangkan pendekatan baru dalam memerankan tokoh.
Maudy memandang peran ini sebagai sesuatu yang berbeda dari pengalaman sebelumnya dan mengakui bahwa karakter Sayap Hitam menghadirkan tantangan tersendiri. Pernyataan itu menunjukkan bahwa ia menyadari adanya tuntutan baru, sekaligus melihatnya sebagai peluang untuk belajar. Alih-alih bertahan pada pola yang sudah dikenalnya, ia harus membuka diri terhadap cara kerja karakter yang lebih kompleks dan menemukan keseimbangan dalam membawakannya di panggung. Tantangan tersebut menjadi bagian penting dari pengalaman yang ingin ia jalani.
Di samping eksplorasi akting, Maudy juga tertarik mendalami pesan yang disampaikan pertunjukan. Baginya, memahami gagasan di balik cerita dapat membantu memberi konteks pada tindakan Sayap Hitam dan hubungan karakter itu dengan keseluruhan pementasan. Perhatian terhadap pesan tersebut membuat persiapannya tidak berhenti pada penciptaan sosok antagonis, tetapi turut mencakup pemahaman tentang fungsi tokoh di dalam cerita. Peran ini pun menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sekaligus terlibat lebih dalam pada makna pertunjukan.
Pementasan produksi Regina Art mengangkat kisah Auw Tjoei Lan, perempuan Tionghoa-Indonesia yang dikenal dengan nama Njonja Ati Soetji. Cerita ini menyoroti kiprahnya dalam menghadapi perdagangan manusia pada masa kolonial, ketika perempuan dan anak-anak menjadi kelompok yang rentan terhadap eksploitasi. Melalui tokoh tersebut, panggung teater menghadirkan kembali perjuangan kemanusiaan yang berangkat dari sejarah, sekaligus memperlihatkan keberanian seorang perempuan dalam merespons penderitaan di sekitarnya.
Dalam kisah yang dipentaskan, Auw Tjoei Lan berupaya menyelamatkan perempuan dan anak korban perdagangan manusia. Perjuangan itu menjadi inti narasi, bukan sekadar catatan mengenai masa lalu, melainkan gambaran tentang kepedulian, keteguhan, dan tindakan nyata di tengah situasi sosial yang tidak mudah. Latar kolonial memberi konteks pada tantangan yang dihadapi, sementara pengalaman para korban menempatkan persoalan keselamatan dan martabat manusia sebagai perhatian utama. Pementasan ini mengajak penonton mengenali sosok Njonja Ati Soetji serta memahami mengapa perjuangannya layak diceritakan kembali melalui medium teater.
Naskah pementasan ditulis oleh Endah D. Jenura setelah menjalani riset selama dua tahun. Proses panjang tersebut menjadi landasan untuk merangkai kisah Auw Tjoei Lan ke dalam bentuk dramatik, dengan perhatian pada latar dan tokoh yang diangkat. Wawan Sofwan bertindak sebagai sutradara, menerjemahkan naskah ke dalam pertunjukan panggung. Dalam jajaran pemain, Tika Bravani memerankan Noona Kneefel, salah satu karakter yang hadir dalam cerita. Kehadiran para tokoh dan pilihan artistik pertunjukan membantu membangun dunia pementasan, sekaligus membawa penonton mengikuti kisah perjuangan yang menjadi pusat narasi. Dengan mengangkat figur historis ini, produksi Regina Art membuka ruang bagi percakapan tentang perdagangan manusia, perlindungan terhadap perempuan dan anak, serta peran individu dalam memperjuangkan keselamatan mereka di tengah masyarakat kolonial.
Dalam pementasan ini, Maudy Koesnaedi melihat karakter bukan sekadar tokoh baik dan jahat yang mudah diberi label. Setiap tokoh hadir dengan latar belakang, kepentingan, dan alasan yang membentuk tindakannya. Namun, memahami alasan itu tidak berarti penonton harus membenarkan semua pilihan yang dibuat. Bagi Maudy, drama memberi ruang untuk mengamati persoalan moral secara lebih utuh: seseorang mungkin merasa tindakannya tepat, tetapi keputusan tersebut tetap dapat melukai atau merugikan orang lain. Ketegangan niat, tindakan, dan dampaknya menjadi bagian penting dari pengalaman menyaksikan cerita di panggung.
Sudut pandang tersebut mengajak penonton menimbang berbagai sisi sebelum menarik kesimpulan. Pilihan seseorang tidak berlangsung dalam ruang hampa; konsekuensinya dapat memengaruhi keluarga, lingkungan, bahkan orang-orang yang tidak terlibat langsung. Karena itu, penilaian moral tidak cukup berhenti pada alasan yang digunakan tokoh untuk membela diri. Penonton juga perlu memperhatikan akibat nyata dari tindakannya serta tanggung jawab yang menyertainya. Melalui karakter antagonis maupun tokoh lain, pementasan mendorong refleksi tentang bagaimana kepentingan pribadi dapat berbenturan dengan kepentingan bersama, dan bagaimana tindakan yang tampak masuk akal bagi satu pihak bisa menjadi beban bagi pihak lain.
Bagi Maudy, kekuatan teater terletak pada kemampuannya menghadirkan pertanyaan, bukan sekadar menawarkan jawaban tunggal. Penonton dapat berbeda pendapat mengenai tokoh, tetapi tetap diajak mempertimbangkan nilai, dampak, dan tanggung jawab di balik sebuah keputusan. Pesan ini juga memberi relevansi pada kisah yang diangkat Regina Art, yakni perjalanan pendiri Yayasan Hati Suci. Wenny, wakil ketua Yayasan Hati Suci, mengapresiasi Regina Art karena membawa kisah pendiri yayasan ke panggung. Menurutnya, cerita tersebut tidak hanya penting sebagai catatan sejarah tentang awal berdirinya lembaga, tetapi juga memuat nilai dan teladan yang dapat dipelajari masyarakat masa kini. Dengan mengenalkannya kembali melalui teater, kisah itu diharapkan terus menginspirasi kepedulian dan tindakan nyata bagi sesama.
Baca juga: Pengamanan Lahan Dipersoalkan, Warga Gubeng Tantang Pemkot Surabaya Buka Dasar Hukumnya | Harmoni dari Desa Leran Kalitidu Bojonegoro: Dusun Sido Kumpul Menuju Panggung Nasional KASAD Award 2026






