Telur Mentah Bukan Penurun Demam Bayi, Risiko Infeksi Perlu Diwaspadai

Telur Mentah Bukan Penurun Demam Bayi, Risiko Infeksi Perlu Diwaspadai

Jakarta | Pemberian telur mentah kepada bayi bukan cara yang tepat untuk menurunkan demam. Hingga kini, tidak ada dasar medis yang menunjukkan bahwa telur mentah dapat mengurangi suhu tubuh atau mengatasi penyebab demam. Demam merupakan tanda bahwa tubuh sedang merespons suatu kondisi, seperti infeksi virus, infeksi bakteri, atau gangguan kesehatan lainnya. Karena itu, penanganannya perlu disesuaikan dengan penyebab dan keadaan bayi, bukan dengan mengandalkan bahan makanan yang belum terbukti memiliki manfaat sebagai pengobatan.

Telur mentah justru dapat menimbulkan risiko tambahan bagi kesehatan bayi. Bahan pangan tersebut berpotensi terkontaminasi bakteri, termasuk Salmonella, yang dapat menyebabkan muntah, diare, nyeri perut, dan demam lebih lanjut. Sistem kekebalan bayi masih berkembang sehingga mereka lebih rentan mengalami komplikasi akibat infeksi saluran pencernaan. Selain itu, telur mentah memiliki tekstur dan kandungan yang belum tentu sesuai untuk tahap perkembangan bayi, terutama bila diberikan tanpa pengawasan atau dalam jumlah yang tidak tepat.

Orang tua dan pengasuh sebaiknya tidak melakukan tindakan rumahan yang tidak memiliki dasar medis ketika bayi mengalami demam. Memberikan makanan atau minuman tertentu tanpa memastikan keamanan dan kesesuaiannya dapat memperburuk kondisi atau menunda pertolongan yang diperlukan. Bayi tetap perlu mendapatkan asupan cairan atau ASI sesuai kebutuhannya, sementara suhu tubuh dipantau dengan alat ukur yang tepat. Penggunaan obat penurun panas pun sebaiknya mengikuti anjuran tenaga kesehatan, termasuk mengenai jenis dan dosisnya.

Demam pada bayi memerlukan perhatian lebih, khususnya jika bayi berusia sangat muda, tampak lemas, sulit menyusu, terus-menerus muntah, mengalami kejang, bernapas cepat, atau menunjukkan tanda kekurangan cairan. Suhu yang tinggi atau demam yang menetap juga perlu dievaluasi oleh dokter. Pemeriksaan medis membantu menemukan penyebab dan menentukan perawatan yang aman, sehingga telur mentah maupun metode alternatif lain tidak digunakan sebagai pengganti penanganan profesional.

Kasus bayi Alena, yang baru berusia 28 hari, menjadi perhatian publik setelah kabar mengenai kondisi kesehatannya beredar. Bayi tersebut sebelumnya dilaporkan mengalami demam. Berdasarkan bahan sumber yang tersedia, Alena diduga sempat diberikan telur mentah oleh neneknya sebagai bagian dari upaya penanganan demam. Informasi ini kemudian memicu perbincangan mengenai keamanan pemberian bahan pangan tertentu kepada bayi, terutama bayi baru lahir.

Setelah kondisinya memburuk, Alena menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Perawatan intensif menunjukkan bahwa kondisi bayi memerlukan pemantauan dan penanganan medis yang serius. Namun, rincian mengenai diagnosis, perjalanan penyakit, serta hasil pemeriksaan medis Alena tidak dapat disimpulkan hanya dari informasi tentang pemberian telur mentah. Setiap dugaan mengenai kondisi kesehatan bayi perlu merujuk pada keterangan dokter atau pihak rumah sakit yang berwenang.

