Jakarta | Dalam perjalanan hidup bersama, pasangan mungkin menyadari perubahan pada suami yang sebelumnya bersemangat, mudah diajak berbicara, dan jarang mengeluh. Ia bisa menjadi lebih sensitif terhadap hal-hal kecil, lekas tersinggung, atau tampak kurang sabar dibandingkan biasanya. Sebagian pria juga merasa cepat lelah, kehilangan minat pada kegiatan yang dahulu disukai, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk memulihkan tenaga. Perubahan seperti ini dapat terjadi perlahan, sehingga awalnya mudah dianggap sebagai tekanan sementara atau perubahan kepribadian.
Gangguan tidur juga dapat menyertai perubahan tersebut. Seorang pria mungkin sulit mulai tidur, sering terbangun pada malam hari, atau tetap merasa letih meskipun sudah beristirahat. Ketika energi dan kualitas tidur menurun, kemampuan menghadapi pekerjaan, tanggung jawab keluarga, dan percakapan sehari-hari pun dapat terpengaruh. Pasangan bisa merasa bingung atau khawatir, terutama apabila perubahan suasana hati muncul bersamaan dengan keluhan fisik. Namun, perubahan ini tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa hubungan rumah tangga sedang bermasalah. Kondisi kesehatan, beban kerja, stres, pola hidup, dan berbagai faktor lain juga dapat berperan.
Istilah miserable husband syndrome kadang digunakan untuk menggambarkan kombinasi perubahan suasana hati dan kondisi fisik pada pria, seperti mudah marah, lelah, atau mengalami gangguan tidur. Istilah ini bukan diagnosis medis resmi dan tidak menjelaskan semua pengalaman setiap pria. Pada sebagian orang, perubahan dapat berkaitan dengan proses penuaan dan perubahan hormon, termasuk penurunan kadar testosteron seiring bertambahnya usia. Meski begitu, usia bukan satu-satunya penyebab, dan gejala serupa dapat muncul karena kondisi medis atau psikologis yang berbeda. Karena itu, penting untuk memahami istilah tersebut sebagai gambaran umum, bukan kesimpulan tentang penyebab atau karakter seseorang. Mengamati kapan perubahan dimulai, seberapa lama berlangsung, dan dampaknya terhadap keseharian dapat membantu pasangan membicarakannya dengan lebih tenang. Jika keluhan menetap, memburuk, atau mengganggu fungsi sehari-hari, pemeriksaan tenaga kesehatan dapat membantu menilai penyebab yang mungkin dan menentukan langkah yang sesuai.
Kadar testosteron pada pria dapat berubah seiring bertambahnya usia. Penurunannya umumnya berlangsung bertahap, bukan terjadi secara mendadak, dan perubahan kadar hormon dapat mulai terlihat sejak usia 30-an. Namun, variasi antarindividu cukup besar: sebagian pria mengalami penurunan lebih cepat, sementara yang lain tetap memiliki kadar yang relatif stabil. Karena itu, usia saja tidak cukup untuk menjelaskan perubahan suasana hati, energi, atau perilaku.
Penurunan testosteron juga tidak otomatis berarti seseorang mengalami “menopause pria” atau andropause. Istilah tersebut kerap digunakan untuk menggambarkan perubahan hormon dan keluhan pada pria yang menua, tetapi prosesnya tidak sama dengan menopause pada perempuan. Tidak semua pria mengalami gejala yang bermakna, dan keluhan seperti kelelahan, gairah seksual yang menurun, atau perubahan emosi dapat memiliki banyak penyebab. Penilaian tenaga kesehatan diperlukan sebelum mengaitkannya dengan kadar hormon.
Faktor lain dapat memengaruhi kesejahteraan fisik dan emosional. Stres berkepanjangan, kurang tidur, tekanan pekerjaan, konflik hubungan, kecemasan, dan depresi dapat mengurangi energi serta mengubah suasana hati. Kondisi medis, termasuk gangguan tiroid, diabetes, penyakit kronis, atau efek samping obat tertentu, juga dapat menimbulkan keluhan serupa. Kebiasaan sehari-hari, seperti konsumsi alkohol berlebihan dan kurangnya aktivitas fisik, bisa turut berperan. Dengan demikian, perubahan sikap tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai akibat hormon atau sebagai bukti suatu sindrom tertentu.
Perubahan yang berkembang perlahan kadang sulit dikenali ketika terjadi. Pasangan mungkin baru menyadari bahwa pria menjadi lebih mudah tersinggung, menarik diri, kehilangan minat, atau tampak lelah setelah pola tersebut berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Perubahan kecil dapat dianggap sebagai dampak kesibukan atau fase sementara, hingga akhirnya terasa memengaruhi hubungan dan kegiatan sehari-hari. Mencatat kapan keluhan mulai muncul, seberapa sering terjadi, serta perubahan tidur, kesehatan, dan tekanan hidup dapat membantu memperjelas konteksnya. Percakapan yang tenang dan pemeriksaan profesional dapat membantu mencari penyebab yang tepat, tanpa terburu-buru memberi label andropause atau menyimpulkan bahwa satu faktor menjelaskan seluruh perubahan.
