Jakarta | Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri mengajak generasi muda Indonesia untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa mengabaikan penguatan karakter bangsa. Pesan tersebut disampaikan melalui tayangan video dalam acara puncak Merah Muda Fest 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta, pada Minggu malam. Dalam pidatonya, Megawati menempatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bekal penting bagi anak muda untuk menghadapi perubahan dan tantangan masa depan. Namun, kemampuan teknis itu perlu berjalan seiring dengan karakter yang kuat, sehingga kemajuan pengetahuan tidak terpisah dari nilai dan tanggung jawab sebagai bagian dari bangsa. Seruan tersebut menegaskan bahwa generasi muda perlu menyiapkan diri secara menyeluruh, baik dalam hal kecakapan maupun pembentukan sikap.
Megawati mendorong anak muda agar tidak hanya mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Penguasaan teknologi, menurut arah pesannya, perlu diarahkan pada penerapan yang berguna bagi masyarakat. Dengan bekal tersebut, generasi muda dapat berkontribusi dalam menjawab kebutuhan yang ada di tengah kehidupan sehari-hari. Dorongan ini sekaligus mengingatkan bahwa kecakapan teknologi memiliki nilai ketika dapat dimanfaatkan untuk membantu orang lain dan menghadirkan manfaat yang nyata. Karena itu, persiapan menghadapi masa depan bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan, melainkan juga memahami bagaimana pengetahuan tersebut dapat digunakan secara bertanggung jawab.
Ia juga mengarahkan perhatian pada teknologi terapan yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan membantu menyelesaikan persoalan nyata. Pesan tersebut memberi penekanan pada keterkaitan pembelajaran dan kehidupan: ilmu yang dikuasai anak muda diharapkan dapat menjawab tantangan yang dihadapi, bukan berhenti sebagai kemampuan teoritis semata. Ajakan itu tidak menyebut bidang atau bentuk teknologi tertentu, tetapi menegaskan pentingnya mempelajari teknologi yang relevan dengan kebutuhan publik. Dengan demikian, generasi muda didorong untuk memadukan penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan menerapkan teknologi, dan karakter bangsa yang kokoh sebagai bagian dari persiapan menyongsong masa depan.
Menurut Megawati, kemajuan intelektual tidak seharusnya dipahami hanya sebagai peningkatan pengetahuan atau kemampuan berpikir. Kemajuan itu perlu berjalan seiring dengan penguatan jati diri dan moralitas. Ilmu yang tinggi memiliki arti penting bagi generasi muda, tetapi perkembangan tersebut tetap perlu ditopang oleh karakter yang kuat. Dengan demikian, kecerdasan bukan satu-satunya ukuran dalam melihat kesiapan seseorang menghadapi masa depan. Pembentukan diri dan pegangan moral juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses menjadi pribadi yang berilmu. Pesan ini menempatkan pendidikan dan pembinaan karakter sebagai hal yang perlu berjalan bersama, bukan sebagai dua hal yang saling menggantikan. Kepintaran dapat menjadi bekal, sementara jati diri dan moralitas memberi dasar agar bekal itu tetap selaras dengan nilai yang dipegang.
Penekanan tersebut juga menunjukkan bahwa kepintaran saja tidak memadai. Seseorang perlu memiliki keberanian, integritas, dan keteguhan pada nilai-nilai Pancasila. Tanpa unsur-unsur itu, kemampuan intelektual tidak dengan sendirinya mencerminkan karakter yang kuat. Keberanian diperlukan agar seseorang teguh pada nilai yang diyakininya, sedangkan integritas menegaskan pentingnya menjaga kesesuaian nilai dan sikap. Keteguhan pada Pancasila menjadi bagian dari pegangan tersebut. Karena itu, penguasaan ilmu perlu berjalan bersama kualitas diri yang menjaga seseorang tetap berpegang pada prinsip. Pesan Megawati tidak mengurangi arti penting kecerdasan, melainkan menegaskan bahwa kecerdasan perlu disertai karakter. Ilmu dan kemampuan berpikir tetap berharga, namun keduanya tidak dapat menggantikan keberanian, integritas, ataupun komitmen pada nilai Pancasila. Generasi muda perlu memandang unsur-unsur itu sebagai bagian yang saling melengkapi dalam pembentukan diri.
