Rupiah Melemah Saat Won dan Ringgit Menguat di Awal Perdagangan Asia

Rupiah Melemah Saat Won dan Ringgit Menguat di Awal Perdagangan Asia

Jakarta | Perdagangan mata uang Asia pada awal pekan, Senin, 12 Oktober 2026, berlangsung beragam terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan data Refinitiv yang dihimpun hingga pukul 09.26 WIB, enam dari 10 mata uang Asia yang dipantau tercatat menguat. Namun, rupiah bergerak berlawanan dengan kecenderungan mayoritas regional tersebut.

Rupiah melemah 0,06% ke level Rp17.885 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan bahwa mata uang domestik belum mengikuti penguatan yang dialami sebagian besar mata uang Asia pada awal perdagangan. Pelemahan rupiah menjadi perhatian karena terjadi ketika won Korea Selatan dan ringgit Malaysia termasuk mata uang yang menguat terhadap dolar AS.

Selain rupiah, baht Thailand dan yuan China juga berada dalam kelompok mata uang Asia yang melemah pada perdagangan pagi tersebut. Sementara itu, dolar Hong Kong tercatat stagnan. Dengan demikian, pergerakan 10 mata uang yang dipantau Refinitiv memperlihatkan konfigurasi yang tidak seragam: enam mata uang menguat, tiga melemah, dan satu mata uang tidak berubah.

Data tersebut menggambarkan posisi rupiah yang masih tertinggal dari penguatan mayoritas mata uang regional pada awal pekan. Meski penguatan tidak terjadi secara menyeluruh, jumlah mata uang yang bergerak naik lebih banyak dibandingkan mata uang yang melemah. Pada saat yang sama, rupiah justru mencatat penurunan tipis hingga level Rp17.885 per dolar AS. Perkembangan selanjutnya akan menentukan apakah tekanan terhadap rupiah berlanjut atau mata uang tersebut mampu bergerak sejalan dengan pasar Asia.

Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam dalam perdagangan awal Asia. Won naik 0,41% ke posisi KRW1.334,9 per dolar AS, menunjukkan kinerja yang lebih kuat dibandingkan mata uang regional lainnya. Pergerakan tersebut menempatkan won sebagai pemimpin apresiasi ketika rupiah justru berada dalam tekanan terhadap dolar AS. Perbedaan arah ini memperlihatkan bahwa sentimen pasar di kawasan belum bergerak seragam.

Ringgit Malaysia menyusul dengan kenaikan 0,10%, sedangkan dolar Singapura menguat 0,09%. Penguatan keduanya berlangsung lebih terbatas dibandingkan won, tetapi tetap mencerminkan permintaan yang relatif positif terhadap sejumlah aset dan mata uang Asia. Yen Jepang juga mencatat apresiasi sebesar 0,08%. Sementara itu, dong Vietnam naik 0,07% dan baht Thailand menguat 0,03%, sehingga seluruh mata uang tersebut masih berada di zona positif pada awal perdagangan.

Di sisi lain, dolar Taiwan menjadi mata uang regional yang mengalami tekanan paling dalam. Nilainya melemah 0,11% terhadap dolar AS, lebih besar dibandingkan penurunan rupiah dalam konteks pergerakan kawasan yang sama. Yuan China turut turun tipis sebesar 0,01%, sedangkan peso Filipina bergerak stagnan tanpa perubahan berarti. Kondisi tersebut menunjukkan adanya variasi respons pelaku pasar terhadap perkembangan ekonomi, kebijakan moneter, dan arus modal di masing-masing negara.

Dengan posisi rupiah yang melemah, peta perdagangan awal Asia memperlihatkan terbentuknya dua kelompok pergerakan. Won, ringgit, dolar Singapura, yen, dong, dan baht mencatat penguatan dengan tingkat berbeda, sementara dolar Taiwan dan yuan mengalami penurunan. Peso yang stagnan menjadi penanda bahwa sebagian pasar masih menunggu katalis baru. Pergerakan regional ini menjadi konteks penting untuk menilai tekanan terhadap rupiah, terutama karena penguatan sejumlah mata uang pesaing dapat memengaruhi persepsi investor terhadap daya tarik aset domestik.

