SERANG, BANTEN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, John Herdman menempatkan kebutuhan terhadap pemain sayap berkecepatan tinggi sebagai salah satu perhatian utama Timnas Indonesia dalam persiapan menuju Piala Asia 2027. Pelatih asal Inggris itu menilai sektor sayap harus memiliki energi, keberanian, dan kemampuan untuk mengubah arah serangan dengan cepat. Menurutnya, permainan modern menuntut lebih dari sekadar penguasaan bola di area tengah. Tim juga membutuhkan pemain yang mampu membuka ruang, mengeksploitasi sisi lapangan, serta memberikan ancaman ketika lawan sedang membangun pertahanan.
Dalam upaya memenuhi kebutuhan tersebut, Herdman disebut sedang berusaha mendapatkan dua pemain diaspora. Kehadiran mereka diharapkan dapat menambah pilihan dan meningkatkan persaingan di dalam skuad. Namun, proses tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk penjajakan, penilaian kemampuan, serta kemungkinan penyesuaian terhadap kebutuhan tim nasional. Karena itu, pencarian pemain belum dapat dianggap selesai. Setiap nama perlu dipertimbangkan secara menyeluruh agar perekrutan tidak hanya didasarkan pada reputasi atau pengalaman bermain di luar negeri.
Herdman juga tidak menjadikan nomor punggung sebagai tolok ukur utama dalam menentukan target. Fokusnya adalah mencari sosok yang memiliki karakter permainan sesuai dengan rencana tim. Pemain yang diinginkan harus mampu berlari dalam intensitas tinggi, melakukan transisi dari bertahan ke menyerang, dan menjaga daya jelajah sepanjang pertandingan. Kemampuan untuk membantu pertahanan juga menjadi bagian penting, sebab pemain sayap modern dituntut aktif ketika tim kehilangan bola. Dengan pendekatan tersebut, kebutuhan Timnas Indonesia bukan sekadar menambah pemain di posisi sayap, melainkan menghadirkan figur dinamis yang dapat mempercepat tempo, memperlebar permainan, dan memberi variasi serangan menghadapi persaingan Piala Asia 2027.
John Herdman menaruh perhatian khusus pada posisi nomor 7 dan 11 dalam upayanya membangun kekuatan baru Timnas Indonesia. Dalam sepak bola modern, kedua nomor tersebut umumnya merujuk pada pemain sayap yang beroperasi di sisi kanan dan kiri lapangan. Peran mereka tidak terbatas pada mengirim umpan silang, tetapi juga menciptakan lebar permainan, membuka ruang bagi penyerang, serta membantu transisi dari bertahan ke menyerang. Karena itu, Herdman memandang sektor sayap sebagai bagian penting dalam persiapan Indonesia menuju Piala Asia 2027.
Menurut Herdman, kecepatan merupakan salah satu modal utama untuk bersaing di level internasional. Pemain sayap harus mampu melewati lawan dalam situasi satu lawan satu, mengejar bola di ruang terbuka, dan segera kembali ketika kehilangan penguasaan. Kecepatan juga memberikan variasi dalam serangan, terutama ketika sebuah tim menghadapi pertahanan yang rapat. Pemain yang cepat dapat mengubah arah pertandingan melalui akselerasi, pergerakan tanpa bola, dan kemampuan mengeksploitasi celah di belakang garis pertahanan lawan.
Pemikiran tersebut dipengaruhi pengalaman Herdman ketika menangani Kanada. Ia pernah memiliki pemain seperti Alphonso Davies, Tajon Buchanan, dan Jonathan David, yang dikenal mampu menghadirkan ancaman melalui kecepatan, akselerasi, serta pergerakan agresif. Herdman menggambarkan profil ideal itu melalui pemain yang memiliki kecepatan alami hingga 37 kilometer per jam. Ia juga menyatakan bahwa persaingan di level dunia menuntut pemain dengan kecepatan 36 kilometer per jam atau lebih, khususnya untuk posisi yang mengandalkan duel ruang dan serangan balik. Standar tersebut menjadi gambaran tantangan yang perlu dijawab Indonesia. Namun, kecepatan tetap harus dipadukan dengan teknik, pengambilan keputusan, stamina, dan pemahaman taktik agar pemain nomor 7 dan 11 dapat memberi kontribusi konsisten, bukan sekadar unggul dalam sprint.