Dalam pandangan tersebut, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi ilmu yang dikuasai generasi muda. Kuatnya karakter mereka juga menjadi penentu yang penting. Pengetahuan dan karakter ditempatkan sebagai dua unsur yang perlu hadir bersama dalam membentuk masa depan. Generasi muda dapat memiliki kemampuan intelektual yang tinggi, tetapi kemampuan itu perlu disertai keteguhan moral dan pegangan nilai. Inilah inti peringatan Megawati: kepintaran saja tidak cukup apabila tidak disertai keberanian, integritas, dan keteguhan pada Pancasila. Dengan menekankan keseimbangan ilmu, jati diri, dan moralitas, pesan tersebut mengingatkan bahwa kemajuan intelektual perlu berpijak pada karakter. Masa depan Indonesia, dengan demikian, berkaitan bukan hanya dengan pengetahuan generasi muda, melainkan juga dengan kekuatan karakter yang mereka miliki.
Megawati mengingatkan generasi muda agar tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki kepekaan sosial serta keberanian moral. Menurutnya, pengetahuan perlu disertai integritas dan keberpihakan kepada rakyat. Anak muda, karena itu, diharapkan berani menyuarakan kebenaran ketika melihat penyimpangan, bukan memilih diam demi kenyamanan. Sikap kritis perlu dibangun dengan tanggung jawab, didukung pemahaman yang kuat, dan diarahkan untuk memperjuangkan kehidupan bersama yang lebih adil.
Seruan tersebut juga mencakup keteguhan menghadapi ketidakadilan. Megawati menekankan bahwa generasi muda sepatutnya berdiri bersama masyarakat, terutama kelompok lemah yang sering kesulitan memperoleh pembelaan dan keadilan. Keberpihakan bukan sekadar pernyataan, melainkan sikap yang tampak dalam tindakan, kepedulian, dan kesediaan mendengarkan kebutuhan warga. Ketika suara kelompok rentan diabaikan, kaum muda dapat membantu menyuarakan kepentingan mereka secara santun, berani, dan berdasarkan fakta. Dengan cara itu, keberanian tidak berubah menjadi tindakan tanpa pertimbangan, tetapi menjadi ikhtiar untuk menjaga martabat manusia dan memperkuat kehidupan demokratis.
Untuk menjelaskan arti keberanian dan persatuan, Megawati mengajak pendengar mengingat sejarah Lapangan Banteng, yang dahulu dikenal sebagai Waterlooplein. Dalam pidatonya, ia menyebut rapat pertama Kongres Pemuda II berlangsung pada 27 Oktober 1928 di gedung Katholieke Jongelingen Bond di kawasan tersebut. Pertemuan itu dihadiri pemuda dari berbagai organisasi kedaerahan, lain Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, serta pemuda kaum Betawi. Mereka datang membawa latar dan identitas masing-masing, tetapi bersedia membicarakan tujuan yang lebih luas daripada kepentingan kelompoknya.
Menurut pandangan Megawati, keputusan untuk bersatu di tengah kolonialisme Belanda merupakan keberanian politik yang layak diteladani. Para pemuda menyadari bahwa perjuangan bersama membutuhkan kesediaan melampaui perbedaan dan membangun kepercayaan. Persatuan itu dirintis sebelum Indonesia merdeka; dengan demikian, fondasi kebangsaan telah disiapkan agar kelak sebuah bangsa merdeka dapat lahir. Pelajaran tersebut relevan bagi generasi sekarang: keberanian menyampaikan kebenaran perlu berjalan seiring dengan solidaritas, integritas, dan pembelaan terhadap rakyat. Menjaga persatuan tidak berarti menutup mata terhadap ketidakadilan, melainkan bekerja bersama agar setiap warga, khususnya yang paling rentan, memperoleh suara, perlindungan, dan perlakuan yang adil.
Pesan penutup Megawati kepada pemuda Indonesia menegaskan bahwa semangat perjuangan tidak seharusnya berhenti pada perayaan atau seremoni. Peringatan dan penghormatan terhadap sejarah akan memperoleh makna lebih kuat ketika nilai yang diwariskan diteruskan dalam tindakan nyata. Bagi generasi muda, hal itu berarti menjadikan semangat kebangsaan sebagai pedoman dalam bersikap dan mengambil bagian dalam kehidupan bersama, bukan sekadar ungkapan yang muncul pada kesempatan tertentu.
Merawat sejarah menjadi bagian penting dari ajakan tersebut. Mengenali perjalanan bangsa membantu generasi muda memahami bahwa persatuan, keberanian, dan kepedulian terhadap sesama tumbuh melalui pengalaman serta perjuangan panjang. Sejarah bukan hanya kisah tentang masa lalu, melainkan sumber refleksi untuk melihat nilai-nilai yang tetap relevan saat menghadapi tantangan. Dengan mengingat perjuangan, pemuda dapat menjaga hubungan cita-cita yang diwariskan dan pilihan yang mereka buat hari ini.
Megawati juga menggarisbawahi pentingnya menyalakan kembali semangat perjuangan dengan tetap memegang prinsip kemanusiaan.






