Perubahan Warna Pasifik Menyingkap Dampak El Niño pada Kehidupan Laut

Perubahan Warna Pasifik Menyingkap Dampak El Niño pada Kehidupan Laut

Jakarta | Citra satelit NASA memperlihatkan perubahan rona di kawasan Samudra Pasifik khatulistiwa, dari hijau yang tampak jelas menjadi biru pada pengamatan terbaru. Perbandingan tersebut menarik perhatian karena warna samudra dapat memberi petunjuk tentang kondisi perairan, termasuk jumlah organisme mikroskopis seperti fitoplankton yang hidup di lapisan permukaan. Namun, warna dalam citra tidak selalu mencerminkan perubahan yang terlihat langsung oleh mata di laut; hasilnya dipengaruhi pula oleh cara data satelit diolah dan disajikan.

Pada data tahun 2025, rona hijau khas masih terlihat memanjang di sekitar wilayah khatulistiwa. Warna hijau pada visualisasi warna laut umumnya berkaitan dengan tingginya kandungan klorofil, pigmen yang digunakan fitoplankton untuk fotosintesis. Fitoplankton merupakan dasar penting bagi banyak rantai makanan laut, sehingga perubahan konsentrasinya dapat menjadi petunjuk bagi peneliti untuk memantau produktivitas perairan. Pengamatan warna ini bukan gambaran langsung seluruh kehidupan laut, tetapi merupakan salah satu indikator yang dapat dianalisis bersama data lainnya.

Dalam citra terbaru yang mencakup pengamatan hingga bulan ini, bentang perairan di sekitar khatulistiwa tampak lebih biru dibandingkan pada 2025. Pergeseran rona tersebut menandakan bahwa sinyal optik yang ditangkap satelit di kawasan itu berubah. Perubahan seperti ini dapat berkaitan dengan variasi klorofil dan kondisi lingkungan laut, tetapi citra warna saja tidak cukup untuk memastikan penyebabnya. Para ilmuwan perlu membandingkan pengamatan satelit dengan pengukuran langsung, catatan suhu permukaan, serta indikator oseanografi lain sebelum menarik kesimpulan tentang dampak biologisnya.

Perbandingan ini perlu dipahami secara tepat: yang berubah adalah warna perairan Pasifik khatulistiwa dalam pengamatan satelit, bukan warna laut di Indonesia. Indonesia berada di kawasan Pasifik yang luas, tetapi citra yang dibahas menyoroti wilayah samudra sekitar garis khatulistiwa dan tidak menunjukkan perubahan seragam di seluruh perairan Indonesia. Karena itu, visualisasi tersebut sebaiknya dibaca sebagai petunjuk mengenai kondisi kawasan tertentu, bukan sebagai bukti bahwa perairan Indonesia secara keseluruhan telah berubah warna. Pengamatan berkelanjutan dapat membantu menjelaskan bagaimana variasi iklim, termasuk El Niño, berkaitan dengan kondisi ekosistem laut di Pasifik.

Perubahan warna air di Samudra Pasifik tropis berkaitan erat dengan pergeseran kondisi laut selama El Niño. Dalam keadaan normal, angin pasat bertiup dari timur ke barat dan mendorong lapisan air hangat menuju kawasan Australia dan Indonesia. Di Pasifik bagian timur, gerakan ini membantu air dingin dari kedalaman naik ke permukaan. Proses tersebut, yang disebut upwelling atau pengangkatan air laut, membawa nutrisi penting dari lapisan bawah menuju zona yang mendapat cahaya matahari.

Saat El Niño berkembang, angin pasat melemah, dan dalam beberapa keadaan dapat berubah arah. Air hangat pun bergerak kembali ke timur, sementara perbedaan suhu dan tekanan sisi barat dan timur Pasifik berkurang. Kondisi ini menekan upwelling, sehingga lebih sedikit air dingin yang kaya nutrisi mencapai permukaan. Dampaknya tidak hanya terasa pada suhu laut; ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan organisme kecil untuk tumbuh juga menurun. Perubahan tersebut dapat berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, bergantung pada kekuatan dan lamanya peristiwa El Niño.

Nutrisi seperti nitrat dan fosfat menjadi sumber penting bagi fitoplankton, yaitu organisme mikroskopis yang berfotosintesis di lapisan atas laut. Fitoplankton dan alga mengandung pigmen yang dapat memberi rona kehijauan pada air, terutama ketika jumlahnya cukup besar. Jika pasokan nutrisi berkurang, pertumbuhan dan kepadatan organisme ini dapat menurun. Dengan lebih sedikit pigmen hijau yang menyerap dan memantulkan cahaya, warna biru air menjadi lebih dominan. Karena itu, perubahan rona laut dapat menjadi petunjuk mengenai perubahan produktivitas biologis, meskipun warna saja tidak cukup untuk memastikan penyebabnya.