Salah satu perubahan yang dapat terlihat pada pria yang mengalami Miserable Husband Syndrome adalah suasana hati yang lebih mudah berubah. Ia mungkin menjadi lebih cepat tersinggung, mudah kesal, atau bereaksi dengan intensitas yang terasa berlebihan terhadap persoalan kecil. Percakapan sehari-hari, gangguan ringan, maupun perubahan rencana yang biasanya dapat diterima bisa memicu ketegangan. Bagi orang di sekitarnya, perubahan ini dapat tampak mendadak, tetapi bagi yang mengalaminya, tekanan atau rasa tidak nyaman mungkin telah menumpuk. Penurunan toleransi terhadap frustrasi juga dapat membuat pengendalian emosi terasa lebih sulit.
Perubahan suasana hati tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengalami sindrom tertentu, dan tidak selalu disebabkan oleh hormon. Perubahan hormonal mungkin berperan dalam sebagian kasus, tetapi stres, kurang tidur, beban pekerjaan, konflik hubungan, penggunaan alkohol, obat-obatan, serta kondisi kesehatan lain juga dapat memengaruhi emosi. Karena itu, penting untuk memperhatikan kapan perubahan mulai terjadi, seberapa sering muncul, dan apakah berdampak pada hubungan atau aktivitas harian. Mengamati pola tanpa menghakimi dapat membantu membuka percakapan yang lebih tenang. Jika mudah marah berlangsung lama atau terasa sulit dikendalikan, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menilai penyebab dan pilihan dukungan.
Tanda lain yang mungkin muncul ialah berkurangnya energi dan antusiasme. Pria yang sebelumnya menikmati olahraga, berkumpul dengan teman, atau menjalani hobi dapat kehilangan minat, menunda kegiatan, dan lebih memilih menarik diri. Kelelahan yang menetap dapat berkaitan dengan perubahan hormon, kualitas tidur, penyakit fisik, atau masalah kesehatan mental, termasuk depresi. Depresi tidak selalu terlihat sebagai kesedihan yang jelas; pada sebagian orang, tanda yang lebih menonjol justru kelelahan berkepanjangan, motivasi yang menurun, serta berkurangnya keterlibatan dalam kehidupan sosial. Perubahan ini patut diperhatikan terutama bila berlangsung beberapa minggu, mengganggu pekerjaan atau hubungan, atau disertai gangguan tidur dan perubahan nafsu makan. Dukungan dari orang tepercaya dapat membantu, tetapi penilaian profesional penting untuk memahami kondisi yang mendasari. Menghindari anggapan bahwa semua perubahan tersebut sekadar kemalasan atau watak buruk dapat mengurangi stigma dan mendorong pencarian bantuan yang sesuai.
Jika perubahan sikap atau energi pasangan berlangsung terus-menerus, percakapan terbuka dapat membantu keduanya memahami apa yang sedang terjadi. Sebaiknya pilih waktu ketika suasana tenang, bukan saat salah satu sedang lelah, kesal, atau terburu-buru. Awali pembicaraan dengan menyampaikan hal yang diamati secara spesifik dan menggunakan kalimat yang berpusat pada pengalaman pribadi, seperti “Saya merasa khawatir ketika perubahan ini terus terjadi.” Cara tersebut cenderung lebih mengundang dialog daripada tuduhan atau kesimpulan tentang penyebabnya. Berikan ruang bagi pasangan untuk menjelaskan sudut pandangnya, dan dengarkan tanpa langsung menyela atau berusaha menyelesaikan semuanya dalam satu percakapan.
Tujuan pembicaraan bukan menetapkan diagnosis maupun memenangkan perdebatan, melainkan mencari pemahaman dan langkah yang disepakati bersama. Jika percakapan mulai memanas, berhenti sejenak dan sepakati waktu lain untuk melanjutkannya. Pasangan dapat membicarakan dampak perubahan yang dirasakan dalam hubungan, kebutuhan masing-masing, serta bentuk dukungan yang realistis. Menanyakan apakah pasangan bersedia mencari informasi atau bantuan profesional juga dapat menjadi pilihan, terutama bila perubahan tersebut mengganggu keseharian. Namun, keputusan tentang langkah berikutnya sebaiknya dibahas dengan hormat, tanpa tekanan atau anggapan bahwa satu pihak harus menanggung seluruh tanggung jawab untuk memperbaiki keadaan.
Perubahan hormon mungkin menjadi salah satu hal yang dipertimbangkan.
Baca juga: Memahami Papua: Koops TNI Habema Menyalakan Kembali Asa di Lembah Ugimba






