Jakarta | Survei nasional Parameter Politik Indonesia (PPI) bertajuk “Evaluasi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran” memotret peta pilihan publik terhadap calon presiden melalui tiga simulasi. Hasilnya dirilis pada Minggu, 12 Oktober 2026, sebagai gambaran mengenai persaingan elektoral apabila pemilihan presiden digelar saat ini. Dalam konteks tersebut, responden diminta menentukan pilihan berdasarkan susunan calon yang disajikan pada masing-masing simulasi. Pendekatan ini memungkinkan pembacaan atas posisi para tokoh dalam beberapa skenario, bukan hanya satu susunan kandidat. Temuan survei menunjukkan Prabowo Subianto tetap berada di posisi teratas dalam simulasi yang dipaparkan, sementara hasil setiap skenario memberikan konteks berbeda untuk memahami pilihan responden.
PPI melaksanakan survei dengan cakupan 1.200 responden yang tersebar di 38 provinsi. Jumlah dan sebaran tersebut menjadi landasan untuk membaca preferensi politik masyarakat secara nasional, dengan tetap memperhatikan batas ketelitian penelitian. Survei ini mencantumkan margin of error sebesar 2,83 persen. Angka tersebut penting dipahami sebagai ukuran kemungkinan perbedaan hasil survei dan kondisi populasi, sehingga hasilnya tidak semestinya dianggap sebagai kepastian mengenai hasil pemilihan mendatang. Selain itu, simulasi pilihan saat ini menggambarkan respons pada periode pengumpulan data, bukan ramalan yang tidak berubah. Dinamika politik, perkembangan isu, dan perubahan dukungan dapat memengaruhi pilihan pemilih pada waktu berikutnya.
Dengan menguji tiga susunan calon, survei PPI menyajikan lebih dari satu potret persaingan. Pembaca dapat melihat bagaimana posisi Prabowo tetap menonjol ketika pilihan responden diukur melalui skenario yang berbeda. Namun, hasil tersebut perlu dibaca bersama rincian angka pada masing-masing simulasi serta informasi metodologis yang menyertainya. Perbedaan susunan nama kandidat dapat memengaruhi cara responden menimbang pilihan, sehingga perbandingan antarskenario membantu memberikan konteks, bukan menyamakan seluruh hasil. Cakupan nasional, jumlah responden, dan margin of error menjadi unsur penting dalam menafsirkan temuan secara proporsional. Pada saat yang sama, survei ini memberi gambaran tentang peta elektabilitas pada saat penelitian dilakukan dan bagaimana posisi para tokoh tercermin dalam pengukuran tersebut.
Dalam simulasi dengan daftar calon yang lebih luas, Prabowo Subianto memperoleh elektabilitas 31,6 persen. Angka tersebut menempatkannya di posisi teratas, dengan jarak yang cukup besar dibandingkan kandidat berikutnya. Di urutan kedua, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meraih 11,4 persen, sementara Anies Baswedan berada tepat di bawahnya dengan 10,1 persen. Hasil ini menggambarkan peta pilihan responden ketika sejumlah nama potensial disertakan dalam satu skenario.
Posisi Dedi Mulyadi menjadi salah satu catatan penting dalam simulasi tersebut. Elektabilitasnya tercatat 1,3 poin persentase lebih tinggi daripada Anies, sehingga Dedi berada di atas mantan Gubernur DKI Jakarta itu dalam daftar pilihan. Selisih ini relatif tipis, tetapi menunjukkan bahwa dalam skenario dengan kandidat yang lebih beragam, dukungan terhadap Dedi muncul cukup kuat. Hasil survei ini tidak dengan sendirinya memastikan posisi yang sama akan bertahan jika kondisi politik atau daftar calon berubah.
Sejumlah nama lain juga tercatat memperoleh dukungan responden. Gibran Rakabuming Raka meraih 6,9 persen, disusul Ganjar Pranowo dengan 4,4 persen. Sementara itu, Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY memperoleh 2,3 persen. Angka-angka tersebut memperlihatkan sebaran pilihan di luar tiga nama teratas, sekaligus memberi gambaran mengenai tingkat dukungan yang tercatat bagi para kandidat dalam simulasi ini. Perbedaan persentase mencerminkan jawaban responden pada saat survei dilakukan, bukan hasil pemungutan suara resmi.
