Suahasil: Stabilitas Ekonomi Menjadi Bekal Indonesia untuk Melaju

Suahasil: Stabilitas Ekonomi Menjadi Bekal Indonesia untuk Melaju

Jakarta | Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan bahwa stabilitas perekonomian dan kehidupan bermasyarakat merupakan prasyarat penting bagi Indonesia untuk terus maju. Menurutnya, kemajuan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menciptakan peluang dan mendorong inovasi, tetapi juga oleh keadaan yang memungkinkan masyarakat dan pelaku usaha menjalankan kegiatan secara aman dan terukur. Stabilitas menjadi bekal agar berbagai agenda pembangunan dapat berlangsung konsisten dan memberi manfaat lebih luas.

Pandangan tersebut disampaikan Suahasil dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin, 26 Oktober 2026. Dalam forum yang membahas inovasi teknologi dan investasi itu, ia mengaitkan kondisi yang stabil dengan kemampuan Indonesia menatap masa depan. Pesan utamanya, ekonomi yang terjaga dan kehidupan sosial yang kondusif menyediakan landasan untuk mengambil langkah pembangunan berikutnya. Dengan landasan itu, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dapat menghadapi perubahan tanpa mengabaikan kebutuhan untuk menjaga kesinambungan.

Suahasil menekankan pentingnya menjaga stabilitas sebagai fondasi kemajuan, bukan sebagai tujuan yang berdiri sendiri. Stabilitas ekonomi membantu menciptakan kepastian dalam kegiatan produksi, investasi, dan konsumsi, sementara kehidupan bermasyarakat yang terjaga mendukung kerja sama serta kepercayaan. Kedua hal tersebut saling berkaitan: ketahanan ekonomi perlu berjalan seiring dengan kondisi sosial yang memungkinkan masyarakat berpartisipasi dalam pembangunan. Pesan itu relevan ketika inovasi teknologi dan investasi menghadirkan kesempatan sekaligus tantangan yang perlu dikelola secara cermat.

Dengan demikian, dorongan untuk melaju tidak berarti mengesampingkan upaya menjaga keseimbangan. Indonesia perlu memanfaatkan peluang baru sambil memastikan fondasi ekonomi dan sosial tetap kuat. Stabilitas memberi ruang bagi kebijakan untuk bekerja, bagi investasi untuk berkembang, dan bagi masyarakat untuk merasakan hasil pertumbuhan. Pernyataan Suahasil di DTIIF 2026 menempatkan kestabilan sebagai bekal bersama: prasyarat agar agenda inovasi dan pembangunan dapat ditempuh dengan keyakinan, konsisten, dan berkelanjutan.

Suahasil menjelaskan arti stabilitas melalui gambaran sederhana tentang perjalanan dengan sepeda. Sepeda yang dikendarai dalam keadaan kurang stabil tetap bisa bergerak menuju tujuan. Pengendara masih dapat mencapai titik akhir, tetapi perjalanan itu cenderung memakan waktu lebih lama dan menuntut tenaga serta perhatian yang lebih besar. Ia perlu terus menjaga keseimbangan, mengoreksi arah, dan mengatasi gangguan yang muncul sepanjang jalan. Dengan kata lain, tujuan tetap mungkin dicapai, namun prosesnya menjadi lebih berat ketika kondisi tidak mendukung.

Sebaliknya, sepeda yang stabil membuat perjalanan dari titik A ke titik B berlangsung lebih cepat dan lancar. Pengendara dapat melaju tanpa harus menghabiskan terlalu banyak tenaga untuk terus-menerus menyeimbangkan kendaraan atau memperbaiki arah. Perumpamaan ini tidak berarti perjalanan selalu bebas hambatan. Namun, kestabilan memberi pijakan yang lebih baik untuk bergerak, sehingga tenaga dan waktu dapat digunakan secara lebih efektif dalam mencapai sasaran.

Analogi tersebut mencerminkan cara Suahasil memandang stabilitas: bukan sebagai tujuan akhir yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bekal penting agar kemajuan dapat berlangsung dengan lebih baik. Dalam konteks ekonomi, keadaan yang stabil membantu masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah mengambil langkah dengan kepastian yang lebih kuat. Ketika gejolak dapat dikelola, perhatian dan sumber daya tidak perlu terus tersita untuk merespons ketidakpastian. Ruang untuk merencanakan, berinvestasi, dan menjalankan kegiatan ekonomi pun menjadi lebih terbuka.

Karena itu, stabilitas bukan sekadar soal bertahan agar tidak terjatuh. Ia memungkinkan perjalanan menuju pertumbuhan berjalan lebih efisien dan mengurangi beban yang harus ditanggung selama prosesnya. Seperti pengendara yang lebih mudah melaju dengan sepeda seimbang, perekonomian yang terjaga stabilitasnya memiliki bekal lebih baik untuk bergerak menuju tujuan. Perumpamaan Suahasil menekankan bahwa mencapai sasaran tetap mungkin dalam keadaan yang goyah, tetapi stabilitas membantu Indonesia menempuh jalannya dengan lebih cepat, terarah, dan dengan upaya yang lebih terukur.

