Granit Xhaka Menerima Denda atas Kasus Sertifikat Vaksin Covid-19 Palsu

Granit Xhaka Menerima Denda atas Kasus Sertifikat Vaksin Covid-19 Palsu

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Granit Xhaka dinyatakan bersalah oleh pengadilan setelah terbukti memperoleh sertifikat vaksin Covid-19 palsu. Putusan tersebut menempatkan kapten Sunderland dan tim nasional Swiss itu dalam perkara hukum yang berkaitan dengan penggunaan dokumen kesehatan yang tidak sah. Pengadilan menjatuhkan denda sekitar 136 ribu pound sterling, atau setara dengan kurang lebih Rp3,2 miliar.

Selain denda, hukuman terhadap Xhaka ditangguhkan selama dua tahun. Penangguhan itu disertai syarat bahwa ia tidak melakukan pelanggaran hukum lain selama masa tersebut. Dengan demikian, Xhaka tetap berada di bawah ketentuan putusan pengadilan, meskipun pelaksanaan hukuman yang ditangguhkan bergantung pada kepatuhannya terhadap hukum dalam periode dua tahun.

Besaran denda tersebut menjadi bagian utama dari sanksi atas kasus sertifikat vaksin Covid-19 palsu yang menjeratnya. Nilainya mencerminkan keputusan pengadilan terhadap pelanggaran yang telah dinyatakan terbukti, sekaligus menegaskan konsekuensi hukum dari penggunaan sertifikat kesehatan palsu. Perkara ini juga menambah catatan hukum bagi pemain yang menjalankan peran penting sebagai kapten klub dan negara.

Xhaka juga telah membayar biaya perkara yang dibebankan kepadanya. Pembayaran tersebut melengkapi kewajiban finansial yang muncul dari putusan pengadilan, selain denda senilai sekitar 136 ribu pound sterling. Tidak ada rincian tambahan mengenai proses hukum yang disampaikan dalam putusan tersebut. Untuk saat ini, ketentuan utama yang berlaku adalah denda, penangguhan hukuman selama dua tahun, serta kewajiban untuk tidak melakukan pelanggaran hukum lain dalam masa penangguhan.

Setelah putusan terkait kasus sertifikat vaksin Covid-19 palsu dijatuhkan, Granit Xhaka menyampaikan responsnya melalui unggahan di Instagram pada Jumat. Dalam pernyataan tersebut, ia mengatakan bahwa dirinya menerima keputusan yang telah diambil dan bertanggung jawab atas tindakannya. Sikap itu disampaikan sebagai tanggapan Xhaka terhadap putusan yang berujung pada pemberian denda dalam perkara tersebut.

Melalui unggahan yang sama, Xhaka juga menyampaikan terima kasih atas berbagai pesan dukungan yang diterimanya dalam beberapa pekan terakhir. Ucapan tersebut ditujukan kepada pihak-pihak yang telah mengirimkan dukungan kepadanya selama proses perkara berlangsung. Pernyataan itu menjadi bagian dari responsnya setelah keputusan diumumkan, tanpa mengubah sikap yang sebelumnya telah ia sampaikan mengenai tanggung jawab atas tindakan dan keputusan yang diambil.

Sebelumnya, Xhaka telah menyatakan bahwa ia akan bertanggung jawab atas keputusan yang dibuatnya. Setelah putusan tersebut diberikan, ia kembali menegaskan sikap yang sama. Xhaka menyatakan penerimaan terhadap keputusan itu sekaligus mengakui tanggung jawabnya atas tindakannya. Dengan demikian, pernyataan di Instagram pada Jumat memperkuat posisi yang telah disampaikannya sebelumnya, yaitu menerima keputusan dan bertanggung jawab, serta menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diterimanya dalam beberapa pekan terakhir.

