Jakarta | Penyesalan itu disampaikan Radja Nainggolan ketika mengenang keputusan terkait tim nasional dalam sebuah wawancara dengan media Belanda. Pada usia 38 tahun, mantan gelandang AS Roma tersebut melihat masa lalu dengan sudut pandang yang berbeda. Ia mengakui bahwa dirinya sebenarnya memiliki kesempatan untuk membela Indonesia, tetapi peluang tersebut tidak pernah benar-benar diwujudkan ketika ia masih aktif bermain.
Nama Nainggolan lebih dahulu dikenal melalui kiprahnya di sepak bola Eropa. Ia pernah menjadi bagian penting AS Roma dan menjalani karier panjang di sejumlah klub Italia. Di level internasional, pemain berdarah Indonesia itu memilih memperkuat tim nasional Belgia. Pilihan tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya, sekaligus sesuatu yang kini ia tinjau kembali dengan perasaan menyesal.
Dalam wawancara tersebut, Nainggolan menyiratkan bahwa kemungkinan untuk mengenakan seragam Indonesia bukan sekadar angan-angan. Latar belakang keluarganya membuka ruang bagi pilihan itu, dan ia menyadari bahwa kesempatan tersebut pernah tersedia pada masa kariernya berada di puncak. Namun, keputusan yang diambil ketika itu membuat kesempatan membela Indonesia berlalu tanpa pernah diwujudkan di lapangan.
Pandangannya berubah seiring waktu dan pengalaman yang telah ia jalani. Pada usia 38 tahun, ia dapat menilai pilihannya secara lebih tenang, termasuk memahami nilai emosional dari membela negara yang memiliki keterkaitan dengan keluarganya. Pengakuan tersebut tidak mengubah catatan kariernya bersama Belgia, tetapi menunjukkan adanya ruang penyesalan atas sebuah kemungkinan yang tidak pernah dicoba. Bagi Nainggolan, kesempatan itu kini hanya dapat dikenang sebagai bagian dari keputusan masa lalu yang tidak terulang.
Perubahan pandangan Radja Nainggolan terhadap sepak bola Indonesia muncul setelah ia merasakan langsung atmosfer kompetisi nasional bersama Bhayangkara FC. Ketika datang ke Indonesia pada 2013, ia masih berada dalam masa kejayaan karier dan belum melihat alasan untuk mempertimbangkan kesempatan membela tim nasional Indonesia. Pada periode tersebut, perhatian Radja sepenuhnya tertuju pada perkembangan kariernya di Eropa. Ia juga mengakui bahwa kondisi sepak bola Indonesia saat itu belum cukup membuatnya terkesan, baik dari sisi kompetisi maupun prospek olahraga secara keseluruhan.
Pengalaman bersama Bhayangkara FC kemudian mengubah penilaian tersebut. Memasuki fase akhir karier, Radja dapat melihat sepak bola Indonesia dari sudut pandang yang lebih dekat dan personal. Ia memahami bahwa kompetisi di Indonesia memiliki daya tarik tersendiri, termasuk dukungan suporter, semangat para pemain, serta besarnya perhatian masyarakat terhadap sepak bola. Pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa keputusan masa lalu tidak semata-mata dapat dinilai dari kualitas kompetisi, tetapi juga dari peluang untuk menjadi bagian dari perkembangan sepak bola nasional.
Refleksi tersebut berkaitan erat dengan perjalanan internasionalnya bersama Belgia. Radja sempat menjadi bagian penting dari generasi berbakat Belgia, tetapi kariernya di tim nasional berakhir ketika Roberto Martinez menjadi pelatih. Setelah itu, ia tidak lagi memperoleh tempat yang sama dalam rencana tim. Radja memandang situasi tersebut sebagai salah satu titik yang menyisakan penyesalan, sebab kesempatan membela negaranya berhenti lebih cepat daripada yang diharapkan.
Dalam penilaiannya, apabila sejak awal memilih Indonesia, ia mungkin dapat menjalani karier internasional selama sekitar 15 tahun. Pilihan itu barangkali akan memberinya peran yang lebih panjang dan konsisten di tingkat nasional. Namun, pemikiran tersebut hadir sebagai refleksi setelah perjalanan kariernya berlangsung, bukan sebagai upaya menghapus sejarah bersama Belgia. Pengalaman di Bhayangkara FC hanya membuka kembali kemungkinan yang dahulu tidak pernah ia pertimbangkan secara serius.
Radja Nainggolan menyoroti besarnya fanatisme terhadap sepak bola di Indonesia. Dalam pandangannya, antusiasme suporter di Tanah Air terlihat dari kemampuan pertandingan tim nasional untuk menarik perhatian dan menghadirkan penonton dalam jumlah besar. Ia menggambarkan bahwa laga melawan Vietnam atau Irak dapat mendatangkan sekitar 70 ribu penonton di stadion, meskipun kedua negara tersebut, menurut penilaiannya, bukan termasuk tim besar dalam konteks sepak bola internasional.