Peralihan dari rona kehijauan ke biru bukan perubahan yang seragam di seluruh Pasifik. Besarnya dampak bergantung pada lokasi, kedalaman lapisan pencampuran, kondisi cuaca, serta respons komunitas plankton setempat. Pengamatan satelit dapat memetakan perubahan warna dengan mengukur cahaya yang dipantulkan permukaan laut, sementara pengukuran langsung membantu menguji tafsir tersebut. Data ini memberi gambaran tentang bagaimana melemahnya pasokan nutrisi selama El Niño dapat mengubah dasar rantai makanan laut, sekaligus membantu peneliti memantau produktivitas perairan dari waktu ke waktu.

Perubahan warna samudra bukan sekadar pergeseran pemandangan; warna dapat menjadi petunjuk tentang organisme dan kondisi yang menopang kehidupan laut. Saat El Niño menghangatkan permukaan Pasifik, pola angin dan arus berubah, sehingga pasokan nutrien ke lapisan atas laut dapat berkurang. Fitoplankton, alga mikroskopis yang memanfaatkan nutrien dan cahaya untuk tumbuh, kemudian bisa menurun di sejumlah wilayah. Karena organisme ini menjadi dasar banyak rantai makanan, dampaknya berpotensi merambat ke zooplankton, ikan, burung laut, hingga mamalia laut.

Ketika makanan menjadi lebih sulit ditemukan, hewan laut dapat mengubah rute mencari makan atau berpindah ke kawasan lain. Sebagian mungkin mencari lokasi pembiakan baru yang memiliki ketersediaan fitoplankton dan mangsa lebih memadai. Perubahan semacam itu tidak selalu berlangsung seragam: spesies berbeda memiliki kebutuhan dan kemampuan bergerak yang berlainan, sementara kondisi setempat turut menentukan responsnya. Pengamatan jangka panjang membantu peneliti membedakan variasi musiman dari perubahan yang terkait dengan El Niño, serta menilai kemungkinan dampak lanjutan bagi ekosistem dan perikanan.

Satelit PACE milik NASA, yang diluncurkan pada 2024, memperluas kemampuan pemantauan tersebut. Instrumen Ocean Color Instrument (OCI) mengamati warna laut secara hiperspektral, dengan mengukur cahaya pada banyak panjang gelombang di spektrum tampak, ultraviolet, dan inframerah dekat. Rentang pengukuran ini membantu ilmuwan mengenali perbedaan sifat partikel dan organisme di air, termasuk sinyal yang berkaitan dengan fitoplankton, yang sulit dibedakan hanya dari pengamatan warna biru secara umum. Data satelit dapat menunjukkan pola luas dan perubahan dari waktu ke waktu, meskipun pengukuran lapangan tetap penting untuk memeriksa serta menafsirkan hasilnya.

Ilmuwan NASA Matthew Kehrli menekankan bahwa warna samudra sangat beragam, bukan hanya biru, dan setiap variasi dapat menyimpan informasi tentang keadaan laut. Melihat hasil pengamatan secara visual bernilai karena pola warna membuat perubahan spasial lebih mudah dikenali dan dipahami. Namun, warna pada citra bukan diagnosis langsung: analisis ilmiah diperlukan untuk mengaitkannya dengan organisme, nutrien, atau proses tertentu. Dengan menggabungkan citra PACE, pengukuran di laut, dan pemantauan biologis, peneliti dapat menilai lebih baik bagaimana perubahan produktivitas memengaruhi pergerakan serta keberhasilan hidup hewan laut.

Perubahan warna dan suhu di Samudra Pasifik berkaitan dengan siklus iklim alami El Niño–La Niña, yang dikenal sebagai El Niño Southern Oscillation atau ENSO. Siklus ini melibatkan perubahan berkala pada suhu permukaan laut dan kondisi atmosfer di kawasan Pasifik khatulistiwa. Fase-fasenya bergantian, dengan peralihan yang umumnya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun. El Niño merupakan fase hangat, sedangkan La Niña ditandai oleh kondisi yang relatif lebih dingin di sebagian wilayah tersebut. Perubahan ini tidak hanya terjadi di lautan, tetapi juga dapat mengubah pola cuaca di berbagai belahan dunia.

Pada fase El Niño, air hangat berkumpul di Pasifik khatulistiwa, terutama di kawasan lepas pantai Amerika Selatan, dan dapat meluas ke arah tengah samudra. Akumulasi panas tersebut menaikkan suhu permukaan laut rata-rata di wilayah yang terdampak serta memengaruhi sirkulasi atmosfer. Dampaknya dapat berupa pergeseran pola hujan, suhu, dan kondisi cuaca di sejumlah kawasan.

Baca juga: Wakili Panglima TNI, Kaster TNI Tegaskan Komitmen Indonesia Bagi Perdamaian Indo-Pasifik