Kota Bandung | Rombongan Persib U-18 mengalami penyerangan saat berhenti untuk beristirahat di Rest Area Batang Km 360, pada Minggu malam, 11 Oktober 2026. Insiden tersebut melibatkan kekerasan terhadap ofisial, penjarahan, serta pelemparan batu yang menyebabkan kaca bus rombongan pecah. Peristiwa ini menjadi perhatian karena terjadi ketika rombongan sedang berada di area peristirahatan dalam perjalanan.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan, rombongan suporter berinisial J sedang berkumpul di lokasi setelah menyaksikan pertandingan timnya di Yogyakarta. Pada waktu yang sama, rombongan Persib U-18 berhenti di Rest Area Batang untuk mengambil waktu istirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Situasi kemudian berubah menjadi insiden penyerangan terhadap rombongan tersebut.
Kekerasan disebut tidak hanya menyasar ofisial, tetapi juga disertai tindakan penjarahan. Selain itu, pelemparan batu mengakibatkan kaca bus pecah. Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan bahwa tempat yang semestinya digunakan untuk beristirahat berubah menjadi lokasi terjadinya tindakan yang membahayakan keselamatan rombongan Persib U-18.
Kesaksian ofisial Persib U-18 mengenai kejadian ini memberikan gambaran langsung tentang kondisi yang dialami rombongan saat berada di Rest Area Batang. Penyampaian keterangan tersebut penting untuk menjelaskan kronologi secara faktual, terutama terkait kekerasan, penjarahan, dan kerusakan pada bus akibat lemparan batu. Peristiwa pada Minggu malam itu sekaligus menegaskan perlunya perhatian terhadap keamanan rombongan olahraga dan suporter ketika melakukan perjalanan antarkota.
Insiden tersebut berlangsung setelah rombongan suporter J menyaksikan pertandingan di Yogyakarta, sedangkan rombongan Persib U-18 berada di rest area untuk beristirahat. Dengan demikian, inti peristiwa ini adalah penyerangan terhadap rombongan Persib U-18 yang mencakup kekerasan terhadap ofisial, penjarahan, serta pelemparan batu hingga menyebabkan kaca bus pecah.
Dalam kesaksiannya, Pandu Persada menceritakan rangkaian kejadian yang dialaminya setelah turun dari bus bersama rekannya, Ridwan, di area istirahat Batang. Keduanya semula berada di sekitar bus tanpa bermaksud mengganggu para suporter. Ridwan sempat mengingatkan Pandu agar berhati-hati, tetapi Pandu merasa mereka tidak melakukan tindakan yang dapat memicu persoalan. Situasi kemudian berubah ketika mereka hendak kembali menuju bus.
Pandu melihat bus Persib dikerumuni sejumlah orang. Pada saat yang sama, ia menyaksikan Ridwan ditarik oleh salah seorang suporter. Pandu berusaha melerai dan meminta Ridwan segera masuk ke bus. Namun, dalam situasi yang berlangsung cepat dan penuh tekanan, ia akhirnya tertinggal seorang diri. Menurut penuturannya, ia kemudian diminta membuka jersey Persib yang dikenakannya. Permintaan tersebut membuat posisi Pandu semakin rentan, terlebih karena ia berada di tengah kerumunan tanpa rekan yang dapat mendampinginya.
Pandu mengaku setelah itu dikeroyok dan disuruh pergi dari lokasi. Ia sempat terjatuh ketika berusaha menyelamatkan diri, tetapi kemudian bangkit dan melarikan diri menuju tempat tambal ban di sekitar rest area. Di tempat tersebut, Pandu memperoleh bantuan dari petugas rest area. Pertolongan itu menjadi bagian penting dari upayanya menjauh dari kerumunan dan mendapatkan perlindungan setelah mengalami intimidasi serta kekerasan. Kesaksian Pandu menggambarkan bahwa insiden tersebut berlangsung dalam beberapa tahap, mulai dari kerumunan di sekitar bus, upaya menarik Ridwan, hingga pengejaran terhadap dirinya setelah ia terpisah dari rombongan. Pernyataannya juga menunjukkan bahwa ia berusaha menghindari konflik dan mengembalikan rekannya ke bus sebelum akhirnya menghadapi tindakan kekerasan seorang diri.
