Jakarta | Film Laut Bercerita mencatat penjualan 21.654 tiket selama tiga hari presale menjelang jadwal tayang di bioskop pada 29 Oktober 2026. Angka tersebut diumumkan melalui akun Instagram resmi film pada Senin, 19 Oktober. Dalam pengumuman itu, pihak film juga menyampaikan bahwa kursi di bioskop berbagai kota mulai terisi. Informasi tersebut menjadi kabar utama menjelang penayangan, sekaligus memberi gambaran awal mengenai perhatian penonton terhadap film ini sebelum resmi hadir di layar lebar.
Jumlah tiket yang terjual itu merujuk pada periode presale selama tiga hari, bukan keseluruhan penjualan setelah film mulai diputar. Karena itu, angka 21.654 perlu dipahami sesuai rentang waktu yang disampaikan dalam pengumuman. Tidak ada angka penjualan lain yang disertakan dalam informasi tersebut. Keterangan mengenai kursi yang mulai terisi menunjukkan pemesanan telah berlangsung di sejumlah kota, tetapi tidak merinci jumlah bioskop, lokasi tertentu, ataupun tingkat keterisian di masing-masing tempat.
Dengan tanggal tayang yang dijadwalkan pada 29 Oktober 2026, presale memberi kesempatan kepada calon penonton untuk memesan tiket lebih awal. Pengumuman pada 19 Oktober menempatkan capaian tiga hari itu dalam hitungan mundur menuju penayangan di bioskop. Bagi penonton yang ingin menyaksikan Laut Bercerita, informasi resmi tersebut dapat menjadi acuan untuk mengetahui bahwa tiket telah tersedia dan sejumlah kursi mulai dipesan. Namun, capaian presale ini belum menjelaskan bagaimana penjualan akan berkembang setelah film tayang, sehingga perkembangan berikutnya masih perlu menunggu informasi resmi.
Ramainya pembelian tiket presale Laut Bercerita turut memunculkan percakapan warganet di media sosial, termasuk Threads. Di tengah kabar jumlah tiket yang terjual mencapai 21.654, sejumlah pengguna menyampaikan kegembiraan karena film yang telah lama mereka nantikan akhirnya segera tayang. Namun, antusiasme itu berjalan beriringan dengan kecemasan bahwa film mungkin tidak bertahan lama di bioskop atau berisiko ditarik dari peredaran. Kekhawatiran tersebut tampak menjadi salah satu alasan sebagian penonton memilih membeli tiket lebih awal, bukan sekadar untuk mengamankan jadwal menonton.
Perbincangan itu berkaitan dengan tema Laut Bercerita, yang mengangkat penculikan dan penghilangan paksa aktivis menjelang Reformasi 1998. Topik tersebut memiliki muatan sejarah dan politik yang sensitif, sehingga beberapa pengguna mengungkapkan kekhawatiran mengenai panjang masa tayangnya. Sejumlah unggahan menyebut mereka telah menunggu adaptasi ini sejak lama dan tidak ingin melewatkan kesempatan menontonnya di layar lebar. Ada pula yang mengaku segera membeli tiket karena takut film keburu diturunkan. Reaksi lain menyoroti sulitnya memilih tempat duduk: saat mencoba memesan, kursi yang tersisa disebut hanya berada di bagian depan. Pengalaman tersebut ikut memperkuat kesan bahwa tiket diburu, meski ketersediaan kursi tentu dapat berbeda menurut lokasi dan jadwal.
Salah satu unggahan bahkan merujuk pada jadwal pemutaran di bioskop XXI Mal Kartini, sebagai contoh informasi lokal yang dibagikan dalam percakapan tersebut. Respons-respons itu memperlihatkan bagaimana antisipasi terhadap film bertemu dengan ketidakpastian yang dirasakan calon penonton. Meski demikian, perlu dibedakan kekhawatiran warganet dan informasi yang telah terkonfirmasi. Penjualan presale yang tinggi menunjukkan besarnya minat pada pemutaran awal, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan adanya ancaman penarikan film. Demikian pula, komentar mengenai kursi terbatas atau kemungkinan masa tayang singkat tidak otomatis memastikan bahwa film akan segera keluar dari bioskop. Kepastian mengenai distribusi dan jadwal tayang tetap perlu merujuk pada pengumuman resmi dari pihak terkait.
Produser Gita Fara menjelaskan bahwa sensitivitas isu yang diangkat dalam Laut Bercerita telah menjadi pertimbangan tim sejak tahap produksi. Menurutnya, cerita film ini berhubungan dengan masa dan pengalaman yang perlu disampaikan secara cermat. Karena itu, tim berupaya memahami konteks materi sekaligus memikirkan cara menghadirkannya kepada penonton. Pertimbangan tersebut tidak mengubah rencana distribusi film: karya ini tetap disiapkan untuk tayang secara teatrikal melalui jaringan bioskop di seluruh Indonesia.