Direktur Eksekutif PPI Adi Prayitno menjelaskan bahwa pertanyaan yang diajukan kepada responden berfokus pada pilihan mereka seandainya pemilihan presiden digelar saat itu. Dengan demikian, hasilnya perlu dibaca sebagai potret preferensi pada waktu pengumpulan data, berdasarkan pertanyaan dan susunan nama yang digunakan. Simulasi ini menunjukkan Prabowo memimpin, sedangkan persaingan di posisi kedua dan ketiga melibatkan Dedi Mulyadi dan Anies Baswedan. Pengukuran berikutnya dapat menghasilkan gambaran berbeda seiring perkembangan isu, kampanye, serta pilihan kandidat yang tersedia.
Dalam simulasi yang dikerucutkan menjadi 17 nama ketua umum partai politik, susunan elektabilitas menunjukkan perubahan dibandingkan pemetaan dengan cakupan kandidat yang lebih luas. Pada pengukuran ini, Prabowo memperoleh 34 persen dan berada di posisi teratas. Anies kembali menempati urutan kedua dengan elektabilitas 19,4 persen. Angka tersebut menggambarkan posisi masing-masing responden dalam simulasi khusus yang memuat 17 nama, bukan keseluruhan kemungkinan kandidat di luar daftar tersebut.
Jarak dua nama teratas masih terlihat cukup lebar dalam angka yang tercatat: selisih elektabilitas Prabowo dan Anies mencapai 14,6 poin persentase. Setelah keduanya, persaingan di kelompok berikutnya berlangsung lebih rapat. AHY meraih 11,1 persen, sedangkan Gibran mencatat 10,9 persen. Selisih di keduanya hanya 0,2 poin persentase, sehingga angka survei menempatkan mereka pada posisi yang berdekatan dalam daftar 17 nama.
Perincian ini menegaskan bahwa perubahan cakupan simulasi berkaitan dengan komposisi nama yang dibandingkan. Hasil pada daftar 17 ketua umum partai politik perlu dibaca sebagai gambaran elektabilitas dalam skenario tersebut. Angka 34 persen untuk Prabowo, 19,4 persen untuk Anies, 11,1 persen untuk AHY, dan 10,9 persen untuk Gibran menjadi titik utama yang dapat diperhatikan dari hasil yang tersedia. Perbedaan AHY dan Gibran terutama tampak pada desimal, dengan AHY unggul tipis berdasarkan angka yang dilaporkan.
Dengan demikian, susunan dalam simulasi ini memperlihatkan Prabowo di urutan pertama dan Anies di urutan kedua, disusul AHY dan Gibran dengan jarak yang sangat tipis. Membaca setiap persentase sesuai cakupan simulasi membantu menjaga perbandingan tetap berada dalam batas data yang disajikan. Hasil tersebut mencatat posisi para nama dalam satu skenario survei, tanpa menetapkan hasil akhir kontestasi ataupun menjelaskan penyebab di balik angka masing-masing. Perbandingan ini juga tidak dengan sendirinya menggambarkan posisi nama-nama tersebut pada simulasi lain, karena daftar kandidat yang digunakan berbeda.
Dalam simulasi yang hanya memuat lima nama yang diperkirakan maju pada Pilpres 2029, Prabowo Subianto menempati posisi teratas dengan elektabilitas 40,5 persen. Angka tersebut menempatkannya di atas empat tokoh lain yang masuk dalam skenario pengukuran ini. Hasil tersebut menggambarkan pilihan responden ketika mereka diminta menilai lima nama yang dicantumkan, bukan gambaran dari simulasi dengan daftar calon yang lebih luas.
Anies Baswedan berada di urutan kedua dengan perolehan 17,7 persen. Selisih Prabowo dan Anies tercatat 22,8 poin persentase. Di bawah Anies, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memperoleh 14 persen, sementara Gibran Rakabuming Raka mencatat 12,2 persen. Dengan angka tersebut, jarak elektabilitas AHY dan Gibran adalah 1,8 poin persentase. Keduanya berada di bawah Anies dalam susunan hasil simulasi lima nama tersebut.
Pramono Anung memperoleh 3,9 persen dan menempati posisi kelima di nama-nama yang diuji. Perbedaan angka antartokoh memperlihatkan urutan dukungan dalam simulasi, dengan Prabowo memimpin dan Pramono berada di posisi terbawah. Namun, angka ini perlu dibaca sesuai batas skenario yang digunakan: pengukuran hanya menyajikan lima nama yang diperkirakan maju pada pemilihan presiden 2029. Karena itu, hasil tersebut tidak dapat langsung diperlakukan sebagai pemetaan seluruh kemungkinan calon ataupun sebagai kepastian hasil pemilihan mendatang.
Simulasi elektabilitas ini merupakan bagian dari survei tatap muka yang berlangsung pada 26 September hingga 6 Oktober 2026.





