Jakarta | Ruben Onsu mengangkat bayi laki-laki bernama Thayaka Putra Onsu sebagai anak asuh. Keputusan tersebut berangkat dari perenungan pribadi yang muncul ketika ia menjalani ibadah umrah. Dalam momen itu, Ruben memikirkan kehidupan setelah kematian dan bertanya-tanya siapa yang kelak akan mendoakannya. Pertanyaan tersebut kemudian menjadi bagian penting dari kisah yang mengiringi keputusannya mengasuh Thayaka. Kabar ini menyoroti bagaimana sebuah renungan dapat membawa seseorang pada pilihan yang bermakna, sekaligus menunjukkan bahwa keputusan tersebut tidak disampaikan sebagai tindakan yang muncul tanpa pertimbangan.
Pemikiran Ruben berpusat pada doa yang mungkin dipanjatkan untuknya setelah ia meninggal dunia. Ia merenungkan siapa yang akan mengingat dan mendoakannya pada saat dirinya tidak lagi ada. Dari perenungan itu, muncul keputusan untuk mengasuh Thayaka. Hubungan pengalaman umrah dan pilihan tersebut menjadi inti cerita: perjalanan ibadah memberinya ruang untuk memikirkan hal-hal yang lebih mendasar, termasuk tentang kehidupan, kematian, dan doa. Tidak ada rincian lain mengenai proses pengasuhan yang perlu ditambahkan untuk memahami pokok kabar ini. Fokusnya adalah pada pertanyaan yang direnungkan Ruben dan keputusan yang kemudian ia ambil.
Thayaka Putra Onsu kini disebut sebagai anak asuh Ruben, sementara alasan yang dikaitkan dengan keputusan itu berawal dari refleksi mengenai siapa yang akan mendoakannya kelak. Kisah ini dapat dipahami sebagai keputusan pribadi yang lahir dari perenungan spiritual, bukan sebagai uraian lengkap tentang kehidupan keluarga atau pengasuhan. Dengan demikian, informasi yang disampaikan tetap terbatas pada kabar pengangkatan Thayaka sebagai anak asuh dan pemikiran Ruben saat umrah. Keduanya menjelaskan inti cerita tanpa mengandaikan bagaimana proses tersebut berlangsung ataupun menambahkan hubungan keluarga lain yang tidak disebutkan. Bagi Ruben, pertanyaan tentang doa setelah kematian menjadi pemantik untuk mengambil langkah yang ia anggap bermakna. Keputusan mengasuh Thayaka pun menjadi bagian dari refleksi tersebut.
Perenungan Ruben Onsu tentang kehidupan dan tanggung jawab keluarga mulai menguat saat ia menjalani ibadah umrah di Tanah Suci. Di tengah rangkaian ibadah, ia mengikuti sebuah kajian di Masjid Nabawi, Madinah. Suasana masjid yang khusyuk dan kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan sehari-hari membuat materi yang disampaikan terasa dekat. Kajian tersebut membahas kehidupan setelah kematian serta doa anak bagi orang tua yang telah meninggal dunia. Bagi Ruben, tema itu bukan sekadar pembahasan keagamaan, melainkan sesuatu yang menyentuh sisi pribadi dan mengundang pemikiran lebih dalam.
Materi tentang kehidupan setelah kematian mengingatkan bahwa waktu manusia di dunia terbatas, sedangkan hubungan dan kebaikan yang ditinggalkan dapat memiliki makna panjang. Uraian mengenai doa anak untuk orang tua yang telah wafat juga menyoroti pentingnya kasih sayang, perhatian, dan tanggung jawab dalam keluarga. Ruben menyimak kajian itu dalam suasana yang berbeda dari rutinitasnya. Ia kemudian merenungkan arti kehadiran seorang anak, serta bagaimana orang dewasa dapat memberikan perlindungan dan kesempatan hidup yang lebih baik. Gagasan-gagasan tersebut membekas karena berkaitan dengan pengalaman dan pertimbangan pribadinya.
Kajian di Masjid Nabawi itu menjadi salah satu momen yang membuka ruang bagi Ruben untuk memikirkan kembali keputusan-keputusan dalam hidupnya. Ia tidak hanya mendengar pesan tentang akhirat, tetapi juga menangkap dorongan untuk menilai apa yang bisa dilakukan selama masih diberi kesempatan. Pembahasan tentang doa dan ikatan anak dengan orang tua terasa menyentuh dirinya, lalu berkembang menjadi perenungan mengenai kepedulian terhadap anak yang membutuhkan pengasuhan. Dalam suasana ibadah umrah, pemikiran tersebut hadir secara bertahap, bukan sebagai keputusan yang terpisah dari pengalaman batin. Momen itu kelak berkaitan dengan pilihannya untuk mengasuh Thayaka, meski keputusan tersebut juga melibatkan pertimbangan dan tanggung jawab nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam tayangan di kanal YouTube pribadinya, Just Ruben, Ruben Onsu menceritakan pengalaman yang ia renungkan saat menjalani ibadah umrah. Ia mengungkapkan bahwa salah satu materi kajian yang didengarnya membahas doa anak untuk orang tua yang telah meninggal dunia. Pokok bahasan itu tertinggal dalam pikirannya dan membuatnya memikirkan kembali hubungan orang tua dan anak, terutama mengenai doa yang dapat terus dipanjatkan ketika seseorang sudah tidak lagi berada di dunia. Ruben menyampaikan refleksi tersebut sebagai bagian dari kisah pribadinya selama berada di Tanah Suci.
