Prabowo Soroti Sisa Karhutla 639,23 Hektare di Enam Provinsi

Prabowo Soroti Sisa Karhutla 639,23 Hektare di Enam Provinsi

Jakarta | Presiden Prabowo Subianto menyoroti perkembangan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih berlangsung di enam provinsi. Berdasarkan laporan terbaru, luas wilayah yang terdampak kebakaran kini tercatat 639,23 hektare. Angka tersebut menunjukkan penurunan yang signifikan dibandingkan kondisi beberapa minggu sebelumnya, ketika area terdampak masih lebih luas dan memerlukan penanganan intensif di sejumlah daerah.

Perkembangan mengenai kondisi karhutla itu disampaikan dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin, 12 Oktober 2026. Dalam pertemuan tersebut, pemerintah membahas situasi terkini di wilayah yang masih menghadapi kebakaran, termasuk perkembangan luas lahan terdampak serta langkah penanggulangan yang telah dilakukan. Data itu menjadi bagian dari pemantauan pemerintah terhadap penanganan bencana di berbagai provinsi.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyampaikan laporan mengenai kondisi karhutla kepada Presiden. Laporan tersebut menggambarkan bahwa penanganan kebakaran telah menghasilkan perkembangan positif, meskipun titik-titik api dan wilayah terdampak masih perlu diawasi. Penyisaan area terbakar di enam provinsi menunjukkan bahwa upaya pengendalian belum sepenuhnya berakhir dan tetap membutuhkan koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta pihak terkait.

Penurunan luas wilayah terdampak menjadi indikator penting dalam evaluasi penanganan karhutla. Namun, pemerintah tetap perlu mempertahankan pemantauan dan kesiapsiagaan, terutama di daerah yang masih berpotensi mengalami kebakaran. Informasi yang disampaikan BNPB dalam rapat tersebut memberikan gambaran mengenai skala persoalan sekaligus perkembangan pengendalian karhutla secara nasional. Dengan luas yang kini berada pada angka 639,23 hektare, perhatian pemerintah diarahkan pada penyelesaian sisa kebakaran dan pencegahan agar api tidak kembali meluas.

Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), wilayah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih ditangani tersebar di enam provinsi. Data tersebut mencakup lahan gambut dan lahan mineral, dengan konsentrasi terbesar berada di Kalimantan Tengah. Seluruh angka yang disampaikan BNPB menggambarkan luasan wilayah karhutla yang belum sepenuhnya tertangani, sehingga masih memerlukan pemadaman, pendinginan, pemantauan, dan penanganan lanjutan oleh petugas di lapangan.

Kalimantan Tengah mencatat 10,89 hektare lahan gambut serta 513,89 hektare lahan mineral. Luasan lahan mineral tersebut berada khusus di Taman Nasional Tanjung Puting. Kondisi ini menjadikan kawasan konservasi tersebut sebagai perhatian utama dalam penanganan karhutla, mengingat kebakaran di wilayah taman nasional berpotensi mengancam ekosistem, habitat satwa, dan kawasan hutan yang memiliki nilai ekologis penting. Penanganan perlu dilakukan secara terkoordinasi untuk mencegah api meluas dan memastikan titik-titik api yang tersisa dapat dikendalikan.

Selain Kalimantan Tengah, BNPB melaporkan karhutla di Sumatra Selatan dengan luasan 6,90 hektare dan Kalimantan Selatan sebesar 8,80 hektare. Jambi mencatat 81,50 hektare, sedangkan Kalimantan Barat memiliki luasan 16,34 hektare. Adapun Riau mencatat 1,00 hektare wilayah karhutla yang masih ditangani. Rincian tersebut menjadi dasar bagi pemerintah dan unsur terkait untuk menentukan prioritas pengerahan personel, peralatan, serta dukungan operasi di setiap daerah. Perbedaan karakteristik lahan, akses menuju lokasi, dan kondisi cuaca juga perlu diperhitungkan agar penanganan berlangsung efektif. Dengan demikian, perhatian tidak hanya diarahkan pada luasan terbesar, tetapi juga pada seluruh lokasi yang masih berisiko mengalami penyebaran api maupun munculnya titik panas baru.

