Palembang | Lima helikopter water bombing yang tergabung dalam Satuan Tugas Udara Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) belum dapat menjalankan misi pemadaman di sejumlah titik di Sumatera Selatan. Armada bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tersebut disiagakan di Palembang untuk mendukung penanganan kebakaran melalui operasi pemadaman dari udara.
Namun, rencana penerbangan harus dibatalkan karena asap karhutla menyebabkan jarak pandang di wilayah operasi menjadi sangat rendah. Kondisi itu menyulitkan pilot untuk melihat permukaan dan mengenali area yang akan menjadi sasaran penjatuhan air. Akibatnya, helikopter belum dapat mengudara meskipun telah berada dalam status siaga dan disiapkan untuk merespons titik-titik kebakaran.
Pembatalan misi tersebut berkaitan langsung dengan keselamatan penerbangan. Operasi water bombing membutuhkan kondisi cuaca dan jarak pandang yang memungkinkan pilot melakukan lepas landas, menuju lokasi, bermanuver, serta menjatuhkan air secara aman. Ketika asap terlalu tebal, risiko penerbangan meningkat, terutama saat helikopter mendekati area kebakaran atau harus kembali ke pangkalan.
Karena pertimbangan tersebut, lima helikopter bantuan BNPB masih menunggu hingga kondisi memungkinkan untuk terbang. Penundaan ini membuat dukungan pemadaman dari udara belum dapat diberikan kepada tim yang menangani karhutla di darat. Meskipun demikian, kesiapsiagaan armada tetap dipertahankan agar misi dapat segera dilaksanakan apabila jarak pandang membaik dan aspek keselamatan penerbangan telah terpenuhi.
Situasi ini menunjukkan bahwa asap tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga menghambat respons terhadap kebakaran. Keberadaan helikopter di Palembang belum otomatis menjamin operasi dapat dilakukan, sebab setiap penerbangan harus mempertimbangkan kondisi udara dan tingkat risiko di lapangan. Dengan demikian, pemadaman melalui udara masih menunggu perkembangan jarak pandang di sejumlah wilayah Sumatera Selatan.
Lima helikopter pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan sebenarnya telah dijadwalkan untuk diterbangkan guna mendukung upaya pemadaman dari udara. Armada tersebut disiapkan untuk menjalankan operasi water bombing, terutama pada lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat atau memiliki titik api yang masih berpotensi meluas. Namun, rencana penerbangan itu menghadapi kendala akibat perubahan jarak pandang di wilayah operasi.
Kepala Balai Penanggulangan Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan armada sempat berada dalam kondisi siap beroperasi pada pagi hari. Pada saat itu, penerbangan direncanakan segera dilakukan untuk menjatuhkan air ke area terdampak. Akan tetapi, kondisi atmosfer berubah secara tiba-tiba. Jarak pandang yang sebelumnya dinilai mencukupi kembali menurun sehingga penerbangan tidak dapat langsung dilaksanakan.
Menurut Ferdian, persiapan penerbangan kembali dilakukan sambil menunggu perkembangan visibility di lapangan. Tim terus memantau kondisi udara dan memastikan seluruh kebutuhan operasional tetap tersedia apabila cuaca dan jarak pandang memungkinkan. Pemantauan tersebut penting untuk menjaga efektivitas misi sekaligus memastikan keselamatan kru serta penerbangan, karena helikopter membutuhkan pandangan yang memadai ketika menuju titik sasaran, mengambil air, dan menjatuhkannya di kawasan karhutla.
Ferdian juga menyampaikan bahwa dukungan water bombing telah dimintanya untuk memperkuat penanganan kebakaran. Meski demikian, permintaan dukungan tersebut tidak serta-merta membuat seluruh helikopter dapat diterbangkan. Keputusan akhir tetap bergantung pada kondisi jarak pandang di lapangan dan hasil penilaian keselamatan penerbangan. Apabila visibility membaik dan memenuhi persyaratan, armada akan diarahkan untuk segera menjalankan misi pemadaman. Sementara itu, kesiapan personel dan peralatan dipertahankan agar operasi dapat dimulai tanpa penundaan tambahan ketika situasi memungkinkan.
