BOGOR, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyapa Sugiono dalam sambutannya pada acara groundbreaking 11 ekosistem hilirisasi nikel dan ekspor perdana baterai kendaraan listrik di Maluku Utara, Kamis, 8 Oktober 2026. Momen tersebut berlangsung di hadapan para pejabat pemerintah, pelaku industri, pekerja, serta tamu undangan yang menghadiri agenda strategis tersebut.
Dalam sambutannya, Prabowo memperkenalkan Sugiono dengan menyebut jabatan barunya sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan atau Menko PMK. Sugiono diketahui baru dilantik untuk menduduki posisi tersebut pada 1 Oktober 2026. Penyebutan itu menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian karena menunjukkan kehadiran Sugiono dalam kapasitas barunya di tengah agenda pemerintah yang berkaitan dengan penguatan industri nasional.
Prabowo menyampaikan sapaan tersebut ketika membuka rangkaian acara yang berfokus pada pengembangan hilirisasi nikel dan industri baterai kendaraan listrik. Agenda itu menjadi kesempatan bagi Presiden untuk menyoroti pentingnya peningkatan nilai tambah sumber daya alam melalui pengolahan di dalam negeri. Di tengah penjelasan mengenai proyek dan investasi, interaksi Prabowo dengan Sugiono turut mencairkan suasana acara.
Pengenalan tersebut juga menjadi awal interaksi Prabowo dan Sugiono di hadapan peserta acara setelah pelantikan pada awal Oktober. Dengan menyebut langsung jabatan Menko PMK, Prabowo menegaskan posisi Sugiono dalam jajaran Kabinet Merah Putih sekaligus memperlihatkan hubungan kerja antarpimpinan pemerintahan. Momen itu kemudian menjadi pembuka pemberitaan mengenai gurauan atau godaan Prabowo kepada Sugiono terkait jabatan barunya. Peristiwa tersebut berlangsung singkat, tetapi menarik perhatian karena terjadi dalam agenda resmi yang membahas proyek strategis nasional di sektor pertambangan, energi, dan transportasi berkelanjutan. Kehadiran Sugiono dalam acara itu memperlihatkan keterlibatan kementerian koordinatornya dalam agenda pembangunan yang memiliki dampak luas bagi masyarakat dan perekonomian nasional.
Dalam suasana yang diselingi candaan, Prabowo menyinggung masa kerja Sugiono sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). Prabowo mempertanyakan kepada Sugiono sudah berapa lama ia menjalankan jabatan barunya tersebut. Pertanyaan itu disampaikan secara ringan, sehingga percakapan mengenai masa kerja Sugiono berlangsung dalam nuansa yang tidak kaku.
Ketika menanyakan masa jabatan tersebut, Prabowo kemudian menyebut kemungkinan bahwa Sugiono baru menjabat sekitar satu minggu. Pernyataan itu menjadi bagian dari candaan Prabowo mengenai waktu yang telah dilalui Sugiono sejak mulai mengemban tugas sebagai Menko PMK. Tidak ada uraian tambahan mengenai masa kerja tersebut selain pertanyaan dan perkiraan yang disampaikan dalam percakapan.
Prabowo selanjutnya menanyakan apakah Sugiono sudah menyesuaikan diri dengan tanggung jawab barunya. Pertanyaan itu berkaitan dengan proses adaptasi Sugiono setelah berpindah ke jabatan sebagai Menko PMK. Selain menanyakan penyesuaian terhadap tugas, Prabowo juga bertanya apakah kantor baru yang ditempati Sugiono sudah terasa nyaman. Rangkaian pertanyaan tersebut tetap disampaikan dalam suasana bercanda, dengan perhatian diarahkan pada lamanya Sugiono menjabat, kesiapan beradaptasi, serta kenyamanan di tempat kerja barunya.
Kelakar Presiden Prabowo Subianto kepada Sugiono muncul ketika keduanya membahas proses penyesuaian dalam jabatan baru. Prabowo menyinggung bahwa Sugiono masih memerlukan waktu untuk beradaptasi setelah menerima tanggung jawab sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). Dalam suasana tersebut, Prabowo kemudian melontarkan pertanyaan bernada gurauan mengenai keinginan Sugiono untuk kembali menduduki posisi Menteri Luar Negeri.
