Jakarta | Indonesia dan Mozambik menjajaki kerja sama di bidang ekonomi kreatif, dengan pembahasan mencakup kriya, film, dan fesyen. Pertemuan tersebut menjadi ruang bagi kedua negara untuk bertukar pandangan mengenai peluang kolaborasi lintas sektor kreatif. Salah satu perhatian yang mengemuka adalah ketertarikan Mozambik untuk mempelajari batik Indonesia, sebagai bagian dari pembahasan mengenai tekstil dan pengembangan kegiatan kreatif. Pertukaran pengetahuan itu dapat membuka kesempatan untuk mengenal lebih jauh praktik, nilai, serta potensi karya kreatif dari masing-masing negara. Selain batik, cakupan pembicaraan juga menunjukkan bahwa kerja sama tidak terbatas pada satu bidang, melainkan meliputi beberapa subsektor yang memiliki karakter dan bentuk karya berbeda.
Pembahasan berlangsung dalam pertemuan bilateral Wakil Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar dan Wakil Menteri Seni dan Kebudayaan Mozambik Matilde Martins Mu ocha Makara. Pertemuan digelar di sela-sela The 5th World Conference on Creative Economy 2026 di Jakarta, Kamis (22/10). Kehadiran kedua pejabat tersebut memberi kesempatan untuk menyampaikan kepentingan dan potensi masing-masing negara secara langsung. Dalam konteks ini, ekonomi kreatif menjadi ruang dialog yang menghubungkan kebudayaan dengan kegiatan produksi dan pengembangan karya. Kriya, film, dan fesyen menjadi bidang yang disebut dalam penjajakan, sementara pembelajaran batik menandai minat khusus yang dapat menjadi salah satu pintu masuk pembicaraan lebih lanjut.
Penjajakan ini mencerminkan upaya Indonesia dan Mozambik untuk membangun pemahaman awal mengenai bentuk kerja sama yang mungkin dikembangkan. Pertemuan bilateral memungkinkan kedua pihak mengenali bidang yang dinilai relevan, sekaligus membahas potensi pertukaran pengalaman di sektor ekonomi kreatif. Minat Mozambik terhadap batik juga menempatkan tekstil sebagai bagian penting dari percakapan, bukan hanya sebagai produk, tetapi sebagai karya yang terkait dengan keterampilan dan tradisi kreatif. Namun, pembahasan yang berlangsung masih merupakan penjajakan; rincian program maupun bentuk pelaksanaan kerja sama belum disebutkan. Dengan cakupan yang meliputi kriya, film, dan fesyen, dialog tersebut menyediakan dasar untuk melihat kemungkinan hubungan yang lebih luas. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada pembahasan dan kesepakatan kedua negara mengenai prioritas serta langkah konkret.
Ketertarikan Mozambik untuk mempelajari teknik batik Indonesia membuka ruang bagi pertukaran pengetahuan di bidang tekstil tradisional. Melalui pelatihan dan transfer keterampilan, perajin setempat dapat mengenal tahapan penting, mulai dari merancang motif, menggunakan malam, menerapkan pewarna, hingga menyelesaikan kain. Pengetahuan tersebut berpotensi menjadi bekal untuk mengembangkan produksi kapulana secara lokal, dengan tetap memperhatikan karakter, kebutuhan, serta tradisi masyarakat Mozambik. Kapulana memiliki nilai praktis dan budaya yang kuat, sehingga pengembangan teknik baru dapat diarahkan untuk memperkaya pilihan produksi, bukan menggantikan identitas kain setempat. Pendekatan yang menghormati kearifan lokal juga dapat membantu memastikan bahwa proses belajar berlangsung secara relevan dan berkelanjutan.
Penguasaan teknik batik dapat mendukung upaya pelestarian warisan budaya sekaligus memberi ruang bagi inovasi dalam kriya dan tekstil. Pelatihan dapat mencakup pemahaman bahan, keterampilan pembuatan motif, pengelolaan mutu, serta cara meneruskan keterampilan kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, transfer pengetahuan tidak terbatas pada demonstrasi teknis, tetapi dapat turut memperkuat kapasitas perajin dan komunitas. Kerja sama semacam ini masih merupakan peluang yang dijajaki; belum berarti produksi bersama atau kegiatan ekspor telah berjalan. Jika hubungan industri berkembang pada tahap berikutnya, pengalaman Indonesia dalam mengolah tekstil bernilai budaya dapat menjadi salah satu referensi bagi pelaku usaha kedua negara dalam merancang bentuk kolaborasi yang sesuai.