Gangguan jarak pandang akibat asap tebal telah berlangsung sejak Kamis, 8 Oktober. Ferdian menjelaskan bahwa kondisi tersebut tidak bersifat tetap, melainkan terus berubah dari waktu ke waktu. Pada periode tertentu, jarak pandang dapat membaik, tetapi tidak lama kemudian kembali menurun ketika konsentrasi asap meningkat di sekitar lokasi kebakaran hutan dan lahan. Perubahan yang berlangsung cepat ini menjadi tantangan bagi pengoperasian helikopter pemadam.
Rendahnya visibilitas juga memengaruhi pelaksanaan penerbangan water bombing. Upaya pemadaman bahkan pernah dilakukan dengan menerbangkan helikopter dari Bangka Belitung. Namun, hasilnya belum optimal karena langit di atas lokasi karhutla tertutup asap tebal. Kondisi tersebut menyulitkan kru untuk memperoleh pandangan yang memadai terhadap titik api maupun area yang menjadi sasaran penjatuhan air. Dengan demikian, keberadaan armada tidak selalu berarti penerbangan dapat dilakukan secara efektif.
Dalam beberapa hari, helikopter sama sekali tidak dapat terbang karena jarak pandang berada pada tingkat yang tidak memungkinkan. Keputusan untuk menunda atau menghentikan penerbangan terutama ditentukan oleh aspek keselamatan. Naik-turunnya jarak pandang di lokasi kejadian terus menjadi pertimbangan utama sebelum setiap misi dilaksanakan. Ketika asap menebal, penerbangan harus ditangguhkan hingga kondisi dinilai cukup aman. Sebaliknya, saat visibilitas membaik, operasi dapat dipertimbangkan kembali, meskipun situasi tetap harus dipantau secara berkala.
Dinamika tersebut menunjukkan bahwa hambatan operasi bukan hanya berkaitan dengan jumlah helikopter, tetapi juga dengan keadaan atmosfer di wilayah karhutla. Selama asap masih menutup ruang udara dan jarak pandang belum stabil, misi pemadaman dari udara menghadapi batasan yang serius. Karena itu, penilaian kondisi lapangan menjadi bagian penting dalam menentukan waktu penerbangan serta menjaga keselamatan personel dan awak helikopter.
Meskipun operasi lima helikopter pemadam karhutla untuk sementara terhambat oleh asap tebal dan jarak pandang yang terbatas, penanganan kebakaran hutan dan lahan tetap berlangsung. Satuan tugas darat terus dikerahkan untuk memantau titik api, melakukan pemadaman langsung, serta mencegah bara menyebar ke area yang lebih luas. Upaya ini dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kondisi lapangan dan tingkat ancaman di setiap lokasi.
Empat wilayah menjadi fokus utama pemadaman, yakni Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, dan Muara Enim. Tim di daerah tersebut bekerja bersama unsur terkait untuk menemukan sumber api, membuat sekat pembatas, dan membasahi kembali lahan yang masih mengeluarkan asap. Pemantauan juga dilakukan terhadap titik-titik yang telah dipadamkan guna mengantisipasi munculnya kembali api akibat bara di dalam tanah gambut.
Pelaksanaan pemadaman dari darat menghadapi sejumlah kendala. Medan yang berat membuat mobilisasi personel, kendaraan, serta peralatan pemadam tidak selalu dapat dilakukan dengan cepat. Sebagian lokasi berada jauh dari akses jalan dan membutuhkan perjalanan melalui jalur berlumpur atau kawasan dengan vegetasi rapat. Selain itu, ketersediaan air semakin terbatas karena sungai dan kanal mulai mengering. Kondisi tersebut memaksa petugas mencari sumber air alternatif dan mengatur penggunaannya secara lebih efisien agar operasi dapat terus berjalan.
Dukungan pemadaman dari udara sebenarnya dapat mempercepat penanganan, terutama untuk menjangkau lahan yang sulit didatangi oleh tim darat. Helikopter dapat membawa air langsung ke sekitar titik api dan membantu membasahi area yang luas dalam waktu relatif singkat. Namun, pelaksanaannya masih menunggu kondisi jarak pandang yang aman. Asap yang terlalu pekat berisiko mengganggu navigasi dan keselamatan penerbangan, sehingga operasi udara akan dilanjutkan setelah cuaca serta jarak pandang memungkinkan.
Baca juga: Panglima TNI Dampingi Presiden Prabowo Tinjau Penanganan Karhutla di Riau dan Sumatera Selatan | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | TNI Perkuat Penanganan Karhutla di Melawi, Salurkan Peralatan Pemadam kepada Masyarakat

