Kota Paling Ramah | Seoul, Korea Selatan, menempati posisi ketiga dalam daftar kota paling ramah di dunia berdasarkan Readers’ Choice Awards 2026 yang diselenggarakan oleh Condé Nast Traveller. Hasil tersebut menjadikan Seoul sebagai kota Asia dengan peringkat tertinggi dalam pemeringkatan tahun ini. Pencapaian itu memperlihatkan bahwa daya tarik Seoul bagi wisatawan tidak hanya dibentuk oleh budaya populer, kuliner, atau perkembangan kotanya, tetapi juga oleh pengalaman interaksi yang dinilai positif selama kunjungan.
Dalam daftar yang sama, Jaipur, India, berada di urutan ketujuh, sedangkan Bangkok, Thailand, menempati posisi kesembilan. Kehadiran tiga kota Asia dalam jajaran sepuluh besar menunjukkan kuatnya kesan keramahan di kawasan tersebut, meskipun karakter setiap destinasi berbeda. Seoul dikenal melalui perpaduan kehidupan perkotaan modern dan tradisi Korea, Jaipur melalui warisan budaya serta suasana historisnya, sementara Bangkok menawarkan lingkungan metropolitan yang dinamis dan pengalaman wisata yang beragam.
Indonesia tidak tercantum dalam daftar 10 kota pilihan pembaca pada Readers’ Choice Awards 2026. Ketidakhadiran tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa kota-kota di Indonesia kurang menarik atau tidak ramah bagi wisatawan. Pemeringkatan ini diumumkan pada 2026 dan terutama mencerminkan penilaian pembaca terhadap keramahan yang mereka rasakan ketika berada di suatu kota. Aspek yang dipertimbangkan bukan semata-mata jumlah tempat wisata, tingkat popularitas destinasi, atau banyaknya kunjungan, melainkan kualitas sambutan, kemudahan berinteraksi, serta kesan personal yang terbentuk selama perjalanan. Karena itu, posisi Seoul mencerminkan reputasi pengalaman wisata secara menyeluruh menurut responden, bukan ukuran tunggal atas keunggulan destinasi. Hasil ini juga memberikan gambaran mengenai kota-kota yang berhasil meninggalkan kesan hangat dan nyaman bagi pelancong dari berbagai negara.
Pemeringkatan kota paling ramah di Asia pada 2026 menempatkan pengalaman wisatawan sebagai dasar utama penilaian. Ukurannya tidak semata-mata berkaitan dengan jumlah tempat wisata, kualitas fasilitas, atau kemudahan melakukan reservasi, tetapi juga dengan bagaimana pengunjung diperlakukan ketika berinteraksi dengan penduduk setempat. Penilaian ini berusaha menggambarkan pengalaman nyata selama perjalanan, termasuk rasa diterima, kenyamanan berkomunikasi, serta kemudahan memperoleh bantuan dalam situasi sehari-hari.
Beberapa situasi sederhana dapat memengaruhi kesan tersebut. Wisatawan mungkin perlu meminta petunjuk arah saat mencari objek wisata, memesan makanan di restoran lokal, atau memahami menu dan kebiasaan setempat. Pengalaman ketika menggunakan bus, kereta bawah tanah, maupun moda transportasi umum lain juga menjadi pertimbangan, terutama saat pengunjung menghadapi rute yang membingungkan atau membutuhkan bantuan untuk membeli tiket. Respons warga yang ramah, jelas, dan terbuka dapat mengurangi rasa canggung sekaligus membuat perjalanan terasa lebih lancar.
Selain bantuan praktis, keterbukaan penduduk dalam percakapan singkat turut membentuk penilaian. Sapaan, kesediaan menjelaskan budaya lokal, dan sikap menghargai perbedaan dapat menciptakan interaksi yang berkesan. Sebaliknya, kesulitan memperoleh informasi atau menghadapi sikap tidak bersahabat berpotensi mengurangi kenyamanan, meskipun sebuah kota memiliki infrastruktur wisata yang baik. Dengan demikian, sambutan hangat dan kualitas hubungan sehari-hari menjadi unsur penting dalam menentukan citra sebuah destinasi.
Dalam pemeringkatan yang menjadi rujukan, Melbourne berada di posisi pertama dengan skor 98,52. Kota tersebut dinilai mampu memberikan pengalaman berkunjung yang positif melalui interaksi yang mudah dan membantu. Porto menempati urutan kedua dengan skor 98,33, juga berkat suasana yang membuat wisatawan merasa diterima. Hasil ini menunjukkan bahwa keramahan warga dan kemudahan berinteraksi dapat menjadi pembeda penting dalam menilai kualitas pengalaman di sebuah kota.
