Jakarta | PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA mendukung Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat pemulihan infrastruktur dasar melalui pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) pascabencana Paket 2 di Sumatera Utara. Proyek ini diarahkan untuk mengembalikan layanan air minum yang terdampak sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar tersebut. Pelaksanaannya mencakup tiga kabupaten, yaitu Langkat, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Selatan.
Pekerjaan tersebut merespons dampak banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir November 2025. Bencana itu merusak berbagai infrastruktur, termasuk sarana penyediaan air minum yang digunakan masyarakat. Kerusakan pada jaringan dan fasilitas SPAM dapat mengganggu pasokan serta menyulitkan warga memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari. Karena itu, pemulihan sistem menjadi bagian penting dari upaya penanganan dampak bencana dan pemulihan layanan publik di daerah terdampak.
Melalui Paket 2, rehabilitasi dan rekonstruksi dilaksanakan pada infrastruktur air minum di lokasi-lokasi sasaran di ketiga kabupaten. Lingkup wilayah yang tersebar ini mencerminkan kebutuhan untuk menangani dampak bencana sesuai kondisi masing-masing daerah, dengan tujuan menjaga agar layanan dapat kembali berfungsi bagi warga. Dukungan WIKA kepada Kementerian PU menempatkan pemulihan sarana dasar sebagai fokus pekerjaan, terutama pada fasilitas dan jaringan yang menjadi bagian dari sistem penyediaan air minum masyarakat.
Sasaran layanan proyek ini adalah memulihkan atau meningkatkan akses air minum bagi 995 sambungan rumah (SR). Jumlah tersebut menjadi ukuran jangkauan manfaat yang dituju dari pekerjaan di Langkat, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Selatan. Dengan pulihnya layanan pada sambungan rumah, masyarakat diharapkan dapat kembali mengakses air minum secara lebih memadai. Pekerjaan ini juga mendukung keberlanjutan layanan setelah bencana, sehingga pemulihan tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik, tetapi turut memperhatikan fungsi infrastruktur bagi warga. Pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi SPAM Paket 2 menjadi salah satu langkah untuk membantu daerah terdampak kembali memenuhi kebutuhan air minum masyarakat secara bertahap.Dalam pekerjaan pemulihan sistem air minum pascabencana di Sumatera Utara, WIKA menangani sejumlah komponen yang saling terhubung, mulai dari sumber air hingga penyaluran ke rumah warga. Lingkupnya mencakup pembangunan sumur bor, reservoir, jaringan pipa transmisi dan distribusi sepanjang sekitar 41 kilometer, serta pemasangan sambungan rumah. Susunan pekerjaan ini dirancang untuk mendukung aliran air dari sumber dan fasilitas pengolahan menuju jaringan layanan di wilayah terdampak.
Sumur bor menjadi bagian dari penyediaan sumber air baku, sedangkan reservoir berfungsi sebagai tempat penampungan dalam rangkaian sistem. Keberadaan reservoir juga mendukung pengaturan penyaluran air sebelum dialirkan lebih jauh melalui jaringan. Pembangunan dan penataan setiap komponen perlu terhubung dengan kebutuhan sistem secara keseluruhan, sehingga alur dari sumber air, pengolahan, penampungan, hingga distribusi dapat direncanakan sebagai satu kesatuan.
Jaringan pipa sepanjang kurang lebih 41 kilometer mencakup pipa transmisi dan distribusi. Secara umum, pipa transmisi mengalirkan air dari sumber atau fasilitas pengolahan menuju titik penyaluran, sementara jaringan distribusi meneruskannya ke area layanan. Pekerjaan juga meliputi pemasangan sambungan rumah agar jaringan dapat menjangkau pelanggan di tingkat rumah tangga. Rincian tersebut menunjukkan bahwa lingkup proyek tidak hanya berfokus pada fasilitas utama, tetapi juga mencakup jalur penyaluran menuju pengguna.
Selain itu, WIKA membangun dua instalasi pengolahan air (IPA), masing-masing dengan kapasitas 50 liter per detik. Jika digabungkan, kapasitas pengolahan yang direncanakan mencapai 100 liter per detik. Fasilitas IPA, sumur bor, reservoir, pipa, dan sambungan rumah diharapkan mendukung ketersediaan air minum yang lebih andal dan berkelanjutan di wilayah terdampak. Harapan tersebut berkaitan dengan fungsi dan cakupan infrastruktur yang dibangun, tanpa mengasumsikan hasil operasional yang belum dilaporkan.