Prabowo merespons laporan mengenai penurunan luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan menilai perkembangan tersebut sebagai kabar yang menggembirakan. Setelah menerima informasi bahwa sisa area terdampak di enam provinsi mencapai 639,23 hektare, ia menyebut luas wilayah yang terbakar telah berkurang secara signifikan. Prabowo mengaku sebelumnya memperkirakan area yang terbakar masih mencapai ratusan ribu, atau setidaknya puluhan ribu hektare. Namun, data yang diterimanya menunjukkan kondisi di lapangan sudah jauh menurun dibandingkan perkiraan tersebut.

Meski demikian, penurunan luasan karhutla tidak membuat pemerintah mengurangi kewaspadaan. Prabowo meminta jajarannya memperkuat mitigasi, pencegahan, dan pengawasan agar kebakaran tidak kembali meluas. Salah satu langkah yang disorot ialah penambahan jumlah polisi hutan. Menurut arahan tersebut, keberadaan personel yang lebih banyak dibutuhkan untuk menjaga kawasan hutan, memantau potensi gangguan, serta merespons lebih cepat ketika muncul titik rawan kebakaran.

Dalam penyampaiannya kepada Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Rini Widyantini, Prabowo meminta agar kebutuhan hingga 70 ribu polisi hutan dapat diperhatikan. Jumlah itu diarahkan untuk memperkuat perlindungan hutan secara lebih menyeluruh, bukan hanya ketika karhutla terjadi, tetapi juga melalui pengawasan rutin dan upaya pencegahan. Ia juga meminta Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto turut berperan dalam mendidik polisi hutan. Keterlibatan tersebut diharapkan meningkatkan kapasitas personel, termasuk dalam penegakan aturan, pengamanan kawasan, dan koordinasi penanganan kebakaran. Arahan ini menegaskan bahwa capaian penurunan luas karhutla perlu diikuti penguatan sistem pengawasan dan sumber daya manusia agar kondisi tersebut dapat dipertahankan.

Prabowo meminta agar upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Tanjung Puting tetap menjadi perhatian. Meskipun kondisi di sejumlah wilayah telah membaik, kawasan konservasi tersebut dinilai memerlukan pemantauan dan penanganan berkelanjutan. Langkah itu penting untuk mencegah munculnya kembali titik api, melindungi ekosistem, serta mengurangi dampak asap terhadap masyarakat di sekitar kawasan.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan karhutla. Menurut Prabowo, luas area terbakar yang sebelumnya mencapai ratusan ribu hektare dalam beberapa minggu terakhir kini telah turun menjadi di bawah seribu hektare. Penurunan tersebut, katanya, tidak mungkin tercapai tanpa pengerahan dan penanganan besar-besaran yang dilakukan secara terpadu oleh berbagai unsur.

Selain mempertahankan upaya pemadaman, Prabowo meminta agar langkah mitigasi disiapkan untuk menghadapi kondisi pada periode berikutnya. Persiapan tersebut mencakup penguatan pemantauan, kesiapan personel dan peralatan, serta koordinasi antarlembaga di wilayah yang memiliki potensi kebakaran. Dengan demikian, respons terhadap titik api dapat dilakukan lebih cepat dan risiko meluasnya kebakaran dapat ditekan.

Prabowo menyampaikan terima kasih kepada para panglima, kapolda, dan pejabat daerah yang telah membantu penanganan karhutla. Ia menilai dukungan mereka berperan penting dalam mengendalikan kebakaran serta menjaga keselamatan warga. Terkait persoalan asap, Prabowo mengatakan hal itu akan dikonsultasikan kepada para profesor untuk memperoleh masukan yang tepat. Namun, ia menyebut hujan air pada akhirnya menjadi faktor utama yang membantu mengakhiri persoalan tersebut.

Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla | Perkuat Kesadaran Warga, Tim Penyuluh Karhutla Sesko TNI Bersama Pasis Sesko TNI Sosialisasikan Pencegahan Karhutla