Bisnis  

Permintaan Tiga Dapur MBG Dongkrak Produksi Tempe Rumahan di Kulon Progo

Permintaan Tiga Dapur MBG Dongkrak Produksi Tempe Rumahan di Kulon Progo

Kabupaten Kulon Progo | Usaha tempe rumahan milik Khoiri Rosyidin dan istrinya, Sisika, di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, meningkatkan kapasitas produksi setelah mendapat permintaan baru dari tiga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Keduanya kini memproduksi tempe dalam jumlah lebih besar untuk memasok bahan pangan yang dibutuhkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Perubahan tersebut menjadi bagian penting dari perkembangan usaha yang sebelumnya berjalan dengan skala rumahan.

Sebelum memasok kebutuhan dapur MBG, Khoiri dan Sisika hanya menggunakan sekitar 40 kilogram kedelai dalam satu kali pembuatan tempe. Setelah menerima permintaan dari tiga dapur, jumlah bahan baku yang diolah meningkat menjadi 150 kilogram dalam satu kali produksi. Kenaikan ini membuat kapasitas usaha bertambah lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kondisi sebelumnya.

Khoiri menjelaskan bahwa produksi tempe tersebut pada awalnya hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar dan warung. “Dahulu produksi tersebut hanya untuk pasar dan warung,” ujar Khoiri. Pola produksi yang berorientasi pada penjualan harian itu kemudian berubah ketika usaha mereka dipercaya menjadi pemasok bahan pangan bagi dapur-dapur SPPG.

Permintaan dari tiga dapur MBG mendorong usaha keluarga tersebut menyesuaikan volume pengolahan kedelai secara signifikan. Setiap peningkatan produksi perlu diikuti dengan pengaturan proses pembuatan tempe agar pasokan dapat memenuhi kebutuhan dapur secara konsisten. Bagi Khoiri dan Sisika, kerja sama ini membuka peluang pengembangan usaha sekaligus memperluas jangkauan pemasaran produk tempe rumahan mereka. Produksi yang lebih besar juga menunjukkan bahwa pelaku usaha kecil dapat mengambil peran dalam rantai penyediaan pangan untuk program pemerintah, selama mampu menjaga ketersediaan dan memenuhi permintaan SPPG.

Usaha tempe yang dijalankan Khoiri dan Sisika telah berlangsung sejak 2009. Selama bertahun-tahun, keduanya membangun usaha tersebut secara bertahap dengan mengandalkan proses produksi rumahan dan pemasaran langsung kepada konsumen. Pilihan untuk menekuni pembuatan tempe berangkat dari upaya memenuhi kebutuhan pasar sekaligus mempertahankan sumber penghasilan keluarga. Seiring waktu, usaha itu berkembang melalui hubungan dengan pelanggan yang membeli secara rutin.

Sebelum bekerja sama dengan dapur MBG, Khoiri dan Sisika memasarkan tempe ke pasar tradisional serta warung-warung di sekitar tempat tinggal mereka. Saluran penjualan tersebut menjadi tumpuan utama untuk menyalurkan hasil produksi setiap pekan. Mereka melayani permintaan pelanggan dengan ukuran dan jumlah yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Harga tempe yang ditawarkan berada pada kisaran Rp5.000 hingga Rp6.000 per potong, sehingga produk tersebut dapat menjangkau konsumen dari berbagai kalangan.

Untuk memenuhi permintaan dari pasar tradisional dan warung, keduanya mengolah sekitar 240 kilogram kedelai setiap minggu. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa usaha yang dikelola bukan sekadar kegiatan produksi dalam skala kecil, melainkan telah memiliki pola kerja yang berlangsung secara rutin. Pengolahan kedelai dilakukan berdasarkan perkiraan kebutuhan pelanggan dan kemampuan penjualan pada pekan berjalan. Dengan pengelolaan yang konsisten, Khoiri dan Sisika dapat menjaga keberlanjutan produksi sekaligus mempertahankan pemasaran kepada pelanggan lama.

Selama periode tersebut, pengalaman mengatur bahan baku, mengolah kedelai, dan menyalurkan tempe menjadi bekal penting bagi perkembangan usaha mereka. Aktivitas produksi yang dilakukan secara teratur membantu keduanya memahami ritme permintaan serta menjaga ketersediaan produk. Sebelum hadirnya kerja sama dengan dapur MBG, pasar tradisional dan warung di sekitar tempat tinggal tetap menjadi jalur utama penjualan tempe yang mereka hasilkan.

Kerja sama pasangan perajin tempe rumahan itu dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bermula dari informasi sederhana yang disampaikan seorang teman kepada Sisika. Teman tersebut menyampaikan adanya peluang kerja sama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah setempat. Informasi itu kemudian mendorong Sisika dan pasangannya untuk mencoba menawarkan produk mereka kepada pengelola dapur MBG.

