JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, PT Yili Indonesia Dairy memperkuat dukungannya terhadap pengembangan sumber daya manusia dan usaha mikro dan kecil (UMK) pangan di Indonesia. Dukungan tersebut diwujudkan melalui kolaborasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI serta sejumlah perguruan tinggi dalam pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata Tematik Keamanan Pangan (KKNT KP).
Program ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan pelaku usaha pangan di daerah. Melalui pendekatan kolaboratif, Yili Indonesia, BPOM RI, dan perguruan tinggi mendorong penguatan pengetahuan serta kemampuan yang relevan dengan keamanan pangan. Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung pelaku UMK dalam mengembangkan kegiatan usahanya secara lebih baik dan bertanggung jawab.
Kolaborasi ini juga menempatkan pengembangan sumber daya manusia sebagai salah satu unsur penting dalam penguatan ekosistem pangan. Perguruan tinggi berperan melalui pelaksanaan kegiatan KKN Tematik, sementara BPOM RI memberikan dukungan sesuai dengan kapasitasnya dalam bidang pengawasan dan keamanan pangan. Yili Indonesia turut mendukung proses tersebut sebagai bagian dari komitmen perusahaan terhadap kemajuan UMK pangan.
Pelaksanaan KKNT KP mencerminkan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam menjawab kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha pangan. Sinergi sektor swasta, lembaga pemerintah, dan institusi pendidikan membuka ruang bagi peningkatan kapasitas yang lebih terarah. Dengan demikian, program ini tidak hanya berfokus pada pengetahuan mengenai keamanan pangan, tetapi juga pada penguatan kemampuan masyarakat dan UMK agar dapat berkontribusi dalam membangun usaha pangan yang lebih berkualitas.
Keterlibatan Yili Indonesia dalam program KKNT KP berangkat dari pandangan bahwa penguatan sektor pangan nasional tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan di pusat-pusat ekonomi utama. Kemajuan yang berkelanjutan perlu ditopang oleh kapasitas masyarakat, institusi pendidikan, serta pelaku usaha di berbagai daerah. Ketiga unsur tersebut memiliki peran penting dalam membangun ekosistem pangan yang aman, produktif, dan mampu beradaptasi terhadap kebutuhan masyarakat.
Bagi Yili Indonesia, peningkatan kapasitas masyarakat merupakan bagian penting dari upaya memperkuat fondasi pembangunan. Pelaku usaha mikro dan kecil di sektor pangan, misalnya, tidak hanya membutuhkan akses terhadap pasar, tetapi juga pemahaman mengenai keamanan pangan, pengelolaan usaha, serta penerapan proses produksi yang konsisten. Pengetahuan tersebut dapat membantu mereka meningkatkan daya saing sekaligus menjaga kepercayaan konsumen terhadap produk lokal.
Kolaborasi dengan institusi pendidikan melalui KKNT KP juga mencerminkan pentingnya pertukaran pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan daerah. Mahasiswa dan akademisi dapat berkontribusi melalui pendampingan, pemetaan persoalan, serta pengembangan solusi yang lebih kontekstual. Pada saat yang sama, pengalaman di lapangan memberikan pembelajaran mengenai tantangan nyata yang dihadapi masyarakat dan pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan pangan secara berkelanjutan.
Keterlibatan ini diposisikan sebagai bagian dari komitmen Yili Indonesia untuk berkontribusi pada pembangunan yang inklusif dan merata. Perusahaan memberi perhatian pada pengembangan wilayah di luar Jawa karena potensi ekonomi dan sumber daya manusianya perlu memperoleh dukungan yang sepadan. Dengan memperluas kolaborasi dan memperkuat kapasitas lokal, pertumbuhan dapat dirasakan oleh lebih banyak kelompok masyarakat, bukan hanya terkonsentrasi di kawasan yang telah berkembang. Pendekatan tersebut juga sejalan dengan upaya membangun ketahanan pangan yang melibatkan banyak pihak dan menjangkau lebih banyak daerah.
