Pasokan Pertalite dan Pertamax Bali Dipastikan Aman, Distribusi Diperkuat

Pasokan Pertalite dan Pertamax Bali Dipastikan Aman, Distribusi Diperkuat

Kota Denpasar | Gubernur Bali Wayan Koster memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax di seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Bali berada dalam kondisi aman. Ketersediaan tersebut dinilai mencukupi kebutuhan normal masyarakat, termasuk untuk aktivitas transportasi harian, hingga dua pekan ke depan.

Kepastian ini disampaikan setelah stok BBM terbaru masuk dan mulai didistribusikan ke sejumlah wilayah di Bali. Penambahan pasokan tersebut menjadi langkah penting untuk menjaga kelancaran pelayanan kepada masyarakat, terutama setelah muncul antrean kendaraan di beberapa SPBU dalam beberapa hari terakhir.

Antrean paling terlihat terjadi di wilayah Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Kondisi itu sempat menimbulkan kekhawatiran masyarakat mengenai kemungkinan terbatasnya persediaan Pertalite dan Pertamax. Namun, pemerintah daerah memastikan antrean tersebut tidak mencerminkan habisnya stok BBM di Bali secara keseluruhan.

Penjelasan mengenai kondisi pasokan itu disampaikan Koster setelah bertemu dengan Direktur Utama PT Pertamina di Denpasar pada Selasa, 13 Oktober. Pertemuan tersebut membahas ketersediaan dan distribusi BBM, sekaligus merespons laporan mengenai antrean yang terjadi di sejumlah SPBU.

Menurut Koster, Pertamina telah memastikan stok Pertalite dan Pertamax tersedia untuk memenuhi kebutuhan normal masyarakat Bali. Dengan masuknya pasokan baru, distribusi juga diperkuat agar persediaan dapat menjangkau SPBU secara lebih merata dan mengurangi potensi penumpukan kendaraan pada lokasi tertentu.

Pemerintah mengimbau masyarakat tetap membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian berlebihan. Langkah tersebut diperlukan agar distribusi berjalan tertib serta seluruh pengguna kendaraan memperoleh akses yang wajar. Masyarakat juga diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi mengenai kelangkaan BBM.

Jaminan ketersediaan hingga dua pekan ke depan memberikan kepastian bagi masyarakat dan pelaku usaha yang bergantung pada kelancaran mobilitas. Pemerintah bersama Pertamina akan terus memantau penyaluran di lapangan, khususnya pada wilayah dengan tingkat konsumsi tinggi seperti Denpasar dan Badung, untuk memastikan kebutuhan BBM tetap terpenuhi.

Pasokan bahan bakar minyak (BBM) untuk Bali datang secara bertahap melalui kapal tanker yang bersandar langsung di Depo Terminal Manggis dan Sanggaran. Kedatangan kapal-kapal tersebut menjadi bagian dari penguatan distribusi Pertalite dan Pertamax, dengan muatan yang disalurkan sesuai kebutuhan konsumsi masyarakat. Pada hari tersebut, pasokan yang tiba mencakup dua jenis BBM, yakni Pertalite dan Pertamax.

Muatan Pertalite yang datang mencapai 19,2 juta liter. Jumlah tersebut diperkirakan dapat memenuhi konsumsi harian masyarakat selama enam hingga tujuh hari. Bersamaan dengan itu, kapal tanker juga membawa 3 juta liter Pertamax. Pasokan Pertamax tersebut diperkirakan mencukupi kebutuhan selama sekitar tiga hari. Kedua muatan itu diterima melalui terminal yang menjadi titik masuk pasokan BBM ke wilayah Bali.

Pasokan berikutnya telah dijadwalkan datang secara berturut-turut. Pertalite sebanyak 25 juta liter dijadwalkan tiba pada 15, 16, dan 17 Oktober. Jadwal tersebut menambah pasokan secara bertahap setelah kedatangan muatan 19,2 juta liter pada hari tersebut. Untuk Pertamax, tambahan pasokan sebanyak 13 juta liter dijadwalkan tiba pada 13 dan 17 Oktober.

Dengan adanya kedatangan tambahan itu, stok Pertalite diperkirakan mencukupi kebutuhan normal hingga 10 hari. Sementara itu, tambahan pasokan Pertamax diperkirakan membuat ketersediaannya mencukupi kebutuhan selama 10 hingga 11 hari. Seluruh pasokan tersebut masuk melalui kapal tanker yang bersandar langsung di Depo Terminal Manggis dan Sanggaran, mengikuti jadwal kedatangan yang telah ditetapkan untuk memperkuat distribusi BBM di Bali.

