Taskya Namya Kenang Beratnya Menjalani Adegan Emosional di Film Rambut Sewu

Taskya Namya Kenang Beratnya Menjalani Adegan Emosional di Film Rambut Sewu

Jakarta | Taskya Namya mengungkapkan beratnya menjalani salah satu adegan emosional dalam film horor Rambut Sewu: Satu Langkah Getih. Dalam sesi yang berlangsung di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin (26/10/2026), ia bercerita bahwa adegan tersebut memberi tekanan emosional yang kuat. Pengalaman itu tidak berhenti begitu kamera selesai merekam; Taskya masih kesulitan mengendalikan perasaannya setelah pengambilan gambar.

Adegan yang dimaksud adalah adegan pemerkosaan. Taskya menggambarkan momen tersebut sebagai bagian syuting yang terasa sangat berat baginya. Saat menjalani adegan itu, ia merasa sesak dan menangis histeris. Pengalaman tersebut memperlihatkan betapa besar tuntutan emosional yang harus ia hadapi dalam memerankan karakter di film tersebut. Namun, Taskya tidak menambahkan rincian visual maupun kronologi adegan, sehingga pengalamannya dapat dipahami dari dampak yang ia rasakan selama dan setelah proses pengambilan gambar.

Kesulitan mengelola emosi berlanjut setelah adegan selesai direkam. Taskya belum dapat segera kembali tenang, hingga asistennya berusaha menenangkan dirinya. Dukungan tersebut menjadi bagian dari situasi yang ia alami seusai menjalani adegan yang berat. Cerita itu juga menunjukkan bahwa proses syuting adegan emosional dapat membawa dampak bagi pemain bahkan setelah kamera berhenti merekam. Bagi Taskya, adegan dalam Rambut Sewu: Satu Langkah Getih bukan sekadar pekerjaan teknis di lokasi, melainkan pengalaman yang menguras perasaan dan membutuhkan waktu untuk diredakan.

Dalam film Rambut Sewu, Taskya Namya memerankan Marni, perempuan yang harus berjuang demi keluarganya sekaligus menghadapi pengalaman pelecehan. Bagi Taskya, memahami tokoh tersebut bukan sekadar menghafalkan dialog atau mengikuti arahan adegan. Ia berusaha membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi Marni, menjalani keadaan yang berat ketika kebutuhan keluarga dan pengalaman traumatis hadir dalam kehidupannya pada saat yang sama.

Upaya menempatkan diri dalam situasi Marni menjadi bagian penting dari proses Taskya saat membawakan adegan emosional. Ia perlu memahami beban yang dipikul tokohnya tanpa mengabaikan sisi Marni sebagai seseorang yang terus berusaha untuk orang-orang terdekatnya. Perjuangan itu berjalan berdampingan dengan pengalaman pelecehan yang dialami Marni, sehingga perasaan tokoh tersebut tidak dapat digambarkan hanya dengan satu emosi. Ada tekanan dari keadaan, tetapi juga ada upaya untuk bertahan dan tetap menjalankan tanggung jawab terhadap keluarga.

Menurut Taskya, keadaan yang dihadapi Marni memunculkan perasaan campur aduk. Tokoh ini bukan hanya berhadapan dengan kesulitan dalam memperjuangkan keluarganya, tetapi juga mengalami situasi yang membuatnya merasa tidak aman. Perasaan tidak aman tersebut menjadi bagian dari pengalaman Marni dan memengaruhi cara Taskya memahami adegan yang harus dimainkan. Ia berupaya menangkap kerumitan itu melalui ekspresi dan respons Marni, dengan tetap berpijak pada pengalaman tokoh sebagaimana diceritakan dalam film.

Kesulitan menjalani adegan emosional, dengan demikian, berkaitan erat dengan upaya Taskya memahami pergulatan batin Marni. Ia membayangkan posisi seorang perempuan yang tetap berjuang untuk keluarganya, sementara dirinya sendiri menghadapi pengalaman yang menyakitkan dan rasa tidak aman. Perpaduan keadaan tersebut membuat karakter Marni memiliki lapisan emosi yang tidak sederhana. Bagi Taskya, tantangannya adalah menyampaikan perasaan itu secara meyakinkan, tanpa memisahkan perjuangan Marni dari pengalaman pelecehan yang menjadi bagian penting dalam kisahnya.