Seoul menempati posisi teratas berkat perpaduan keramahan penduduk, kemudahan mobilitas, dan kekayaan pengalaman urban. Ibu kota Korea Selatan ini menawarkan lingkungan yang dinamis, mulai dari kawasan bersejarah seperti Bukchon dan istana kerajaan hingga pusat belanja, kuliner, serta hiburan modern. Wisatawan juga terbantu oleh jaringan transportasi umum yang luas, informasi digital yang mudah diakses, dan berbagai fasilitas kota yang mendukung perjalanan secara nyaman. Interaksi tradisi lokal dan kehidupan metropolitan membuat Seoul terasa terbuka bagi pengunjung dari berbagai latar belakang.
Di posisi kedua, Melbourne dikenal melalui perpaduan seni, budaya kafe, dan arsitektur bergaya Victoria. Gang-gang sempit yang dipenuhi grafiti menghadirkan karakter visual yang khas, sementara galeri, pertunjukan musik, dan festival memperkaya kehidupan budayanya. Transportasi umum yang terintegrasi serta layanan publik yang mudah digunakan turut membantu wisatawan menjelajahi berbagai kawasan. Porto, yang berada di urutan ketiga, menawarkan suasana bersejarah dengan bangunan-bangunan yang mengelilingi Sungai Douro. Tradisi kuliner petiscos, alun-alun berubin dekoratif, dan jalan-jalan tua menciptakan pengalaman yang hangat sekaligus autentik.
Lisbon berada di posisi keempat dan memikat pengunjung melalui lanskap berbukit, trem kuning, serta bangunan yang dihiasi ubin azulejos. Musik fado yang terdengar di sejumlah kawasan menambah kedalaman suasana kota. Amsterdam, di urutan kelima, menonjolkan masyarakat multikultural yang terdiri atas penduduk dari sekitar 180 kebangsaan. Kanal, jalur sepeda, kafe lingkungan, dan ruang budaya membentuk kehidupan kota yang inklusif. Sementara itu, Perth di posisi keenam menghadirkan gaya hidup luar ruang melalui pasar akhir pekan, kawasan rindang, dan Pantai Cottesloe. Kombinasi aktivitas santai, ruang terbuka, serta suasana pesisir menjadikannya destinasi yang mudah dinikmati.
Setelah Perth, daftar sepuluh kota paling ramah di Asia dan sekitarnya dilengkapi oleh Jaipur, Buenos Aires, Bangkok, dan Cape Town. Keempat kota ini menawarkan bentuk keramahan yang berbeda, mulai dari interaksi sehari-hari di pasar hingga tradisi berkumpul yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat.
Jaipur menghadirkan pengalaman hangat melalui pertemuan dengan para pedagang di Johari Bazaar. Wisatawan dapat berbincang mengenai perhiasan, kain, dan kerajinan tekstil yang menjadi ciri khas Rajasthan. Percakapan sederhana, keramahan saat menawar, serta kesempatan menikmati chai membuat kunjungan ke pasar terasa lebih personal. Suasana tersebut memperlihatkan bahwa keramahan tidak hanya hadir melalui layanan formal, tetapi juga melalui interaksi spontan di ruang publik.
Buenos Aires dikenal lewat budaya berkumpul yang kuat. Menikmati mate atau asado sering kali menjadi bagian dari pertemuan keluarga dan pertemanan. Tradisi ini menciptakan suasana terbuka, ketika makanan dan minuman menjadi sarana untuk berbagi cerita. Bagi pengunjung, pengalaman tersebut membantu memperkenalkan sisi sosial kota yang tidak selalu terlihat dari objek wisatanya.
Bangkok menempati posisi kesembilan. Lalu lintas yang padat, jalan yang ramai, dan kepadatan kawasan tertentu memang dapat terasa menantang, terutama bagi wisatawan yang baru pertama kali datang. Namun, bantuan warga setempat, baik dalam memberi petunjuk maupun menyarankan rute dan tempat makan, memudahkan pengunjung mengenali karakter kota. Sikap membantu itu menjadi salah satu alasan Bangkok tetap menonjol dalam pemeringkatan keramahan.
Di posisi kesepuluh, Cape Town menawarkan perpaduan pantai dan pegunungan yang kuat. Table Mountain serta koloni penguin di Boulders Beach menjadi daya tarik utama, sementara tradisi braai menggambarkan budaya berkumpul masyarakatnya. Dengan demikian, tiga kota Asia—Seoul, Jaipur, dan Bangkok—berhasil masuk sepuluh besar, dengan Seoul berada di posisi tertinggi.

