JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Masa pensiun merupakan tahap penting yang perlu dipersiapkan jauh sebelum seseorang mengakhiri masa kerja. Perubahan rutinitas, berkurangnya pendapatan tetap, serta penyesuaian terhadap lingkungan sosial dapat menghadirkan tantangan baru bagi calon pensiunan. Karena itu, persiapan purnabakti tidak cukup hanya dengan menghitung kebutuhan keuangan atau memastikan tersedianya dana pensiun.
Kesiapan mental juga memiliki peran penting dalam membantu seseorang menjalani masa purnabakti dengan tenang. Setelah bertahun-tahun bekerja, sebagian pegawai mungkin perlu menata kembali tujuan hidup, mengelola waktu, dan membangun kepercayaan diri untuk menghadapi perubahan. Sikap terbuka terhadap kegiatan baru akan membantu calon pensiunan tetap aktif, produktif, dan memiliki hubungan sosial yang sehat.
Di samping itu, kemampuan untuk mengembangkan aktivitas bernilai ekonomi dapat menjadi bekal yang bermanfaat. Usaha sederhana yang dikelola sesuai minat, pengalaman, dan kemampuan dapat mendukung kemandirian setelah pensiun. Namun, memulai usaha membutuhkan pemahaman mengenai perencanaan bisnis, pengelolaan keuangan, pemasaran, serta pengelolaan risiko. Pengetahuan tersebut sebaiknya dipelajari secara bertahap sebelum memasuki masa purnabakti.
Perencanaan yang menyeluruh memungkinkan calon pensiunan mengambil keputusan secara lebih matang. Mereka dapat memetakan kebutuhan rumah tangga, menentukan pilihan kegiatan, dan menilai peluang usaha yang realistis. Langkah ini juga membantu menjaga kesejahteraan, karena masa pensiun tidak dipandang sebagai akhir dari produktivitas, melainkan sebagai fase baru untuk berkarya secara mandiri.
Melihat kebutuhan tersebut, Bank BJB menghadirkan program bjb Pra-Purnapreneurship sebagai bentuk dukungan bagi pegawai yang akan memasuki masa pensiun. Program ini diarahkan untuk membekali peserta dengan keterampilan dan wawasan usaha, sehingga mereka memiliki persiapan yang lebih komprehensif. Melalui pembekalan tersebut, Bank BJB turut mendorong calon pensiunan agar mampu menjalani masa purnabakti secara lebih percaya diri, produktif, dan sejahtera.
Bank BJB Kantor Cabang S. Parman Jakarta bersama Kantor Kementerian Agama Kota Jakarta Barat menggelar workshop kewirausahaan pada 6 Oktober 2026. Kegiatan ini ditujukan bagi pegawai negeri sipil di lingkungan Kementerian Agama Kota Jakarta Barat yang akan memasuki masa pensiun, dengan perhatian pada pembekalan keterampilan usaha menjelang berakhirnya masa pengabdian sebagai aparatur negara.
Workshop tersebut diikuti oleh 85 PNS yang terdiri atas guru dan tenaga kependidikan. Keikutsertaan para peserta menunjukkan bahwa kegiatan ini mencakup unsur pendidik sekaligus tenaga pendukung pendidikan dalam lingkungan kerja Kementerian Agama Kota Jakarta Barat. Seluruh peserta merupakan PNS yang akan pensiun pada tahun ini dan tahun depan.
Melalui pelaksanaan workshop kewirausahaan, Bank BJB Kantor Cabang S. Parman Jakarta bersama Kantor Kementerian Agama Kota Jakarta Barat memberikan ruang pembekalan bagi para calon pensiunan untuk mengenal keterampilan usaha. Materi kegiatan diarahkan pada persiapan peserta dalam menghadapi masa setelah pensiun, sehingga pengalaman dan kesiapan yang dimiliki dapat menjadi bagian dari proses perencanaan mereka.
Peserta yang berasal dari kalangan guru dan tenaga kependidikan mengikuti kegiatan tersebut sebagai kelompok PNS yang berada pada fase menjelang pensiun. Dengan jumlah 85 orang, workshop ini menjadi kegiatan pembekalan kewirausahaan bagi pegawai yang akan menyelesaikan masa tugasnya pada tahun 2026 dan 2027. Pelaksanaan pada 6 Oktober 2026 menandai kerja sama Bank BJB Kantor Cabang S. Parman Jakarta dan Kantor Kementerian Agama Kota Jakarta Barat dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Kegiatan pembekalan yang diberikan Bank BJB kepada 85 PNS Kementerian Agama (Kemenag) Jakarta Barat dirancang sebagai persiapan menghadapi masa purnabakti. Program ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan dasar berwirausaha, sehingga mereka memiliki gambaran mengenai peluang usaha yang dapat dikembangkan setelah tidak lagi aktif sebagai aparatur sipil negara. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat membantu peserta memanfaatkan pengalaman, minat, serta sumber daya yang dimiliki secara lebih produktif.