Di tengah beratnya menjalani adegan emosional dalam film Rambut Sewu, Taskya Namya mengapresiasi kehadiran tim pendamping selama proses syuting. Baginya, dukungan tersebut menjadi bagian penting dari pengalaman bekerja di lokasi, terutama ketika ia harus menghadapi materi adegan yang sensitif. Taskya menyampaikan rasa terima kasih kepada orang-orang yang turut menjaga kenyamanannya selama proses tersebut berlangsung.

Secara khusus, Taskya menyebut tim Runny, yang bertugas sebagai intimacy coordinator, dan berterima kasih karena mereka telah menjaganya selama syuting. Apresiasi ini mencerminkan arti penting dukungan bagi seorang pemain ketika menjalani adegan yang menuntut keterlibatan emosional. Ia tidak hanya mengenang tantangan dalam adegan, tetapi juga mengakui kehadiran pihak yang membantu membuat pengalaman di lokasi terasa lebih nyaman.

Pengalaman itu memperlihatkan bahwa proses pembuatan film melibatkan lebih dari sekadar penampilan di depan kamera. Bagi Taskya, perhatian dari tim pendamping merupakan bagian dari suasana kerja yang ia alami ketika memerankan adegan sensitif. Ucapannya kepada tim Runny menegaskan rasa terima kasihnya atas peran mereka dalam menjaga dirinya sepanjang proses syuting, tanpa mengurangi kenyataan bahwa adegan tersebut tetap terasa berat untuk dijalani.

Dalam membagikan pengalamannya, Taskya juga memberi gambaran tentang pentingnya dukungan di balik layar bagi para pemain. Setiap orang dapat memiliki pengalaman berbeda saat menghadapi adegan emosional, dan kenyamanan selama proses produksi menjadi hal yang patut diperhatikan. Apresiasi yang ia sampaikan kepada tim pendamping menunjukkan bahwa keberadaan mereka berarti baginya. Secara khusus, ia mengenang tim Runny sebagai pihak yang menjaganya selama syuting. Pengakuan tersebut menjadi bagian dari ceritanya tentang tantangan memainkan adegan emosional di Rambut Sewu, sekaligus menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan yang ia rasakan di lokasi.Rambut Sewu: Satu Langkah Getih mengisahkan Wulan dan ibunya, Ratih, yang memulai kehidupan baru di sebuah desa. Kepindahan mereka terjadi setelah Ratih memperoleh pekerjaan di sebuah pabrik. Sebagai bagian dari keadaan baru itu, keduanya menempati sebuah rumah tua yang diberikan oleh pihak pabrik. Rumah tersebut tampak seperti tempat tinggal biasa, tetapi suasananya perlahan menyimpan banyak pertanyaan bagi Wulan, terutama setelah ia menemukan foto penghuni yang pernah tinggal di sana.

Warga setempat kemudian menceritakan bahwa rumah itu dahulu dihuni Marni. Perempuan tersebut mengakhiri hidupnya 22 tahun silam, setelah adiknya, Sundari, meninggal dalam keadaan mengenaskan. Kisah Marni juga dikaitkan dengan ritual sesat, sehingga rumah dan riwayat keluarga itu menjadi bahan pembicaraan yang menimbulkan rasa takut. Pada awalnya, Wulan tidak begitu saja mempercayai cerita warga. Namun, sikap skeptisnya berubah ketika ia mulai mengalami berbagai kejadian aneh di rumah tersebut. Gangguan yang dialaminya semakin terasa nyata dan bahkan mengancam keselamatannya.

Premis ini menggabungkan kisah perpindahan keluarga dengan misteri masa lalu serta teror yang tumbuh di lingkungan baru. Penemuan foto menjadi pintu bagi Wulan untuk mengetahui sejarah rumah, sementara cerita tentang Marni dan Sundari memberi latar yang kelam pada peristiwa-peristiwa yang ia alami. Hubungan Wulan dan Ratih juga menjadi bagian penting dari cerita, karena keduanya harus menghadapi perubahan hidup sekaligus keadaan yang semakin tidak aman. Film ini dibintangi Wavi Jihan Yusuf Mahardika, Nugie, Donny Alamsyah, dan Ruth Marini. Rambut Sewu: Satu Langkah Getih diproduksi oleh Mika Entertainment, yang menghadirkan kisah horor dengan unsur misteri dan drama keluarga. Film tersebut dijadwalkan tayang di bioskop mulai 5 November 2026.