Pertanyaan itu disampaikan sebagai bagian dari percakapan ringan, bukan sebagai pengumuman atau sinyal resmi mengenai perubahan susunan kabinet. Prabowo tampak menggoda Sugiono dengan menanyakan apakah ia ingin kembali ke jabatan sebelumnya setelah berpindah dari kursi Menteri Luar Negeri ke posisi Menko PMK. Gurauan tersebut sekaligus menggambarkan adanya masa transisi yang harus dijalani Sugiono dalam menjalankan bidang tugas barunya.
Perpindahan jabatan itu membuat Sugiono kini menghadapi cakupan koordinasi yang berbeda. Sebagai Menteri Luar Negeri, ia berfokus pada hubungan diplomatik dan kebijakan luar negeri, sedangkan sebagai Menko PMK ia bertugas mengoordinasikan sejumlah kementerian yang menangani pembangunan manusia serta kesejahteraan masyarakat. Perbedaan tanggung jawab tersebut menjadi konteks bagi candaan Prabowo tentang proses penyesuaian Sugiono. Karena disampaikan dalam nuansa humor, pertanyaan mengenai kemungkinan kembali menjadi Menteri Luar Negeri tidak dapat ditafsirkan sebagai pernyataan resmi tentang rencana pergantian jabatan. Tidak ada konfirmasi bahwa pemerintah sedang menyiapkan perubahan posisi Sugiono. Inti percakapan itu adalah gurauan Presiden terhadap seorang pejabat yang baru berpindah tugas, sekaligus penekanan bahwa adaptasi terhadap mandat baru merupakan bagian dari tanggung jawab dalam pemerintahan.
Perubahan susunan jabatan di pemerintahan berlangsung secara berurutan pada awal Oktober 2026. Pada Kamis, 1 Oktober 2026, Sugiono diangkat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). Ia menggantikan Pratikno yang sebelumnya memimpin kementerian koordinator tersebut. Pengangkatan itu menandai pergeseran tanggung jawab Sugiono dari urusan diplomasi dan politik luar negeri ke bidang pembangunan manusia serta kebudayaan.
Sehari setelah pergantian tersebut, atau pada Jumat, 2 Oktober 2026, Pratikno memperoleh penugasan baru. Ia diangkat sebagai ketua merangkap anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Dengan demikian, perpindahan jabatan itu tidak hanya mengubah posisi Sugiono dan Pratikno, tetapi juga menata kembali komposisi kelembagaan di lingkungan pemerintahan.
Posisi Menteri Luar Negeri yang ditinggalkan Sugiono kemudian diisi oleh Arrmanatha Nasir, yang dikenal dengan sapaan Tata. Sebelum ditunjuk sebagai menteri, Tata menjabat wakil menteri luar negeri pada era Sugiono. Penunjukan tersebut membuat proses transisi di Kementerian Luar Negeri berlangsung dengan melibatkan pejabat yang telah memahami kebijakan, koordinasi, dan dinamika kerja kementerian dari dalam.
Setelah resmi menjalankan tugas sebagai Menko PMK, Sugiono menjalani aktivitas perdananya dengan mengunjungi SDN 02 Cirimekar, Cibinong, Bogor, pada Rabu, 7 Oktober 2026. Kunjungan itu memperlihatkan perhatian awalnya terhadap agenda pembangunan manusia, terutama pemenuhan kebutuhan anak-anak di lingkungan pendidikan dasar. Di sekolah tersebut, Sugiono menyantap makan bergizi gratis bersama para siswa. Ia juga memberikan peralatan sekolah dan alat tulis kepada mereka.
Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi Sugiono untuk berinteraksi langsung dengan siswa sekaligus melihat pelaksanaan program yang berkaitan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Selain memperkenalkan peran barunya kepada masyarakat, kunjungan itu menempatkan isu gizi, pendidikan, dan dukungan terhadap peserta didik sebagai bagian dari agenda awalnya sebagai Menko PMK.