Presiden Direktur PT Yili Indonesia Dairy, Yu Miao, menekankan pentingnya membangun kemajuan Indonesia secara bersama dan merata. Menurutnya, kemajuan tidak hanya perlu dilihat dari pertumbuhan di pusat-pusat ekonomi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat di berbagai daerah untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, serta kesempatan mengembangkan usaha. Perspektif tersebut menjadi dasar bagi Yili dalam memperkuat kolaborasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta perguruan tinggi.
Dalam pandangan Yu Miao, perguruan tinggi memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar lembaga pendidikan. Perguruan tinggi merupakan pusat pengetahuan sekaligus tempat pengembangan sumber daya manusia di daerah. Melalui pengetahuan, pendampingan, dan penguatan kapasitas, perguruan tinggi dapat membantu masyarakat, termasuk pelaku usaha mikro dan kecil (UMK), memahami serta menerapkan praktik keamanan pangan dalam kegiatan produksi mereka.
UMK juga dipandang sebagai salah satu penggerak penting ekonomi masyarakat. Keberadaan UMK mendukung aktivitas ekonomi di tingkat lokal dan memberikan peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan penghidupan melalui usaha yang dijalankan. Karena itu, penguatan kapasitas UMK pangan perlu dilakukan melalui kerja sama yang melibatkan berbagai pihak, dengan kebutuhan daerah sebagai perhatian utama.
Yu Miao menyampaikan, “Untuk membangun Indonesia yang maju, kita harus melakukannya bersama-sama dan secara merata. Perguruan tinggi adalah pusat pengetahuan dan pengembangan sumber daya manusia di daerah, sementara UMK merupakan salah satu penggerak penting ekonomi masyarakat. Bersama BPOM dan perguruan tinggi, Yili berkontribusi untuk menciptakan dampak yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di daerah.” Pernyataan tersebut menegaskan arah kolaborasi Yili, BPOM, dan perguruan tinggi dalam menghadirkan manfaat yang dekat dengan kebutuhan masyarakat setempat, khususnya melalui peningkatan pemahaman dan kemampuan pelaku UMK di bidang keamanan pangan.
Program KKNT Keamanan Pangan (KKNT KP) merupakan inisiatif Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang menempatkan mahasiswa sebagai bagian dari upaya penguatan keamanan pangan di masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya menjalankan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga berperan sebagai fasilitator keamanan pangan dan kader keamanan pangan. Peran tersebut membuat mahasiswa menjadi penghubung pengetahuan teknis mengenai keamanan pangan, masyarakat, serta pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) yang bergerak di bidang pangan olahan.
Sebelum ditempatkan di desa, mahasiswa memperoleh pembekalan teknis mengenai keamanan pangan. Pembekalan ini menjadi tahap penting agar mereka memiliki pemahaman yang memadai mengenai prinsip-prinsip keamanan pangan serta mampu menyampaikan informasi secara tepat kepada sasaran program. Dengan bekal tersebut, mahasiswa diharapkan dapat menjalankan tugas fasilitasi secara terarah, sesuai dengan materi dan pendekatan yang digunakan dalam program BPOM.
Setelah berada di desa, mahasiswa menjalankan edukasi dan pendampingan bagi masyarakat. Kegiatan edukasi ditujukan untuk meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya penerapan keamanan pangan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan pengolahan pangan. Selain masyarakat secara umum, mahasiswa juga mendampingi UMK pangan olahan agar pelaku usaha memperoleh informasi yang relevan dengan aktivitas usahanya. Pendampingan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membantu menjelaskan aspek keamanan pangan secara lebih dekat dengan kebutuhan pelaku usaha dan lingkungan setempat.
Dengan mekanisme tersebut, KKNT KP menggabungkan pembekalan teknis, penempatan mahasiswa, edukasi, dan pendampingan dalam satu rangkaian kegiatan. Keterlibatan mahasiswa sebagai fasilitator dan kader keamanan pangan mendukung tujuan program untuk meningkatkan pemahaman serta kapasitas keamanan pangan masyarakat dan UMK pangan olahan. Program ini menjadi bentuk kolaborasi yang menempatkan pengetahuan dan pendampingan sebagai unsur penting dalam penguatan praktik keamanan pangan, tanpa melepaskan peran BPOM sebagai penggagas dan pembina inisiatif tersebut.

