JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Sebuah studi terbaru menemukan bahwa kendaraan listrik (EV) dengan jarak tempuh sekitar 90.000 hingga 120.000 mil memiliki tingkat kelulusan inspeksi kendaraan bermotor atau MOT yang lebih tinggi dibandingkan mobil berbahan bakar bensin dengan usia penggunaan yang sama. Temuan ini menyoroti performa kendaraan pada fase pemakaian yang selama ini sering dikaitkan dengan meningkatnya risiko kerusakan dan biaya perawatan.
Data tersebut menjadi perhatian karena jarak tempuh tinggi masih kerap dipandang sebagai tanda bahwa sebuah mobil bekas mendekati masa bermasalah. Dalam proses memilih kendaraan, calon pembeli biasanya menghubungkan angka pada odometer dengan kemungkinan keausan komponen utama, kebutuhan perbaikan yang lebih sering, serta biaya kepemilikan yang lebih besar. Namun, hasil uji ini menunjukkan bahwa angka jarak tempuh tidak selalu menggambarkan kondisi kendaraan secara menyeluruh.
Pada kendaraan listrik, sistem penggerak memiliki lebih sedikit komponen bergerak dibandingkan mesin pembakaran internal. Perbedaan konstruksi tersebut dapat mengurangi sejumlah sumber keausan mekanis, meskipun kondisi baterai, sistem kelistrikan, suspensi, rem, dan komponen lain tetap perlu diperiksa secara khusus. Kelulusan MOT memberikan gambaran mengenai kelayakan kendaraan saat diuji, tetapi bukan jaminan bahwa setiap bagian berada dalam kondisi optimal atau bebas dari kebutuhan penggantian.
Temuan studi ini karena itu relevan bagi pasar mobil bekas, terutama bagi konsumen yang mempertimbangkan EV dengan riwayat penggunaan panjang. Kendaraan dengan jarak tempuh 90.000 hingga 120.000 mil tidak semestinya langsung dikesampingkan hanya berdasarkan angka odometer. Pemeriksaan independen, catatan servis, riwayat pengisian dan perawatan baterai, serta hasil inspeksi terbaru tetap menjadi dasar penting sebelum pembelian. Studi tersebut juga tidak berarti semua mobil listrik lebih tahan lama daripada mobil bensin, karena keandalan setiap unit dipengaruhi oleh model, usia, pola penggunaan, kualitas perawatan, dan kondisi lingkungan.
Penelitian ini membandingkan keandalan kendaraan listrik (EV) dan mobil bermesin bensin berdasarkan 47,4 juta hasil pemeriksaan MOT. Pemeriksaan MOT merupakan uji kelayakan berkala yang menilai berbagai aspek penting kendaraan, termasuk sistem pengereman, lampu, kemudi, suspensi, ban, struktur bodi, serta emisi. Dengan jumlah data yang sangat besar, analisis tersebut memberikan gambaran berbasis populasi mengenai kemungkinan kendaraan gagal uji pada berbagai tingkat jarak tempuh.
Hasilnya menunjukkan bahwa perbedaan keandalan menjadi paling jelas ketika kendaraan telah digunakan cukup jauh. Pada jarak tempuh 90.000 dan 120.000 mil, tingkat kegagalan kendaraan listrik tercatat sebesar 16,5 persen. Sebagai pembanding, mobil bensin pada rentang penggunaan yang sama mencatat tingkat kegagalan 22,1 persen. Dengan demikian, risiko EV gagal dalam pemeriksaan sekitar 25 persen lebih rendah dibandingkan mobil bensin dengan usia yang sama.
Keunggulan tersebut tetap terlihat setelah kendaraan melampaui 120.000 mil. Tingkat kegagalan kendaraan listrik berada pada angka 16 persen, sedangkan mobil bensin mencapai 23,5 persen. Selisih ini menunjukkan bahwa kendaraan listrik tidak serta-merta menjadi kurang dapat diandalkan ketika jarak tempuh meningkat. Lebih sedikit komponen bergerak pada sistem penggerak listrik dapat membantu mengurangi kebutuhan perawatan mekanis tertentu, meskipun kondisi baterai dan komponen lain tetap perlu diperhatikan.
Namun, data tersebut tidak berarti EV selalu lebih unggul pada setiap tahap penggunaan. Pada jarak tempuh yang lebih rendah, perbedaan tingkat kegagalan kendaraan listrik dan mobil bensin cenderung dapat diabaikan. Artinya, manfaat keandalan berdasarkan jarak tempuh baru tampak lebih kuat setelah kendaraan mencapai sekitar 90.000 mil. Angka-angka ini juga menggambarkan kecenderungan pada kelompok kendaraan yang dianalisis, bukan jaminan bahwa setiap unit bekas akan memiliki kondisi yang sama. Riwayat servis, pola penggunaan, usia kendaraan, dan kualitas perawatan tetap menjadi faktor penting saat menilai mobil bekas.
