Jakarta | Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Nasional (BKKBN), Wihaji, mendorong remaja untuk tidak takut ataupun malu bercerita ketika mengalami gangguan kesehatan mental. Pesan tersebut ia sampaikan pada peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia di Jakarta pada Jumat. Menurut Wihaji, menyampaikan kesulitan merupakan langkah penting agar remaja memperoleh dukungan yang dibutuhkan dan tidak menghadapi persoalan sendirian. Karena itu, remaja perlu merasa aman untuk mengungkapkan apa yang dirasakan kepada orang tepercaya, baik keluarga, guru, maupun pendamping yang dapat membantu mencari jalan keluar secara tepat.
Untuk mendukung keterbukaan tersebut, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN memfasilitasi ruang berbagi bagi remaja melalui program Generasi Berencana (GenRe) dan Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK-R). Berbagai wadah itu tersebar di sekolah serta sarana pendidikan, sehingga dapat dijangkau oleh remaja dalam lingkungan sehari-hari. Di sana, mereka dapat memperoleh informasi, berdiskusi, dan berkonsultasi mengenai persoalan yang sedang dihadapi. Kehadiran ruang semacam ini diharapkan membuat remaja lebih mudah mencari pendampingan tanpa merasa dihakimi. Dukungan dari teman sebaya maupun pihak yang memahami kebutuhan remaja juga dapat membantu mereka mengenali masalah dan menentukan langkah yang aman.
Wihaji mengimbau agar masalah yang dirasakan tidak dipendam. Menurutnya, menyimpan beban seorang diri dapat membuat remaja semakin sulit mendapatkan pertolongan, sementara berbicara kepada pihak yang tepat membuka peluang untuk memperoleh perhatian dan bantuan lebih awal. Perhatian khusus juga ia berikan pada risiko perundungan, yang disebutnya banyak terjadi. Pengalaman dirundung dapat menambah tekanan bagi remaja, sehingga penting bagi mereka untuk bercerita dan mendapatkan dukungan. Orang dewasa di sekitar mereka perlu mendengarkan dengan serius serta merespons tanpa menyalahkan. Dengan akses pada ruang konseling dan dukungan yang dapat dipercaya, remaja diharapkan berani mengungkapkan kesulitan dan tidak menghadapi persoalan kesehatan mental sendirian.
Data yang disampaikan Wihaji merujuk pada Indonesia–National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) dan menggambarkan kondisi kesehatan mental remaja di Indonesia. Dalam hasil survei tersebut, 34,9 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Angka ini menjadi salah satu alasan pembahasan mengenai kesehatan mental perlu disampaikan secara terbuka dan sejak dini. Data itu menunjukkan bahwa persoalan tersebut berkaitan dengan kelompok remaja dan patut menjadi perhatian dalam kegiatan yang mengajak mereka berbicara tentang keadaan dirinya. Wihaji menyampaikan angka survei ini sebagai pengingat bahwa kesehatan mental bukan hal yang sebaiknya diabaikan ketika remaja menghadapi masalah. Keterangan tersebut memberi dasar untuk memahami mengapa kegiatan yang dimaksud digelar.
I-NAMHS juga mencatat bahwa satu dari 20 remaja memenuhi kriteria diagnostik gangguan mental dalam setahun terakhir. Jumlah itu diperkirakan sekitar 2,45 juta orang. Angka tersebut menjelaskan bagian lain dari gambaran yang disampaikan Wihaji: ada remaja yang memenuhi kriteria diagnostik gangguan mental dalam periode tersebut. Penyebutan jumlah dan rentang waktu ini menempatkan persoalan kesehatan mental remaja dalam konteks yang lebih jelas, tanpa mengubahnya menjadi gambaran di luar hasil survei. Bersama angka 34,9 persen, data satu dari 20 remaja itu menjadi informasi yang disampaikan untuk menekankan perlunya perhatian pada kesehatan mental sejak dini. Kegiatan tersebut digelar dengan tujuan mengingatkan pentingnya isu ini sekaligus memastikan remaja memiliki akses terhadap dukungan.
Namun, akses terhadap dukungan berhubungan dengan kesediaan remaja untuk menyampaikan masalah yang mereka alami. Dalam data yang disampaikan Wihaji, 57 persen remaja mengaku takut atau malu mengungkapkan masalah kesehatan mental. Angka ini menunjukkan adanya keengganan untuk bercerita, sebagaimana tercatat dalam survei. Karena itu, kegiatan tersebut dimaksudkan untuk mengingatkan pentingnya kesehatan mental sejak dini dan memastikan remaja memiliki akses dukungan. Penyampaian data ini mengaitkan kondisi yang dialami remaja dengan kebutuhan agar dukungan dapat dijangkau, tanpa menambahkan ukuran atau bentuk dukungan tertentu. Pesan yang disampaikan berangkat dari angka survei: persoalan kesehatan mental dialami remaja, sementara sebagian merasa takut atau malu membicarakannya. Mengajak remaja terbuka menjadi bagian dari perhatian terhadap isu tersebut.