Materi kajian itu menyoroti peran anak dalam mendoakan orang tua setelah kematian. Dalam penuturannya, Ruben mengingat pesan tentang doa anak yang menjadi perhatian setelah orang tua wafat. Ia tidak hanya menyebut isi kajian secara sepintas, tetapi juga menceritakan bagaimana tema tersebut membuatnya berhenti sejenak dan merenungkan maknanya. Pengalaman mendengarkan kajian itu menjadi bagian yang berkesan baginya selama umrah. Melalui cerita di kanalnya, ia membagikan bagaimana sebuah pembahasan keagamaan dapat memunculkan pemikiran pribadi tentang keluarga dan kehidupan setelah kematian, tanpa menguraikan hal itu sebagai kesimpulan umum.
Ruben menggambarkan renungan tersebut sebagai sesuatu yang muncul dari materi yang ia dengar, bukan sebagai uraian panjang mengenai hukum atau ajaran agama. Perhatiannya tertuju pada gambaran anak yang mendoakan orang tuanya ketika orang tua itu telah meninggal. Tema tersebut membuatnya memikirkan posisi seorang anak dalam kehidupan orang tua, serta arti doa yang tetap bisa disampaikan ketika mereka telah tiada. Ia membagikan pengalaman itu secara terbuka dalam video Just Ruben, sehingga penonton dapat mengetahui bagian kajian yang membekas dalam ingatannya. Cerita tersebut juga menjadi latar bagi kisah yang ia sampaikan mengenai keputusan mengasuh Thayaka, sebagaimana tergambar dalam judul pembahasannya. Namun, fokus refleksi yang ia ceritakan adalah pemikirannya setelah mendengar kajian tentang doa anak bagi orang tua yang telah meninggal dunia.
Dalam renungan yang muncul saat menjalani umrah, Ruben Onsu menyadari adanya perbedaan keyakinan dirinya dan anak-anak kandungnya. Kesadaran itu membuatnya memikirkan hubungan keluarga dari sisi yang lebih mendalam, termasuk tentang doa dan kehidupan kelak. Ia bertanya-tanya siapa yang akan mendoakannya ketika suatu hari dirinya sudah tiada, mengingat anak-anaknya memiliki keyakinan yang berbeda dengannya.
Pertanyaan tersebut bukan disampaikan sebagai bentuk menyalahkan anak-anak atau meragukan kasih sayang di mereka. Ruben mengungkapkannya sebagai kegelisahan pribadi yang muncul ketika ia merenungkan keadaan keluarganya. Perbedaan keyakinan menjadi bagian penting dari pikirannya, tetapi tidak menghapus ikatan maupun rasa sayang sebagai orang tua. Ia menghadapi kenyataan itu sambil mempertimbangkan bagaimana hubungan keluarga tetap dapat dijaga dengan penuh penghormatan.
Dalam pernyataannya, Ruben mengaitkan renungan tersebut dengan tema kajian yang ia dengarkan. Pokok pembahasan itu membuatnya memikirkan kembali situasi yang ia hadapi bersama anak-anak kandungnya, terutama soal keyakinan dan doa. Ia menyampaikan bahwa perbedaan tersebut membuatnya bertanya siapa yang kelak akan mendoakannya. Pernyataan itu dikutip pada Senin, 19 Oktober 2026. Makna yang disampaikan berpusat pada pertanyaan personal tersebut, bukan pada penilaian terhadap pilihan keyakinan anak-anaknya.
Renungan ini memperlihatkan bahwa persoalan keyakinan dapat menghadirkan pertanyaan emosional bagi orang tua, khususnya ketika memikirkan masa depan keluarga. Dalam kasus Ruben, pertanyaan tentang doa berkaitan dengan harapannya atas perhatian dan hubungan batin yang tetap terpelihara. Ia menyadari bahwa anak-anak kandungnya tidak memiliki keyakinan yang sama dengannya, lalu mencoba memahami perbedaan itu melalui sudut pandang spiritualnya sendiri. Pengungkapan tersebut memberi gambaran mengenai pergulatan yang ia rasakan tanpa perlu mengubahnya menjadi kesimpulan tentang sikap anak-anaknya.
Baca juga: Polresta Tuban Pantau Pergerakan Pengedar, 3 Target Operasi Berujung Penangkapan