Contoh tersebut digunakan Radja untuk menggambarkan tingkat perhatian masyarakat Indonesia terhadap pertandingan sepak bola. Baginya, jumlah penonton yang dapat hadir dalam laga seperti itu menunjukkan bahwa pertandingan tim nasional memiliki daya tarik yang kuat. Ia mengaitkan fenomena tersebut dengan fanatisme suporter, yang tetap tinggi ketika Indonesia menghadapi lawan yang tidak disebutnya sebagai kekuatan besar.
Selain membahas dukungan penonton, Radja juga menyampaikan pandangannya mengenai kondisi finansial sepak bola Indonesia. Ia mengatakan bahwa uang bertebaran di sepak bola Indonesia. Pernyataan itu ia hubungkan dengan keberadaan pemain yang memperoleh dukungan sponsor dari merek-merek ternama, termasuk Louis Vuitton, Hublot, dan Rolex. Penyebutan tersebut menjadi bagian dari pengamatannya terhadap perhatian komersial yang mengelilingi sepak bola di Indonesia.
Radja kemudian membandingkan situasi tersebut dengan kondisi sejumlah pemain internasional. Ia mencontohkan Ivar Jenner, yang menurutnya hanya bermain untuk Jong Utrecht di Belanda. Perbandingan itu disampaikan dalam konteks pembahasan mengenai besarnya perhatian dan peluang finansial di sepak bola Indonesia dibandingkan dengan posisi seorang pemain yang beraktivitas di level klub tersebut. Seluruh pandangan itu menjadi kesan Radja terhadap fanatisme suporter serta besarnya perhatian finansial yang ia lihat di sepak bola Indonesia.
Kesan Radja Nainggolan terhadap Indonesia tidak semata-mata dibentuk oleh pengalaman di lapangan sepak bola. Selama berada di Indonesia, ia juga memperhatikan kehidupan sosial yang berlangsung di sekitarnya. Menurut penuturannya, ada suasana yang terasa berbeda dibandingkan dengan apa yang biasa ia lihat di Eropa. Di Indonesia, batas kelompok kaya dan masyarakat berpenghasilan rendah tampak tidak selalu kaku. Keduanya dapat berada di ruang yang sama, berinteraksi secara wajar, dan menikmati suasana tanpa sekat sosial yang terlalu mencolok.
Radja menggambarkan pemandangan yang menarik perhatiannya di sekitar gedung-gedung apartemen tinggi. Ia melihat orang-orang berpakaian rapi, bahkan mengenakan kemeja dan dasi, duduk atau berbincang di suatu tempat. Tidak jauh dari mereka, terdapat masyarakat yang mendorong gerobak dan menjual makanan. Pemandangan tersebut menurutnya memperlihatkan pertemuan berbagai lapisan kehidupan dalam satu ruang. Hal semacam itu membuat Indonesia terasa lebih terbuka dan manusiawi baginya, terutama karena interaksi tersebut berlangsung secara alami, tanpa jarak yang berlebihan.
Pengalaman itu juga membuat Radja merasa nyaman ketika berada di Indonesia. Ia tidak merasa harus selalu berada di tempat mewah atau mengikuti gaya hidup tertentu. Sebaliknya, ia terbiasa makan di warung dan menikmati suasana sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Kenyamanan tersebut memperkuat kedekatan emosionalnya dengan Indonesia, bukan hanya sebagai tempat yang memiliki hubungan dengan keluarganya, tetapi juga sebagai lingkungan yang menawarkan pengalaman sosial yang berkesan.
Karena itu, ketika mengenang pilihan karier internasionalnya, Radja mengaku memiliki penyesalan. Jika waktu dapat diputar kembali, ia tidak akan ragu untuk memilih membela Indonesia. Namun, kesempatan tersebut kini telah tertutup. Usianya dan perjalanan kariernya membuat peluang untuk memperkuat tim nasional Indonesia tidak lagi tersedia, sehingga keinginannya hanya dapat disampaikan sebagai penyesalan atas keputusan yang tidak mungkin diulang.
Baca juga: Cegah Karhutla Sejak Dini, TNI Intensifkan Patroli Udara di Taman Nasional Way Kambas | Harmoni dari Desa Leran Kalitidu Bojonegoro: Dusun Sido Kumpul Menuju Panggung Nasional KASAD Award 2026 | KUHP NASIONAL DIUJI: Apakah Aparat Siap Meninggalkan Mentalitas Hukum Lama? Dedy Luqman Hakim Buka Persoalan yang Selama Ini Jarang Dibahas