Pelatih Persib U-18, Tito Agung Setiawan, menjelaskan bahwa rombongan tidak memiliki pola khusus ketika berhenti dalam perjalanan jauh. Mereka biasanya beristirahat secara acak, menyesuaikan kondisi perjalanan dan kebutuhan tim. Karena itu, rombongan tidak mengetahui adanya kelompok suporter J yang berada di lokasi rest area yang sama. Situasi tersebut baru disadari setelah terjadi peristiwa yang melibatkan salah satu pemain.
Menurut keterangan Tito, Pandu saat itu mengenakan jersey Persib. Pakaian tersebut diduga menjadi pemicu perhatian dan kemudian memunculkan tindakan penyerangan. Beberapa suporter masuk ke dalam bus yang membawa rombongan Persib U-18. Tito menyebut terdapat satu atau dua orang yang masuk, melontarkan kata-kata kasar, serta menyampaikan intimidasi dan provokasi kepada pemain maupun ofisial.
Selain menyampaikan ucapan bernada kasar, mereka juga meminta para pemain dan ofisial turun dari bus. Namun, rombongan tidak terpancing oleh tindakan tersebut. Pemain dan ofisial memilih tetap berada di dalam bus agar situasi tidak semakin memburuk. Sikap itu diambil untuk mencegah terjadinya bentrokan langsung serta menjaga keselamatan seluruh anggota rombongan.
Ketegangan kemudian berlanjut ketika bus menjadi sasaran pelemparan batu. Serangan tersebut menyebabkan sejumlah kaca bus pecah. Pecahan kaca berhamburan ke bagian dalam kendaraan dan mengenai beberapa pemain serta ofisial Persib U-18. Insiden itu menimbulkan kepanikan di dalam bus, terutama karena rombongan sebelumnya berusaha menghindari konfrontasi.
Keterangan Tito menggambarkan bahwa gangguan tidak berhenti pada intimidasi secara verbal. Tindakan tersebut berkembang menjadi serangan terhadap kendaraan yang ditumpangi tim, dengan dampak langsung terhadap keselamatan pemain dan ofisial. Rombongan pun harus menghadapi situasi darurat setelah kaca pecah dan serpihannya mengenai sejumlah orang di dalam bus.
Setelah insiden penyerangan terjadi di Rest Area Km 360, rombongan Persib U-18 mengambil keputusan untuk segera meninggalkan lokasi. Bus diarahkan keluar dari area tersebut karena situasi dinilai tidak memungkinkan bagi para pemain dan ofisial untuk tetap berada di sana. Langkah itu dilakukan untuk mencari tempat yang lebih aman sekaligus memperoleh bantuan dari pihak berwenang. Dalam kondisi tersebut, Pandu diketahui tertinggal di rest area.
Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Batang untuk membuat laporan kepada kepolisian. Laporan tersebut disampaikan agar peristiwa yang dialami tim dapat ditangani secara resmi dan diusut berdasarkan keterangan para korban maupun saksi. Polisi menindaklanjuti laporan itu dengan mendatangi Rest Area Km 360 dan menjemput Pandu yang masih berada di lokasi. Tindakan tersebut memungkinkan Pandu kembali bergabung serta memberikan keterangan terkait kejadian yang dialaminya.
Pandu berharap proses hukum berjalan secara menyeluruh dan kasus tersebut dapat diusut tuntas. Ia juga menyampaikan bahwa dirinya menerima informasi mengenai salah seorang yang diduga terlibat telah ditangkap. Namun, informasi itu masih merupakan hal yang diterimanya dan belum dapat dinyatakan sebagai fakta yang telah dipastikan sebelum ada penjelasan resmi dari aparat penegak hukum. Karena itu, proses penyelidikan tetap menjadi dasar untuk mengungkap rangkaian peristiwa dan pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Insiden tersebut turut meninggalkan dampak psikologis bagi para pemain. Tito menyampaikan bahwa sejumlah pemain mengalami trauma setelah kejadian itu, sehingga aspek keamanan perlu mendapat perhatian lebih besar dalam perjalanan berikutnya. Ia berharap agenda perjalanan dan kompetisi di luar kota pada masa mendatang dapat memperoleh pendampingan atau perwakilan dari TNI dan Polri. Kehadiran aparat diharapkan mampu memberikan rasa aman bagi pemain, ofisial, serta seluruh anggota rombongan selama berada di perjalanan maupun ketika menjalani pertandingan.

