Jakarta | Petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Sektor 1 Kecamatan Matraman, Jakarta Timur, membantu mengeluarkan uang pecahan Rp10 ribu yang tersangkut di dalam setang sepeda. Peristiwa itu bermula ketika tiga anak yang sedang bersepeda mendatangi kantor sektor tersebut pada Kamis, 29 Oktober 2026, sekitar pukul 16.00 WIB. Mereka datang membawa sepeda yang dipinjam, sekaligus meminta bantuan petugas untuk mengatasi masalah yang mereka hadapi.
Menurut petugas bernama Hanafi, anak-anak itu langsung menjelaskan bahwa selembar uang tersangkut di bagian dalam setang. Mereka tidak datang untuk meminta layanan pemadaman, tetapi berharap petugas dapat membantu mengambil uang tersebut tanpa merusak sepeda. Setang yang menjadi tempat uang berada merupakan bagian yang sulit dijangkau dari luar, sehingga mereka memilih mendatangi pos Damkar terdekat.
Kedatangan tiga anak itu menarik perhatian petugas yang sedang bertugas di sektor Matraman. Mereka menyampaikan persoalan dengan sederhana dan menunjukkan sepeda yang mereka bawa. Karena sepeda tersebut merupakan barang pinjaman, mereka membutuhkan penanganan yang cermat agar bagian sepeda tidak mengalami kerusakan. Petugas kemudian menanggapi permintaan itu dan berupaya membantu mengeluarkan uang dari dalam setang.
Kejadian tersebut memperlihatkan bahwa warga dapat mendatangi petugas pemadam kebakaran untuk meminta pertolongan dalam situasi tertentu di luar kebakaran. Dalam hal ini, kebutuhan yang disampaikan cukup spesifik: mengambil uang Rp10 ribu yang terjebak di bagian sepeda. Hanafi menyebut anak-anak itu segera meminta bantuan setelah menjelaskan kendala mereka. Penanganan dilakukan setelah petugas memahami kondisi yang disampaikan, dengan memperhatikan bahwa sepeda tersebut bukan milik mereka sendiri.
Bagi ketiga anak itu, uang yang tersangkut mungkin menjadi persoalan kecil, tetapi kondisi sepeda pinjaman membuat mereka perlu mencari bantuan. Mereka memilih datang langsung ke kantor Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Sektor 1 Kecamatan Matraman, alih-alih mencoba membongkar setang sendiri. Laporan kejadian ini bermula dari kunjungan singkat pada sore hari, saat para petugas menerima permintaan pertolongan dari anak-anak yang sedang bersepeda di wilayah Jakarta Timur.
Petugas pemadam kebakaran yang datang ke lokasi tidak menangani kerusakan pada sepeda. Persoalan yang membuat mereka diminta membantu justru sebuah uang pecahan Rp10 ribu milik salah satu anak. Uang itu masuk ke lubang pada bagian setang dan kemudian tersangkut, sehingga tidak dapat diambil dengan mudah. Benda kecil tersebut menjadi perhatian anak-anak karena mereka tidak tahu cara mengeluarkannya tanpa berisiko membuat uang semakin masuk ke dalam.
Menurut penuturan Hanafi, anak yang memiliki uang itu menjelaskan bahwa uang tersebut masuk secara tidak sengaja ketika ia sedang iseng. Jadi, peristiwa itu bukan akibat tindakan yang direncanakan untuk menyimpan uang di dalam setang, melainkan terjadi saat anak tersebut bermain atau mencoba-coba. Setelah menyadari uangnya tersangkut, ia berusaha mencari jalan untuk mengambilnya, tetapi tidak mengetahui cara yang tepat. Ia kemudian meminta bantuan petugas agar uang tersebut bisa dikeluarkan.
Permintaan pertolongan itu menjadi alasan petugas Damkar Matraman turun tangan. Situasi tersebut berbeda dari kejadian yang biasanya berhubungan dengan kebakaran atau kondisi darurat bangunan, tetapi tetap memerlukan bantuan karena anak itu kesulitan menyelesaikan masalahnya sendiri. Lubang setang yang sempit membuat uang tidak mudah dijangkau, sementara upaya mengambilnya tanpa alat atau cara yang sesuai dapat memperburuk keadaan. Karena itu, petugas membantu menangani benda yang tersangkut tersebut dengan memperhatikan kondisi sepeda dan uangnya.
Keterangan Hanafi menegaskan bahwa pokok kejadian ini adalah uang Rp10 ribu yang terperangkap di setang, bukan sepeda yang mengalami kerusakan. Anak tersebut menyampaikan bahwa uangnya masuk tanpa sengaja saat ia iseng, lalu meminta bantuan setelah tidak berhasil menemukan cara untuk mengambilnya. Peristiwa sederhana ini menunjukkan bahwa laporan kepada petugas dapat muncul dari persoalan sehari-hari yang tidak terduga. Dalam kasus ini, bantuan diminta agar uang milik anak itu dapat dikeluarkan dari lubang setang tanpa membuat masalah bertambah.