Suahasil menyampaikan bahwa stabilitas perekonomian telah membentuk cara pandangnya dalam mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pengalaman melihat pentingnya kondisi ekonomi yang stabil menjadi bekal dalam memahami peran anggaran negara. Dengan demikian, APBN tidak hanya dipandang sebagai daftar penerimaan dan belanja, tetapi juga sebagai instrumen yang pengelolaannya perlu mempertimbangkan keadaan perekonomian. Penekanan pada stabilitas menunjukkan bahwa keputusan mengenai anggaran berlangsung dalam konteks yang lebih luas daripada angka-angka fiskal semata. Cara pandang tersebut menjadi bagian dari bagaimana Suahasil memaknai tanggung jawab pengelolaan APBN, sekaligus menghubungkan kondisi ekonomi dengan proses pengambilan keputusan negara.

Konteks perjalanan jabatannya memberi latar bagi pandangan tersebut. Sebelum menjadi menteri, Suahasil menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak Oktober 2019. Informasi ini menempatkannya dalam lingkungan pengelolaan keuangan negara sebelum ia menduduki jabatan menteri. Namun, pokok yang disampaikan bukan uraian panjang mengenai riwayat karier, melainkan hubungan stabilitas perekonomian dan pola pikir dalam mengelola APBN. Dengan menjaga konteks tetap terbatas pada jabatan yang disebutkan, penjelasan ini memperlihatkan bahwa pemahamannya mengenai anggaran dibingkai oleh perhatian pada keadaan ekonomi. Stabilitas menjadi landasan pemikiran, sedangkan APBN merupakan bidang tanggung jawab yang ia kelola.

Pernyataan itu juga menegaskan bahwa stabilitas ekonomi memiliki arti dalam cara pejabat memandang tugas fiskal. Ketika stabilitas menjadi bagian dari pola pikir, pengelolaan APBN dapat dipahami sebagai pekerjaan yang memerlukan perhatian terhadap lingkungan ekonomi, bukan sekadar pelaksanaan proses anggaran. Ini merupakan penjelasan atas kaitan yang disampaikan Suahasil, bukan klaim mengenai kebijakan atau langkah tertentu. Latar jabatannya sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak Oktober 2019, sebelum menjadi menteri, memberi konteks kelembagaan tanpa perlu menambahkan rincian karier lain. Pada akhirnya, pesan utamanya adalah bahwa stabilitas perekonomian telah membentuk kerangka pikir Suahasil dalam mengelola APBN dan memahami peran anggaran negara.

Suahasil menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali, yakni di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Batas tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Keuangan Negara dan menjadi salah satu pijakan penting dalam pengelolaan fiskal. Disiplin terhadap ketentuan ini tidak hanya menunjukkan kepatuhan pada kerangka hukum, tetapi juga membantu memelihara kepercayaan terhadap kemampuan negara mengelola penerimaan dan belanja secara bertanggung jawab. Dalam kondisi ekonomi yang terus bergerak, pengendalian defisit memberi ruang bagi kebijakan untuk merespons kebutuhan masyarakat tanpa mengabaikan kesinambungan keuangan negara.

Hingga akhir September 2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp319 triliun atau 1,24% terhadap PDB. Angka tersebut menjadi gambaran posisi fiskal pada periode itu dan masih berada di bawah ambang batas 3% yang ditetapkan. Pemerintah tetap perlu mencermati perkembangan pendapatan negara, realisasi belanja, serta dinamika ekonomi domestik dan global sepanjang tahun. Pemantauan berkala membantu memastikan pelaksanaan anggaran berjalan sesuai rencana, sekaligus memungkinkan penyesuaian kebijakan ketika diperlukan. Dengan demikian, menjaga defisit bukan sekadar berfokus pada besaran angka, melainkan juga memastikan belanja mendukung prioritas pembangunan dan layanan publik, sementara pengelolaan pembiayaan tetap terukur.

Suahasil menjabat sebagai Menteri Keuangan sejak 14 September 2026, menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Dalam peran tersebut, stabilitas fiskal menjadi bagian dari upaya menjaga fondasi ekonomi dan mendukung laju pembangunan Indonesia. Pengendalian defisit yang konsisten dapat memperkuat kepastian dalam perencanaan anggaran, sedangkan komunikasi yang terbuka membantu menjelaskan pilihan serta pertimbangan kebijakan kepada publik. Suahasil menyampaikan harapan agar stabilitas mewarnai perumusan kebijakan fiskal, alokasi anggaran, serta komunikasi Kementerian Keuangan dengan unsur pemerintahan dan masyarakat.

Baca juga: Pesan Jenderal TNI (Purn) Endriartono Sutarto : TNI Harus Terus Menjadi Pelopor Perjuanngan Bangsa Meraih Kejayaan | Ketika Luka Menjadi Barang Bukti: Dedy Luqman Hakim Bongkar Titik Kritis Visum dalam Perkara Kekerasan | Latihan Kemampuan Penembakan Target Drone Menjadi Wawasan dalam SGS 2026