Penelitian mengenai keandalan mobil listrik bekas ini dilakukan oleh perusahaan konsultan New Automotive atas permintaan British Vehicle Rental and Leasing Association (BVRLA). Kajian tersebut hadir ketika pembelian dan penjualan kendaraan listrik bekas terus mendapatkan perhatian yang lebih besar. Perkembangan pasar ini membuat kondisi kendaraan setelah melewati masa penggunaan awal menjadi aspek penting bagi calon pembeli, penjual, serta pihak yang terlibat dalam pengelolaan kendaraan.
Pertumbuhan transaksi kendaraan listrik bekas juga mendorong kebutuhan akan pemahaman yang lebih jelas mengenai hubungan usia penggunaan, jarak tempuh, dan keandalan kendaraan. Bagi pasar yang sedang berkembang, informasi semacam itu dapat membantu memberikan gambaran yang lebih objektif tentang unit yang ditawarkan. Studi New Automotive, yang ditugaskan oleh BVRLA, menempatkan persoalan tersebut sebagai bagian dari pembahasan mengenai performa mobil listrik bekas pada jarak tempuh yang berbeda.
Banyak unit yang beredar di pasar kendaraan listrik bekas sebelumnya digunakan sebagai kendaraan armada perusahaan atau kendaraan sewaan. Pola penggunaan tersebut berarti sebagian kendaraan telah mencatat jarak tempuh yang signifikan sebelum ditawarkan kepada pemilik berikutnya. Kondisi ini menjadi latar penting bagi penelitian, karena jarak tempuh tinggi tidak hanya menggambarkan lamanya kendaraan digunakan, tetapi juga menjadi dasar untuk menilai bagaimana kendaraan listrik bertahan setelah menempuh perjalanan yang lebih panjang.
Dengan latar tersebut, studi ini tidak semata-mata melihat kendaraan listrik bekas sebagai unit yang telah berpindah kepemilikan. Penelitian ini juga memperhatikan karakter kendaraan yang sebelumnya berada dalam penggunaan armada atau sewaan, termasuk fakta bahwa sebagian unit telah menempuh jarak yang cukup besar. Temuan yang dihasilkan diharapkan dapat memperkaya pembahasan mengenai keandalan mobil listrik bekas dan membantu menjelaskan mengapa jarak tempuh perlu dipertimbangkan secara lebih cermat ketika menilai kendaraan di pasar tersebut.
Jarak tempuh tetap menjadi salah satu pertimbangan utama ketika calon pembeli menilai mobil bekas. Toby Poston, CEO BVRLA, menekankan pentingnya angka tersebut dalam proses pengambilan keputusan. Menurutnya, jarak tempuh bukan sekadar informasi administratif pada odometer, melainkan bagian penting dari gambaran mengenai riwayat penggunaan sebuah kendaraan. Karena itu, angka yang tercantum pada odometer sering kali menjadi salah satu faktor pertama yang diperhatikan calon pembeli saat membandingkan berbagai pilihan mobil bekas.
Perhatian terhadap jarak tempuh juga memengaruhi cara pasar memandang kondisi kendaraan. Mobil dengan angka odometer yang rendah umumnya lebih mudah dipersepsikan sebagai kendaraan yang belum banyak digunakan. Sebaliknya, angka yang semakin tinggi dapat menimbulkan pertanyaan mengenai tingkat pemakaian dan kondisi keseluruhan mobil, terlepas dari jenis sistem penggeraknya. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa persepsi pembeli masih sangat dipengaruhi oleh jarak yang telah ditempuh sebuah kendaraan.
Pernyataan Poston menyoroti bahwa mobil dengan jarak lebih dari 60.000 atau 70.000 mil dapat mengalami perubahan persepsi yang signifikan di mata calon pembeli. Ambang angka itu menjadi penting karena dapat memengaruhi penilaian awal terhadap sebuah mobil bekas, termasuk ketika kendaraan tersebut berasal dari kategori yang berdasarkan studi menunjukkan keandalan lebih baik pada jarak tempuh tinggi. Dengan demikian, jarak tempuh tetap memiliki posisi penting dalam keputusan pembelian mobil bekas, sebagaimana disampaikan Toby Poston, meskipun angka tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari informasi yang membentuk pandangan calon pembeli terhadap kondisi kendaraan.