Alena dinyatakan meninggal dunia pada Minggu, 11 Oktober 2026. Peristiwa ini tentu menimbulkan duka bagi keluarga dan perhatian luas dari masyarakat. Meski pemberian telur mentah disebut dalam pemberitaan, belum terdapat keterangan medis yang memastikan bahwa telur tersebut secara langsung menyebabkan demam, memburuknya kondisi, atau kematian Alena. Karena itu, publik perlu menghindari kesimpulan terburu-buru dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Kasus ini sekaligus mengingatkan bahwa bayi berusia sangat muda memerlukan penanganan demam secara hati-hati. Orang tua atau pengasuh sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dan tidak memberikan makanan atau bahan tertentu tanpa arahan medis. Telur mentah juga berpotensi membawa mikroorganisme berbahaya, sehingga penggunaannya pada bayi perlu dihindari. Penilaian mengenai penyebab pasti kondisi Alena tetap menjadi kewenangan tenaga medis berdasarkan pemeriksaan dan data klinis yang lengkap.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan telur mentah maupun telur setengah matang kepada bayi dan anak. Peringatan tersebut disampaikan oleh Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), melalui pernyataan resmi IDAI. Penjelasan ini menegaskan bahwa telur dalam kondisi tersebut bukan pilihan yang dianjurkan untuk diberikan kepada kelompok usia tersebut.

Menurut pernyataan resmi itu, telur mentah dan setengah matang memiliki risiko infeksi. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan bentuk makanan yang diberikan kepada bayi dan anak, terutama ketika muncul anggapan bahwa telur mentah dapat digunakan untuk membantu menurunkan demam. Pemberian makanan tetap perlu mengikuti anjuran yang disampaikan oleh tenaga kesehatan dan tidak didasarkan pada informasi yang belum memiliki dasar yang jelas.

Peringatan IDAI berlaku untuk telur mentah maupun telur yang belum matang sepenuhnya. Keduanya tidak dianjurkan diberikan kepada bayi dan anak karena adanya risiko infeksi yang perlu diwaspadai. Pernyataan tersebut menjadi pengingat bagi keluarga untuk tidak menjadikan telur dalam kondisi itu sebagai bagian dari upaya menangani demam atau sebagai makanan yang diberikan secara rutin kepada anak.

Dengan demikian, orang tua sebaiknya tidak mengikuti saran pemberian telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak. Informasi mengenai penanganan demam perlu merujuk pada sumber kesehatan yang dapat dipertanggungjawabkan, termasuk keterangan resmi IDAI. Sikap berhati-hati dalam memilih makanan penting dilakukan untuk menghindari risiko infeksi yang telah disampaikan oleh organisasi profesi tersebut.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut telur mentah atau telur setengah matang dapat mengandung bakteri Salmonella. Keberadaan bakteri ini menjadi perhatian, terutama ketika telur diberikan kepada bayi yang daya tahan tubuhnya masih berkembang. Dalam kondisi tertentu, makanan yang belum dimasak secara sempurna dapat menjadi sumber paparan bakteri dan menimbulkan gangguan kesehatan.

Infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella dikenal sebagai salmonelosis. Infeksi tersebut menyerang saluran pencernaan dan dapat menimbulkan keluhan seperti diare, muntah, nyeri perut, atau demam. Pada bayi, termasuk bayi yang baru lahir, infeksi dan gangguan kesehatan perlu dipandang secara serius karena kondisi tubuh mereka masih rentan. Risiko ini menunjukkan bahwa telur mentah bukanlah penurun demam yang aman untuk diberikan kepada bayi.

Pemberian telur mentah dalam kasus Alena menjadi pengingat bahwa pengobatan rumahan yang berisiko sebaiknya tidak dicoba pada bayi, khususnya bayi yang baru lahir. Keinginan untuk membantu menurunkan demam dapat mendorong pengasuh mengikuti cara-cara yang beredar di masyarakat, tetapi bahan pangan tertentu justru berpotensi membawa bakteri dan memperburuk kondisi kesehatan. Informasi mengenai keamanan makanan perlu menjadi pertimbangan sebelum suatu bahan diberikan kepada anak.

Meski demikian, risiko infeksi Salmonella tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa tindakan tersebut pasti menyebabkan kematian Alena. Penyebab suatu kondisi kesehatan atau kematian memerlukan penilaian berdasarkan pemeriksaan dan informasi medis yang memadai. Kasus ini lebih tepat dijadikan pengingat bagi keluarga dan pengasuh agar tidak mengandalkan metode rumahan yang berisiko pada bayi, serta lebih berhati-hati terhadap klaim pengobatan yang belum memiliki dasar kesehatan yang jelas.