Jakarta | Menteri Keuangan Suahasil Nazara menilai kawasan ASEAN memiliki prospek ekonomi yang positif di tengah dinamika perekonomian global. Pandangan tersebut disampaikan dalam pertemuan para menteri keuangan ASEAN bersama Presiden World Bank Group Ajay Banga di Bangkok, Thailand. Forum itu menjadi kesempatan bagi para pemimpin ekonomi kawasan untuk membahas ketahanan, peluang pertumbuhan, serta berbagai tantangan yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dunia.
Menurut Suahasil, ASEAN berada dalam kondisi ekonomi yang baik karena didukung oleh kebijakan pembangunan yang sehat. Negara-negara di kawasan dinilai mampu menjaga kesinambungan pertumbuhan sekaligus memperkuat fondasi ekonomi melalui kebijakan yang terarah. Stabilitas tersebut tercermin dari upaya mendorong investasi, meningkatkan konektivitas, memperluas perdagangan, dan memperkuat kerja sama regional.
Selain pembangunan yang sehat, kredibilitas kebijakan publik juga menjadi faktor penting yang menopang posisi ASEAN. Pemerintah di negara-negara anggota terus berupaya menjaga kepercayaan masyarakat dan pelaku usaha melalui pengelolaan fiskal yang hati-hati, kebijakan moneter yang responsif, serta reformasi struktural. Kredibilitas itu membantu kawasan menghadapi ketidakpastian global, termasuk tekanan inflasi, perubahan arus modal, dan perlambatan ekonomi di sejumlah negara besar.
Suahasil menyebut ASEAN sebagai “bright spot” bagi perekonomian dunia. Pernyataan tersebut menggambarkan keyakinan bahwa kawasan ini tidak hanya memiliki daya tahan, tetapi juga peluang pertumbuhan yang kuat. Dengan jumlah penduduk yang besar, pasar yang terus berkembang, serta integrasi ekonomi yang semakin erat, ASEAN dipandang mampu menjadi salah satu sumber pertumbuhan global.
Dalam pertemuan bersama Ajay Banga, optimisme itu turut menegaskan pentingnya menjaga kualitas kebijakan ekonomi. Pertumbuhan yang berkelanjutan memerlukan koordinasi pemerintah, lembaga keuangan internasional, dan sektor swasta. Karena itu, negara-negara ASEAN perlu mempertahankan disiplin kebijakan, memperkuat tata kelola, serta memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Dalam konteks kondisi ekonomi ASEAN yang terus menjadi perhatian, kredibilitas APBN Indonesia ditempatkan sebagai salah satu fondasi penting untuk menjaga kepercayaan sekaligus mendukung optimisme ekonomi kawasan. Suahasil menekankan bahwa APBN tidak semata-mata dipahami sebagai dokumen perencanaan keuangan negara, melainkan sebagai kas negara yang harus dikelola secara kredibel. Dengan posisi tersebut, APBN memiliki peran strategis dalam memastikan kapasitas negara menjalankan fungsi ekonomi dan sosialnya secara bertanggung jawab.
APBN diposisikan sebagai instrumen yang menumbuhkan perekonomian dan melindungi masyarakat. Kedua fungsi itu berjalan melalui pengelolaan keuangan negara yang kredibel, sehingga setiap sumber daya publik dapat diarahkan untuk mendukung kepentingan nasional. Kredibilitas menjadi unsur penting karena berkaitan dengan kemampuan negara menjaga kepercayaan dalam mengelola kas negara, terutama ketika perekonomian Indonesia dibicarakan dalam lingkungan ASEAN yang dinamis.
Indonesia juga memiliki kekuatan yang dapat menjadi dasar bagi penguatan perekonomian. Sumber daya alam merupakan salah satu modal utama yang dimiliki, sementara agenda hilirisasi menunjukkan arah untuk mengoptimalkan kekuatan tersebut. Pengelolaan potensi ini menjadi bagian dari perhatian dalam menempatkan Indonesia sebagai negara yang mampu membangun pertumbuhan dengan bertumpu pada kapasitas domestiknya.
Selain mengandalkan kekuatan sumber daya alam dan agenda hilirisasi, mobilisasi pendanaan swasta menjadi prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pendanaan swasta dipandang sebagai bagian penting dalam memperkuat kapasitas pembiayaan pembangunan. Karena itu, kredibilitas APBN, pemanfaatan potensi nasional, serta mobilisasi pendanaan swasta ditempatkan dalam satu kerangka yang saling mendukung: APBN tetap berfungsi sebagai kas negara yang dikelola secara kredibel, sekaligus menjadi instrumen untuk menumbuhkan perekonomian dan memberikan perlindungan kepada masyarakat.