Pekerjaan pemulihan sistem air minum di Sumatera Utara dimulai pada Januari 2026, setelah kerusakan akibat bencana mengganggu sejumlah fasilitas dan jaringan layanan. Sejak tahap awal, pelaksanaan diarahkan untuk memulihkan infrastruktur secara terukur, mulai dari penanganan komponen yang terdampak hingga pemeriksaan kesiapan setiap bagian sistem. Proyek ini ditargetkan rampung dalam waktu satu tahun sejak pekerjaan dimulai. Namun, target tersebut merupakan jadwal pelaksanaan, bukan penanda bahwa seluruh fasilitas sudah selesai atau layanan telah pulih sepenuhnya. Setiap tahapan tetap bergantung pada kondisi lapangan, penyelesaian pekerjaan teknis, serta hasil pemeriksaan yang dilakukan sebelum fasilitas dapat digunakan.
Memasuki pertengahan Oktober 2026, perkembangan pekerjaan menunjukkan bahwa sejumlah fasilitas telah memasuki tahap pra-komisioning dan uji alir. Pra-komisioning dilakukan untuk memeriksa kesiapan peralatan, sambungan, dan unsur pendukung sebelum sistem diuji lebih lanjut. Sementara itu, uji alir membantu menilai apakah air dapat melewati jaringan dan fasilitas sesuai kebutuhan teknis, sekaligus mengidentifikasi hal-hal yang masih memerlukan penyesuaian. Tahap ini penting untuk memastikan sistem tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga dapat berfungsi dengan aman dan andal ketika kelak dioperasikan. Hasil pengujian menjadi dasar bagi tindak lanjut teknis bersama para pihak terkait.
Pemulihan layanan air minum karena itu berlangsung secara bertahap, sejalan dengan kesiapan masing-masing fasilitas dan hasil pengujian. Fasilitas yang telah memasuki pra-komisioning atau uji alir belum otomatis berarti seluruh jaringan di wilayah terdampak sudah siap beroperasi. Pemeriksaan, evaluasi hasil uji, dan penyelesaian pekerjaan lanjutan masih diperlukan sebelum pengoperasian dapat dilakukan pada bagian sistem terkait. Koordinasi dengan pihak-pihak yang terlibat juga menjadi bagian dari proses untuk memastikan langkah berikutnya sesuai kondisi lapangan dan standar teknis. Dengan pendekatan tersebut, kemajuan proyek dapat dinilai melalui tahapan yang telah dilalui, tanpa menganggap target penyelesaian telah tercapai. Hingga pertengahan Oktober 2026, pekerjaan masih berlanjut menuju pemulihan yang aman dan berkelanjutan.
Pelaksanaan pemulihan sistem air minum di Sumatera Utara didukung pengerahan sekitar 127 personel dan tujuh unit alat berat. Sumber daya tersebut digunakan untuk menunjang pekerjaan di lapangan dan membantu menjaga agar tahapan pemulihan berjalan sesuai kebutuhan. WIKA juga melibatkan tenaga kerja lokal dalam pelaksanaan proyek. Keterlibatan ini menjadi bagian dari upaya perusahaan memanfaatkan kapasitas yang tersedia di wilayah sekitar pekerjaan.
Selain tenaga kerja setempat, pelaksanaan proyek menggunakan material dan sumber daya lokal yang memenuhi persyaratan teknis. Pemilihan material tetap memperhatikan ketentuan yang diperlukan untuk mendukung kualitas konstruksi. Dengan demikian, pemanfaatan sumber daya lokal dilakukan sejalan dengan kebutuhan teknis pekerjaan, bukan dengan mengesampingkan standar yang harus dipenuhi. Dukungan personel, alat berat, dan material tersebut diarahkan untuk membantu pengerjaan infrastruktur air minum pascabencana.
Kelancaran pekerjaan juga ditopang koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU), pemerintah daerah, PDAM, serta pemangku kepentingan lain. Koordinasi tersebut mendukung penyelarasan pelaksanaan di lapangan dan membantu memastikan kebutuhan terkait infrastruktur dapat diperhatikan. Kerja bersama para pihak juga diperlukan agar infrastruktur yang dipulihkan memiliki kesiapan untuk dioperasikan. Kesiapan itu menjadi bagian penting dari upaya mengembalikan pelayanan air minum bagi masyarakat terdampak, setelah tahapan pekerjaan konstruksi yang dibutuhkan terlaksana.
Corporate Secretary WIKA, Ngatemin, menyampaikan pada Sabtu, 17 Oktober 2026, bahwa proyek tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung pemulihan pelayanan dasar pascabencana. Ia menjelaskan bahwa WIKA mengoptimalkan pelaksanaan pekerjaan dengan memperhatikan kualitas konstruksi, keselamatan, serta koordinasi dengan pihak terkait. Pendekatan itu menjadi perhatian dalam pengerahan sumber daya dan pelaksanaan pekerjaan, sekaligus mendukung upaya agar infrastruktur dapat siap ketika dioperasikan.
Baca juga: Panglima TNI Dampingi Presiden Prabowo Tinjau Penanganan Karhutla di Riau dan Sumatera Selatan






