Sekolah Rakyat Perluas Akses Belajar Sekaligus Dorong Kemandirian Keluarga

Sekolah Rakyat Perluas Akses Belajar Sekaligus Dorong Kemandirian Keluarga

Kabupaten Bandung | Kementerian Sosial memadukan penyelenggaraan pendidikan di Sekolah Rakyat dengan rehabilitasi dan pemberdayaan sosial untuk menjawab persoalan yang lebih luas daripada keterbatasan ruang belajar. Pendekatan ini dirancang agar anak dari keluarga prasejahtera memperoleh pendidikan sekaligus dukungan yang membantu keluarga memperkuat kemandirian. Melalui layanan yang terhubung, pemerintah berupaya memutus rantai kemiskinan antargenerasi, sebab pendidikan saja belum tentu cukup apabila hambatan sosial dan kebutuhan dasar tidak ditangani. Rehabilitasi dapat mencakup pemulihan kondisi serta pendampingan sesuai kebutuhan siswa, sementara pemberdayaan mendorong keluarga mengembangkan kapasitas dan peluang penghidupan. Dengan demikian, Sekolah Rakyat menjadi bagian dari strategi perlindungan sosial yang menempatkan anak dan keluarga sebagai sasaran.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang juga dikenal sebagai Gus Ipul, menyebut Sekolah Rakyat sebagai strategi Presiden Prabowo Subianto untuk menjangkau anak-anak yang selama ini belum memperoleh akses pendidikan memadai. Program ini terutama ditujukan bagi anak dari keluarga prasejahtera, termasuk mereka yang belum pernah bersekolah serta siswa yang terpaksa berhenti sebelum menuntaskan pendidikan. Cakupan program berkembang; saat ini lebih dari 44 ribu siswa mengikuti pembelajaran di 182 titik Sekolah Rakyat yang tersebar di seluruh Indonesia. Jangkauan tersebut menunjukkan upaya pemerintah membawa layanan pendidikan lebih dekat kepada kelompok yang kerap tertinggal karena kondisi ekonomi, keterbatasan layanan, atau persoalan sosial di lingkungan keluarga.

Penerimaan peserta didik tidak menggunakan tes akademik, sehingga anak tidak tersisih hanya karena kemampuan awal yang belum setara. Sebagai gantinya, setiap siswa menjalani matrikulasi selama lebih dari tiga bulan untuk menyesuaikan kemampuan belajar dan mempersiapkan diri mengikuti pembelajaran. Masa penyesuaian ini memberi ruang bagi pendidik mengenali kebutuhan, potensi, serta tantangan masing-masing anak. Sebagian siswa juga memerlukan rehabilitasi dan pendampingan agar dapat mengikuti kegiatan belajar secara optimal. Dukungan tersebut penting untuk membangun kesiapan, menjaga keberlanjutan belajar, dan memastikan layanan pendidikan sesuai dengan kondisi siswa. Dengan pendekatan ini, akses tidak berhenti pada penerimaan di sekolah; program berupaya menciptakan landasan agar anak berkembang.

Perkembangan sarana Sekolah Rakyat menunjukkan upaya pemerintah memperluas akses pendidikan sekaligus menghadirkan lingkungan belajar yang lebih memadai. Dari 182 titik penyelenggaraan, sebanyak 93 telah menempati gedung permanen. Sekolah-sekolah tersebut menyediakan pendidikan pada jenjang SD, SMP, dan SMA, sehingga peserta didik dapat memperoleh layanan belajar sesuai tahap perkembangan mereka. Keberadaan gedung permanen memberi ruang bagi kegiatan pendidikan yang lebih teratur dan mendukung pemanfaatan fasilitas secara berkelanjutan. Meski kondisi setiap lokasi dapat berbeda, perluasan sarana menjadi bagian penting dalam membangun proses belajar yang layak dan terjangkau.

Fasilitas yang tersedia mencakup laboratorium, perpustakaan, dan lapangan olahraga. Sarana tersebut menunjang pembelajaran di dalam maupun di luar kelas, mulai dari kegiatan praktik dan membaca hingga aktivitas fisik. Sekolah Rakyat juga menerapkan pembelajaran berbasis teknologi melalui learning management system (LMS), yang dapat membantu pengelolaan materi dan kegiatan belajar. Untuk memperkuat dukungan digital, pemerintah menyiapkan papan tulis digital serta laptop bagi siswa. Lebih dari 15 ribu laptop telah dibagikan untuk mendukung pembelajaran pada tahun ajaran 2025. Selanjutnya, sekitar 30 ribu unit tambahan direncanakan untuk 2026 dan masih berada dalam proses pengadaan.

