KENDARI, SULAWESI TENGGARA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Sulawesi Tenggara terus menunjukkan pertumbuhan hingga Agustus 2026. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sulawesi Tenggara mencatat jumlah pengguna layanan pembayaran digital tersebut telah mencapai 373.622 orang. Angka ini mencerminkan semakin luasnya penerimaan masyarakat terhadap transaksi nontunai dalam berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari pembelian kebutuhan sehari-hari hingga pembayaran pada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
Keterangan mengenai perkembangan tersebut disampaikan Kepala KPw BI Sultra Edwin Permadi di Kendari pada Senin. Ia menyampaikan bahwa jumlah pengguna QRIS pada Agustus 2026 meningkat 29,59 persen secara tahunan dibandingkan jumlah pengguna pada periode yang sama pada Agustus 2025. Pertumbuhan itu menjadi salah satu indikator meningkatnya minat masyarakat untuk memanfaatkan sistem pembayaran yang praktis, cepat, dan dapat digunakan melalui beragam aplikasi penyedia jasa pembayaran.
Peningkatan jumlah pengguna juga memperlihatkan berlanjutnya proses digitalisasi transaksi di wilayah Sulawesi Tenggara. QRIS memungkinkan konsumen melakukan pembayaran dengan memindai satu kode yang diterima oleh berbagai layanan perbankan maupun dompet digital. Bagi pedagang, penggunaan sistem tersebut dapat membantu memperluas pilihan pembayaran, mengurangi ketergantungan pada uang tunai, serta mendukung pencatatan transaksi secara lebih teratur.
Capaian 373.622 pengguna hingga Agustus 2026 menegaskan bahwa adopsi pembayaran digital di Sultra tidak hanya berlangsung di pusat-pusat ekonomi, tetapi juga berpotensi menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat dan daerah. Bank Indonesia bersama pemangku kepentingan terkait terus mendorong pemanfaatan QRIS secara aman dan bertanggung jawab, sekaligus meningkatkan pemahaman pengguna mengenai perlindungan data serta kewaspadaan terhadap potensi penipuan dalam transaksi digital.
Peningkatan jumlah pengguna QRIS di Sulawesi Tenggara mencerminkan semakin luasnya penerimaan terhadap metode pembayaran digital di tengah masyarakat. Hingga Agustus 2026, jumlah pengguna telah mencapai 373.622. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa QRIS semakin dikenal dan diterima sebagai salah satu sarana transaksi, baik oleh masyarakat sebagai pengguna maupun oleh pelaku usaha yang menyediakan pilihan pembayaran tersebut.
Edwin berpandangan bahwa akseptasi QRIS di Sulawesi Tenggara terus berkembang. Perkembangan itu terlihat dari sisi pengguna dan merchant yang sama-sama menunjukkan penerimaan lebih luas terhadap pembayaran digital. Dengan bertambahnya jumlah pengguna serta semakin banyaknya pelaku usaha yang menerima QRIS, metode ini semakin hadir dalam berbagai aktivitas transaksi masyarakat dan dunia usaha.
Menurut Edwin, meluasnya akseptasi tersebut menandai bahwa QRIS semakin menjadi bagian dari aktivitas pembayaran sehari-hari. Masyarakat tidak hanya semakin banyak yang menggunakan QRIS, tetapi pelaku usaha juga semakin menerima metode pembayaran tersebut dalam kegiatan transaksinya. Kondisi ini memperlihatkan adanya perkembangan penerimaan secara berkelanjutan di Sulawesi Tenggara.
Perkembangan dari kedua sisi tersebut, yakni pengguna dan merchant, menjadi gambaran bahwa pembayaran digital semakin mendapatkan tempat dalam aktivitas ekonomi daerah. QRIS digunakan dalam hubungan transaksi konsumen dan pelaku usaha, sehingga penerimaannya tidak terbatas pada satu kelompok saja. Pertumbuhan jumlah pengguna hingga Agustus 2026 sekaligus memperkuat gambaran mengenai semakin luasnya penggunaan QRIS di Sulawesi Tenggara.
Pandangan Edwin menegaskan bahwa peningkatan pengguna berjalan seiring dengan berkembangnya penerimaan merchant. Keduanya menunjukkan bahwa QRIS semakin menjadi bagian dari aktivitas transaksi masyarakat dan dunia usaha. Dengan demikian, akseptasi QRIS terus meluas, baik dari sisi masyarakat yang menggunakan maupun pelaku usaha yang menerima pembayaran digital tersebut dalam kegiatan transaksi mereka.