Perkara yang melibatkan Granit Xhaka berawal dari sertifikat vaksin Covid-19 yang diduga diperolehnya pada 2022. Pada periode tersebut, Xhaka masih memperkuat Arsenal dan Swiss menerapkan sistem sertifikat untuk mendukung pengendalian pandemi. Dokumen itu diperlukan untuk mengakses sejumlah aktivitas dan tempat tertentu, termasuk fasilitas publik, kegiatan olahraga, serta layanan yang menerapkan ketentuan kesehatan. Sertifikat juga berkaitan dengan perjalanan ke luar negeri, sehingga kepemilikannya menjadi bagian penting dalam mobilitas masyarakat pada masa itu.

Kantor kesehatan masyarakat Swiss menjelaskan bahwa negara tersebut tidak pernah memberlakukan kewajiban hukum umum bagi setiap orang untuk memiliki sertifikat vaksin. Namun, dalam praktiknya, dokumen tersebut dibutuhkan untuk memperoleh akses ke berbagai kegiatan dan lokasi selama kebijakan berlaku hingga musim semi 2022. Setelah periode itu berakhir, sertifikat masih diterbitkan, terutama bagi warga yang memerlukannya untuk melakukan perjalanan ke luar negeri. Xhaka kemudian mengakui bahwa ia percaya terhadap vaksin, tetapi mengatakan keputusan terkait sertifikat tersebut dipengaruhi kekhawatiran dan ketidakpastian yang muncul selama pandemi.

Dampak persoalan itu turut terlihat dalam aktivitasnya bersama tim nasional Swiss. Xhaka pernah mundur dari pemusatan latihan menjelang pertandingan UEFA Nations League melawan Skotlandia, Makedonia Utara, dan Slovenia. Keputusan tersebut menjadi sorotan karena ia merupakan salah satu figur utama dalam skuad Swiss. Xhaka tercatat sebagai pemain dengan penampilan terbanyak untuk negaranya, yakni 152 kali. Ia juga tetap memegang peran penting sebagai kapten ketika Swiss tampil di Piala Dunia 2026. Perjalanan mereka dalam turnamen tersebut berakhir di perempat final setelah kalah dari Argentina, menambah konteks terhadap posisi Xhaka sebagai pemimpin dan pemain berpengalaman di tim nasional.

Granit Xhaka diperkirakan kembali memperkuat Sunderland ketika klub tersebut menjamu Brighton pada Sabtu, 10 Oktober. Pertandingan itu menjadi kesempatan bagi gelandang asal Swiss tersebut untuk kembali menunjukkan perannya di lapangan setelah sebelumnya terseret kasus sertifikat vaksin Covid-19 palsu. Fokus utama menjelang laga berada pada kesiapan Xhaka sebagai pemain, terutama setelah ia menjalani agenda bersama tim nasional selama jeda internasional.

Pelatih Sunderland, Regis Le Bris, memilih tidak memberikan komentar mengenai persoalan Xhaka di luar lapangan. Sikap tersebut membuat pembahasan terkait kasus hukum dan denda yang diterima sang pemain tidak menjadi bagian dari penilaiannya terhadap persiapan tim. Le Bris menempatkan perhatian pada aspek olahraga, termasuk kondisi fisik, sikap dalam latihan, serta kemampuan pemain untuk menjalankan peran yang dibutuhkan Sunderland.

Berdasarkan pengamatan Le Bris selama jeda internasional, Xhaka berlatih dengan sangat baik. Pelatih tersebut juga menyampaikan bahwa sang gelandang berada dalam kondisi yang positif dari sisi sepak bola. Penilaian itu menggambarkan bahwa Xhaka tetap mengikuti program latihan secara serius dan menunjukkan kesiapan untuk kembali berkompetisi bersama klubnya.

Bagi Le Bris, hal yang paling penting adalah kesiapan Xhaka di lapangan. Performa dalam latihan menjadi dasar utama untuk melihat apakah seorang pemain berada dalam kondisi yang tepat sebelum pertandingan. Karena itu, perhatian pelatih tertuju pada kontribusi yang dapat diberikan Xhaka saat Sunderland menghadapi Brighton, bukan pada persoalan yang berlangsung di luar aktivitas sepak bola. Dengan kondisi latihan yang dinilai baik dan suasana positif secara olahraga, Xhaka dipersiapkan untuk menjalani laga tersebut sesuai keputusan tim pelatih.