Selain aspek kewirausahaan, kegiatan ini juga memberikan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan. Materi tersebut penting agar peserta mampu menyusun perencanaan keuangan secara cermat, mengatur modal, memperkirakan kebutuhan operasional, serta memisahkan keuangan pribadi dari keuangan usaha. Dengan pemahaman yang lebih baik, rencana usaha setelah pensiun dapat disusun berdasarkan pertimbangan yang realistis dan tidak semata-mata mengandalkan perkiraan.
Corporate Secretary Bank BJB Irwan Riswandi menjelaskan bahwa program tersebut tidak berhenti pada penyampaian materi teoritis. Peserta juga memperoleh inspirasi langsung dari pelaku usaha yang membangun dan mengembangkan bisnisnya mulai dari skala rumahan. Pengalaman tersebut memberikan gambaran yang lebih nyata mengenai proses merintis usaha, termasuk bagaimana menghadapi keterbatasan modal, mengenali kebutuhan pasar, menjaga kualitas produk, dan mengembangkan kegiatan usaha secara bertahap.
Pendekatan ini membuat pembekalan lebih relevan dengan kebutuhan peserta. Kisah dari pelaku usaha menunjukkan bahwa bisnis tidak selalu harus dimulai dengan skala besar, melainkan dapat dibangun dari kemampuan dan lingkungan yang tersedia. Peserta juga dapat melihat bahwa keberlanjutan usaha membutuhkan ketekunan, pengelolaan keuangan yang disiplin, serta kemauan untuk terus belajar menyesuaikan diri dengan perubahan pasar.
Melalui kombinasi materi dasar dan pengalaman praktis tersebut, Bank BJB mendorong peserta mempersiapkan masa purnabakti secara lebih terencana. Bekal yang diperoleh bukan hanya berupa pengetahuan untuk memulai usaha, tetapi juga cara berpikir yang mendukung pengambilan keputusan keuangan secara bijak dan bertanggung jawab.
Kegiatan pembekalan tersebut dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Jakarta Barat, Saiful Amri, bersama Pemimpin Bank BJB Kantor Cabang S. Parman, Cindek Pramawati Anwar. Pembukaan ini menandai dimulainya rangkaian materi yang dirancang untuk memberikan persiapan praktis bagi 85 pegawai negeri sipil (PNS) Kemenag Jakarta Barat menjelang masa pensiun. Selain menekankan pentingnya perencanaan keuangan, acara tersebut mengarahkan peserta untuk mengenali peluang usaha yang dapat dijalankan secara mandiri sesuai minat, kemampuan, dan kondisi masing-masing.
Salah satu materi utama disampaikan oleh Zulia Larasati dari Rumah Aneka Frozen. Sebagai pelaku usaha lokal di Jakarta Barat, Zulia membagikan pengalaman dalam membangun serta mengembangkan bisnis kemitraan frozen. Ia menjelaskan berbagai tahapan yang perlu diperhatikan calon pengusaha, mulai dari memilih produk, memahami kebutuhan pasar, menentukan model kemitraan, mengelola persediaan, hingga menjaga kualitas pelayanan kepada pelanggan. Pengalaman tersebut memberikan gambaran langsung mengenai dinamika usaha makanan beku, termasuk pentingnya konsistensi, kemampuan beradaptasi, dan pengelolaan operasional yang tertib.
Penyampaian materi berbasis pengalaman diharapkan dapat membantu peserta melihat peluang usaha secara lebih realistis. Peserta juga memperoleh pemahaman bahwa memulai bisnis tidak hanya membutuhkan modal, tetapi juga perencanaan, kemauan belajar, kemampuan mengelola risiko, serta ketekunan dalam membangun jaringan pelanggan. Melalui wawasan mengenai kemitraan frozen, para PNS dapat mempertimbangkan pilihan usaha yang berpotensi dikembangkan secara bertahap, baik sebagai kegiatan produktif setelah pensiun maupun sebagai sumber pendapatan tambahan. Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan tersebut, peserta diharapkan mampu menyiapkan kehidupan pascapensiun secara lebih mandiri, terencana, dan percaya diri.