Perkembangan penggunaan QRIS di Sulawesi Tenggara juga tercermin dari bertambahnya jumlah pelaku usaha yang menyediakan layanan pembayaran tersebut. Hingga Agustus 2026, tercatat sebanyak 286.786 merchant telah menggunakan QRIS. Jumlah ini menunjukkan bahwa adopsi pembayaran digital tidak hanya berlangsung pada usaha berskala besar, tetapi juga merambah berbagai usaha mikro, kecil, dan menengah.
Secara tahunan, jumlah merchant QRIS tersebut tumbuh sebesar 32,02 persen. Pertumbuhan ini menjadi indikator meningkatnya kebutuhan pelaku usaha terhadap sistem pembayaran yang praktis, cepat, dan dapat menjangkau konsumen dari berbagai kelompok. Merchant pengguna QRIS juga telah tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara, sehingga layanan pembayaran nontunai semakin mudah ditemukan oleh masyarakat, baik di pusat perdagangan maupun kawasan dengan aktivitas ekonomi yang lebih terbatas.
Perluasan jumlah merchant turut mendorong peningkatan aktivitas transaksi. Pada Agustus 2026, nilai transaksi melalui QRIS di Sulawesi Tenggara mencapai Rp617,12 miliar. Nilai tersebut berasal dari 6,48 juta transaksi dalam satu bulan. Data ini memperlihatkan bahwa QRIS telah menjadi salah satu sarana pembayaran yang semakin penting dalam mendukung kegiatan jual beli sehari-hari, termasuk pada sektor perdagangan, kuliner, transportasi, jasa, dan berbagai layanan lainnya.
Edwin menyampaikan bahwa tren positif tersebut diperkirakan akan berlanjut seiring dengan semakin meluasnya penggunaan pembayaran nontunai di berbagai sektor usaha. Pertumbuhan merchant dan volume transaksi dinilai dapat terus meningkat apabila pelaku usaha semakin memahami manfaat pembayaran digital, sementara masyarakat semakin terbiasa memilih transaksi yang efisien dan aman. Perluasan ekosistem ini juga berpotensi memperkuat inklusi keuangan di daerah, karena merchant dapat menerima pembayaran tanpa harus menyediakan uang kembalian atau perangkat transaksi khusus. Dengan dukungan edukasi, infrastruktur jaringan, dan kolaborasi regulator, perbankan, penyedia layanan, serta pelaku usaha, pemanfaatan QRIS di seluruh Sulawesi Tenggara memiliki ruang pertumbuhan yang masih luas.
Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tenggara memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperluas ekosistem pembayaran digital hingga ke pelosok daerah. Langkah ini dilakukan agar pemanfaatan QRIS tidak hanya terkonsentrasi di pusat kota, tetapi juga menjangkau masyarakat, pelaku usaha, dan layanan publik di wilayah kabupaten maupun kawasan yang memiliki akses terbatas terhadap transaksi non tunai.
Dalam pelaksanaannya, BI Sultra bekerja sama dengan pemerintah daerah dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) untuk mendorong penerapan transaksi digital dalam ekosistem pemerintahan. Sinergi tersebut mencakup penguatan elektronifikasi transaksi pemerintah daerah, perluasan kanal pembayaran, serta peningkatan pemahaman aparatur dan masyarakat mengenai manfaat pembayaran digital. Perbankan turut dilibatkan untuk menyediakan dukungan infrastruktur, layanan, dan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan setiap daerah.
Kolaborasi juga diarahkan kepada pelaku usaha, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah, serta komunitas strategis yang berperan dalam membentuk kebiasaan transaksi masyarakat. Melalui pendekatan yang lebih dekat, pelaku usaha memperoleh informasi mengenai pendaftaran, penggunaan, dan keamanan QRIS. Pendampingan teknis serta capacity building diberikan untuk membantu mereka mengelola transaksi, mencatat pembayaran, meningkatkan kepercayaan konsumen, dan mengoptimalkan kanal digital dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Untuk mempercepat adaptasi digital warga, BI Sultra menjalankan sejumlah program edukasi dan perluasan penggunaan QRIS. Pekan QRIS Nasional dimanfaatkan sebagai momentum sosialisasi dan aktivasi transaksi digital di berbagai lapisan masyarakat. Sementara itu, QRIS Jelajah Kuliner Sultra menghadirkan pembayaran digital lebih dekat dengan pelaku usaha kuliner dan konsumen, sekaligus memperkenalkan penggunaan QRIS dalam aktivitas ekonomi lokal.
Penguatan ekosistem tersebut terus dilakukan melalui koordinasi bersama pemerintah daerah, TP2DD, perbankan, pelaku usaha, dan komunitas strategis. BI Sultra juga melanjutkan pendampingan teknis dan capacity building di daerah agar adopsi pembayaran digital berlangsung secara bertahap, aman, dan sesuai kebutuhan masyarakat setempat.







