Jakarta | Serangan siber berskala besar mengganggu sistem pendingin di ratusan supermarket di Prancis. Serangan tersebut menyasar lemari pendingin dan freezer yang terhubung ke jaringan digital, sehingga perangkat tidak dapat menjaga suhu sebagaimana mestinya. Dalam sejumlah kasus, suhu di dalam fasilitas pendinginan dilaporkan meningkat hingga 50 derajat Celsius. Gangguan ini berpotensi memengaruhi penyimpanan berbagai produk yang memerlukan kondisi dingin, meskipun dampak terhadap setiap gerai dapat berbeda.
Insiden itu terungkap pada Senin, 12 Oktober, setelah sejumlah jaringan supermarket besar melaporkan gangguan pada sistem operasional mereka. Jaringan yang terdampak mencakup Intermarché, Netto, Coopérative U, Carrefour, Monoprix, dan E.Leclerc. Kesamaan gangguan pada perangkat pendingin yang terhubung secara digital membuat insiden tersebut menjadi perhatian luas di sektor ritel Prancis. Hingga informasi yang tersedia, belum terdapat kepastian mengenai lokasi spesifik serangan, penyebab pasti, maupun pihak yang bertanggung jawab.
Data awal menunjukkan bahwa sedikitnya 300 gerai Intermarché dan Netto menjadi sasaran gangguan. Lebih dari 100 gerai Coopérative U juga terdampak, sedangkan Carrefour melaporkan gangguan pada 80 supermarket. Monoprix menyatakan sekitar 5 persen dari total 490 gerainya terkena dampak. E.Leclerc turut menyampaikan bahwa sejumlah tokonya menjadi sasaran, tanpa merinci jumlah keseluruhan gerai yang terganggu. Perbedaan angka pelaporan tersebut menunjukkan bahwa skala dampak masih terus dihimpun oleh masing-masing jaringan ritel. Gangguan pada lemari pendingin dan freezer menjadi aspek utama dalam peristiwa ini karena perangkat tersebut berperan penting dalam menjaga keamanan serta kualitas produk yang dijual kepada konsumen.
Gangguan terhadap sistem pendingin segera berdampak pada kegiatan operasional supermarket. Lemari pendingin dan freezer yang seharusnya menjaga produk pada suhu stabil dilaporkan mengalami kenaikan suhu secara drastis. Para peretas diduga mengaktifkan proses pencairan es secara paksa dari jarak jauh. Jika dugaan teknis tersebut benar, tindakan itu membuat perangkat bekerja tidak semestinya dan mengurangi kemampuan sistem dalam mempertahankan suhu penyimpanan yang aman.
Akibatnya, produk segar seperti daging, ikan, susu, serta makanan siap santap berisiko mengalami penurunan mutu. Makanan beku juga tidak lagi dapat dipastikan tetap berada dalam kondisi yang sesuai untuk dikonsumsi. Supermarket yang terdampak terpaksa memeriksa persediaan, menghentikan penjualan barang tertentu, dan membuang produk yang dicurigai telah terpapar suhu tidak aman. Langkah tersebut diperlukan untuk mencegah kemungkinan pertumbuhan mikroorganisme serta risiko kesehatan bagi konsumen, meskipun sekaligus menambah beban operasional dan nilai kerugian peritel.
Gangguan itu tidak hanya menimbulkan kerusakan pada stok. Kebakaran juga dilaporkan terjadi di sejumlah toko yang terdampak, sehingga memperbesar ancaman terhadap keselamatan pekerja, pelanggan, dan fasilitas. Hubungan langsung setiap kebakaran dan serangan siber masih harus dipastikan melalui penyelidikan, sehingga dugaan tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai fakta final.
Kantor Kejaksaan Paris menyatakan bahwa serangan tersebut menargetkan lemari pendingin yang terkoneksi dengan jaringan digital di sejumlah peritel makanan besar. Keterangan ini menunjukkan bahwa perangkat operasional yang terhubung ke jaringan dapat menjadi titik masuk gangguan dengan dampak fisik langsung. Thierry Cotillard, CEO Intermarché, menyebut kerugian di seluruh Prancis berpotensi mencapai puluhan juta euro hanya dalam satu hari. Namun, nilai kerugian keseluruhan—termasuk stok yang dibuang, kerusakan fasilitas, gangguan penjualan, dan biaya pemulihan—hingga kini masih belum diketahui.
Gangguan pada sistem pendingin tidak hanya menjadi persoalan operasional bagi perusahaan ritel. Kerusakan tersebut berpotensi menjalar ke rantai distribusi dan pasokan bahan pangan karena fasilitas penyimpanan di supermarket berperan menjaga produk tetap berada dalam kondisi yang layak hingga dijual. Ketika suhu tidak dapat dipertahankan, jaringan toko harus menangani dampak terhadap barang yang tersimpan sekaligus memastikan proses pemulihan berjalan tanpa mengabaikan kebutuhan operasional lainnya.
