Jakarta | Keputusan Ruben Onsu mengadopsi seorang bayi laki-laki bernama Thayaka Putra Onsu berawal dari perenungan yang muncul ketika ia menjalankan ibadah umrah. Bagi Ruben, pengalaman tersebut tidak hanya menjadi perjalanan untuk beribadah, tetapi juga menghadirkan ruang untuk memikirkan makna keluarga, kasih sayang, dan tanggung jawab. Dari pengalaman itu, ia mulai mempertimbangkan langkah untuk mengasuh seorang anak. Kisah mengenai awal keputusan tersebut ia sampaikan melalui kanal YouTube pribadinya. Uraian Ruben tentang perenungan itu kemudian dimuat dalam kanal YouTube Just Ruben pada Minggu, 18 Oktober 2026, sehingga publik dapat mengetahui bagaimana gagasan mengadopsi Thayaka tumbuh dari pengalaman spiritualnya.
Salah satu momen yang ia ceritakan terjadi di Masjid Nabawi, tepatnya di pintu 19 di Madinah. Di sana, Ruben mengikuti kajian yang membahas doa anak bagi orang tua yang telah meninggal dunia. Materi tersebut mengajak para peserta merenungkan kedudukan doa anak serta hubungan yang terus terjalin anak dan orang tua. Bagi Ruben, pembahasan itu terasa menyentuh dan mendorongnya berpikir lebih dalam tentang kehadiran seorang anak dalam kehidupan keluarga. Ia mengaitkan pesan kajian dengan pengalaman batin yang sedang ia jalani, tanpa menggambarkan keputusan itu sebagai sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Perenungan tersebut menjadi bagian penting dari proses yang kemudian membawanya mempertimbangkan adopsi.
Dalam penuturannya, Ruben menjelaskan bahwa kajian itu membuka sudut pandang tentang arti memberi kasih sayang dan menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua. Gagasan mengenai doa anak membuatnya memikirkan hubungan keluarga dari sisi yang lebih luas, termasuk bagaimana seorang anak dapat tumbuh dalam lingkungan penuh perhatian. Pengalaman tersebut menjadi salah satu pemicu yang menguatkan niatnya untuk mengadopsi Thayaka Putra Onsu. Keputusan itu, sebagaimana ia ceritakan, berangkat dari refleksi pribadi selama ibadah umrah dan kesan mendalam atas materi kajian yang didengarnya. Kisah ini memperlihatkan bahwa proses mengambil keputusan keluarga dapat dipengaruhi oleh peristiwa spiritual dan pemikiran yang berkembang melalui pengalaman. Ruben kemudian membagikan cerita tersebut kepada penonton melalui kanal YouTube pribadinya.Materi kajian yang diikuti Ruben Onsu di tanah suci membuatnya memikirkan kembali hubungan spiritual dan arah masa depan keluarganya. Pengalaman tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan selama berada di Masjid Nabawi. Sepulang dari kajian, berbagai hal yang ia dengar terus terlintas dalam pikirannya, terutama ketika ia merenungkan kehidupan keluarga dan tanggung jawabnya sebagai orang tua.
Dalam perenungan itu, Ruben menyadari bahwa dirinya dan ketiga anaknya memiliki keyakinan yang berbeda. Kesadaran tersebut menjadi bagian penting dari hal-hal yang ia pikirkan setelah mengikuti kajian. Ia memandang persoalan itu dalam kaitannya dengan perjalanan hidup keluarga, sekaligus dengan cara ia memahami hubungan spiritualnya sendiri. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa materi kajian membuka ruang baginya untuk melihat kembali keadaan keluarganya dengan lebih mendalam.
Ruben tidak menyampaikan rincian mengenai keyakinan masing-masing anggota keluarga, dan perbedaan itu tidak dengan sendirinya berarti adanya perselisihan. Yang menjadi perhatian dalam ceritanya adalah bagaimana kesadaran tersebut terus ia renungkan setelah berada di tanah suci. Ia memikirkan masa depan keluarganya dan makna peran yang dijalani sebagai ayah, tanpa menjadikan perbedaan keyakinan sebagai kesimpulan tentang hubungan mereka.
Perenungan itu juga memberikan konteks bagi keputusan Ruben untuk mengadopsi Thayaka. Keputusan tersebut berkaitan dengan perjalanan keluarga yang sedang ia pikirkan, tetapi tidak perlu ditafsirkan sebagai akibat langsung dari satu kajian atau sebagai respons terhadap perbedaan keyakinan. Berdasarkan ceritanya, pengalaman di Masjid Nabawi menjadi momen yang membuatnya menimbang banyak hal tentang kehidupan spiritual dan masa depan keluarga. Ia membawa pulang pertanyaan-pertanyaan itu sebagai bahan refleksi pribadi, sambil menyadari bahwa dirinya dan ketiga anaknya memiliki keyakinan yang berbeda. Dengan demikian, kisah ini menggambarkan proses berpikir Ruben, bukan penilaian terhadap keyakinan siapa pun ataupun gambaran tentang konflik dalam keluarganya.