Bagi industri tekstil Indonesia, peningkatan hubungan dengan Mozambik berpotensi membuka pemahaman terhadap kebutuhan dan preferensi pasar setempat, sekaligus menjadi langkah awal untuk menjajaki peluang pasar internasional yang lebih luas. Peluang penetrasi pasar tersebut bergantung pada kajian, kesiapan produk, dan kesepakatan yang dibangun kemudian, bukan hasil yang sudah dipastikan. Pemerintah Mozambik juga menyampaikan apresiasi atas keberhasilan Indonesia mengintegrasikan tata kelola budaya, komunikasi, dan ekonomi kreatif. Apresiasi ini berkaitan dengan komitmen untuk mengadaptasi model pengembangan Indonesia melalui pelatihan dan transfer pengetahuan, terutama dalam bidang kriya dan tekstil. Adaptasi tersebut dapat disesuaikan dengan konteks nasional Mozambik, sehingga pelestarian budaya berjalan seiring dengan peningkatan keterampilan, kapasitas produksi, dan peluang ekonomi bagi komunitas kreatif.
Pemerintah Indonesia menetapkan ekonomi kreatif sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi baru. Irene Umar menjelaskan bahwa arah kebijakan tersebut dijalankan dengan memperkuat 21 subsektor ekonomi kreatif, yang mencakup bidang digital maupun non-digital. Pengembangan subsektor itu tidak ditempatkan secara terpisah, melainkan diarahkan agar saling terhubung dan berkolaborasi. Dengan demikian, pelaku dari berbagai bidang dapat menghasilkan gagasan, produk, layanan, serta model usaha yang memberi nilai tambah. Kerja sama lintas subsektor juga membuka ruang bagi inovasi dan memperluas akses pasar, baik di tingkat lokal maupun global. Pemerintah ingin pertumbuhan tersebut berlangsung berkelanjutan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh pelaku industri dan masyarakat di berbagai daerah.
Pendekatan Kementerian Ekonomi Kreatif, menurut Irene, tidak hanya berpusat pada upaya melestarikan budaya. Budaya juga dipandang sebagai sumber inspirasi dan penggerak kegiatan ekonomi. Warisan, keterampilan, pengetahuan, dan ekspresi lokal dapat diolah menjadi produk serta pengalaman kreatif dengan nilai yang relevan bagi masyarakat masa kini. Pandangan ini tidak berarti mengurangi arti penting pelestarian. Sebaliknya, ketika kekayaan budaya memperoleh ruang dalam kegiatan ekonomi, masyarakat dapat memiliki dorongan dan sumber daya untuk merawatnya. Karena itu, pengembangan industri kreatif perlu dilakukan dengan menghormati asal-usul budaya serta melibatkan komunitas yang menjadi pemilik pengetahuan dan tradisi tersebut.
Dalam penjajakan kerja sama dengan Mozambik, Indonesia ingin bertukar pengetahuan mengenai cara mengelola industri kreatif dan memaksimalkan potensi ekonomi budaya lokal. Pertukaran tersebut dapat membantu kedua negara memahami pengalaman, tantangan, dan peluang masing-masing, termasuk dalam mengembangkan produk tekstil seperti batik. Tujuannya bukan sekadar memperkenalkan karya budaya, tetapi juga mendorong agar nilai ekonominya mendukung kesejahteraan masyarakat. Irene berharap ekonomi berbasis kebudayaan mampu menjaga warisan sejarah dan ingatan kolektif, sekaligus menciptakan kesempatan yang lebih inklusif di daerah. Dengan kolaborasi dan pengelolaan yang tepat, kekayaan budaya dapat terus hidup lintas generasi serta memberi manfaat ekonomi yang lebih merata bagi komunitas lokal.
Selain ketertarikan Mozambik untuk mempelajari batik, kedua negara menjajaki peluang kerja sama yang lebih luas di bidang seni dan warisan budaya. Rencana tersebut mencakup pertukaran pengetahuan mengenai pengelolaan warisan budaya, termasuk pendekatan untuk merawat, mendokumentasikan, dan memperkenalkan tradisi kepada masyarakat. Pameran seni bersama juga menjadi salah satu gagasan yang dapat membuka ruang bagi seniman Indonesia dan Mozambik untuk menampilkan karya serta memperkenalkan kekayaan budaya masing-masing. Melalui kegiatan itu, masyarakat kedua negara diharapkan dapat mengenal tradisi satu sama lain secara lebih dekat, sekaligus membangun pemahaman yang menjadi landasan bagi kolaborasi kreatif berikutnya.
Penjajakan lainnya adalah penyusunan kerangka kerja sama teknis untuk mendukung pengembangan kapasitas pelaku seni, pengrajin, dan pengelola museum di daerah. Kerangka ini dapat menjadi acuan bagi pertukaran praktik, pembelajaran bersama, serta kegiatan peningkatan keterampilan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pihak. Matilde menyambut baik peluang kolaborasi tersebut dan menyampaikan komitmen pemerintah Mozambik untuk melangkah ke tahap yang lebih konkret dalam menggali potensi ekosistem ekonomi kreatif kedua negara.