Dominique Schelcher, CEO Coopérative U, menilai serangan terhadap peralatan yang penting untuk menjaga kesegaran makanan dan pasokan pangan masyarakat sebagai tindakan yang sangat serius dan belum pernah terjadi sebelumnya. Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa sasaran serangan bukan sekadar sistem teknologi informasi, melainkan juga perangkat yang mendukung fungsi fisik penting dalam kegiatan perdagangan pangan. Karena itu, gangguan pada pendingin dapat memengaruhi tahapan penyimpanan dan penyaluran produk di jaringan supermarket yang terdampak.
Jaringan supermarket kemudian memusatkan langkah operasional pada pemulihan sistem pendingin dan pengembalian kegiatan toko seperti semula. Proses tersebut mencakup upaya untuk mengaktifkan kembali peralatan, memeriksa kondisi area penyimpanan, serta menata ulang aktivitas toko sesuai kemampuan masing-masing lokasi. Selama sistem belum berfungsi normal, pengelolaan produk memerlukan perhatian khusus, terutama terhadap barang yang sensitif terhadap perubahan suhu.
Kerusakan produk menjadi konsekuensi langsung dari kegagalan menjaga suhu penyimpanan pada tingkat yang diperlukan. Bahan pangan yang berada di ruang pendingin atau fasilitas pembeku dapat mengalami penurunan mutu ketika peralatan berhenti bekerja dalam periode tertentu. Dalam situasi ini, kerugian tidak hanya berkaitan dengan nilai barang yang rusak, tetapi juga dengan terganggunya proses penanganan dan distribusi produk di tingkat toko. Dampak operasional tersebut berlangsung bersamaan dengan pemulihan sistem yang dilakukan oleh jaringan ritel.
Pemerintah Prancis meminta penyelidikan menyeluruh setelah serangan siber mengganggu sistem pendingin di ratusan supermarket. Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu menugaskan Badan Keamanan Siber Nasional Prancis, atau ANSSI, untuk memeriksa bagaimana gangguan tersebut terjadi, sejauh mana dampaknya, serta apakah terdapat risiko lanjutan terhadap infrastruktur digital dan operasional ritel. Penyelidikan ini diharapkan dapat memetakan kronologi serangan, mengidentifikasi celah yang dimanfaatkan, dan memastikan langkah pemulihan dilakukan secara aman.
Selain bekerja melalui lembaga nasional, pemerintah Prancis berkoordinasi dengan sejumlah negara Eropa untuk mengetahui apakah ancaman serupa telah menyasar perusahaan di luar Prancis. Langkah lintas negara tersebut diperlukan karena perangkat pengelolaan pendingin digunakan oleh berbagai pelaku usaha di banyak pasar Eropa. Penyelidikan awal mengarah pada kemungkinan adanya kerentanan dalam perangkat lunak yang mengendalikan sistem pendingin. Perangkat lunak tersebut dipasok oleh perusahaan teknologi Denmark, Danfoss, yang produknya digunakan untuk mengatur suhu dan kinerja peralatan pendingin di lokasi komersial.
Danfoss mengakui telah mengetahui insiden yang memengaruhi sejumlah sistem pengelolaan pendingin di Prancis. Perusahaan itu menyatakan bahwa perangkat terdampak menggunakan versi firmware lama, yang berpotensi memiliki kelemahan keamanan dan tidak lagi memperoleh perlindungan terbaru. Sebelumnya, Danfoss telah menyarankan pelanggan untuk memperbarui perangkat lunak serta mengganti peralatan lama yang sudah tidak menerima pembaruan keamanan. Namun, masih diperlukan pemeriksaan untuk menentukan apakah rekomendasi tersebut telah diterapkan dan bagaimana peretas dapat memanfaatkan celah yang ada. Penyelidikan masih berlangsung guna memastikan metode serangan, dampak sebenarnya, serta pihak yang bertanggung jawab. Hingga kini, belum ada dasar untuk menuduh individu atau kelompok tertentu.
Baca juga: DCT CYBEREX SGS 2026 Paparkan Analisis Serangan, Perkuat Pertahanan Siber | Marine Force Lampung Uji Kemampuan Tempur Jarak Dekat Serta Serangan Malam Di SGS 2026 | Hercules TNI AU Kembali Tiba di Lanud Sjamsudin Noor, Bawa Ratusan APD Bantuan Kemhan RI dan Masker Dari Puskes TNI AU Untuk Perkuat Penanganan Karhutla Kalsel