Setelah kembali ke Indonesia, Ruben Onsu mulai mengenal Thayaka, seorang bayi yang saat itu berada dalam perawatan yayasan milik Melanie Subono. Perkenalan tersebut menjadi bagian dari proses yang perlahan membuat Ruben memberi perhatian lebih kepada keadaan Thayaka. Bukan melalui pertemuan panjang atau percakapan, salah satu momen yang paling ia ingat justru berlangsung sederhana, lewat panggilan video.
Dalam kesempatan itu, Ruben menyapa Thayaka dengan panggilan “baby”. Respons bayi tersebut membuatnya terkejut. Thayaka tampak menggerakkan atau mengarahkan matanya setelah mendengar sapaan itu. Bagi Ruben, reaksi kecil tersebut terasa membekas. Ia tidak menyangka sapaan sederhana melalui layar dapat menghadirkan pengalaman emosional yang begitu kuat baginya.
Momen itu tidak serta-merta menjelaskan apa yang dipahami Thayaka atau memastikan alasan di balik gerakan matanya. Namun, bagi Ruben, respons yang ia saksikan menjadi pengalaman pribadi yang sulit dilupakan. Ia merasakan kedekatan yang tidak mudah diterangkan dengan kata-kata, meskipun interaksi tersebut berlangsung singkat dan hanya melalui panggilan video.
Pengalaman itu kemudian turut membentuk cara Ruben memandang perkenalannya dengan Thayaka. Sapaan sederhana tersebut menjadi titik yang membuatnya merasa seolah ada panggilan untuk lebih dekat dan memberi perhatian. Perasaan itu tumbuh dari apa yang ia alami sendiri, bukan dari kesimpulan tentang kemampuan atau maksud bayi tersebut. Karena itu, kisahnya berpusat pada kesan batin Ruben ketika melihat respons Thayaka, bukan pada klaim mengenai apa yang dipahami sang bayi.
Di tengah proses mengenal Thayaka, momen singkat itu menjadi kenangan yang ia bawa setelah kembali ke Indonesia. Kedekatan yang dirasakan Ruben muncul melalui perjumpaan yang sederhana, tetapi bermakna baginya. Panggilan “baby” dan gerakan mata Thayaka menjadi bagian dari cerita yang menandai awal hubungan mereka. Dari pengalaman tersebut, Ruben merasa terdorong untuk melanjutkan perhatian dan keterlibatannya, sementara kisah ini tetap menggambarkan reaksi yang ia lihat secara apa adanya.
Perenungan Ruben Onsu selama menjalankan ibadah umrah menjadi salah satu bagian yang memengaruhi keputusannya untuk membuka hati terhadap kemungkinan mengadopsi seorang anak laki-laki. Di Masjid Nabawi, ia membawa keinginan tersebut dalam doa dan memohon petunjuk Tuhan sebelum menentukan langkah. Pengalaman spiritual itu memberinya ruang untuk menimbang niatnya dengan lebih tenang, tetapi bukan satu-satunya unsur dalam proses pengambilan keputusan. Ruben tetap mempertimbangkan perasaan dan kesiapan dirinya, tanpa menganggap sebuah keinginan harus segera diwujudkan.
Ikatan batin mulai dirasakannya setelah berinteraksi dengan Thayaka melalui panggilan video. Perjumpaan jarak jauh tersebut menimbulkan kesan tersendiri bagi Ruben dan membuat keinginannya untuk mengadopsi semakin terasa. Namun, rasa dekat itu tidak serta-merta membuatnya mengambil keputusan secara langsung. Ia memilih memberi waktu kepada dirinya untuk merenung, sekaligus membawa harapan tersebut ke dalam ibadah. Dengan demikian, pengalaman berkomunikasi dengan Thayaka menjadi salah satu pertimbangan yang menyentuh hati, bukan penentu tunggal yang mengakhiri proses berpikirnya.
Ruben menuturkan bahwa ia mendoakan keinginannya dan meminta petunjuk Tuhan mengenai jalan yang sebaiknya ditempuh. Setelah kembali, ia juga menjalankan salat malam untuk memantapkan hati. Doa dan ibadah tersebut menjadi cara baginya untuk mencari ketenangan serta memastikan bahwa niat membuka ruang bagi seorang anak hadir dengan pertimbangan yang matang. Ia tidak menggambarkan langkah itu sebagai keputusan yang dibuat terburu-buru, melainkan sebagai proses pribadi yang disertai harapan dan penyerahan diri.