Sebelum menjadi pemasok, pasangan tersebut menyiapkan sampel tempe untuk diperkenalkan dan dinilai oleh pengelola dapur. Langkah ini menjadi tahap penting karena kebutuhan dapur MBG menuntut produk dengan kualitas, ukuran, kebersihan, serta ketahanan yang sesuai untuk pengolahan makanan dalam jumlah besar. Mereka tidak hanya menyerahkan sampel, tetapi juga membuka ruang komunikasi mengenai karakteristik tempe yang dibutuhkan.

Dari proses tersebut, pengelola dapur memberikan sejumlah masukan terkait kualitas produk. Sisika dan pasangannya kemudian melakukan penyesuaian berdasarkan evaluasi itu, termasuk memastikan tempe memiliki mutu yang konsisten dan dapat memenuhi kebutuhan distribusi makanan. Penyesuaian dilakukan secara bertahap agar produk yang dihasilkan tetap sesuai dengan standar pemesan, sekaligus mempertahankan cita rasa dan proses produksi rumahan yang selama ini menjadi ciri usaha mereka.

Upaya tersebut membuahkan hasil ketika produk mereka mulai diterima sebagai pemasok MBG pada 14 April 2025. Sejak saat itu, pola pengiriman berkembang mengikuti peningkatan kebutuhan dari dapur-dapur yang dilayani. Dalam satu kali pengiriman, jumlah tempe yang disalurkan dapat mencapai 150 kilogram. Pengiriman tersebut bahkan dilakukan hingga tiga kali dalam sepekan, sehingga kerja sama dengan MBG memberikan kepastian permintaan yang lebih besar dibandingkan penjualan sebelumnya.

Peningkatan frekuensi dan volume pengiriman mendorong pasangan itu untuk menata kembali kegiatan produksi, mulai dari persiapan bahan baku hingga pengemasan dan pengantaran. Bagi usaha tempe rumahan tersebut, kerja sama ini bukan sekadar tambahan pelanggan, melainkan kesempatan untuk memperluas kapasitas usaha melalui kemitraan dengan SPPG dan memenuhi kebutuhan pangan bergizi bagi penerima manfaat MBG.

Meningkatnya permintaan tempe dari tiga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kulon Progo membawa perubahan langsung terhadap kegiatan produksi rumahan yang dijalankan Khoiri dan Sisika. Pesanan yang sebelumnya dapat mereka kerjakan berdua kini terkadang datang dalam jumlah dan waktu yang lebih padat. Kondisi tersebut membuat tahapan pengolahan kedelai, pencucian, perebusan, pemisahan kulit, hingga pembungkusan tempe membutuhkan tenaga tambahan. Sisika menyampaikan bahwa pekerjaan sesekali tidak sanggup mereka tangani berdua, sehingga mereka mulai melibatkan warga sekitar dalam proses produksi.

Pelibatan warga dilakukan untuk membantu menjaga kelancaran pekerjaan ketika permintaan meningkat, sekaligus memungkinkan produksi diselesaikan sesuai kebutuhan dapur MBG. Meski kapasitas bertambah, Khoiri dan Sisika tetap mempertahankan cara pengolahan yang selama ini menjadi bagian penting dari mutu tempe mereka. Kedelai masih direbus menggunakan kayu bakar, bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan produksi, melainkan juga karena cara tersebut telah mereka pertahankan dalam proses pembuatan. Setelah itu, bahan baku dicuci menggunakan sumber mata air yang tersedia di sekitar tempat produksi.

Penyesuaian juga dilakukan pada tahap pemberian ragi dan pembentukan tempe. Takaran ragi tidak ditetapkan secara kaku, sebab pengelola dapur MBG memberikan masukan berdasarkan hasil tempe yang mereka terima. Khoiri dan Sisika kemudian menyesuaikan jumlah ragi agar proses fermentasi menghasilkan tempe dengan kondisi yang sesuai kebutuhan. Kepadatan tempe turut diatur berdasarkan masukan tersebut. Penyesuaian ini membuat ukuran, tekstur, dan tingkat kepadatan produk dapat diselaraskan dengan penggunaan di dapur MBG, tanpa mengabaikan tahapan dasar yang telah mereka jalankan.

Bagi Khoiri, tantangan utama saat permintaan terus bertambah adalah mempertahankan konsistensi kualitas. Peningkatan jumlah produksi harus diimbangi dengan pengawasan pada setiap tahapan, termasuk pemilihan bahan baku, perebusan, pencucian, pemberian ragi, dan pembungkusan. Keterlibatan warga membantu meringankan pekerjaan, tetapi mutu tetap perlu dijaga melalui cara kerja yang seragam. Dengan demikian, tambahan pesanan tidak hanya menjadi peluang memperbesar produksi, tetapi juga menuntut ketelitian agar kualitas tempe tetap konsisten.

Baca juga: Jembatan Beton Merah Putih Di Kelurahan Muara Kembang Diharapkan Mampu Dongkrak Perekonomian Masyarakat