Hanafi dan rekan-rekannya memulai penanganan dengan mencari tahu posisi uang di dalam setang sepeda. Mereka menggunakan kamera khusus untuk melihat bagian dalam setang dan memastikan letak uang sebelum mencoba mengeluarkannya. Dari pemeriksaan tersebut, kamera menunjukkan bahwa uang Rp10 ribu itu berada di bagian paling bawah. Informasi ini membantu petugas memahami posisi benda yang tersangkut dan menjadi pertimbangan untuk menentukan langkah selanjutnya. Dengan terlebih dahulu memeriksa kondisi di dalam setang, petugas tidak langsung melakukan tindakan yang berisiko merusak sepeda. Fokus mereka adalah menemukan cara agar uang dapat diambil, sekaligus menjaga sepeda tetap utuh.
Setelah mengetahui posisi uang, petugas mencari cara untuk mengeluarkannya tanpa merusak sepeda. Mereka kemudian menggunakan blower angin dan kabel sling khusus dalam upaya mengambil uang tersebut. Kedua alat itu dipakai sebagai bagian dari penanganan, setelah pemeriksaan kamera memperlihatkan bahwa uang berada di bagian paling bawah setang. Petugas berupaya mengambilnya dengan hati-hati, sambil tetap memperhatikan tujuan utama, yaitu mengeluarkan uang tanpa membuat sepeda rusak. Proses tersebut membutuhkan upaya yang disesuaikan dengan posisi uang di dalam setang. Penanganan dilakukan oleh Hanafi bersama rekan-rekannya, yang bekerja untuk menyelesaikan masalah dengan alat yang telah mereka siapkan.
Selama proses berlangsung, petugas juga memperhatikan keadaan ketiga anak yang berada di lokasi. Mereka mengajak anak-anak itu berbicara agar tetap tenang sementara upaya pengambilan uang dilakukan. Dengan demikian, penanganan tidak hanya berfokus pada uang yang tersangkut dan kondisi sepeda, tetapi juga pada kenyamanan anak-anak yang menunggu. Petugas tetap berkomunikasi dengan mereka sepanjang proses, sambil melanjutkan langkah untuk mengeluarkan uang menggunakan blower angin dan kabel sling khusus. Pendekatan ini membantu menjaga suasana tetap tenang ketika petugas bekerja. Setelah posisi uang diketahui melalui kamera, Hanafi dan rekan-rekannya berusaha menuntaskan penanganan tanpa merusak sepeda, sembari memastikan ketiga anak tetap tenang.
Selama petugas berusaha mengeluarkan uang yang tersangkut di setang sepeda, anak-anak di sekitar lokasi ikut memperhatikan dengan saksama. Mereka menyaksikan setiap langkah yang dilakukan petugas untuk menjangkau lembaran uang tersebut tanpa merusak sepeda. Salah satu anak tampak paling penasaran. Ia beberapa kali mendekati sepeda, lalu mengitarinya untuk melihat dari sisi berbeda bagaimana upaya penyelamatan berlangsung. Perhatian mereka membuat proses sederhana itu menjadi tontonan yang menarik. Anak-anak tetap berada di dekat lokasi, mengikuti gerakan petugas dan menunggu hasilnya. Sementara itu, petugas bekerja dengan hati-hati agar uang Rp10 ribu yang terjepit dapat dikeluarkan dengan aman.
Setelah beberapa saat, uang Rp10 ribu itu akhirnya berhasil dikeluarkan dari setang sepeda. Ketiganya langsung bersorak gembira melihat uang tersebut kembali ke tangan mereka. Ketegangan kecil selama proses berlangsung pun berubah menjadi suasana lega dan penuh tawa. Rekan-rekan petugas turut mencairkan suasana dengan bercanda meminta bagian sebesar Rp2.000 dari uang yang berhasil diselamatkan. Anak-anak tampak malu mendengar candaan itu, tetapi kegembiraan mereka tetap terlihat. Interaksi singkat tersebut menunjukkan suasana akrab petugas dan warga, terutama anak-anak yang sejak awal mengikuti proses dengan penuh rasa ingin tahu. Kejadian itu pun menjadi pengalaman sederhana yang berkesan bagi mereka.
Hanafi menjelaskan bahwa permintaan untuk menangani uang yang tersangkut di setang sepeda tergolong jarang ia jumpai.
Baca juga: Tarif Resmi Rp100 Ribu, Jasa Calo SIM di Tulungagung Disebut Rp800 Ribu






