Jakarta | Indonesia akan menggelar Jakarta Vertical Run 2026, sebuah perlombaan lari vertikal yang menawarkan tantangan berbeda dari ajang lari jalan raya pada umumnya. Jika peserta lomba konvensional berlari menyusuri ruas jalan dengan medan relatif mendatar, peserta Jakarta Vertical Run harus mengandalkan kekuatan kaki, daya tahan, serta pengaturan napas untuk menaiki tangga gedung. Format ini menjadikan setiap lantai sebagai bagian dari lintasan dan menghadirkan pengalaman olahraga yang lebih intens.
Perlombaan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 14–15 November 2026 di Menara Autograph, kompleks Thamrin Nine, Jakarta. Penyelenggaraan di gedung pencakar langit ini menempatkan Jakarta Vertical Run sebagai salah satu agenda olahraga yang memadukan kompetisi, tantangan fisik, dan pengalaman menjelajahi ikon arsitektur perkotaan. Para peserta tidak sekadar mengejar waktu tercepat, tetapi juga berusaha mempertahankan ritme hingga mencapai titik akhir lintasan.
Menara Autograph memiliki ketinggian sekitar 385 meter. Dalam perlombaan ini, peserta akan diarahkan untuk mencapai lantai 106, termasuk area sky deck dan observatorium Up at Thamrin Nine. Posisi finis tersebut memberikan dimensi tersendiri karena perjuangan menaiki tangga di dalam gedung berakhir di salah satu titik tertinggi yang menawarkan pemandangan kawasan Jakarta.
Skala tantangan terlihat dari jumlah anak tangga yang harus ditaklukkan, yakni lebih dari 2.120 anak tangga. Jarak vertikal dan akumulasi tanjakan tersebut menuntut persiapan fisik yang serius, terutama pada otot kaki, jantung, serta kemampuan mengelola energi. Karena itu, perlombaan ini tidak hanya menguji kecepatan, tetapi juga ketahanan mental ketika peserta menghadapi ratusan lantai dan tangga secara bertahap. Digelar sebagai lomba lari vertikal pertama di Indonesia, Jakarta Vertical Run 2026 berpotensi memperkenalkan format kompetisi yang masih relatif baru bagi masyarakat sekaligus memperluas pilihan kegiatan olahraga di ruang perkotaan.
Jakarta Vertical Run menghadirkan tuntutan yang berbeda dari lomba lari biasa. Jika perlombaan di jalanan menekankan kecepatan, ritme, dan kemampuan mempertahankan langkah dalam jarak tertentu, ajang ini memaksa peserta bergerak menanjak melalui ribuan anak tangga. Setiap langkah harus mengangkat tubuh ke ketinggian yang lebih tinggi, sehingga beban kerja pada otot paha, betis, bokong, dan inti tubuh meningkat secara signifikan. Strategi berlari pun tidak dapat diterapkan secara penuh karena peserta perlu menyesuaikan tempo dengan kemiringan serta kondisi fisik.
Kekuatan otot kaki menjadi modal utama untuk menjaga dorongan tubuh selama pendakian. Namun, kekuatan saja belum cukup. Peserta juga harus mengatur napas secara efisien agar tidak cepat kehilangan tenaga, sekaligus membangun daya tahan fisik untuk menghadapi rute panjang. Tangga darurat memberikan tantangan tambahan karena sirkulasi udara dan ketersediaan oksigen terasa berbeda dibandingkan saat berlari di ruang terbuka. Ketika lantai yang dicapai semakin tinggi, akumulasi kelelahan membuat elevasi terasa semakin berat dan pemulihan menjadi lebih lambat.
Tekanan tersebut juga menuntut kesiapan mental. Rasa terbakar pada kaki, napas yang semakin pendek, dan dorongan untuk berhenti dapat muncul sebelum peserta mencapai garis akhir. Kemampuan mempertahankan konsentrasi, membagi tenaga, serta mengikuti ritme yang terukur menjadi bagian penting dari persiapan. Peserta perlu memahami bahwa memaksakan kecepatan pada lantai awal dapat menguras cadangan energi dan menyulitkan mereka pada bagian rute yang lebih tinggi.
Pengalaman Attila Daffa Yaghi menggambarkan tuntutan itu. Pelari berusia 19 tahun tersebut mengatakan bahwa ia perlu memusatkan latihan pada strength training, termasuk squat dan berbagai latihan penguatan kaki, serta endurance. Kesimpulan itu muncul setelah mengikuti simulasi pendakian 26 lantai. Menurut Attila, “pendakian 26 lantai saja sudah membuat peserta terengah-engah.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tantangan vertikal membutuhkan kombinasi kekuatan, kapasitas daya tahan, pengaturan napas, dan ketangguhan mental, bukan sekadar kemampuan berlari cepat.