Pemerintah Provinsi Bali memusatkan perhatian pada wilayah perkotaan Denpasar dan Badung dalam penguatan distribusi Pertalite dan Pertamax. Kedua daerah tersebut menjadi prioritas karena memiliki tingkat mobilitas masyarakat yang tinggi, baik untuk kegiatan kerja, perdagangan, pariwisata, maupun aktivitas pelayanan publik. Pergerakan kendaraan yang padat membuat kebutuhan bahan bakar minyak di wilayah ini cenderung lebih besar dibandingkan daerah lainnya.

Selain mobilitas, kepadatan penduduk dan konsentrasi kegiatan ekonomi turut meningkatkan konsumsi energi di Denpasar dan Badung. Karena itu, kelancaran pasokan pada dua wilayah tersebut dinilai penting untuk menjaga aktivitas masyarakat serta mendukung operasional sektor pariwisata dan perekonomian Bali. Pemerintah daerah bersama pihak terkait kemudian memperkuat penanganan pada stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang berada di kawasan prioritas.

Total terdapat 92 SPBU yang masuk dalam cakupan penanganan tersebut. Jumlah itu terdiri atas 54 SPBU di Denpasar dan 38 SPBU di Badung. Seluruh SPBU dalam wilayah prioritas akan dioperasikan selama 24 jam, dengan pelaksanaan yang dimulai secara bertahap sejak malam hari itu. Kebijakan tersebut diharapkan dapat memperluas kesempatan masyarakat untuk mendapatkan bahan bakar dan mengurangi antrean pada jam-jam dengan tingkat permintaan tinggi.

Gubernur Bali Wayan Koster menjelaskan bahwa penerapan layanan 24 jam tidak dapat dilakukan secara serentak di seluruh SPBU. Setiap lokasi memerlukan persiapan tenaga kerja, pengaturan jadwal, serta pemenuhan kebutuhan operasional lainnya. Tahapan pelaksanaan diperlukan agar pengoperasian berlangsung aman, tertib, dan tetap mempertimbangkan kesiapan masing-masing SPBU. Dengan pendekatan tersebut, penguatan distribusi dapat dilakukan secara terukur tanpa mengganggu pelayanan yang sedang berjalan. Pemerintah akan memantau prosesnya untuk memastikan kesiapan fasilitas dan petugas di setiap titik.

Penguatan distribusi Pertalite dan Pertamax di Bali dilakukan dengan menambah kapasitas armada pengangkut dari depo menuju stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Jumlah kendaraan yang sebelumnya mencapai 90 unit kini ditingkatkan menjadi 105 unit. Penambahan tersebut berarti terdapat 15 kendaraan tambahan yang dapat digunakan untuk mendukung pengiriman BBM ke berbagai wilayah di Bali.

Tambahan armada memungkinkan proses rotasi pengiriman berjalan lebih cepat. Kendaraan yang telah menyelesaikan pengantaran dapat segera kembali ke depo untuk mengangkut pasokan berikutnya, sehingga jeda distribusi dapat ditekan. Pola ini ditujukan agar tangki penyimpanan di setiap SPBU dapat segera terisi kembali sesuai kebutuhan, terutama pada lokasi dengan tingkat konsumsi yang tinggi. Ketersediaan kendaraan juga memberikan ruang operasional yang lebih baik apabila terjadi peningkatan permintaan atau kebutuhan pengiriman tambahan.

Kelancaran distribusi darat turut diperkuat melalui koordinasi intensif Pemerintah Provinsi Bali dan jajaran Kepolisian Daerah Bali. Koordinasi tersebut mencakup pemantauan jalur yang digunakan kendaraan pengangkut, pengaturan arus lalu lintas, serta antisipasi terhadap potensi hambatan selama perjalanan. Langkah ini penting karena pengiriman dari depo menuju SPBU bergantung pada kondisi jalan dan kelancaran pergerakan kendaraan di sejumlah ruas utama.

Dengan dukungan pengawalan kepolisian, perjalanan armada diharapkan dapat berlangsung lebih tertib dan efisien. Pengawalan tersebut berpotensi memangkas waktu tempuh, sehingga pengiriman BBM dapat tiba di tujuan dengan aman dan tepat waktu. Kecepatan pergerakan armada juga membantu memastikan pasokan segera diterima oleh SPBU yang membutuhkan tanpa terganggu oleh hambatan lalu lintas di sepanjang jalur distribusi.

Baca juga: Hercules TNI AU Mendarat di Lanud Sjamsudin Noor Bawa Kekuatan Baru dari Kemhan RI, Penanganan Karhutla Kalimantan Selatan Kian Diperkuat | Pastikan Pasokan Air Tetap Siaga, Satgas Pam Irigasi Embung Jokowi Lanud Sjamsudin Noor Rawat Kesiapan Pompa Untuk Penanganan Karhutla | Pasokan Beras ASN Tiba di Yahukimo, Diangkut Hercules C-130 TNI AU