Penggunaan perangkat diatur agar tetap terarah pada tujuan pendidikan. Laptop digunakan khusus untuk kegiatan belajar di kelas dan tidak dibawa ke asrama ataupun tempat lain. Pengaturan ini membantu memastikan perangkat tersedia untuk menunjang pembelajaran, sekaligus mendukung pemanfaatannya dalam lingkungan yang terkontrol. Melalui penggunaan laptop dan papan tulis digital, siswa berkesempatan mengenal teknologi sebagai bagian dari kegiatan akademik sehari-hari. Paparan tersebut diharapkan membuat mereka semakin akrab dengan perangkat digital dan cara penggunaannya untuk belajar. Dukungan sarana fisik dan teknologi ini melengkapi kegiatan pendidikan di Sekolah Rakyat, dengan fokus pada akses belajar yang lebih baik serta pengalaman pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan saat ini.

Dukungan Sekolah Rakyat dirancang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa, tetapi juga untuk memperkuat kondisi keluarga mereka. Orang tua dapat diarahkan mengikuti program pemberdayaan setelah kebutuhan dan potensi keluarga dinilai. Asesmen tersebut membantu menentukan jenis dukungan yang sesuai, mulai dari penguatan kapasitas dan keterampilan hingga bantuan modal usaha atau penguatan aset produktif. Dengan pendekatan ini, bantuan diharapkan tidak berhenti sebagai dukungan sesaat, melainkan menjadi pijakan agar keluarga mampu meningkatkan penghasilan dan mengelola usaha secara lebih mandiri. Keterlibatan orang tua juga penting supaya perubahan yang tumbuh dari pendidikan anak dapat berjalan seiring dengan perbaikan kesejahteraan keluarga di rumah.

Gus Ipul menyampaikan bahwa sekitar 7.000 keluarga telah menerima bantuan perbaikan rumah agar memiliki hunian yang lebih layak. Selain itu, lebih dari 160 ribu keluarga telah diberdayakan melalui berbagai program Kementerian Sosial. Sebagian penerima manfaat tersebut merupakan orang tua siswa Sekolah Rakyat. Ragam dukungan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing, sebab kebutuhan keluarga tidak selalu sama. Ada yang memerlukan peningkatan kemampuan untuk menjalankan usaha, ada pula yang membutuhkan akses modal atau penguatan aset. Karena itu, asesmen menjadi dasar untuk menghubungkan keluarga dengan bantuan yang relevan, sekaligus mengurangi risiko pemberian program yang tidak sesuai dengan kebutuhan maupun potensi mereka.

Dukungan Kementerian Sosial diposisikan sebagai bantuan rintisan untuk membuka jalan bagi pemberdayaan yang berkelanjutan. Setelah tahap awal, penguatan keluarga akan diteruskan melalui kolaborasi dengan kementerian lain, termasuk instansi yang menangani UMKM, ekonomi kreatif, dan perindustrian. Kerja sama lintas sektor memungkinkan pendampingan usaha disesuaikan dengan peluang di lingkungan keluarga, seperti pengembangan produk, peningkatan keterampilan, akses pemasaran, atau pengelolaan produksi. Bentuk dukungan lanjutan akan mengikuti hasil asesmen serta potensi yang tersedia, bukan diberikan secara seragam. Harapannya, ketika siswa menyelesaikan pendidikan, orang tua mereka telah memiliki kapasitas dan sumber penghidupan yang lebih kuat, sehingga keluarga semakin mandiri secara ekonomi.

Pemerintah menargetkan pembangunan 500 gedung permanen Sekolah Rakyat dalam tiga hingga empat tahun ke depan. Rencana ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan, sekaligus menyediakan lingkungan belajar yang lebih memadai dan berkelanjutan. Setiap gedung dirancang berdiri di atas lahan seluas sekitar 7 hingga 8 hektare. Dengan skala tersebut, fasilitas sekolah diharapkan dapat menampung lebih dari satu juta siswa secara keseluruhan apabila seluruh pembangunan terlaksana sesuai rencana.

Gus Ipul menyampaikan bahwa satu gedung permanen diperkirakan memiliki kapasitas lebih dari 2.000 siswa, mencakup jenjang sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Kapasitas itu memungkinkan layanan pendidikan diberikan secara terpadu dari tingkat dasar hingga menengah. Sekolah Rakyat juga diharapkan mendukung perkembangan siswa melalui proses belajar yang berkesinambungan, sehingga mereka memiliki bekal untuk menentukan pilihan setelah menyelesaikan pendidikan menengah.

Lulusan Sekolah Rakyat dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, termasuk melalui Sekolah Garuda maupun perguruan tinggi. Bagi siswa yang memilih memasuki dunia kerja, pendidikan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi landasan untuk berkarier sebagai pekerja terampil. Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya diukur dari bertambahnya jumlah ruang belajar, tetapi juga dari terbukanya jalur pendidikan dan pekerjaan yang lebih luas bagi para lulusan.

Salah satu lokasi yang disebut dalam rencana tersebut adalah SRT 4 Kabupaten Bandung, yang saat ini berdiri di atas lahan milik Kementerian Sosial.