Jakarta | Bank Indonesia menilai perekonomian Indonesia masih memiliki ruang yang luas untuk menguat. Penilaian tersebut menunjukkan bahwa perkembangan ekonomi nasional belum sepenuhnya mencerminkan kapasitas yang dapat dicapai. Dengan demikian, pertumbuhan yang berlangsung saat ini masih dapat didorong agar bergerak menuju tingkat yang lebih tinggi.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di bawah level potensinya. Pernyataan ini menjadi gambaran penting mengenai posisi perekonomian nasional saat ini. Pertumbuhan yang belum mencapai tingkat potensial menunjukkan adanya ruang untuk meningkatkan aktivitas ekonomi secara berkelanjutan, sehingga kemampuan ekonomi dalam menghasilkan pertumbuhan masih dapat dioptimalkan.
Penilaian tersebut juga menegaskan perlunya dorongan yang mampu memperkuat dinamika kegiatan ekonomi. Dorongan itu diperlukan agar perkembangan ekonomi tidak berhenti pada capaian yang ada, melainkan dapat terus meningkat secara bertahap. Ketika pertumbuhan masih berada di bawah potensinya, peningkatan aktivitas ekonomi menjadi hal yang penting untuk mendukung pencapaian kinerja yang lebih baik.
Pandangan Bank Indonesia memberikan dasar bagi pembahasan mengenai peluang penguatan ekonomi Indonesia. Ruang pertumbuhan yang masih tersedia menunjukkan bahwa perekonomian nasional mempunyai kemungkinan untuk berkembang lebih jauh. Karena itu, kondisi saat ini perlu dipahami sebagai momentum untuk mendorong aktivitas ekonomi agar bergerak lebih dekat dengan tingkat potensialnya.
Pesan utama dari penilaian tersebut adalah bahwa pertumbuhan ekonomi nasional belum mencapai batas kemampuan potensialnya. Destry menekankan posisi pertumbuhan yang masih berada di bawah level potensinya, sementara Bank Indonesia melihat adanya peluang penguatan. Hal ini memperlihatkan pentingnya upaya berkelanjutan untuk meningkatkan aktivitas ekonomi dan memanfaatkan ruang pertumbuhan yang masih tersedia.
Penilaian Bank Indonesia bahwa perekonomian Indonesia masih memiliki ruang untuk tumbuh lebih kuat menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Ruang tersebut menunjukkan bahwa kapasitas ekonomi belum sepenuhnya digunakan dan pemulihan masih dapat dilanjutkan. Karena itu, keputusan moneter perlu mempertimbangkan keseimbangan menjaga stabilitas makroekonomi dan mempertahankan momentum pertumbuhan yang mulai menguat.
Pertimbangan tersebut terlihat ketika sejumlah bank sentral utama dunia menaikkan suku bunga pada September. Dalam kondisi itu, Bank Indonesia memilih mempertahankan suku bunga pada level 5,75 persen. Keputusan tersebut mencerminkan kehati-hatian sekaligus perhatian terhadap kondisi ekonomi domestik. Menurut Destry, kebijakan moneter tidak boleh justru menghambat laju ekonomi yang sedang bergerak naik. Stabilitas tetap penting, tetapi penerapan kebijakan juga perlu memperhatikan tahap pemulihan dan kebutuhan untuk mendukung aktivitas ekonomi.
Masih adanya kesenjangan pertumbuhan menjadi alasan lain di balik sikap tersebut. Jika suku bunga dinaikkan secara langsung, biaya pembiayaan dapat meningkat dan berpotensi mengurangi konsumsi, investasi, serta ekspansi dunia usaha. Dampaknya, momentum pertumbuhan yang sedang terbentuk dapat terhenti sebelum perekonomian mencapai kapasitas yang lebih optimal. Pertimbangan ini bukan berarti mengabaikan risiko inflasi atau tekanan eksternal, melainkan menempatkan setiap risiko dalam konteks yang lebih menyeluruh.
Destry juga berpandangan bahwa pertumbuhan ekonomi masih dapat ditingkatkan tanpa membuat perekonomian mengalami overheating. Dengan menjaga kebijakan tetap seimbang, peningkatan aktivitas dapat berlangsung secara bertahap dan terukur. Ruang pertumbuhan tersebut perlu dimanfaatkan melalui penguatan permintaan, investasi, dan produktivitas, sembari tetap memantau stabilitas harga serta kondisi pasar keuangan. Pendekatan ini memungkinkan Bank Indonesia mendukung pemulihan tanpa mengambil langkah yang berisiko mematikan dorongan ekonomi.