Dolar AS mengalami koreksi tipis pada perdagangan Asia pagi itu, tetapi pelemahannya belum cukup untuk mengubah kecenderungan penguatan yang berlangsung sebelumnya. Indeks dolar AS (DXY) turun 0,07% ke level 102,145. Meski demikian, posisinya masih berada di dekat level tertinggi dalam 18 bulan, sehingga tekanan terhadap mata uang global tetap belum sepenuhnya mereda. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa investor masih mempertahankan eksposur terhadap dolar, meskipun data harian mencatat penurunan terbatas.

Sentimen terhadap dolar terutama ditopang oleh ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran mengenai arah harga energi. Kedua faktor itu mendorong investor bersikap lebih hati-hati dan meningkatkan permintaan terhadap dolar sebagai aset aman. Kelompok Houthi yang didukung Iran dilaporkan meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi, sementara dua kapal tanker juga diberitakan diserang pada akhir pekan. Perkembangan tersebut menambah risiko terhadap keamanan pasokan energi dan jalur pelayaran regional.

Di sisi lain, harga minyak Brent justru turun sekitar 1% menjadi US$103,55 per barel setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata energi Rusia dan Ukraina pada minggu tersebut. Namun, Commonwealth Bank of Australia menilai serangan Houthi terhadap aset energi Arab Saudi diperkirakan masih berlanjut. Situasi itu berpotensi menopang harga minyak sekaligus mempertahankan dukungan bagi dolar AS, terutama apabila gangguan pasokan semakin mengkhawatirkan.

Bank tersebut juga menilai belum terlihat terobosan besar dalam upaya perdamaian AS dan Iran pada pekan itu. Penilaian tersebut tetap berlaku meskipun Iran telah mengonfirmasi menerima proposal perdamaian AS melalui perantara. Karena itu, pasar masih menunggu perkembangan diplomatik yang lebih konkret sebelum mengurangi premi risiko geopolitik. Selama ketidakpastian tersebut bertahan, koreksi DXY berpeluang berlangsung terbatas dan penguatan dolar dapat kembali muncul ketika permintaan aset aman meningkat.

Perhatian pelaku pasar kini beralih kepada rilis data inflasi Amerika Serikat untuk September yang dijadwalkan pada Rabu. Data Indeks Harga Konsumen (IHK) tersebut dipandang sebagai salah satu laporan ekonomi penting terakhir sebelum rapat kebijakan The Federal Reserve pada akhir Oktober. Angka inflasi akan menjadi acuan tambahan bagi investor untuk menilai apakah tekanan harga masih cukup kuat sehingga bank sentral AS perlu melanjutkan pengetatan kebijakan.

The Fed telah menaikkan suku bunga pada September, untuk pertama kalinya sejak 2023. Keputusan tersebut membuat pasar menunggu apakah kenaikan berikutnya masih diperlukan atau apakah bank sentral akan memilih menahan suku bunga untuk mengevaluasi dampak kebijakan sebelumnya. Berdasarkan CME FedWatch, peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini mencapai 81%, meningkat dari 51% sebulan sebelumnya. Perubahan ekspektasi itu menunjukkan bahwa pelaku pasar mulai memperkirakan jeda setelah kenaikan suku bunga pada bulan lalu.

Data IHK yang lebih rendah dari perkiraan dapat memberikan ruang bagi dolar AS untuk mengambil napas setelah penguatan sebelumnya. Inflasi yang melandai akan memperkuat harapan bahwa siklus kenaikan suku bunga mendekati puncak, meskipun investor tetap akan mencermati komponen inti dan perkembangan harga jasa. Sebaliknya, inflasi yang kembali tinggi berpotensi menghidupkan spekulasi mengenai kenaikan tambahan serta meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Barclays menilai reli dolar dalam jangka pendek berpeluang tertahan. Gejolak besar di pasar obligasi telah memperketat kondisi keuangan global, sehingga dapat mendorong pejabat The Fed mengambil sikap yang lebih menenangkan menjelang rapat Oktober. Terutama apabila inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda mereda, bank sentral dapat mempertimbangkan untuk menjaga suku bunga tetap stabil sambil menilai pengaruh kebijakan terhadap pertumbuhan ekonomi dan stabilitas pasar.