Suahasil menilai ASEAN dan Indonesia tidak seharusnya hanya diposisikan sebagai pihak yang terus belajar dari pengalaman kawasan lain. Pembelajaran dari dunia tetap penting untuk memperkuat kebijakan dan memperluas perspektif, tetapi proses tersebut perlu berjalan beriringan dengan upaya menyampaikan pengalaman ASEAN kepada masyarakat global. Menurutnya, kawasan ini memiliki banyak cerita yang layak didengar, baik mengenai perjalanan pembangunan, kerja sama antarnegara, maupun kemampuan menghadapi berbagai perubahan ekonomi.
Pandangan tersebut menempatkan ASEAN bukan semata-mata sebagai penerima pengetahuan, melainkan juga sebagai sumber pengalaman yang relevan bagi dunia. Indonesia, sebagai salah satu negara utama di kawasan, memiliki peran penting dalam mengartikulasikan cerita itu secara lebih luas. Berbagai tahapan yang telah dilalui ASEAN menunjukkan bahwa kemajuan tidak hanya dibangun melalui kebijakan ekonomi, tetapi juga melalui dialog, konsistensi kerja sama, dan kemampuan menjaga kepercayaan di tengah perbedaan.
Suahasil meyakini perjalanan ASEAN selama sekitar 50 hingga 60 tahun terakhir merupakan kisah sukses yang layak diperkenalkan kepada dunia. Dalam rentang tersebut, negara-negara di kawasan secara bertahap membangun hubungan yang lebih erat dan menciptakan fondasi bagi pertumbuhan bersama. Capaian itu menjadi semakin bermakna karena ASEAN berkembang di tengah keragaman tingkat pembangunan, sistem pemerintahan, serta karakter sosial dan budaya yang berbeda.
Optimisme terhadap masa depan kawasan juga ditopang oleh modal demografis dan ekonomi yang kuat. ASEAN memiliki struktur penduduk yang relatif muda, sehingga menyediakan tenaga produktif, pasar yang luas, dan peluang bagi inovasi dalam jangka panjang. Pada saat yang sama, tingkat pendapatan masyarakat terus tumbuh, membuka ruang bagi peningkatan konsumsi, investasi, dan kualitas hidup. Kombinasi tersebut memperkaya cerita ASEAN yang dapat dibagikan kepada masyarakat global: sebuah kawasan yang terus berkembang, memiliki daya tahan, serta menyimpan potensi besar untuk berkontribusi terhadap perekonomian dunia.
Hingga 30 September 2026, kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menunjukkan perkembangan yang tetap berada dalam koridor perencanaan fiskal. APBN mencatat defisit sebesar Rp319 triliun, atau 1,24 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Posisi tersebut dinilai bergerak sesuai dengan desain awal APBN 2026 yang menetapkan defisit sebesar Rp689,1 triliun, setara dengan 2,68 persen terhadap PDB. Perkembangan ini mencerminkan pelaksanaan anggaran yang masih terkendali di tengah dinamika ekonomi nasional dan regional.
Dari sisi pendapatan, negara telah mengumpulkan Rp2.341,5 triliun. Capaian tersebut setara dengan 74,2 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN dan tumbuh 25,5 persen secara tahunan. Kinerja penerimaan tersebut turut ditopang oleh penerimaan pajak yang mencapai Rp1.607,6 triliun hingga September. Angka penerimaan pajak itu tumbuh 24,1 persen secara tahunan, sehingga menjadi salah satu komponen penting dalam memperkuat kapasitas fiskal dan menopang pembiayaan berbagai program pemerintah.
Sementara itu, realisasi belanja negara tercatat sebesar Rp2.660,5 triliun, atau 69,2 persen dari pagu APBN, dengan pertumbuhan 19 persen secara tahunan. Belanja tersebut mencakup sejumlah sektor prioritas, termasuk kesehatan dan pendidikan. Realisasi anggaran kesehatan mencapai Rp161,8 triliun, sedangkan anggaran pendidikan terealisasi sebesar Rp574,2 triliun. Kombinasi pertumbuhan pendapatan, penyerapan belanja, dan pengelolaan defisit menjadi indikator penting bagi kredibilitas kebijakan fiskal. Data hingga akhir September tersebut memperlihatkan bahwa pelaksanaan APBN tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas, mendukung aktivitas ekonomi, serta memenuhi kebutuhan pembangunan sesuai sasaran yang telah ditetapkan.