Destry menyampaikan keyakinan bahwa perekonomian Indonesia masih memiliki kemampuan untuk terus bertumbuh, meskipun situasi global sedang bergejolak dan dipenuhi ketidakpastian. Perubahan kondisi eksternal dapat memengaruhi perekonomian nasional, tetapi hal tersebut tidak serta-merta menghilangkan peluang Indonesia untuk menjaga pertumbuhan. Keyakinan itu bertumpu pada sejumlah keunggulan yang dimiliki Indonesia secara mendasar.
Salah satu keunggulan tersebut adalah besarnya pasar domestik. Jumlah penduduk yang besar menciptakan basis permintaan yang luas sekaligus memberikan ruang bagi aktivitas ekonomi untuk terus berkembang. Selain itu, Indonesia memiliki banyak penduduk usia produktif. Komposisi demografis ini menjadi modal penting karena menyediakan sumber daya manusia yang dapat mendukung kegiatan ekonomi dan memperkuat kapasitas pertumbuhan dalam jangka panjang.
Indonesia juga memiliki kekayaan sumber daya alam yang menjadi bagian dari potensi ekonomi nasional. Keberadaan berbagai keunggulan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya bergantung pada keadaan global, tetapi mempunyai fondasi internal yang dapat menopang daya tahan ekonominya. Meski demikian, keunggulan itu tidak akan memberikan hasil secara otomatis. Tantangan berikutnya adalah bagaimana mengelola pasar yang besar, penduduk usia produktif, dan sumber daya alam tersebut dengan baik.
Pengelolaan yang baik membutuhkan cara pandang yang optimistis sekaligus bertanggung jawab. Optimisme diperlukan agar berbagai potensi nasional dapat dipandang sebagai peluang, terutama ketika ketidakpastian global menimbulkan tekanan. Pada saat yang sama, keyakinan tersebut perlu disertai kemampuan untuk memanfaatkan setiap keunggulan secara tepat sehingga manfaatnya dapat mendukung pertumbuhan ekonomi. Dengan landasan optimisme dan pengelolaan yang baik, Indonesia dinilai tetap memiliki ruang untuk memperkuat pertumbuhan ekonominya di tengah perubahan lingkungan global.
Indonesia memiliki pengalaman melewati berbagai periode krisis yang memberikan pelajaran penting bagi ketahanan ekonomi nasional. Destry menyebut krisis moneter 1998 sebagai salah satu ujian besar yang pernah dihadapi Indonesia. Pada periode tersebut, tekanan terhadap perekonomian dan sistem keuangan berlangsung sangat berat, sehingga diperlukan langkah penanganan yang menyeluruh serta dukungan dari berbagai pihak.
Pengalaman berikutnya datang melalui krisis keuangan global pada 2008. Gejolak yang bermula dari perekonomian dunia tersebut turut memengaruhi kondisi global dan menuntut kewaspadaan dalam menjaga stabilitas nasional. Indonesia kemudian kembali menghadapi tantangan besar ketika pandemi Covid-19 melanda. Krisis kesehatan itu berdampak luas terhadap aktivitas masyarakat dan perekonomian, sekaligus menunjukkan pentingnya respons yang terkoordinasi dalam menghadapi situasi luar biasa.
Rangkaian pengalaman tersebut menjadi konteks ketika Indonesia menghadapi gejolak global pada saat ini. Dinamika ekonomi dan ketidakpastian di berbagai negara tetap perlu dicermati karena dapat memengaruhi lingkungan perekonomian nasional. Namun, pengalaman melewati krisis sebelumnya memperlihatkan adanya proses pembelajaran dalam merespons tekanan. Hal itu tidak berarti mengabaikan tantangan yang ada, melainkan menjadi dasar untuk menjaga kewaspadaan dan memperkuat koordinasi.
Destry menekankan pentingnya kerja sama dan sinergi “merah putih” dalam menghadapi tantangan tersebut. Sinergi pemerintah, otoritas, dunia usaha, masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan dinilai memiliki peran dalam menjaga stabilitas dan mendukung perekonomian. Dengan semangat kebersamaan, pengalaman Indonesia dalam menghadapi krisis moneter 1998, krisis keuangan global 2008, dan pandemi Covid-19 dapat menjadi bekal dalam merespons gejolak global yang sedang berlangsung. Pesan tersebut mencerminkan keyakinan bahwa kolaborasi nasional tetap penting untuk melewati tantangan secara bersama-sama.