Kebutuhan John Herdman terhadap kecepatan baru di sektor sayap perlu dilihat dalam kaitannya dengan komposisi lini serang Timnas Indonesia saat ini. Skuad Garuda telah memiliki sejumlah pemain yang dapat menempati area melebar maupun bergerak dari sisi lapangan ke ruang tengah. Kehadiran mereka memberikan variasi dalam membangun serangan, tetapi persaingan menuju Piala Asia 2027 tetap menuntut pilihan yang lebih beragam, terutama ketika tim menghadapi lawan dengan garis pertahanan tinggi.
Marselino Ferdinan disebut mengenakan nomor punggung 7, sebuah nomor yang kerap diasosiasikan dengan pemain sayap atau gelandang serang. Ia memiliki kemampuan membawa bola, melakukan penetrasi, serta berpindah posisi untuk menciptakan keunggulan jumlah di area depan. Di sisi lain, Ragnar Oratmangoen menggunakan nomor 11. Karakter permainannya juga mendukung kebutuhan serangan dinamis karena ia dapat beroperasi dari sayap, masuk ke dalam, dan membantu menghubungkan lini tengah dengan penyerang.
Egy Maulana Vikri turut tercatat sebagai salah satu opsi di lini serang Indonesia. Pengalamannya, kemampuan teknis, dan pergerakan tanpa bola dapat memberi alternatif ketika tim membutuhkan pemain yang mampu membuka ruang di bek lawan. Dengan beberapa nama tersebut, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan pemain yang dapat dimainkan di sektor sayap. Namun, setiap pemain memiliki karakter berbeda sehingga penambahan opsi tetap penting untuk menjaga fleksibilitas strategi.
Pernyataan Herdman tidak berarti ia hanya mencari pengganti berdasarkan nomor punggung atau posisi administratif dalam daftar skuad. Nomor 7 dan 11 lebih tepat dipahami sebagai identitas pemain yang sudah mengisi peran tertentu, bukan standar tunggal untuk menentukan calon baru. Penekanan utamanya adalah kehadiran pemain dengan kecepatan, keberanian melakukan duel satu lawan satu, serta kemampuan bergerak secara dinamis. Profil semacam itu dapat memperbanyak pilihan di sektor depan dan memungkinkan Indonesia menyesuaikan pendekatan terhadap berbagai karakter lawan di Piala Asia 2027.
John Herdman mengungkapkan bahwa dirinya sedang berupaya merekrut dua pemain diaspora untuk memperkuat Timnas Indonesia. Pelatih tersebut menyebut kedua pemain memiliki profil dan karakter yang dinamis, sebuah kualitas yang dinilai penting untuk menambah kecepatan serta variasi permainan di sektor sayap. Namun, Herdman belum membuka identitas mereka kepada publik. Ia juga tidak menjelaskan secara terperinci klub, posisi spesifik, maupun tahapan administrasi yang sedang dijalani oleh kedua calon pemain tersebut.
Pernyataan itu membuka kemungkinan hadirnya wajah baru dalam skuad Indonesia menuju Piala Asia 2027. Kehadiran pemain diaspora tambahan dapat memperluas pilihan taktik, terutama apabila mereka mampu bermain di beberapa posisi depan dan memberikan kontribusi dalam transisi menyerang. Meski demikian, proses perekrutan tersebut belum dapat dianggap selesai. Pemain yang sedang didekati masih harus melalui berbagai tahap, termasuk komunikasi dengan federasi, pemenuhan persyaratan administratif, serta penilaian teknis sebelum keputusan resmi diumumkan.
Seiring pernyataan Herdman tersebut, nama Julian Oerip dan Demiane Agustien kemudian muncul dalam spekulasi publik. Keduanya dinilai berpotensi sesuai dengan kebutuhan tim, khususnya untuk menambah opsi dinamis di sektor depan. Karakter permainan dan latar belakang mereka membuat sebagian pengamat mengaitkannya dengan kriteria yang disampaikan Herdman.
Namun, kaitan tersebut masih sebatas dugaan. Belum ada konfirmasi dari Herdman, PSSI, maupun pihak terkait bahwa Julian Oerip dan Demiane Agustien merupakan dua pemain diaspora yang sedang dimaksud. Karena itu, penyebutan nama keduanya perlu ditempatkan secara hati-hati agar tidak berkembang menjadi informasi yang keliru. Identitas calon pemain diaspora tersebut masih menunggu pengumuman resmi, sementara publik perlu menantikan perkembangan proses perekrutan dan keputusan akhir tim pelatih.