Simulasi Road to Geely Jakarta Vertical Run Season II digelar pada Minggu, 11 Oktober 2026, sebagai bagian dari persiapan menuju perlombaan utama Jakarta Vertical Run 2026 pada November. Kegiatan ini dimulai dengan lari sejauh 3 kilometer di kawasan hari bebas kendaraan bermotor sekitar Bundaran Hotel Indonesia. Setelah menyelesaikan rute lari tersebut, peserta melanjutkan tantangan dengan menaiki tangga di Menara Autograph. Rangkaian ini dirancang untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai karakter perlombaan, yang memadukan lari di ruang terbuka dan pendakian vertikal di dalam gedung.
Bagi peserta, simulasi tersebut berfungsi sebagai pemanasan sekaligus kesempatan untuk mengenali tuntutan fisik dalam olahraga vertical running. Masyarakat juga dapat melihat secara langsung format olahraga yang mengandalkan kekuatan, daya tahan, pengaturan napas, serta strategi saat menaklukkan ribuan anak tangga. Selain memperkenalkan disiplin ini kepada publik, penyelenggara memanfaatkan kegiatan tersebut untuk menguji kesiapan teknis sebelum kompetisi utama berlangsung. Evaluasi mencakup alur peserta, pengaturan waktu, komunikasi petugas, hingga respons terhadap situasi yang mungkin muncul selama perlombaan.
Salah satu aspek yang diuji adalah sistem pelepasan peserta atau wave start. Gelombang pertama diperuntukkan bagi atlet elite, sedangkan gelombang kedua diikuti pelari umum dengan jarak 15 detik antarpelepasan. Gelombang ketiga dan keempat menggunakan interval lima detik untuk menjaga aliran peserta tetap teratur. Pengaturan ini membantu mengurangi kepadatan di tangga dan memberi ruang bagi setiap pelari untuk bergerak secara aman. Untuk memperkuat pengawasan, marshal ditempatkan di setiap lima lantai. Mereka bertugas memantau kondisi peserta, membantu menjaga kelancaran arus pendakian, memberikan arahan bila diperlukan, serta mendukung aspek keselamatan sepanjang rute vertikal.
Simulasi Jakarta Vertical Run 2026 mencatat hasil yang menunjukkan tuntutan fisik dari lintasan gedung bertingkat. Peserta tercepat mampu mencapai lantai 26 dalam waktu empat menit. Catatan tersebut menjadi salah satu hasil utama simulasi, sekaligus memberikan gambaran mengenai kecepatan dan daya tahan yang dibutuhkan untuk menaklukkan rangkaian anak tangga dalam perlombaan utama.
Attila Daffa Yaghi termasuk peserta yang berhasil mencatat pencapaian mencapai lantai 26 dalam empat menit. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa lomba lari vertikal memerlukan persiapan khusus, bukan hanya kemampuan berlari di lintasan datar. Peserta perlu menyesuaikan latihan dengan karakter tangga, perubahan intensitas, serta kebutuhan menjaga ritme agar tenaga tetap tersedia hingga lantai yang dituju.
Jakarta Vertical Run diinisiasi oleh Dinas Pemuda dan Olahraga DKI Jakarta. Kegiatan ini juga disebut sebagai ajang resmi Towerrunning World Association pertama di Indonesia. Status tersebut menempatkan perlombaan ini dalam konteks olahraga lari vertikal yang berlangsung di gedung pencakar langit, dengan tantangan utama berupa pendakian ribuan anak tangga menuju lantai atas.
Penyelenggaraan Jakarta Vertical Run menjadi bagian dari program sport tourism Dispora DKI Jakarta. Program tersebut mendorong pengembangan olahraga perkotaan sekaligus memperkenalkan pengalaman berolahraga di gedung pencakar langit kepada masyarakat dan peserta. Melalui format lomba ini, gedung bertingkat digunakan sebagai ruang aktivitas olahraga, sementara simulasi memberikan kesempatan untuk mengenali kebutuhan persiapan sebelum menghadapi tantangan 2.120 anak tangga pada agenda utama.
Baca juga: Prajurit Korem 161/Wira Sakti Hadirkan Keceriaan bagi Anak-Anak Terdampak Gempa NTT | Sambut HUT ke-81 TNI, Bhakti Kesehatan TNI Layani Masyarakat di Jakarta | TNI-Polri Gelar Patroli Terpadu, Jaga Keamanan dan Kondusivitas Jakarta