Forum ini tidak hanya menjadi tempat remaja menerima informasi tentang kesehatan mental, tetapi juga ruang untuk belajar mendampingi teman sebaya. Melalui GenRe dan PIK-R, peserta didorong membangun kebiasaan saling bercerita, mendengarkan tanpa menghakimi, serta berbagi pengetahuan yang bermanfaat. Wihaji berharap pembelajaran tersebut dapat diteruskan dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika seorang teman sedang menghadapi persoalan. Remaja perlu berani mengajak temannya berbicara dan menunjukkan bahwa mencari dukungan bukan sesuatu yang perlu ditutupi. Dengan komunikasi yang terbuka, teman sebaya dapat menjadi pihak pertama yang menyadari perubahan atau kesulitan yang dialami seseorang, sekaligus membantu mengarahkannya kepada orang dewasa atau layanan yang tepat.
Wihaji juga mengajak para peserta mengampanyekan keterbukaan kepada teman-teman mereka. Masalah, menurut pesan yang disampaikan dalam forum, sebaiknya tidak dipendam sendirian karena berbagi cerita dapat membuka jalan untuk memperoleh dukungan. Ia menyebut pengalamannya mendengar curahan hati peserta, yang menceritakan beragam pengalaman pribadi. Ada peserta yang mengaku pernah melakukan perundungan, sementara yang lain pernah menjadi korban perundungan. Beberapa di antaranya merasa sakit hati atau terluka akibat pengalaman tersebut. Kesediaan mereka untuk berbicara menunjukkan bahwa suasana yang aman dan penuh perhatian dapat membantu remaja membuka diri. Mendengarkan cerita itu dengan empati menjadi bagian penting dari dukungan, bukan kesempatan untuk menyalahkan atau mempermalukan orang yang bercerita.
Karena itu, penguatan kelompok sebaya perlu dilakukan secara berkelanjutan dan menjangkau sekolah-sekolah. Wihaji menyampaikan harapan agar GenRe dan PIK-R terus dihidupkan di semua sekolah melalui kerja sama dengan kementerian terkait. Keberadaan wadah tersebut dapat membantu menyediakan ruang bagi remaja untuk bertukar pengalaman, belajar mengenali persoalan, serta saling mengingatkan tentang pentingnya menjaga kesehatan mental. Program yang aktif juga memberi kesempatan kepada siswa untuk berlatih menyampaikan dukungan secara bijak dan mengetahui kapan perlu melibatkan pihak yang lebih berpengalaman. Dengan keterlibatan sekolah dan kementerian, pesan bahwa remaja tidak harus menghadapi masalah sendirian dapat disebarkan secara lebih luas. Dukungan sebaya yang konsisten diharapkan menumbuhkan lingkungan sekolah yang lebih terbuka, aman, dan peduli terhadap kondisi setiap siswa.
Selain menyediakan ruang bagi remaja untuk berbagi dengan teman sebaya di sekolah, pemerintah juga menyiapkan akses kepada tenaga profesional. Dalam upaya yang disampaikan Wihaji, psikolog dan dokter ahli dihadirkan sebagai bagian dari ikhtiar agar remaja Indonesia dapat memperoleh akses terhadap dukungan kesehatan mental. Kehadiran tenaga ahli itu melengkapi ruang percakapan di lingkungan sekolah: keduanya merupakan bentuk upaya yang disebutkan untuk mendukung keterbukaan remaja ketika menghadapi persoalan terkait kondisi mental. Penyampaian tersebut menegaskan bahwa perhatian tidak hanya diarahkan pada ajakan untuk berbicara, tetapi juga pada ketersediaan akses kepada psikolog dan dokter ahli sebagai bagian dari langkah pemerintah dalam upaya tersebut.
Wihaji menyatakan bahwa psikolog dan dokter ahli disiapkan pemerintah sebagai bagian dari upaya membuka akses bagi remaja Indonesia. Pernyataan ini menempatkan dukungan profesional bersama fasilitas berbagi dengan teman sebaya di sekolah, tanpa menyebutkan rincian tambahan mengenai bentuk layanan. Kedua hal tersebut hadir dalam penjelasan mengenai upaya pemerintah agar remaja memiliki akses terhadap dukungan kesehatan mental. Dengan demikian, pesan yang disampaikan mencakup dorongan untuk terbuka di teman sebaya sekaligus penyediaan akses kepada tenaga ahli.
Baca juga: Tingkatkan Literasi Kesehatan, Koramil Trucuk Bojonegoro dan Puskesmas Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis | Sambut HUT TNI ke-81, Kodim 1710/Mimika Gelar Bakti Kesehatan | Panglima TNI Pantau Bakti Kesehatan TNI Serentak Diseluruh Indonesia