Gita berharap penayangan di bioskop dapat membuka ruang bagi penonton untuk mengenal dan memahami masa tersebut melalui sebuah cerita. Ia menginginkan film ini menjadi jendela untuk melihat pengalaman yang diangkat, bukan sekadar tontonan, tetapi juga sarana pembelajaran. Harapan lainnya adalah agar kisah dalam film dapat memberi inspirasi kepada anak muda. Dengan menjangkau penonton di berbagai daerah, tim berharap percakapan mengenai cerita dan konteksnya dapat berlangsung lebih luas setelah film diputar.
Di sisi lain, produser eksekutif Arif Zulkifli menyampaikan bahwa, sejauh yang ia ketahui, tidak ada gangguan selama persiapan maupun proses produksi. Ia menjelaskan bahwa pra-produksi berlangsung sekitar satu tahun, sebelum pengambilan gambar dimulai pada September tahun sebelumnya. Rentang persiapan yang cukup panjang itu memberi tim waktu untuk menyiapkan kebutuhan produksi dan menjalankan berbagai tahap pekerjaan sebelum kamera mulai merekam.
Arif juga mengakui bahwa tim sempat mengantisipasi kemungkinan munculnya gangguan atau demonstrasi, mengingat isu yang dibicarakan film. Namun, kekhawatiran tersebut tidak berujung pada gangguan sebagaimana yang dikhawatirkan. Persiapan dan syuting dapat berlangsung tanpa kendala semacam itu, menurut pengetahuannya. Penjelasan kedua produser ini menggambarkan dua sisi proses pembuatan film: kehati-hatian dalam mengangkat materi yang sensitif serta pelaksanaan produksi yang tetap berjalan sesuai rencana. Sementara perhatian publik turut tertuju pada jumlah tiket presale, tim tetap mengarahkan distribusi ke bioskop nasional dan berharap film dapat memberi pemahaman serta inspirasi bagi penonton, khususnya generasi muda.
Film panjang Laut Bercerita diadaptasi dari novel berjudul sama karya Leila S. Chudori. Kisahnya berlatar masa Orde Baru pada dekade 1990-an, ketika tekanan politik dan praktik penghilangan paksa menjadi bagian dari kehidupan sejumlah aktivis. Cerita berpusat pada Biru Laut Wibisono dan orang-orang terdekatnya, terutama adiknya, Asmara Jati. Setelah Laut menghilang, Asmara berusaha mencari kejelasan tentang nasib sang abang, sekaligus menghadapi ketidakpastian dan kehilangan yang terus membayangi keluarganya. Dengan demikian, film ini tidak hanya mengikuti perjalanan seorang perempuan mencari jawaban, tetapi juga menyoroti dampak kekerasan politik terhadap mereka yang ditinggalkan.
Disutradarai Yosep Anggi Noen, adaptasi layar lebar ini mengolah materi novel melalui perpaduan puisi, kenangan, dan duka politik. Pendekatan tersebut memberi ruang bagi pengalaman pribadi para tokoh sekaligus latar sejarah yang membentuk kisah mereka. Reza Rahadian memerankan Biru Laut Wibisono, sementara Yunita Siregar berperan sebagai Asmara Jati. Keduanya menjadi pusat cerita yang bergerak ingatan terhadap kehidupan Laut dan usaha Asmara memahami apa yang terjadi. Dalam narasi yang menyentuh keluarga, persahabatan, dan kehilangan, perjalanan pencarian itu menjadi penghubung masa lalu yang belum tuntas dan kehidupan para penyintas di masa kini.
Jajaran pemeran film ini juga mencakup Dian Sastrowardoyo, Eva Celia, Christine Hakim, Arswendy Bening Swara, Kevin Julio, Ben Nugroho, Dewa Dayana, Yoga Pratama, Nagra Kautsar, Natalius Chendana, dan Afrian Arisandy. Nama-nama tersebut melengkapi pemeran utama dalam kisah yang menghadirkan lingkaran keluarga, kawan, serta tokoh-tokoh di sekitar Laut dan Asmara. Kehadiran ensemble ini mendukung gambaran luas tentang pengalaman kolektif yang menjadi salah satu unsur penting cerita. Sebelumnya, versi film pendek yang diangkat dari novel ini pernah dibuat pada 2017 dan dibintangi Reza Rahadian serta Dian Sastrowardoyo. Kini, cerita tersebut hadir dalam format film panjang, yang dijadwalkan tayang di bioskop pada 29 Oktober 2026. Jadwal itu memberi penonton kesempatan menyaksikan adaptasi layar lebar dari kisah Leila S. Chudori tersebut.





